The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Dalam hidup hanya satu hal yang sulit untuk di jalani, yaitu menerima. Menerima kesedihan, kehilangan, kelukaan. Selalu menimbulkan konflik batin yang berkepanjangan. Dan butuh waktu yang panjang pula untuk benar benar menerima.


Jiro terus berlari menggenggam erat tangan Zoya, menyeret tubuh Zoya dan dirinya sendiri dengan langkah tertatih. Luka tembak di bahu Jiro terus mengalirkan darah. Gadis itu sendiri terluka dalam akibat pukulan tangan Miko dan benturan keras di dinding.


Dengan nafas terengah engah, akhirnya tubuh keduanya ambruk di lantai dan sudah kehabisan tenaga. Jiro menarik kerah baju Zoya saat gadis itu jatuh telungkup di lantai. Menariknya ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Gadis itu muntah darah kental, matanya berkunang kunang, tapi ia terus berusaha meraih kesadarannya.


"Bertahanlah," bisiknya pelan. Namun Zoya hanya menyunggingkan senyum. Jiro mengalihkan pandangannya ke arah lorong. Nampak Miko tengah berjalan mendekatinya dengan memegang kayu balok di tangannya. Jiro semakin mengeratkan pelukannya.


"Zoya, bangun. Kita pergi dari sini.." ucapnya pelan dengan tatapan lurus ke arah Miko yang semakin dekat bersama anak buahnya.


'Aku sudah tidak kuat, kau pergilah. Tinggalkan aku di sini. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu."


Dengan tenaga yang tersisa, Zoya mendorong tubuh Jiro. Lalu ia bangkit dan berdiri berlari ke arah Miko.


"Zoya! pekik Jiro langsung berdiri dengan langkah tertatih berlari ke arah dua gadis itu.


" Sadarlah Miko, kau hanya menyakiti dirimu sendiri. Akhiri dendam ini!" jerit Zoya langsung menubruk tubuh Miko supaya menjauh.


"Tidak akan pernah, kau telah menghancurkan mimpiku! kalian berdua telah menyakitiku!" Miko balik mendorong tubuh Zoya dan menendang perut gadis itu hingga terjungkal ke belakang. Jiro yang sudah ada di belakang mereka langsung menangkap tubuh Zoya supaya tidak terjatuh ke lantai.


"Aku mohon, jangan sakiti Zoya. Dia tidak salah apa apa." Jiro berusaha menenangkan Miko yang sudah di kuasai amarah.


Tanpa berkata apa apa lagi, tangannya yang memegang balok kayu di ayunkan ke wajah Zoya, tapi Jiro melindunginya dengan punggungnya sendiri.


"Bukkk!"


"Ahhh! Jiro mengerang pelan, darah segar menetes dari mulutnya membasahi wajah Zoya.


"Kenapa kau lebih peduli padanya?! kenapa?!" pekik Miko terus memukulkan balok kayu.


"Hentikan!"


Miko menoleh ke arah suara, nampak Kenzi berlari menghampirinya. Namun dua anak buah Miko langsung menerjang tubuh Kenzi bersamaan. Miko mengalihkan pandangannya pada Adelfo yang baru saja datang dengan senjata api di tangannya, langsung menembak anak buah Miko hingga tak berkutik lagi.


"Habisi mereka semua." Perintah Miko pada anak buahnya, sementara dia sendiri berlari ke arah lorong yang lain, menghindari kontak fisik dengan Kenzi juga Adelfo.


"Sayang, bagaimana ke adaanmu?" Kenzi mengangkat tubuh Jiro yang masih memeluk tubuh Zoya yang tak sadarkan diri. "Kau terluka."


"Ayah, maafkan aku.." ucap Jiro lirih.


Diamlah.." Kenzi mengangkat tubuh Zoya lalu menggendongnya. Matanya di alihkan pada Adelfo yang terus menembaki musuh.

__ADS_1


"Adelfo cukup! putrimu terluka!" seru Kenzi.


"Nak, ayo kita pergi dari sini." Kenzi berjalan menggendong tubuh Zoya, di ikuti Jiro dari belakang. Sementara Adelfo semakin murka melihat putrinya terluka. Ia terus merangsek masuk ke ruangan lain mencari semua musuh yang ada. Namun rupanya tempat itu bukanlah markas Crips yang sebenarnya. Lalu ia berlari ke luar menyusul Kenzi dan yang lain.


"Bagaimana dengan putriku?" Adelfo menatap sedih wajah Zoya yang di penuhi noda darah Jiro. "Berikan padaku."


Kenzi menyerahkan tubuh Zoya ke pangkuan Adelfo.


"Pacar Papa, bertahanlah.." ucap Adelfo lirih. Matanya berkaca kaca.


Untuk pertama kalinya ia menggendong putrinya dalam keadaan terluka. Sebelumnya ia selalu menjaganya, siapapun tidak bisa menyentuh apalagi melukai Zoya.


