The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Jiro berdiri di ambang pintu kamar Ryu yang tengah melamun di kamarnya, ia tersenyum menggelengkan kepala melihat Ryu tengah patah hati.


"Bodoh!"


Ryu memalingkan wajahnya menatap Jiro yang tengah berjalan mendekatinya lalu duduk di kursi berhadapan dengan Ryu.


"Kau ke sini pasti mau ledekin aku, kan?" Ryu melirik sesaat ke arah Jiro lalu menundukkan kepalanya.


Jiro tertawa kecil mengacak rambut Ryu, "bodoh sekali kau, kalau kau cinta Zoya. Perjuangkan."


Ryu tengadahkan wajahnya menatap Jiro, "tapi Ayah melarangku, bagaimana? aku tidak mau menyakiti perasaan Ayah."


"Kenapa?" tanya Jiro menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti mengapa Kenzi melarang Ryu berhubungan dengan Zoya. Sepengetahuan Jiro, Kenzi sosok ayah ideal.


Ryu mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." Ryu berdiri menuji jendela kamar yang terbuka. Sesaat menatap lurus ke depan, lalu berbalik menatap Jiro. "Mungkin Ayah trauma karena sudah kehilangan kak Helion."


"Helion? hilang? hilang kemana?" tanya Jiro semakin penasaran, hatinya semakin gundah. Apalagi Jiro merasa tidak asing dengan nama Helion.


Ryu menundukkan kepala sesaat, "aku tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya, Ibu dan Ayah kehilangan kak Helion sekitar dua puluh tahun yang lalu." Ryu berjalan mendekati meja, mengambil foto Helion sewaktu berusia tiga tahun, menatapnya cukup lama.


"Dia kakakku." Ryu menyodorkan foto Helion pada Jiro.


Jiro mengambil foto di tangan Ryu lalu menatap dengan dalam bocah kecil dalam foto itu. Mata Jiro melebar, tangannya gemetar "I, i, ini, wa, wajahku waktu kecil." Jiro masih ingat foto yang Izanagi pajang di dinding kamarnya sewaktu kecil. Foto di tangan Jiro terjatuh, ia berdiri dengan mata berkaca kaca. Ryu yang memperhatikan perubahan sikap dan raut wajah Jiro.


"Jiro, kau baik baik saja bukan?" tanya Ryu berjalan menghampiri Jiro yang terpaku dengan tatapan kosong. Tangan Ryu terulur hendak menyentuh kening Jiro. Namun pria itu langsung berlari ke luar kamar.


"Jiro! seru Ryu berlari menyusul Jiro.


" Jiro!"


Namun Jiro terus berlari, bahkan ia tidak menoleh atau menyapa saat berpas pasan dengan Siena dan Kenzi.


"Jiro! pekik Ryu, langkahnya terhenti di samping Siena dan Kenzi yang kebingungan dengan mereka berdua. Sementara Jiro terus berlari ke luar rumah. Terdengar suara motor milik Jiro dari halaman rumah Kenzi.


" Sayang, ada apa? apa kau ribut dengan Jiro?" tanya Siena cemas.


"Tidak Bu, entahlah dia itu kenapa," sahut Ryu menatap motor Jiro meninggalkan rumahnya. "Mungkin dia lagi ada urusan penting, sudahlah Bu. Biarkan saja, aku lapar Bu." Ryu mengusap perutnya yang rata.


"Aku juga," potong Kenzi.

__ADS_1


Siena tersenyum mengusap pipi Kenzi lalu beralih mengusap pipi Ryu. "Ibu masak dulu sebentar, kalian tunggu." Siena langsung ngeloyor ke dapur. Sementara Ryu dan Kenzi duduk di ruang keluarga menonton acara televisi.


***


Jiro menepikan motornya di halaman rumahnya, lalu berlari masuk ke rumahnya.


"Paman Egor!" seru Jiro.


"Tuan, muda. Ada apa?" Egor langsung menfhampiri dari arah ruang tamu.


"Papa di mana?" tanya Jiro.


"Di kamarnya Tuan," jawab Egor membungkukkna badannya sesaat. Jiro langsung bergegas menuju kamar Izanagi. Langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya. Lalu tangannya terulur mengetuk pintu.


"Masuk! terdengar suara Izanagi dari dalam kamar.


Jiro langsung membuka pintu kamar, melihat Izanagi tengah duduk di atas tempat tidur. Kesehatannya akhir akhir ini terganggu. Hingga semua urusan perusahaan Jiro yang menangani.


" Papa.." Jiro duduk di tepi tempat tidur.


"Ada apa sayang, Papa dengar kau teriak teriak." Izanagi menatap sayang wajah Jiro.


Izanagi menganggukkan kepalanya, tersenyum pada Jiro. "Katakan."


"Pa, apa benar? aku hanya anak pungut Papa? apa benar? aku anak yang Papa temukan dua puluh tahun yang lalu?" tanya Jiro ragu ragu, takut menyinggung perasaan Papanya.


Izanagi terbatuk kecil, lalu menggeser tempat duduknya, menatap dalam wajah Jiro. "Papa tahu, suatu hari nanti kau akan mempertanyakan hal itu. Papa juga tahu, suatu hari nanti kau akan mengetahuinya." Izanagi menggeser duduknya lebih dekat dengan Jiro.


"Mungkin saatnya kau tahu, Nak." Izanagi tersenyum. Sementara Jiro hatinya berdegup kencang mendengarkan penuturan Izanagi.


