
Siena berkali kali pingsan tatkala mengingat putranya Helion. Sementara Rei, Keenan dan Samuel di rawat secara intensif sampai saat ini mereka belum sadar. Pihak berwajib menjadikan SamHoi sebagai terduga penyerangan itu. Hingga pria itu mendapat hukuman dan tindak pidana berlapis. Pengadilan memutuskan Sam Hoi di hukum mati.
Pagi itu, Kenzi dan Yu menghadiri proses pemakaman Akira yang sudah menjadi abu, dan Yeng Chen. Anak buah Kenzi yang selalu setia mengorbankan nyawanya demi keluarga kecilnya.
Setelah proses pemakaman selesai, Kenzi dan Yu kembali ke rumah sakit. Mendapati Siena tengah duduk menangis. Makanan sejak pagi tak tersentuh olehnya.
Butuh waktu untuk memulihkan hati Siena, wanita itu tidak bisa menjalani hidupnya tanpa Helion. Hingga suatu hari, pihak kepolisian memberitahu Kenzi dan Siena. Berdasarkan penyelidikan jika Helion tidak ada dalam mobil yang terbakar itu. Dan mereka menduga jika putra Kenzi masih hidup. Tapi entah ada di mana sekarang.
Pihak Kepolisian menetapkan Helion dalan daftar pencarian orang hilang. Pihak berwajib atau pun orangtua Helion terus berusaha mencari keberadaan Helion. Siena yang hidupnya terasa hampa, kini mulai ada secercah harapan. Ia berjanji tidak akan pulang ke Indonesia sebelum Helion di temukan.
Minggu berlalu, bulanpun berganti. Namun Siena dan Kenzi belum berhasil menemukan Helion. Hingga pencarianpun di akhiri pihak kepolisian karena melebihi batas waktu. Namun Siena tidak putus asa, ia yakin jika putranya masih hidup meski dia sendiri tidak tahu di mana.
"Sayang, makanlah. Nanti kau sakit." Kenzi duduk di tepi tempat tidur mengusap air mata di pipinya.
"Di mana putraku, apa dia baik baik saja? dia sudah makan? jangan jangan dia kedinginan di luar sana.." ucap Siena lirih, air mata turun dengan derasnya.
"Tidak sayang, kau jangan berpikir seperti itu. Besok kita akan mencarinya lagi dan menyebarkan foto Helion, oke?" Kenzi memeluk Siena dengan erat.
Hati ibu mana yang tak hancur, ketika buah hatinya hilang entah kemana. Meski Kenzi berusaha terus membesarkan hati Siena. Namun hati kecilnya menangis, ia terbebas dari hukuman tapi harus kehilangan putra kesayangannya. Andai ia tahu akan seperti ini, mungkin pria itu memilih mati membusuk di penjara. Tapi siapa yang menduga jika harapan selalu tidak sesuai dengan keinginan.
Hari hari terus mereka lewati, Samuel berangsur pulih begitu juga Rei dan Keenan. Sementara Keenan kembali ke Indonesia karena istrinya ada di sana. Sementara Rei masih tetap di Hongkong bersama Marsya.
Rumah Kenzi yang sudah di perbaiki, terasa sepi meskipun ada Samuel juga Kenzi. Sesekali Yu datang bersama putri kecilnya untuk menghibur Siena.
"Jika Tuhan berkehendak, suatu hari nanti kita pasti bertemu lagi dengan Helion. Entah itu kapan, tapi yakinlah sayang." Kenzi terus berusaha membesarkan hati Siena.
__ADS_1
"Kau tidak bisa seperti ini terus, hidup terus berjalan. Kau masih punya harapan selagi masih hidup. Ada Kenzi dan calon bayimu yang membutuhkanmu," sela Yu menatap Siena yang seringkali menangis bila ingat Helion.
Keesokan paginya, Kenzi menyebarkan foto Helion di setiap pelosok kota, dan berharap ada seseorang yang menemukan Helion. Mengembalikannya ke tengah mereka lagi.
Delapan bulan berlalu, kehamilan Siena yang kedua tidak menghalanginya untuk terus mencari Helion dan berharap akan datangnya keajaiban. Meski berkali kali kenyataan menghancurkan harapan Siena. Wanita itu tetap gigih dengan keyakinannya.
