
Hari ke empat.
Keenan dan Rei melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Siena. Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di halaman langsung memasuki rumah Siena.
Hana yang tengah menghitung uang hasil penjualan rumah langsung menghampiri mereka berdua. "Rei, bagaimana ini nak.." ucap Hana tangannya gemetar memegang sejumlah uang.
"Tante, tante harus tenang..kita duduk di sini ya.." ucap Rei merangkul bahu Hana dan memintanya untuk duduk.
"Tante tidak usah khawatir, masih ada waktu satu hari lagi untuk kita mengumpulkan uang. Lagipula uang yang kita dapatkan hampir saja mencukupi untuk membayar hutang berikut bunganya tante.." Keenan berdiri. Ia melangkah ke dapur untuk mengambil air mineral. Tak lama ia kembali dengan tiga gelas air mineral ia letakkan di atas meja. "Diminum dulu tante."
"Terima kasih.." kata Hana. "Sisanya kita harus mencari kemana lagi Rei?" tanya Hana suaranya parau. Ia sangat ketakutan jika putri satu satunya di bawa pergi Kenzi.
"Aku belum ada ide tante, semua sudah aku lakukan." Rei menundukkan kepala sesaat.
Hana terdiam menatap Rei, matanya terbelalak mengingat sesuatu, "perhiasan!" seru Hana. "Tante masih punya perhiasan yang cukup lumayan jika di jual."
"Terserah tante.." jawab Rei.
"Kalian tunggu di sini." Hana berdiri dan bergegas menuju kamar pribadinya. Tak lama kemudian ia kembali dengan menggenggam kotak berukuran sedang di tangannya. "Ini perhiasan tante." Hana membuka kotak itu dan memperlihatkan semua perhiasan pada Rei dan Keenan.
"Aku rasa ini cukup tante.." ucap Keenan. "Bagaimana Rei?" Keenan menatap ke arah Rei.
Rei menganggukkan kepala, ia memeriksa semua perhiasan milik Hana. "Kau benar, ini cukup untuk menutupi kekurangan uang yang sudah kita dapatkan." Rei tersenyum senang.
"Oke, kalian bawa dan langsung di jual, besok kita sama sama menemui Kenzi." Hana mengusap dadanya. Ia merasa lega dengan permasalahan hutang piutang yang selama ini mencekik lehernya.
"Siena..putriku..akhirnya mama bisa menebus kesalahan mama dulu.." ucap Hana pelan.
Keenan dan Rei terdiam menatap Hana yang terlihat bahagia. Ada keraguan di hati Rei, namun ia menepisnya dan berharap semua
berjalan seperti yang Hana inginkan.
"Oke tante..sebaiknya kami pulang sebelum Siena datang," ucap Rei.
Hana menganggukkan kepala. "Baiklah..tante ucapkan terima kasih pada kalian berdua yang telah membantu tante," ucap Hana tersenyum sumringah.
"Jangan sungkan tante!" jawab mereka serempak.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang. Hana mengantarkan mereka berdua sampai depan teras rumah yang baru ia sewa. Hana bernapas lega menatap mobil Rei yang meninggalkan halaman rumah.
Baru saja Hana hendak balik badan, ia melihat tukang ojeg online memasuki halaman rumah. Nampak Siena turun dari atas motor langsung menghampirinya.
"Malam ma.." sapa Siena mencium tangan Hana.
__ADS_1
"Iya sayang, ayo masuk." Hana mengelus puncak kepala Siena lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Tadi ada tamu ma?" tanya Siena menatap tiga buah gelas di atas meja.
"Ah iya, tadi ada teman mama main," jawab Hana berbohong.
Siena menganggukman kepala, "kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu ma.."
"Baik sayang, kau mandi dulu nanti mama buatkan makan malam." Hana mengusap pipi Siena.
"Tidak perlu ma..aku sudah makan tadi di kantor, hari ini aku capek banget jadi mau langsung istirahat." Siena mengecup pipi Hana sekilas. Lalu ia ngeloyor masuk ke dalam kamarnya.
Hana tersenyum menatap punggung Siena. "Akhirnya aku bisa hidup dengan tenang," gumamnya.
Sementara itu Siena yang baru saja selesai membersihkan diri, langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memejamkan mata merasakan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Tiba tiba ponsel miliknya berdering, dengan malas ia meraih tas yang tergeletak di atas tempat tidur lalu membuka dan mengambil ponsel dari dalam tas. Ia menatap layar ponsel, nampak nomer tak di kenal tertera di layar ponsel.
