The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 132: Amnesia 2


__ADS_3

Kenzi tersenyum samar melihat tangan Siena di lengannya, tidak ada satu katapun terucap dari bibirnya. Kenzi tersenyum tipis lalu menghela napas dalam dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Pria itu duduk di tepi tempat tidur membantu Siena untuk duduk di atas tempat tidur.


"Pria yang bernama Yu bilang, kalau kau suamiku."


"Iya.." jawab Kenzi singkat, ia tidak ingin menambah Siena menjadi lebih bingung lagi. Bagaimana mungkin semua memori indah, suka dan duka. Berjuang bersama untuk keluar dari organisasi kriminal yang sudah mereka lalui bersama hilang begitu saja?


"Berapa lama kita menikah?" tanya Siena coba mengingat, kedua alisnya bertaut menatap Kenzi.


"Tiga tahun lebih."


"Tapi? kenapa aku tidak mengingatmu sama sekali?" sebuah kerutan di wajah Siena terbentuk ketika melihat Kenzi. Benturan keras di kepala Siena menghapus semua memori tentang mereka. Yang di akibatkan tabrakan mobil antara Siena dan Livian.


"Karena kau amnesia." Kenzi menelan salivanya susah.


"Amnesia?" Siena memijit pelipisnya, dahinya berkerut coba mengingat apa yang sudah terjadi padanya dan pria itu. Namun usaha Siena gagal. Yang ia dapatkan hanya sakit di kepalanya.


"Sayang, jangan di paksakan. Aku mengerti kondisimu. Tenanglah.." Kenzi merangkul bahu Siena lalu membaringkannya di atas tempat tidur. "Kau istirahat, kita akan segera pulang." Kenzi tersenyum lalu ia berdiri tegap kembali membereskan semua barang barang lalu ia masukkan ke dalam tas. Sesaat ia menatap wajah Siena lalu berjalan keluar meninggalkan Siena sendirian di dalam kamar.


"Kenapa aku tidak mengingatnya?" gumam Siena bersikeras. "Kalau dia begitu penting dalam hidupku kenapa aku tidak bisa mengingatnya? ahhhkkk!" Siena memegang kepalanya yang terasa sakit bagai di palu godam.


Tiga hari berlalu, pasca Siena sadar dari komanya. Kenzi memutuskan untuk memulangkan Siena ke rumah dan di rawat dirumah. Dr Chiang Lin sudah melakukan pengecekan menyeluruh kepada Siena, kondisinya baim. Dia hanya perlu pengecekan rutin dan terapi supaya kedua kakinya bisa berjalan dengan normal. Dengan di rawat di rumah, Siena lebih terjaga.


Siena menatap Kenzi yang sedang menandatangani berkas berkas rumah sakitnya, sesekali berbicara dengan pria satunya lagi. Setelah semua selesai, Yu dan Kenzi membawa Siena pulang kerumah.


***


Siena menyadari setiap jalan yang mereka lewati Kenzi terlihat gelisah. Yu mengeluarkan kursi roda dari bagasi lalu membukanya dan membantu Siena turun dari atas mobil.


"Kenzi."


"Ya?" Kenzi menatap lembut.


"Apa kau baik baik saja?" Siena memecahkan konsentrasi Kenzi.


Kenzi jongkok di hadapan Siena menggenggam erat tangannya. "Sayang, aku baik baik saja."


Siena menarik tangannya membuat Kenzi patah hati tiap kali Siena menghindar darinya. "Kenapa?"


Siena menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Kenzi berdiri menatap Siena yang memalingkan wajahnya.


"Kau baik baik saja?" Yu menepuk pundak Kenzi

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir," sahut Kenzi melirik sesaat ke arah Yu.


"Hubungi aku, kalau kau butuh sesuatu, oke?" Kenzi mengangguk cepat, menatap sesaat punggung Yu yang kembali masuk ke dalam mobil. Dia sendiri mendorong kursi roda Siena memasuki rumahnya.


Rumah itu masih sama seperti dulu, saat saat mereka masih bersama dalam suka dan duka. Meski rumah itu berkali kali di rusak musuh. Namun Kenzi memperbaikinya seperti semula saat Siena pertama kali menginjakkan rumah itu. Foto keluarga yang terpasang di dinding ruang tamu. Bunga sedap malam menghiasi setiap sudut ruangan. Begitu juga di kamar mereka, sederet foto terpajang di atas meja.


"Kamarmu," ucap Kenzi sedih.


Siena melihat Kenzi terpaku di depan foto keluarga. "Jadi, ini kamarku?"


Kenzi berusaha bersikap tenang, meski hatinya perlahan hancur, ia berjalan mendekati Siena lalu mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur dan membaringkannya. "Kau harus istirahat."


"Aww sakit!" erang Siena memegang kakinya.


"Maaf," ucap Kenzi hendak mencium puncak kepala Siena yang biasa ia lakukan. Namun Siena lagi lagi menghindari kontak fisik dengan Kenzi.