Seorang pria yang tak jauh dari tempat Kenzi berdiri, diam diam mencabut kertas selebaran foto Helion yang menempel di dinding, lalu ia masukkan ke dalam saku jasnya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil pria tersebut mengeluarkan foto Helion dan memperhatikannya. "Bukankah ini foto anak yang di pinggir jalan itu?" ucapnya dalam hati. "Aku harus memberitahu Tuan Izanagi."
***
Dua puluh tahun berlalu, harapan Siena tetap menyala dalam hatinya, meski terkadang redup. Kini wanita itu tidak terlalu bersedih, karena mereka sudah memiliki putra kedua bernama Ryu Kenjiro yang sekarang berusia 18 tahun.
Sesekali Siena dan Kenzi mendatangi dan menelusuri tempat di mana Helion dan mobil yang di kendarai Akira terbakar. Setiap bulan juga, mereka berdua menyempatkan diri untuk ke pemakaman Yeng Chen dan Akira.
"Lima menit lagi Ibu." Ryu merentangkan jari jarinya di hadapan Siena.
"Tidak ada, kau harus kuliah." Siena menarik selimut di tubuh Ryu.
"Baiklah Ibuku sayang." Ryu bangun lalu duduk di atas tempat tidur lalu memeluk Siena erat.
"Hei, jangan manja. Kau sudah besar, malu di lihat Zoya." Siena tersenyum menggoda putranya.
"Hah? Zoya? di mana dia Bu?" Ryu melepas pelukannya menatap ke arah pintu.
Siena mencubit gemas hidung Ryu. "Ya, di rumahnya sayang." Siena lalu berdiri. "Cepat mandi, Ayahmu sudah menunggu di meja makan." Siena berjalan mendekati jendela lalu membuka tirai. Cahaya matahari masuk menyinari foto Helion sewaktu kecil. Siena berjalan ke arah meja mengangkat foto Helion menatapnya lekat. Perlahan air matanya turun membasahi pipinya.
__ADS_1
Ryu yang memperhatikan Ibunya, menghela napas panjang lalu berjalan mendekati Siena dan memeluknya erat dari belakang. Mencium pipi Siena sekilas. "Ibu jangan sedih, suatu hari nanti kita pasti berkumpul lagi. Aku akan bantu Ibu dan Ayah mencari kakak."
"Iya sayang." Siena menyeka air matanya lalu meletakkan foto Helion di atas meja. Ia balik badan menangkup wajah Ryu. "Mungkin dia sudah besar Nak."
Ryu menganggukkan kepalanya, "tentunya tampan seperti aku kan Bu?" Ryu menaik turunkan kedua alisnya menatap Siena.
Siena tertawa kecil, "iya dong, siapa dulu Ibunya.." ucap Siena.
"Kalian sedang apa?" sapa Kenzi dari arah pintu.
Siena dan Ryu menoleh ke arah Kenzi yang berjalan mendekati mereka. "Kau belum siap siap?" Kenzi menatap Ryu yang masih bergelayut manja di pundak Siena.
"Sebentar Ayah," ucap Ryu.
"Ayo cepat, nanti kau terlambat." Kenzi menarik tangan Ryu pelan.
"Baiklah Ayah.." Ryu berjalan memasuki kamar mandi.
"Hei, kau menangis lagi?" tanya Kenzi menatap wajah Siena ada jejak air mata di bulu matanya yang lentik.
"Tidak, aku hanya ingat dengan putra kita. Mungkin dia sudah besar sekarang."
Kenzi terdiam, ia langsung menarik bahu Siena dan memeluknya erat. "Kau tahu, dia putra kita yang paling tangguh. Dari kecil dia sudah menghadapi maut. Aku yakin di manapun Helion berada. Putra kita akan baik baik saja."
Siena tak dapat membendung air matanya. Semua kenangan tentang Helion selalu hadir tiap hari menyapa bagaikan kekasih. Meskipun mwreka sudah memiliki putra lagi. Namun Helion tetap ada di hati mereka.
__ADS_1