The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 75: The deepers


__ADS_3

Kedatangan Kenzi ke markas bukan hanya menemui bos besar, tapi juga Livian. Untuk membicarakan tentang ancaman bos besar untuk melenyapkan Siena untuk dua hari ke depan. Tersisa satu hari untuk Kenzi melaksanakan perintah bos besarnya. Namun mereka tidak ada di markasnya.


"Bos tidak akan senang," Yu Jin mendengus kesal, ia mengeluarkan sebuah kotak rokok, mengeluarkannya sebatang dan ia tawarkan kepada Kenzi. "Kau sudah berbuat kesalahan, jika kau tidak melaksanakan perintahnya."


"Apa kau sengaja menghasutnya?" Kenzi mengambil sebatang rokok lalu mengeluarkan pematik miliknya.


"Apa maksudmu menjadikan gadis itu sebagai istrimu, Kenzi? apa yang ada di kepalamu?" Yu Jin menyalakan rokoknya lalu menghisapnya dalam dalam.


Kenzi melakukan hal yang sama lalu ia simpan kembali pematiknya. "Itu urusan pribadiku, mau aku apakan gadis itu."


"Brengsek," Yu Jin mengumpat. Ia masih ingat apa yang terjadi dengan para wanita yang ada di outfit, selain kekasaran yang wanita dapatkan. Tapi menjadikan mereka pemuas nafsu.


"Terserah kau mau bicara apa," ucap Kenzi begidik, acuh tak acuh. "Tapi aku sudah memberikan penjagaan penuh untuk istriku." Tak ada seorangpun yang tahu, baik Livian dan bos besarnya. Jika Siena telah di tempat aman.


"Kau membuat gadis itu bagai burung peliharaan." Yu Jin mengangkat alisnya, rokoknya yang hampir habis ia matikan di asbak.


Kenzi tidak menyangkalnya bila ia mau, tetapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam Siena bagai berlian di antara batu berkilauan yang menarik perhatiannya. Di balik kepolosan dan keluguan gadis itu sangat berani bila di depannya.


Sebelum Kenzi menjawab pertanyaan Yu Jin, seorang wanita masuk ke dalam ruangan langsung duduk di pangkuan Kenzi.


"Cristy Cung apa kabarmu? kapan kau datang?" tanya Kenzi menatap wanita yang duduk di pangkuannya, sebuah senyum terbentuk di bibir Kenzi saat jemari wanita membelai dadanya. Namun yang ia bayangkan adalah Siena saat menatap wajah Cristy.

__ADS_1


"Siena." kenzi langsung mendorong tubuh wanita itu hingga berdiri menatap kesal Kenzi.


"Apakah kau mencintainya?" Cristy bertanya kepadanya.


Kenzi tersenyum miris, lalu membuang rokok yang sudah habis ke lantai dan menginjaknya. Ia berdiri memperhatikan Cristy putri dari Don Outfit , sama sama brengseknya, wanita yang berambut panjang sering melayaninya dulu sebelum ada Siena. Kenzi berkali kali mendesah menyebut nama Siena, gadis lugu yang ia cintai tak akan pernah melakukan hal hal terlarang seperti yang di lakukan Cristy. Tanpa banyak bicara Kenzi langsung berlalu meninggalkan ruangan.


***


Entah sudah berapa lama Siena termenung duduk di balkon. Satu tahun berlalu menjalani hidup berada di dekat Kenzi. Setiap hari harus mencium aroma alkohol yang menyengat dan asap rokok setiap kali dekat dengan Kenzi. Semua rencana dan harapannya harus terkubur dalam dalam bersama mimpi buruk yang setiap hari menghampiri. Siena teringat suara canda anak anak panti, Keenan dan suasana di Indonesia. Semua kenangan selalu menghantui bagai candu nikotin untuk penikmatnya. Ah, berkali kali Siena mendesah frustasi, posisinya di antara Kenzi dan outfit bagai kambing hitam kapan saja akan di korbankan demi kepentingan.


"Kau sedang apa?" tanya Kenzi jongkok di hadapan Siena. Matanya menatap lurus wajah Siena yang terlihat lusuh, terdapat garis hitam di matanya, gadis itu tidak pernah lelap dalam tidurnya.


