
Entah sudah berapa lama, Siena tertidur pulas di samping Kenzi. Hingga ia melupakan Adelfo yang berada di luar markas tempat Kenzi beristirahat.
Perlahan wanita itu membuka mata menatap langit langit kamar. "Adelfo.." ucapnya pelan. Matanya melirik ke arah Kenzi yang tidur membelakanginya. Kemudian ia bangun dan turun dari atas tempat tidur. Memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Kemudian ia berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama ia telah selesai dengan dirinya. Siena terdiam cukup lama menatap wajah suaminya yang masih tertidur.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan suamiku? mengapa obat yang di berikan Ryu tidak ada pengaruhnya?" gumam Siena pelan. "Aku harus kembali dan memberitahu ini semua. Aku tidak mau suamiku, kembali seperti yang dulu."
Perlahan Siena melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun baru saja tangannya hendak menarik tuas pintu. Dari arah belakang Kenzi memeluknya dengan erat.
"Kau mau pergi kemana sayang?" ucap Kenzi menelusupkan wajahnya di leher Siena.
"Sayang?" ucap Siena pelan. Matanya melebar dan balik badan menghadap Kenzi. Ia berpikir kalau suaminya telah ingat semuanya kembali.
"Sayang, apa kau sudah mengingatku?" tanya Siena menatap kedua bola mata Kenzi.
Kenzi menggelengkan kepala pelan.
"Tidak."
Siena mendesah kecewa. "Kau tidak ingat dengan istrimu? kedua putramu?" tanya Siena lagi meyakinkan Kenzi.
"Putra?" Kenzi tertawa terbahak bahak. "Sejak kapan aku menikah dan punya anak? kau mabuk." Kenzi mencium pipi Siena sekilas lalu menutup pintunya lagi. "Kau tidak kuizinkan pergi kemana mana, sekarang kau duduk dan tunggu aku."
Siena hanya diam menuruti permintaan Kenzi. Dan pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Selama menunggu, Siena berpikir keras, lalu ia merogoh saku celananya mengambil botol kecil yang berisi obat serbuk. Kemudian ia melemparkan botol kecil itu ke dinding ruangan.
"Sama sekali tidak berguna."
Tak lama Kenzi telah selesai, ia sudah berpakaian rapi. "Ayo ikut aku."
"Kemana?" tanya Siena mulai khawatir, karena obat itu tidak ada pengaruhnya sama sekali.
"Ayo ikut." Kenzi menarik tangan Siena. Lalu ia membawanya ke luar dari ruangan menuju markas lain yang tak jauh dari tempat tadi.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu. Siena mencengkram tangan Kenzi dan menahannya untuk masuk.
"Apa yang ingin kau lakukan padaku, sayang?"
Kenzi hanya melirik sesaat ke arah Siena dan mengabaikan pertanyaannya. "Ikut saja."
Kenzi membuka pintu lalu menarik tangan Siena untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Mata Siena melebar saat melihat seorang wanita yang pernah putranya tolong, dan seorang pria tambun tengah duduk di sofa menatap benci padanya. "Hernet? jadi dia masih hidup?" ucap Siena dalam hati. Yang lebih membuat Siena terkejut, Adelfo juga ada di antara mereka dalam keadaan wajahnya bengkak, kedua tangannya terikat.
"Apa apaan Kenzi!" Hernet berdiri menatap ke arah Siena. "Mengapa kau bawa wanita pengacau ini ke dalam hidupmu!
Kenzi hanya diam menatap tajam Hernet dan yang lain. Ia duduk di sofa bersama Siena.
" Diam dan tutup mulutmu!" ucap Kenzi membentak Hernet.
"Kau tidak perlu mendikteku, aku menginginkan wanita ini hingga aku bosan. Jadi, siapapun yang berani menyentuhnya. Aku pastikan kalian akan menyesal. Ingat itu baik baik." Kenzi melirik ke arah Siena dan menarik bahunya. Pria itu sengaja mencium bibir Siena sekilas di depan mereka semua.
Hernet menggeram dalam hati, ia sangat khawatir masa lalu akan terulang kembali saat Siena membawa Kenzi keluar dari organisasinya. Namun kali ini, ia berusaha mempercayai Dokter pilihannya yang telah memberikan obat obatan pada Kenzi.