"Tidak terlalu parah, tulangnya hanya sedikit retak. Tidak seperti tangan kiriku." Siena melihat kaki kanan dan tangannya di balut perban. "Aku ingin tidur, bisa kau pergi dari kamarku?" ucap Siena menusuk hati Kenzi.


"Baiklah." Kenzi menepuk bantalnya hingga empuk. "Sudah, kau tidurlah."


"Kenzi."


"Ya?" jawab Kenzi, mendengar namanya di sebut. Lagi lagi hatinya serasa di remas mendengar Siena menyebutnya Kenzi, bukan panggilan yang biasa sebutkan 'sayang'. Tapi kini ia melupakannya, mereka berdua seperti orang asing yang di paksa hidup bersama.


"Terima kasih."


Kedua mata coklat itu memandang Siena, namun wanita itu menghindarinya. "Kau tidurlah, aku di luar. Kalau kau butuh sesuatu, panggil aku." Kenzi tersenyum. "Selamat beristirahat."


***


Siena bangun ketika melihat anak laki laki berusia tiga tahun mengusap lembut pipinya. "Ibu.."


Sirna bangun lalu duduk di atas tempat tidur, menatap wajah Helion seperti sudah tidak asing lagi. "Kau siapa sayang?" Siena tersenyum.


Helion memalingkan wajahnya menatap Kenzi, lalu ia bangun dan meminta Kenzi untuk menggendongnya. "Ayah.."


Kenzi mengangkat tubuh Helion lalu menggendongnya. "Dia siapa?" tanya Siena.


"Putramu, Helion.." jawab Kenzi hatinya serasa di tusuk.


"Putraku?" Siena kembali mengerutkan dahinya, menatap lurus ke arah Helion yang mengalungkan kedua tangannya di leher Kenzi.

__ADS_1


Kenzi menganggukkan kepalanya. "Dia putramu sayang."


"Putraku.." gumam Siena. Menatap jari jemarinya ia remas perlahan. Lalu ia memalingkan wajahnya menatap Helion. "Siapa namanya?"


"Helion." jawab Kenzi singkat.


"Helion kemarilah.." ucap Siena tersenyum.


Helion menoleh lalu menggelengkan kepalanya, ia kembali memeluk Kenzi erat. Terlihat raut wajah Siena sedih saat Helion menolaknya. "Sayang, tidak apa apa."


Kenzi duduk di tepi tempat tidur, mengusap lembut pipi Siena yang tertunduk. "Sayang-?"


"Pergi kau!" Siena menggeser duduknya menjauhi Kenzi dan Helion. Ia menatap wajah Kenzi lalu menarik selimut, "kalian siapa?! pekik Siena matanya berkaca kaca.


" Sayang.." tangan Kenzi terulur hendak mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi Siena. Hatinya semakin hancur mendapat penolakan dari wanita yang ia cintai.


"Ibuuu.." Helion menangis tersedu sedu melihat Ibunya ketakutan meringkuk di ujung tempat tidur.


Kenzi menarik tangannya mengusap air mata di pipi Helion. "Sayang, tidak apa apa."


"Ibuuu...!


" Pergi! pergi!" jerit Siena menatap Kenzi dengan air mata berlinang. Ada rasa nyeri di hatinya saat mengusir Kenzi dan Helion. Tapi ia tidak tahu mengapa. Sama sekali tidak mengingat mereka. "Pergi!!"


Kenzi berdiri memeluk Helion yang menangis. "Ibuu..."


Ada yang lebih membuat hati Kenzi hancur? selain melihat Siena menatapnya benci seakan akan orang asing yang hendak menyakitinya. "Sayang, tenanglah.." suara Kenzi serak, ia tidak bisa menyembunyikan tubuhnya bergetar.


"Ibuu..!"


"Tidak! tidak! pekik Siena menutupi kedua telinganya tidak mau mendengar panggilan putranya.


Helion meronta turun dari pangkuan Kenzi lalu menubruk tubuh Siena memeluknya dengan erat. " Ibu..aku sayang ibu.."


"Sayang, kemarilah." Kenzi menarik lembut tangan Helion, namun putranya menepis tangan Kenzi.


"Tidak, A, ayahh. Aku, aku mau sama Ibu.." ucap Helion suaranya nyaris tak terdengar di barengi isak tangisnya.


Kenzi berdiri, ia memalingkan wajahnya tidak dapat lagi menahan rasa perih di hatinya, setengah berlari ia berjalan keluar kamar meninggalkan Helion di kamar bersama Siena.


Mata Siena menatap kepergian Kenzi. Hatinya terasa sakit. Lalu beralih menatap Helion yang menangis sembari berkali kali mengusap air matanya sendiri. "Ibu.."

__ADS_1


Perlahan tangan Siena terulur, memeluk tubuh Helion dan menenangkannya. "Ya Rabb, jika mereka keluargaku. Beri aku sedikit ingatan tentang mereka. Jangan kau siksaku seperti ini..Ya Rabb." Gumam Siena lirih, perih.


__ADS_2