
Kenzi berkali kali menghubungi nomer ponsel milik Surya namun sama sekali tidak aktif. Ia khawatir sudah siang tapi Surya belum juga pulang, begitu pula dengan Samuel belum ada kabar. Kenzi kembali menghubungi Samuel untuk kesekian kalinya, kali ini sambungan telpon terhubung dengan Samuel. Kenzi berkali kali mengusap wajahnya yang menegang. Lalu ia matikan sambungan teleponnya ia masukkan kembali ke dalam sakunya.
"Oh God, apalagi ini." Tangannya mengusap wajahnya mendesah gusar, lalu ia bergegas menuju kamar Siena dengan perasaan yang tidak menentu. Perlahan ia membuka pintu kamar menatap sesaat ke arah Siena yang tengah membuka lemari pakaiannya. Kenzi langsung berlari dan memeluk tubuh Siena dengan erat.
"Hei, ada apa?" ucap Siena tertawa kecil, lalu ia tengadahkan wajah menatap Kenzi. "Ada apa?"
"Sayang, kau harus kuat." Kenzi mencium puncak kepala Siena dengan dalam.
"Ada apa?!" Siena menautkan kedua alisnya mendorong tubuh Kenzi. Hatinya mulai merasakan firasat buruk tentang Surya.
"Katakan ada apa!" pekik Siena menatap tajam ke arah Kenzi.
"Sayang, Papa.." suara Kenzi tertahan di tenggorokan.
"Papa?" Siena berjalan mendekati Kenzi.
"Papa kecelakaan." Kenzi langsung memeluk tubuh Siena yang bergetar.
"Tidak mungkin, tidak mungkin! Siena mendorong tubuh Kenzi lalu berlari menuju pintu kamar. " Papa!" pekik Siena.
"Sayang!" Kenzi berlari menyusul Siena lalu memeluknya dari belakang. "Sayang, kau tenanglah."
"Papa!" tubuh Siena melorot ke bawah, lututnya gemetar tak mampu lagi menopang tubuhnya. "Papa!" jerit Siena, akhirnya Siena menangis dalam pelukan Kenzi.
"Sayang, tenanglah."
"Papa!" Siena terus berteriak memanggil Surya. Akira yang berada di dalam kamar Helion mendengar jeritan histeris Siena langsung keluar kamar.
"Bos?" ucapnya menatap Kenzi dan Siena.
"Akira, kau tunggu di rumah bersama Yeng Chen. Jaga putraku dengan baik. Aku ke rumah sakit!" Kenzi memberikan perintah pada Akira.
"Ada apa?" sapa Yu.
"Kak, aku titip putraku!" Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya.
Yu menatap bingung Kenzi yang berlalu begitu saja. "Ada apa?" tanya Yu pada Akira.
__ADS_1
Akira menggelengkan kepala, lalu ia merogoh saku celananya menelpon Samuel. Akira sangat terkejut mendengar kabar Surya kecelakaan. Akira menyandarkan tubuhnya di dinding karena lemas. "Papa nona Siena meninggal."
"Ya Tuhan," ucap Yu mengusap wajahnya.
***
Sesampainya di halaman rumah sakit. Mereka bergegas menuju kamar di mana Surya di rawat. Dari lorong rumah sakit mereka melihat Samuel tengah bicara dengan dua anggota Polisi dan seorang Dokter.
"Bos."
"Papa! bagaimana dengan Papa!" Siena mengguncang lengan Samuel.
"Apakah kalian keluarga korban?" tanya Dokter menatap Kenzi dan Siena.
Siena berjalan mendekati Dokter, "iya Dok! saya putrinya. Bagaiamana Papa saya Dok!"
Dokter menundukkan kepala sesaat, "maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Korban meninggal."
Siena menggelengkan kepala, "tidak mungkin!" tangannya mendekap mulutnya sendiri. "Papa!" Siena langsung mendorong pintu ruangan masuk ke dalam di susul Kenzi.
"Papa! bangun Pa! jerit Siena memeluk tubuh Surya yang sudah di tutupi kain putih. Kenzi mendesah, ia menatap langit langit kamar berusaha untuk tidak menangis.
Siena membenamkan wajahnya di dada Surya sembari menangis histeris. Perlahan Kenzi mendekati Siena dan mengusap punggungnya untuk menenangkan. Siena mengangkat wajahnya lalu ia berdiri tegap menghadap Kenzi.
"Sayang," ucap Siena menelan salivanya susah. "Katakan, katakan pada Papa untuk bangun!" pekik Siena menarik kerah baju Kenzi.