"Baiklah." Hernet kembali duduk.
"Kau pikir mudah membunuhku?" Hernet tersenyum sinis saling pandang sesaat dengan wanita itu. "Atau sebaliknya, Nona Siena. Saatnya kau mati, di tanganku."
"Bermimpilah brengsek! kau tidak akan pernah bisa melawanku. Dari dulu, kau sudah kalah melawanku!" Siena mengingatkan kejadian yang sudah lewat di masa lalu. Membuat pria itu naik darah merasa di permalulan oleh Siena di depan yang lain.
"Lancang!" pekik Hernet berdiri.
"Akui saja brengsek!" Siena sengaja memancing kemarahan Hernet.
"Kau!" Hernet membuka jaketnya hendak mengambil senjata api di balik pinggangnya.
"Diam!" seru Kenzi lantang. "Simpan senjatamu, dan jangan lakukan apapun tanpa perintahku! teriak Kenzi mulai kesal. Hernet mengurungkan niatnya, lalu kembali duduk.
"Dia siapa?" tanya Kenzi menatap Adelfo. "Bawa dia ke hadapanku, cepat!" perintah Kenzi pada dua anak buah Hernet.
__ADS_1
"Baik Bos!"
Kedua pria itu menarik lengan Adelfo lalu menyeretnya paksa di bawa ke hadapan Kenzi. "Diam atau kau mati." Ancam salah satu pria itu menekan pundak Adelfo hingga pria itu duduk di bawah kaki Kenzi.
"Kenzi, ingat kita saudara." Adelfo tertawa lebar memperlihatkan giginya berwarna merah darah.
"Saudara?" Kenzi tertawa terbahak bahak. Lalu mengangkat satu kakinya di pundak Adelfo. "Sejak kapan aku memiliki saudara? dasar perayu!
" Bunuh saja dia, supaya tidak menyulitkan kita nanti," sela wanita itu.
Kenzi mengalihkan pandangannya pada wanita itu. "Aku yang akan mengambil keputusan. Bukan kau! Wanita itu mendengus kesal, lalu kembali diam.
" Lepaskan ikatannya, cepat! Kenzi memberikan perintah pada salah satu anak buahnya.
"Kenzi! untuk apa kau membebaskan dia?" Hernet sangat keberatan dengan keputusan Kenzi.
"Dasar bodoh! bukankah penelitian kita butuh dana yang lumayan besar?" Kenzi berdiri lalu mencengkram kerah baju Adelfo menatapnya tajam. "Dia bisa menjadi aset berharga kita untuk membiayai pekerjaan kita."
Adelfo memicingkan matanya menatap kedua bola mata Kenzi. Dalam benaknya ia bertanya tanya, bagaimana mungkin Kenzi bisa tahu kalau ia memiliki banyak uang di Negaranya. Dan bagaimana mungkin juga Kenzi mengatakan dirinya perayu? perlahan Adelfo tersenyum samar di sudut bibirnya.
"Kau benar Kenzi, aku setuju," sela Hernet tersenyum sinis.
"Mulai sekarang, jangan ada yang berani menyentuh kedua orang ini. Mereka berdua dalam pengawasanku." Kenzi meninju wajah Adelfo hingga pria itu terjungkal ke belakang.
Adelfo memegang wajahnya menatap Kenzi. "Sial, pukulanmu terlalu keras," gerutu Adelfo pelan.
Kenzi hanya tertawa terbahak bahak, lalu menarik tangan Adelfo untuk berdiri. "Jika kau sayang nyawamu, ikuti perintahku!"
Adelfo mengangguk cepat. Lalu melirik ke arah Siena sesaat. "Lihat aku!" seru Kenzi.
"Ba, baik." Adelfo mengangkat ke dua tangannya.
"Sekarang ikut aku!" Kenzi meminta anak buahnya untuk menahan Adelfo di ruangan tempat ia beristirahat tadi. "Kau, ikut aku sayang." Kenzi menatap Siena lalu mencium bibirnya dengan paksa.
__ADS_1
"Hahahaha, bagus Kenzi. Kerja bagus, tidak sia sia kau jadi orang kepercayaanku!" seru Hernet senang, menatap punggung Kenzi yang menyeret paksa lengan Siena keluar dari ruangan itu.
****