The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 25: Bertemu Ibu


__ADS_3

Sore itu Siena sudah rapi menggunakan gaun berwarna coklat. Sore ini ia dan Reegan hendak menghadiri pesta pernikahan Hana, rekan bisnis Reegan.


"Apakah kau sudah siap?" tanya Reegan memperhatikan Siena dari atas hingga bawah. "Cantik." Reegan menghampiri Siena langsung menggandeng lengannya.


Siena hanya diam saat Reegan membawanya keluar dari rumah menuju pesta pernikahan Hana.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Hana yang sangat megah. Mereka berdua langsung melangkah menuju taman bunga yang di buat pesta oleh keluarga Hana.


Siena menatap seluruh undangan dari kalangan atas. Taman bunga yang indah di dekorasi sedemikian rupa terlihat sangat elegan dan mewah.


"Ayo jalan..malah bengong," ucap Reegan menggandeng tangan Siena. Mereka langsung menghampiri Hana, Hans dan Maria.


"Hei Reegan!" seru Hana langsung menyalami Reegan dan Siena. "istrimu?" tanya Hana.


Reegan menganggukkan kepala, "benar bu.." jawab Reegan sembari merangkul bahu Siena membuat Maria cemburu.


"Kau cantik nak, siapa namamu?" tanya Hana menyentuh pipi Siena.


"Siena," jawab Elena dingin. Melihat sikap Siena yang tak ramah membuat Reegan tak nyaman.


"tersenyum.." bisik Reegan di telinga Siena. Namun Siena tidak menggubrisnya. Reegan tidak mengetahui mengapa sikap Siena begitu dingin dan tak ramah ketika bersalaman dengan Hana.


"Tidak apa apa Reegan, mungkin dia malu," sela Hana. "Oh ya, kalian silahkan duduk, acaranya mau di mulai."


Reegan dan Siena berjalan ke arah deretan kursi yang paling depan. Mereka duduk memperhatikan acara yang akan segera di mulai. Tak lama kemudian nampak di atas altar Hana dan Hans akan melakukan ijab qobul, mereka duduk dikursi dengan tenang saling berhadapan. Saat acara sedang di mulai, tiba tiba dari arah halaman seorang pria tua berjalan tergesa gesa dan naik ke atas altar.


"Dia pak Karta, orang no 1 paling kaya di kota ini," bisik Reegan ke telinga Siena. Siena hanya diam tanpa ekpresi memperhatikan anggota keluarga yang telah membuangnya. Nampak Rei berjalan menyusul Pak Karta.


"Rei?" ucap Siena pelan.


"Hentikan pernikahan ini!" seru pak Karta membuat para tamu undangan bertanya tanya, ada apa?


"Papa.." ucap Hana membelalakan mata menatap pak Karta.


"Papa tidak akan pernah merestui pernikahanmu dengan Hans!" bentak Pak Karta.


"Tapi kenapa pa?!" tanya Hana. Ia menatap tamu undangan yang memperhatikan mereka.


"Tidak perlu papa katakan, papa tidak mau punya menantu dia!" tunjuk pak Karta ke arah Hans. Hans langsung bereaksi.

__ADS_1


"Pa! kau tidak bisa memisahkan kami."


"Halah! dasar penjilat!" seru Karta. "Kalian semua bubar! tidak ada pernikahan!" Karta menatap semua tamu undangan, dan meminta mereka untuk bubar.


"Pa! jangan buat aku malu!" ucap Hana dengan mata berkaca kaca.


"Bubar semuanya!" seru pak Karta.


Tak lama tamu undangan satu persatu meninggalkan pesta pernikahan Hana dengan kecewa, ada juga yang tertawa mencemooh keluarga Karta.


Saat Reegan dan Siena hendak ikut pergi, Rei menahan mereka berdua, "kalian jangan pergi! tetap di sini!" seru Rei.


Reegan dan Siena saling pandang sesaat, lalu mereka kembali duduk.


"Sekarang juga kau pergi dari sini!" bentak Pak Karta pada Hans dan Maria. "Aku tahu kalau kau mengincar harta warisanku bukan?"


"Tuan Karta! jaga bicaramu! seru Hans menatap marah pada Pak Karta.


" Papa! seru Hana. "Kenapa papa bicara seperti itu?!"