Siena hanya diam memperhatikan Kenzi, sesekali hidungnya mengendus mencium aroma alkohol dan asap rokok di tubuhnya. "Kau mabuk?" tanya Siena acuh, terlihat sebentuk senyum di bibir Kenzi.


Siena mengangkat dagunya menatap pria yang memiliki dua sisi yang berbeda, semakin hari semakin jelas dikenali. "Mau kemana? Siena berdiri menerima uluran tangannya mengikuti apa yang pria itu inginkan.


Kenzi memeluk tubuh Siena erat, menelusuri leher gadis itu dan menyentuh setiap area sensitif. Berkali kali ia mendesah dan menggigit bibirnya sendiri hingga gadis itu memiliki kekuatan mendorong tubuh Kenzi berhasil berucap, " jangan sentuh aku!"


Pernyataan Siena di balas tatapan tajam Kenzi, hingga Siena menundukkan kepala mundur selangkah, gadis itu berusaha mengangkat dagunya menatap lurus wajah pria di hadapannya. Entah apa yang di pikirkan Kenzi saat ini.


"Suatu hari nanti kau akan menyukainya Siena," pria itu merangsek maju mendekap erat Siena dan mencium bibirnya hingga gadis itu kesulitan bernapas. Akhirnya hadis itu bisa menghirup oksigen saat Kenzi berhenti mencium bibirnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat?" Siena melingkarkan kedua tangan di dadanya, saat tatapan mata Kenzi tertuju pada pakaian gadis itu yang terbuka di belahan dada.


Kenzi tersenyum samar, ia akui jika dirinya sangat menginginkan dan merusak gadis itu. Jika saja Siena menikmati permainannya, saat itu juga Kenzi telah merusaknya. "Ganti pakaianmu."


"Tapi kenapa?" Siena menurunkan tangan Saat Kenzi menarik paksa tangan Siena menuju kamar. "Apa yang kau lakukan!" pekik Siena saat pria itu berusaha melepas pakaiannya.


"Kau milikku, aku tidak suka ada pria lain melihat tubuhmu. Ganti pakaianmu, aku tunggu kau dalam lima belas menit."


Siena menghirup udara dalam dalam, menatap sendu punggung Kenzi yang meninggalkannya di kamar. Entah apa yang harus Siena lakukan lagi, melarikan diri sama saja bunuh diri. Tetap bersama pria itu pun sama saja. Seandainya dia meminta pulang akan sangat percuma, pria itu tidak akan mengizinkan.


Siena terduduk lemas di tepi tempat tidur, menangkup wajahnya. Berkali kali ia harus mengubur dalam dalam mimpinya akan sebuah kebebasan. Haruskah Siena larut dalam keputus asaan, atau menikmati semua yang Kenzi berikan. Perlindungan dan fasilitas? tidak, sementara dia memiliki mimpi besae untuk anak anak panti asuhan seperti mimpi Keenan dulu.


"Ahhhkkkh! pekik Siena mengacak acak rambutnya frustasi. Tubuhnya melorot ke bawah menangkup kedua kakinya. Pilihan yang sulit, atau memang tidak ada pilihan buat gadis itu?


" Kenzi.." ucapnya pelan dengan mata terpejam, kepala ia sandarkan ke tepi tempat tidur. Dadanya naik turun untuk mengatur napas, amarah yang terpendam di dalam dada. Gadis itu coba untuk tenang dan berdamai dengan dirinya sendiri. Menit berlalu, gadis itu lupa apa yang di perintahkan Kenzi. Hingga kesabaran pria itu hilang.


"Apa yang kau lakukan?" Kenzi jongkok di hadapan gadis itu, masih terlihat jelas jejak jejak air mata di pipi dan bulu matanya yang lentik. Sesaat Kenzi menundukkan kepala, entah apa yang aku pikirkan.


"Bangunlah." Kenzi menarik tangan Siena untuk bangun, pria itu kecup pipi Siena, terasa asin di lidah.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu." Gadis itu menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kau milikku, jangan bermimpi untuk pergi dariku," bisik Kenzi di telinga Siena, hingga gadis itu begidik.


"Aku menunggumu di luar." Siena mengangguk ragu, menelan salivanya susah.


__ADS_2