The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

"Om! Tante! Ryu langsung berlari menghampiri Rei dan Marsya, lalu memeluknya erat. " Aku kangen kalian."


"Ayahmu tidak ikut?" tanya Rei mengalihkan pandangannya pada Siena yang berjalan mendekat. "Siena."


'Ayo duduk." Marsya mempersilahkan Siena dan Ryu duduk di kursi. Saat ini, Marsya sudah pensiun dari kepolisian. Putri satu satunya masih sekolah di sekolah menengah atas.


"Di mana Sachi?" tanya Siena.


"Sachi sekolah belum pulang," sahut Marsya.


Marsya berdiri lalu pergi ke dalam rumah untuk mengambilkan mereka minuman dan cemilan. Tak lama Marsya kembali membawakan minuman segar dan cemilan lalu di letakkan di atas meja.


"Om, Tante, tadi kami di hadang orang tak di kenal." Ryu menceritakan kejadian tadi.


Marsya dan Rei saling pandang sesaat lalu beralih menatap Siena yang hanya mengangkat kedua bahunya. "Siapa lagi mereka, Si?" tanya Rei.


"Aku tidak tahu, tapi menurut keterangan Sam-? Siena tidak melanjutkan ucapannya, ia menoleh ke arah Ryu yang mendengarkan.


"Aku tidak tahu, Rei." Siena mengedipkan satu matanya ke arah Rei dan Marsya sebagai kode untuk tidak membicarakan hal itu di depan Ryu.


Rei dan Marsya mengerti maksud Siena, lalu mereka mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Tentang indahnya Indonesia, membuat Ryu sangat ingin pergi ke sana. Waktu terus berlalu, tawa canda terlontar indah di teras rumah Marsya. Hingga akhirnya Siena memutuskan untuk pulang karena siang ini Kenzi pulang cepat. Setelah mereka puas melepas rasa rindu, Siena dan Ryu undur diri kembali pulang. Kali ini Siena membiarkan Ryu mengendarai motornya.


***


Di depan sebuah restoran cepat saji yang cukup ramai dan terkenal. Tiba tiba Ryu menepikan motornya, lalu melepas helm. Siena ikut turun dari atas motor menatap bingung Ryu.


"Hei Nak, kenapa berhenti di sini?" tanya Siena bingung, rumah mereka masih jauh.


"Sebentar Bu, ada Zoya!" sahut Ryu membenarkan rambutnya yang berantakan.


Siena mengedarkan pandangannya mencari nama gadis yang di sukai Ryu putranya. Ia melihat Zoya tengah berdiri di kawal dua anak buahnya. Nampak seorang pria seusia Kenzi berwajah eropa menggunakan kemeja putih dengan jas yang tergantung di pundaknya. Menggunakan kaca mata hitam, kancing kemeja yang terbuka terlihat bulu dada pria itu lebat sekali. Siena mengerutkan dahi memperhatikan putranya menghampiri Zoya. Namun dari jauh Siena melihat, mereka tidak menyukai kehadiran Ryu. Khawatir terjadi apa apa, Siena berjalan menghampiri mereka saat pria berwajah eropa itu mendorong bahu Ryu untuk menjauh dari Zoya.


"Hem! ada masalah?" tanya Siena menarik tangan Ryu untuk menjauh dari mereka. Pria tersebut mengalihkan pandangannya pada Siena, lalu melelas kaca matanya. Lalu pria itu lempar kaca matanya ke arah anak buahnya dengan sigap menangkap kaca mata tersebut.


"Siapa Anda, Nona..?"


"Siena." Siena menatap tajam pria itu tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Oh, Nona Siena." Pria itu mengulang namanya. "Adelfo." Pria itu mengulurkan tangannya.


Siena hanya diam menatap tangan pria itu tanpa ingin menjabatnya. Adelfo kembali menarik tangannya. Ia terbatuk kecil, "apakah dia adik Nona?" tanya pria itu.


"Putra, tepatnya dia putraku." Siena tersenyum sinis menatap Adelfo yang tertawa kecil. Terlihat raut wajah tidak percaya akan pernyataan Siena. Menurut pria itu, Siena terlalu muda jika sudah memiliki putra.


"Ok, terserah Nona Siena. Tolong itu, putra anda Nona Siena." Adelfo kembali tertawa kecil. "Untuk tidak mengganggu putriku, kami akan pergi ada urusan yang lebih penting."