"Asal kau tahu Hana, dia menikahimu hanya karena harta! dia pikir papa sudah mewariskan semua harta papa padamu Hana!" Pak Karta menarik tangan Hana untuk menjauh dari Hans.


"Bukankah papa sudah mewariskan harta papa padaku selama ini?" tanya Hana. "Kenapa papa masih ikut campur? terserah Hana, harta itu akan dipergunakan untuk apa. Terserah Hana..Pa!"


"Asal kau tahu Hana, semua harta yang papa punya..semua perusahaan yang papa kelola. Sudah papa wariskan pada cucu papa satu satunya," ungkap Karta.


"Cucu? tapi-?"


"Kau pikir putrimu sudah mati?" Karta kembali tertawa. "Putrimu masih hidup, karena itu..papa serahkan semuanya untuk cucu papa satu satunya..dan kau..kau tidak mendapatkan harta papa barang sepeserpun!"


Hana tertegun, ia mencari cara untuk mengorek informasi keberadaan putrinya yang ia tinggalkan bersama Surya, suami pertamanya. "Bukankah Surya sudah mati?" tanya Hana.


"Surya memang sudah mati, tapi tidak dengan putrimu. Dan papa sudah tahu keberadaannya," jelas pak Karta.


"Dimana pa?" tanya Hana seolah ia benar benar menginginkan putrinya.


"Papa tidak akan memberitahumu Hana, sekarang..kalau kau ingin menikah dengan si Habs. Silahkan pergi dari rumah ini..karena kau tidak punya hak apa apa lagi Hana!"


"Papa tega!" seru Hana.

__ADS_1


"Kau lebih kejam lagi Hana! ibu macam apa yang tega meninggalkan putrinya dan membohongi papa selama ini!" pekik Karta. "Sekarang kau pergi bersama Hans!"


"Tidak pa..aku tidak mau.." ucap Hana bersimpuh di kaki pak Karta. Sementara Hans menarik tangan Maria.


"Semua hinaanmu, aku terima Karta! tapi ingat, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal!" seru Hans, ia menarik tangan Maria lalu mereka beranjak pergi meninggalkan rumah Hana.


"Hans!" jerit Hana.


"Kejar dia, pergi sesuka hatimu Hana!" ucap Karta.


Hana tengadahkan wajah menatap Karta, "ampun pa..ampun..maafkan Hana.." ucap Hana lirih.


Hana berdiri lalu memeluk Karta, "maafkan Hana..maafkan pa.."


Karta melepas pelukan Hana, "papa akan memaafkanmu, asalkan kau mau berubah!"


"Baik pa..berikan hana kesempatan.."


"Maaf pak Karta, boleh kami pergi?" potong Reegan. Ia merasa tak enak hati berada di tengah tengah keluarga yang tengah berkonflik.


"Tunggu nak Reegan, biarkan Hana bertemu dengan putrinya," ucap Karta bahagia. "Rei!" Pak Karta memanggil Rei sebagai orang kepercayaannya pak Karta yang selama ini mencari informasi keberadaan cucunga.


Rei maju selangkah, "baik tuan, saya akan mengatakannya sekarang." Rei maju selangkah berhadapan dengan Siena dan Reegan. "Putri bu Hana, sekaligus cucu tuan Karta adalah..Siena!"


Reegan membelalakan matanya menatap Siena yang terdiam tanpa ekspresi. Begitu pula dengan Hana, ia maju selangkah mendekati Siena.


"Putriku..benarkah kau putriku?" Kedua tangan Hana terulur hendak memeluk Siena. Namun Siena mundur dua langkah ke belakang. "Putriku?"


"Tidak, aku bukan putrimu. Aku juga bukan cucumu," ucap Siena dingin.


"Kenapa nak? aku kakekmu," sela Pak Karta.


"Tidak, kalian salah orang..permisi!" Siena langsung berlari dan meninggalkan rumah Hana.


"Putriku!" seru Hana menatap punggung Elena. Ia hendak menyusul Siena namun Karta menahannya.


"Biarkan dia..dia butuh waktu untuk menerima kita," ucap Karta bijak.


"Pak Karta..Bu Hana..saya permisi.." Reegan menundukkan kepala sesaat, lalu ia berlari menyusul Siena

__ADS_1


"Pa..putriku pa.." ucap Hana lirih.


"Itu kesalahanmu sendiri, kau yang meninggalkan putrimu dan membuangnya!"


__ADS_2