The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 130: Limit


__ADS_3

Hari ke tujuh, Kenzi masih tetap setia menunggu Siena sadar dari komanya. Sedikitpun ia tidak pernah meninggalkannya walau barang sedetik. Setiap hari Kenzi membawakan sebuket bunga sedap malam kesukaan Siena.


"Sayang, bangunlah. Aku merindukanmu," bisik Kenzi di telinga Siena, seolah olah ia mendengar semua yang Kenzi ucapkan tiap hari di telinganya.


"Apa ada perkembangan?"


Kenzi menoleh ke arah pintu yang terbuka. Yu berjalan menghampiri Kenzi. "Belum ada."


"Apa kau butuh sesuatu?" Yu menarik kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri lalu duduk.


Kenzi hanya menggelengkan kepalanya. "Sudah satu minggu, tapi istriku belum sadar juga." Kenzi merasa putus asa. Setiap detiknya Kenzi merasa takut kehilangan Siena. Hanya bunyi elektrokardiogram lah yang membuatnya tetap waras, setidaknya selama jantung itu tetap berdenyut ia masih memiliki harapan.


Yu menatap Kenzi sesaat, "jangan berhenti berharap."


"Semua akan baik baik saja." Yu menepuk pundak Kenzi sekilas. Mereka sama sama merasa kehilangan saat ini. Melihat Siena berada di atas ranjang rumah sakit diambang hidup dan matinya tanpa bisa melakukan apapun juga membuat hati Kenzi hancur secara perlahan.


"Dia akan sadar, kau tahu itu?" Yu sendiri tidak yakin dengan ucapannya, dalam hati ia menyimpan rasa bersalah terhadap Kenzi. Andai dia tidak berada di posisi sulit mungkin semua ini tidak akan terjadi.


"Kuharap seperti itu." Kenzi melihat Siena yang masih mengenakan alat penopang hidupnya. Untuk kedua kalinya Kenzi melihat Siena seperti ini. "Aku tahu ia akan bangun." Kenzi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Dia istriku, Siena lebih kuat dari apa yang aku bayangkan." Kenzi menarik napas dalam dalam.


"Dia tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Siena tidak akan mengecewakan orang orang yang mencintainya." Yu menatap raut wajah Kenzi terlihat sangat terpukul.


Saat ini Kenzi ingin mempercayai semua hal yang Yu katakan, kalau Siena akan bangun suatu hari nanti.

__ADS_1


***


Hari ke dua puluh lima, Kenzi duduk termenung menatap lurus ke arah Siena. Ia teringat saat Siena menyanyikan lagu All of You. Nyaris satu bulan sejak peristiwa itu, keadaan Siena masih belum banyak perubahan. Ia masih tidur nyenyak dalam komanya.


Hari ini Kenzi memutuskan untuk mendatangkan Helion ke Hongkong. Kenzi berharap jika Siena mendengar suara putranya bisa cepat sadar dari komanya. Beberapa kali Kenzi mendapati jari jari Siena bergerak pelan, tetapi ia tidak ingin berharap lebih. Kenzi hanya tidak ingin kecewa lagi bila mengetahui gerakan jari jari Siena hanya sebuah gerak motorik biasa.


"Tuan Kenzi." Kenzi tengadahkan wajahnya melihat Dr. Ciang lin.


"Dokter." Kenzi menggeser kursinya dan mempersilahkan Dr. Ciang Lin memeriksa Siena. Dr. mengecek tekanan darah Siena dan gerak refleks dengan cara menekan nekan ujung jari kakinya.


"Bagaimana istriku?"


Dr. Ciang Lin adalah Dokter ahli bedah otak. Sudah banyak kasus seperti ini yang ia alami. Tabrakan yang di alami Siena membuat benturan di kepalanya. Di tambah luka yang di alami Siena akibat tusukan pisau membuat kondisinya semakin menurun, biasanya pasien tidak akan bertahan lama, brain dead biasanya tidak dapat terelakkan.


"Apakah..apakah dia akan bangun?" Kenzi menatap Siena cukup lama. Setahun lebih pernikahan mereka di warnai dengan permasalahn pelik dan bahaya. Sekarang ketika semua sudah berakhir, Siena terbaring koma dan membutuhkannya.