Kenzi hanya diam, matanya berkaca kaca menatap Siena tidak menerima kematian Surya yang begitu cepat. "Sayang, iklaskan kepergian Papa." Kenzi memeluk Siena dengan erat. "Papa..sosok Ayah yang baik."
Siena masih menangis dalam pelukan Kenzi, ia tidak menyangka jika semalam kebersamaannya dengan Surya adalah yang terakhir. "Papa..aku sayang Papa.." ucap Siena lirih. Perlahan tangisannya mulai mereda.
Dokter dan yang lain masuk ke dalam ruangan. Kemudian salah satu anggota Polisi memberikan kotak kecil pada Kenzi. "Kami hanya menemukan kotak kecil ini dari genggaman korban.
Kenzi mengambil kotak kecil itu dari tangan Polisi. " Terima kasih Pak."
"Pelaku yang menabrak korban sudah kami amankan. Tapi berdasarkan keterangan pelaku mengatakan bahwa dia melihat sekilas kalau korban ada yang mendorong dari belakang hingga korban tertabrak," ungkap Pak Polisi.
"Di dorong?" Kenzi menautkan kedua alisnya menatap Pak Polisi yang mengangguk cepat. "Siap Pak?" tanya Kenzi lagi.
__ADS_1
"Sampai saat ini, kami belum menemukan keterangan pasti. Tapi kebetulan salah satu warga yang berada di lokasi membenarkan apa yang di katakan pelaku yang menabrak korban."
"Apa saksi tersebut bisa melihat siapa yang mendorong?" Kenzi semakin penasaran dan curiga. Tapi curiga pada siapa? bukankah Livian di penjara?
"Saksi tidak mengenal sosok yang mendorong korban, tapi kami akan menyelidikinya lebih lanjut." Pak Polisi mengulurkan tangannya menjabat tangan Kenzi. "Kami permisi, akan kami kabari kalau ada info terbaru."
"Terima kasih Pak." Kenzi menarik kembali tangannya. Ia tercenung sesaat, berpikir keras siapa yang telah mencelakai Surya?
"Siapapun yang telah mencelakai Papa, aku bersumpah akan membalas kematian Papa!" pekik Siena yang sedari tadi mendengarkan.
"Sayang, tenanglah." Kenzi merangkul dan mendekap tubuh Siena erat.
"Silahkan Bapak mengurus segala halnya, dan korban akan segera di urus jenazahnya," ucap Dokter.
"Baik Dok." Kenzi menatap ke arah Samuel. "Sam!"
Samuel menganggukkan kepala, "baik Bos!"
Kenzi memberikan kotak itu pada Siena. Dengan tangan gemetar ia mengambil kotak itu di tangan Kenzi dan perlahan membuka isi kotak itu. Terdapat sebuah kalung liontin berwarna biru shapir. Di dalam kotak itu ada sepucuk surat. Perlahan Siena membuka dan membacanya dengan tubuh gemetar.
Siena mendekap mulutnya sendiri dengan derai air mata saling memburu di pipinya.
*Siena putri Papa..
Selamat ulang tahun sayang, maaf Papa tidak bisa memberikanmu lebih dari yang Papa mampu. Tapi percayalah..Papa sangat menyayangimu lebih dari diri Papa sendiri.
Sayang..jika waktu bisa di putar kembali Papa ingin menghabiskan waktu bersamamu, bersama mamamu. Tapi kenyataan tidak mengijinkan kita berkumpul bersama.
Sayang, Papa tidak bisa mengukir kata untuk menterjemahkan rasa cinta papa padamu Nak. Tapi pesan Papa untukmu.
Memiliki putri sepertimu adalah anugerah tetindah yang Papa miliki. Pertemuan menjadi kebahagiaan Papa yang hilang.
Selamat ulang tahun yang ke 28 sayang. Hari jadi menggenapi usia masa kecilmu. Langit tak selalu biru. Jangan sampai padam mimpi dan harapan meski terjangan realita yang menimpa.
Realita tetaplah realita tak perduli kau menghindar atau berlari sejauh mungkin. Itu semua tidak mengubah kenyataan yang ada.
Papa yang selalu menyayangimu sampai akhir hidup Papa. Sekali lagi selamat ulang tahun putri kecil Papa*.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar Siena lipat surat dari Surya sebagai ucapan selamat ulang tahun. Ia dekap surat di dadanya dan menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Kenzi.
"Aku sayang Papa..."