Siena mengalihkan pandangannya pada Zoya yang menundukkan kepala, terlihat raut wajah sedih. "Hei Nak, kenapa sedih?" tanya Siena.


"Tidak Tante." Zoya menggelengkan kepalanya.


"Zoya, ayo kita pergi." Adelfo menarik tangan Zoya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Zoya!" seru Ryu hendak menarik tangan gadis itu. Namun Siena menahan tangan Ryu dan menariknya mundur ke belakang.


"Jangan cari masalah, Nak." Siena menghela napas dalam dalam menatap mobil Adelfo melaju meninggalkan mereka berdua.


"Tapi Bu.." Ryu menundukkan kepalanya.


Sementara Adelfo memperhatikan raut wajah putrinya yang terlihat sedih. "Kau menyukai anak muda itu?" tanya Adelfo.


"Tidak Pa."


"Papa tidak suka." Adelfo menunjukkan langsung sikap arogannya pada Zoya. Membuat gadis itu sudah ketakutan lebih dulu. Lebih baik ia pendam cintanya dari pada harus melihat Ryu terluka.


"Siapa wanita itu? benarkah dia ibunya?" ucap Adelfo dalam hati. "Cantik, menarik, liar." Adelfo tersenyum sendiri membayangkan wajah Siena tadi. Sikap cueknya Siena membuat Adelfo penasaran.


***


Sesampainya di rumah, Ryu langsung masuk ke dalam kamarnya dengan wajah murung. Siena menghela napas dalam dalam memperhatikan sikap putranya. Cinta telah menguasai hati dan pikirannya.


"Sayang, kenapa melamun?" sapa Kenzi langsung memeluk Siena dari belakang.


"Tidak ada, kau sudah pulang?" tangan Siena terulur mengusap pipi Kenzi lalu balik badan menatap wajah suaminya.


"Sudah dari tadi sayang, ada apa dengan putra kita?" Kenzi mendekatkan keningnya ke kening Siena.

__ADS_1


"Cinta..." kata Siena tersenyum melingkarkan kedua tangan di leher Kenzi.


"Cinta? maksudmu?" tanya Kenzi masih belum mengerti.


Siena mencubit hidung Kenzi gemas. "Putra kita sedang jatuh cinta."


"Zoya?" tanya Kenzi. Siena menganggukkan kepalanya. "Aku tidak setuju jika Ryu berhubungan dengan gadis itu."


"Kenapa?" Siena tidak mengerti.


"Aku tidak mau berurusan lagi dengan dunia kriminal. Sudah cukup kita kehilangan Helion, sayang." Kenzi memeluk erat tubuh Siena cukup lama. Kehilangan Helion menyisakan luka mendalam di hati mereka. Meski harapan itu kecil, tapi mereka tetap menjaganya supaya tidak padam. Berharap mereka bertemu lagi dengan Helion.


"Hei, kau jangan menangis." Kenzi menangkup wajah Siena.


"Aku merindukannya, sayang. Apa kabarnya dia hari ini." Siena kembali memeluk Kenzi erat.


"Dia pasti baik baik saja, tampan dan pemberani. Aku yakin itu."


"Tok tok tok!


Siena dan Kenzi menoleh ke arah pintu yang di ketuk. Nampak Jiro tersenyum membungkukkan badan sesaat menatap ke arah mereka.


"Jiro? Nak, ayo sini masuk!" seru Siena sembari melepaskan pelukannya.


"Tante, Om, apa aku mengganggu?" tanya Jiro ragu ragu.


"Tidak Nak, masuklah." Kenzi berjalan mendekati Jiro lalu merangkul bahunya masuk ke dalam rumah.


"Ryu ada Tante, Om?" tanya Jiro.


"Ada di kamarnya, kau samperin dia. Kebetulan dia lagi sedih." Siena tertawa kecil.


"Kenapa Tante? karena Zoya lagi?" tanya Jiro.


"Ya." Siena menganggukkan kepalanya. Kemudian Jiro meminta izin untuk menemui Ryu di kamarnya. Setelah mendapat uzin Jiro langsung menuju kamar Ryu di lantai atas.


Siena dan Kenzi saling merangkul menatap punggung Jiro.

__ADS_1


__ADS_2