***


"Sayang..Mungkin aku meminta terlalu banyak darimu, aku tahu setelah apa yang terjadi di antara kita, setelah apa yang menimpa keluarga kita, apa yang sudah aku lakukan padamu. Mungkin..kau merasa sudah lelah. Tapi..aku ingin kau bangun sayang. aku ingin melihat tawa candamu lagi." Tetes demi tetes air mata yang turun dari mata Kenzi, membasahi jari jemari Siena yang ia genggam erat.


"Bangun sayang..aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sayang. Bangunlah," Kenzi tahu Siena tidak akan pernah mendengar ucapannya. Siena terlalu jauh terlelap dalam tidurnya, mengistirahatkan pikirannya dari beban yang selama ini ia rasakan. Kenzi mengecup jari jemari Siena perlahan menatap wajah Siena cukup lama. "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."


Hingga kini Siena tidak ingin menyerah, dia yakin masih ada bagian yang masih hidup meskipun semakin lemah setiap harinya. Hari itu Kenzi menghubungi Rei dan meminta Samuel untuk membawa Helion ke Hongkong. Dr Ciang Lin bilang jika mengajak Siena berbicara mungkin akan mempercepat proses kesadarannya.


Kenzi menggerakkan kepalanya yang kaku, ke kanan dan ke kiri lalu merentangkan kedua tangannya lebar lebar. Ia tertidur di kursi menunggu Siena terbangun. Setiap hari rutinitas Kenzi hanya duduk berharap Siena sadar seperti semula.

__ADS_1


Kenzi mengambil ponsel di saku celananya, menghubungi Yu untuk menjemput Samuel dan putranya. Walau bagaimanapun ia masih khawatir jika terjadi sesuatu, Kenzi menjadi sebuah ancaman jika ia membuka mulut pada pihak Kepolisian membocorkan semua kejahatan yang di lakukan para elit global. Namun Kenzi sendiri benar benar ingin pensiun dari dunia kriminal.


Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Siena yang bernapas dengan teratur. "Tuhan, beri aku kesempatan kedua."


Tangan Siena di genggam erat dan menciumnya cukup lama, "Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku." Air mata Kenzi kembali merembes membasahi jari jemari Siena.


Matanya menatap wajah Siena cukup lama, ia tidak dapat berkata apa apa lagi, tidak dapat ia bayangkan jika wanita itu meninggalkannya. Kenzi membungkukkan badannya memeluk tubuh Siena, menangis dalam diam. Hingga suara langkah kaki di luar ruangan terdengar. Kenzi bangun dan mengusap air matanya. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Pertama yang di lihat Kenzi, wajah putranya dalam gendongan Yu. Kenzi berdiri menyambut Helion dan menggendongnya. Menciumi wajahnya melepaskan rasa rindu.


"Ayah.."


"Hei, jagoan Ayah. Apa kabar?" Kenzi tersenyum getir menatap wajah putranya yang menatap ke arah Siena.


"Ibu..! tangannya menunjuk ke arah Siena, lalu memalingkan wajahnya menatap Kenzi. " Ibu.."


"Kau rindu Ibumu sayang?" Kenzi berjalan lalu duduk di kursi. Helion naik ke atas ranjang mencium pipi Siena cukup lama, lalu ia kembali ke pangkuan Kenzi.


"Ayah, kenapa Ibu tidur terus?"


"Ibumu kecapean sayang," jawab Kenzi suaranya terdengar bergetar.


Helion tersenyum lebar menatap Siena. "Ibu bangun, ayo pulang Ibu.."


Kenzi memeluk tubuh Helion erat. "Kita pulang setelah Ibu bangun, ya sayang?"


Helion menganggukkan kepalanya, menatap wajah Kenzi. Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Kenzi. "Ayah menangis?"

__ADS_1


Kenzi menurunkan tangan Helion, tersenyum samar. "Tidak sayang, Ayah kelilipan." Kenzi berkali kali mengerjapkan mata, membuat Helion tertawa.


Yu memalingkan wajahnya, hatinya semakin di liputi rasa bersalah. Ia melangkahkan kakinya sesaat menatap Samuel dan menepuk pundaknya sesaat, kembali melangkah keluar ruangan. Samuel menundukkan kepalanya, lalu melangkah keluar menyusul Yu.


__ADS_2