"Kau memang bukan darah daging Papa, tapi Papa sangat menyayangimu, Nak. Papa menemukanmu di tepi jalan dalam keadaan terluka parah, sayang." Mata Izanagi berkaca kaca, ia harus bersiap siap jika Jiro meninggalkannya setelah tahu siapa orang tuanya.


"Jadi? mimpi mimpiku itu benar Pa?" ucap Jiro suaranya bergetar. Matanya berkaca kaca.


Izanagi menganggukkan kepalanya, "maafkan Papa yang sudah menyembunyikan kebenaran ini, tapi Papa tidak ada maksud menjauhkanmu dari orangtuamu, sayang. Papa terlalu sayang, dan kesepian. Dengan kehadiranmu, hidup Papa menjadi sangat berarti." Air mata di sudut mata Izanagi turun membasahi pipinya.


"Aku sayang Papa.." Jiro memeluk tubuh Izanagi erat. "Aku tidak akan meninggalkan Papa, tidak akan. Meskipun aku sudah tahu siapa orangtuaku. Aku akan menemani Papa sampai maut memisahkan kita."


"Terima kasih sayang, terima kasih." Izanagi melepas pelukan Jiro. "Pergilah, temui mereka."

__ADS_1


Jiro menganggukkan kepalanya, "terima kasih Pa, terima kasih." Jiro mencium pipi Izanagi sekilas, lalu ia berdiri dan berjalan keluar kamar menuju kamar pribadinya mengambil foto sewaktu ia masih kecil lalu ia kembali keluar kamar menuju halaman rumah untuk menemui Siena dan Kenzi lagi.


***


"Sayang, makanannya sudah siap!" seru Siena dari arah pintu, menatap putra dan suaminya tengah menonton tv.


"Oke, Bu!" sahut Ryu berdiri di ikuti Kenzi. Lalu mereka menghampiri Siena dan berjalan bersama. Namun langkah mereka terhenti melihat Jiro berdiri di ambang pintu rumah dengan mata berkaca kaca menatap mereka.


"Nak, kau baik baik saja?" sapa Kenzi menautkan kedua alisnya.


Perlahan Jiro melangkahkan kakinya mendekati mereka, lututnya terasa lemas terasa jauh untuk sampai pada mereka. Hati yang tidak dapat di lukiskan betapa bahagia dan rindunya Jiro pada kedua orang tuanya. Ia tidak menyangka jika orang tua yang selama ini melahirkannya sekarang ada di depan mata. "Nak?" sapa Siena bingung.


Tangan Jiro terulur memberikan foto masa kecilnya ke hadapan mereka. Siena menatap foto di tangan Jiro, menatapnya dalam. Perlahan tapi pasti, air mata Siena turun saling memburu. Ia tersenyum menatap Jiro.


"Helion, putraku." Suara Siena pelan nyaris tak terdengar, lalu menubruk tubuh Jiro dan memeluknya erat. Tubuh Jiro yang lebih tinggi harus membungkuk saat memeluk Siena.


"Ibu..." ucap Jiro terisak dalam pelukan Siena. "Aku merindukanmu Bu, rindu sekali."


"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu.." Siena memeluk dengan erat, tidak ada kata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Hanya ada air mata yang mewakili segalanya. Kenzi mengusap air matanya merangkul bahu Ryu yang masih bingung dengan semua ini.


Jiro melepaskan pelukan Siena, beralih menatap Kenzi. "Ayah.." Jiro langsung menubruk tubuh Kenzi erat. "Ayah, aku merindukanmu."


Kenzi tersenyum, menganggukkan kepala. tanpa ada kata yang terucap untuk mengungkapkan rasa bahagianya telah bertemu dengan putra kesayangannya yang selama bertahun tahun mereka cari. Mereka cukup lama berpelukan, Siena mengusap punggung Jiro dengan derai air mata. Ryu yang sedari tadi coba mencerna alurnha, akhirnya ia mengerti. Jika pria di hadapannya, yang srlalu membantunya adalah kakaknya yang hilang dulu.


"Bodoh!" sapa Jiro menatap Ryu.


Ryu menarik bibirnya ke bawah, "hah, aku tidak sudi punya kakak sepertimu, kakak yang sudah berani melupakan keluarganya. Tapi aku juga tidak mau kau pergi. Nanti siapa yang menjaga dan melindungiku lagi." Ryu langsung menubruk tubuh Jiro dan memeluknya erat.


"Ah, bodoh!" Jiro tertawa kecil membalas pelukan Ryu. "Kau adikku yang paling bodoh!"


"Bos?"


Jiro melepas pelukan Ryu, lalu mereka menoleh ke arah Samuel yang sedari tadi memperhatikan mereka, akhirnya memberanikan diri mendekat.


"Om!" Jiro langsung berlari memeluk Samuel. Ia terisak di pelukan Samuel. "Maafkan aku Om, gara gara aku Kak Akira meninggal."


"Tidak Helion, bukan salahmu. Akira menyayangimu, dia rela mengorbankan nyawanya buatmu." Samuel mengusap punggung Helion. Ia tidak menyangka, Helion dua puluh tahun lalu, masih sama baik dan ramahnya sampai saat ini.


"Sayang, kita rayakan kebahagiaan ini. Kita makan bersama." Siena mendekati Jiro.

__ADS_1


Jiro melepas pelukannya menoleh ke arah Siena. "Baik Bu.." Jiro merangkul bahu Ryu, lalu mereka berjalan menuju meja makan. Merayakan pertemuan yang selama ini Siena dan Kenzi rindukan harapkan.


__ADS_2