"Siapa yang menelpon?" ucap Siena mengerutkan dahi menatap layar ponsel. Dengan ragu ragu ia menggeser icon berwarna hijau lalu ia dekatkan di telinganya.
"Halo..! sapa Siena. " Siapa?" tanyanya lagi.
"Aku..Reegan." jawab suara pria yang mengaku Reegan.
"Reegan? kau? apa kau sudah lebih baik?" tanya Siena malas.
"Sudahlah, aku tidak mau bahas itu lagi. Lebih baik kau istirahat..bye" jawab Siena ia langsung memutus sambungan ponsel. "Buat apalagi kau minta maaf..aku menjengukmu bukan untuk kembali. Hanya sebagai rasa kemanusiaan saja," gumam Siena.
Ia letakkan ponsel di bawah bantal. Kemudian Siena kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin mengingat masa lalunya lagi.
Detik berikutnya ponsel Siena kembali berbunyi, ia mendengus kesal dan berusaha untuk mengabaikannya. Tak lama ponsel miliknya berhenti berbunyi. "Mau bicara apa lagi Reegan, semua sudah berakhir."
Di menit berikutnya ponsel Siena kembali berbunyi hingga berkali kali membuat Siena kesal. Ia berpikir Reegan yang menelpon lagi. Siena bangun dan mengambil ponselnya di bawah bantal langsung mengangkatnya dan memaki.
"Cukup Reegan! jangan kau ungkit masa lalu lagi!" pekik Siena.
"Siena.." jawab suara pria lain di ponsel.
Sesaat Siena terdiam mencoba untuk mengenali suara itu.
"Kenzi? ada apa kau menelponku? bukankah tadi kita sudah membicarakan pekerjaan di kantor?" ucap Siena mengerutkan dahi.
"Aku hanya ingin mengatakan, besok datang ke kantor lebih awal. Aku tunggu kau di kantor pukul 06:00. Ingat jangan sampai terlambat." ucap Kenzi di ponsel.
'Sepagi itu? tapi..?"
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian Siena! bentak Kenzi.
" Kau-?!
"tut tut tut"
Panggilan di putus Kenzi begitu saja, tanpa mendengar penjelasan Siena terlebih dahulu.
Siena menatap layar ponsel dan merutuki Kenzi. "Dasar aneh, arogan!" ucapnya ia angkat ponselnya hendak ia lempar. Namun ia urungkan niatnya. "Ponselku cuma satu." Ia tertawa kecil sembari meletakkan ponsel di dalam tasnya lagi. Siena kembali berbaring menatap langit langit kamar.
"Semoga besok aku tidak terlambat," ucapnya pelan. Ia pejamkan matanya berusaha untuk tidur lebih cepat.
Sementara itu, di lain tempat. Keenan dan juga Rei tengah berada di sebuah toko perhiasan. Mereka menjual semua perhiasan milik Hana.
"Maaf mas, saya tidak berani membeli dengan harga setinggi itu. Kami biasa membeli dengan harga yang sama berikut potongannya," ucap wanita penjaga toko perhiasan.
"Oke, berikan saja dengan harga awal kalian jual," Rei menyodorkan kotak perhiasan itu.
"Tunggu sebentar ya mas," jawab wanita itu.
Mereka berdua menunggu cukup lama saat wanita itu menghitung uangnya. Setelah selesai dia berikan uang hasil penjualan perhiasan itu pada Rei. "ini mas, silahkan di hitung ulang kembali."
"Tidak perlu," jawab Rei.
Rei memasukkan uang itu ke dalam amplop berwarna coklat. Ia masukkan ke dalam saku baju di balik jaket yang ia kenakan.
"Kita pulang!" Rei menepuk pundak Keenan sesaat.
"Mari mbak," ucap Keenan.
"Silahkan," kata wanita itu.
Merska berdua berjalan bersama keluar dari toko perhiasan. Mereka tertegun sesaat dj samping mobil milik Rei.
"Ada apa?" tanya Keenan menatap ke arah Rei.
"Kenzi mengajakku bertemu di club miliknya untuk mengembalikan semua uang ini, tapi aku sedikit ragu," ucap Rei.
"Kenapa?"
"Aku belum tahu, tapi sebaiknya..besok..kau tidak perlu ikut masuk bersamaku..kau berjaga di luar club untuk mengangisipasi hal hal yang tidak di inginkan," ungkap Rei atas keragu raguannya.
Keenan menganggukkan kepala tanda mengerti, "baik..kita atur rencananya di rumah."
__ADS_1
Rei menganggukkan kepala, akhirnya mereka kembali masuk ke dalam mobil menuju rumah milik Rei.