****


"Gadis itu benar benar berbahaya, aku sama sekali tidak menduganya. Aku telah tertipu dengan penampilan dan tutur katanya," ucap Kenzi sembari mengusap wajahnya kasar.


"Dendam gadis itu lebih berbahaya di banding orang yang mengendalikannya," timpal Adelfo.


"Kau benar." Sahut Kenzi.


"Ternyata aku salah memprediksi, dalang di belakang ini semua belum di ketahui secara pasti. Mungkin Jiro mengetahuinya." Adelfo menatap Kenzi sekilas, lalu beralih menatap putrinya yang perlahan membuka mata.


"Zoya, apa yang masih sakit?" tanya Adelfo khawatir, lalu ia duduk di tepi ranjang membantu gadis itu bangun dan duduk di atas ranjang.


"Kau tenanglah, Jiro baik baik saja. Dia baru selesai melakukan operasi." Timpal Kenzi.


"Aku mau melihatnya Pa..aku mohon.."


"Baiklah.." Adelfo membantu Zoya turun dari atas ranjang, lalu memapahnya keluar ruangan di ikuti Kenzi dari belakang menuju ruangan tempat Jiro di rawat.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" sapa Siena pada Zoya.


"Tante, aku baik baik saja," sahut Zoya. Lalu berjalan mendekati Jiro dan duduk di kursi.


"Hei.." sapa Zoya.


Namun Jiro hanya diam menatap Zoya. Kenzi, Siena dan Adelfo perlahan berjalan keluar meninggalkan mereka. Memberikan kesempatan putra putri mereka untuk bicara berdua.


"Zoya, maafkan aku. Gara gara aku, kau jadi seperti ini." Jiro tersenyum dan mau bicara setelah orang tuanya berada di luar.


"Tidak apa apa, aku senang kau baik baik saja. Seandainya kau jujur dari dulu, mungkin tidak seperti ini kejadiannya. Aku kasihan dengan Miko, sebagai seorang wanita. Aku bisa merasakan apa yang Miko rasakan." Ungkap Zoya.

__ADS_1


"Maksudmu?" Jiro menatap tajam gadis yang ia cintai diam diam.


"Dia mencintaimu, bawalah dia kembali pulang." Zoya menundukkan kepalanya sesaat.


"Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Jiro balik.


"Aku sangat mencintaimu, tapi jika kau bersamaku. Dendam Miko tidak akan berhenti mengganggu kita dan keluarga kita."


"Apa kau memintaku untuk bersamanya? tidak Zoya. Aku mencintaimu, aku tidak bisa bersamanya."


"Tapi-?"


"Sssst!" Jiro menempelkan jarinya di bibir Zoya. "Kita hadapi sama sama, apapun yang terjadi. Itu sudah pilihan Miko, aku berulangkali memberinya kesempatan."


Zoya menurunkan tangam Jiro, sesaat menunduk bingung. Di sisi lain ia sangat mencintai Jiro. Di sisi lain ia merasa kasihan dengan Miko. Dulu ia sering mengajaknya bertarung untuk mendapatkan Jiro, karena ia berpikir kalau Jiro mencintai Miko.


"Aku mencintaimu.." bisik Jiro pelan.


***


"Apa yang harus aku lakukan lagi, jika kau ternyata memilih dia.." ucap Miko pelan, tangannya mengusap air mata di pipinya. Lalu ia menendang kursi di hadapannya hingga terjungkal.


"Semua usahaku sia sia, tapi kau sama sekali tidak melihatku. Cukup sudah Jiro.."


"Sejak kapan, aku memiliki putri selemah kau, Miko! jangan lupa dengan misi utamamu. Ayahmu telah di bunuh oleh Kenzi, kau harus ingat itu. Jangan hanya karena kau mencintai putranya, lalu kau melupakan tujuan utama kita."


Miko menoleh ke arah Ibunya yang duduk di sofa dengan anggun. "Tidak Ibu.." jawab Miko pelan.


"Ingat, pria itu yang telah membunuh Ayahmu, menghancurkan semua Outfit dan Siena, dia juga yang melenyapkan Livian."


"Cukup Ibu! jangan menekanku, aku lelah. Aku lelah Ibu! pekik Miko terisak.


Wanita itu berdiri mendekati Miko dengan tatapan marah. Dan melayangkan tangannya di pipi Miko.


" Plakk!!


"Ibu.." Miko tak dapat lagi membendung air matanya, tamparan tangan Ibunya dan luka yang di berikan Jiro, sama sama menyakiti hatinya.


"Aku putrimu Ibu, bukan mesin pembunuh!"


Miko memegang pipinya, lalu berlari ke luar ruangan meninggalkan Ibunya.

__ADS_1


"Anak itu harus terus di ingatkan, siapa pembunuh keluarganya. Jika tidak, dia akan lemah hanya karena cinta," ucap wanita itu menatap tajam ke arah pria misterius yang selalu menggunakan penutup wajah.


__ADS_2