
Hampir setengah jam berlalu Kenzi terdiam duduk di kursi dekat jendela kamar. Ia belum pernah merasakan setakut ini, hampir seluruh hidupnya telah ia habiskan dengan pertaruhan darah. Untuk membangun kekayaan dan kekuasaan, tapi Kenzi memahami konsekuensi dunia yang ia geluti selama ini. Hukum rimba adalah aturan yang tak bisa di hindari. Akan selalu ada saat yang lebih muda dan kuat datang, mengganti yang tua dan mapan. Dunia kriminal selalu demikian sejak di lahirkan, dan ia tidak melawan hukum itu. Kenzi siap andai harus kehilangan semua yang ia miliki.
Tetapi ini tentang kehilangan yang lain. Sesuatu yang awalnya ia pikir hanya sebuah boneka Barbie di antara ribuan boneka cantik yang dengan mudah ia dapatkan lalu di campakkan setimpal dengan bayaran. Siena bukan lagi boneka Barbie di mana dirinya bebas mempermainkan. Siena adalah manusia, wanita, bahkan lebih dari itu. Siena adalah Ratu yang telah menguasai hatinya. Kenzi sangat takut jika harus kehilangan sesembahan hati yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Akankah kabar kebenaran bahwa Surya, Ayah kandungnya mengubah seorang Ratu yang mulai mencintainya menjadi seorang Ratu yang lalim penuh kebencian terhadapnya? Lalu menyingkirkan Kenzi sejauh-jauhnya? Akankah Siena mengerti mengapa Kenzi menyembunyikan fakta ini karena dulu memang Kenzi membenci Siena, dan sekarang berubah menjadi pecinta yang ingin berjalan dalam kebenaran?
"Hei! kau melamun? Itu cerutu belum mati, sudah mau menyalakan lagi yang baru!"
Lamunan Kenzi buyar oleh kedatangan Siena yang tiba tiba duduk di pangkuannya.
"Kau menangis?" tanya Siena lagi, tertegun melihat ada setitik air mata hampir jatuh dari sudut mata Kenzi.
Kenzi tersenyum tipis, kali ini ia tidak berusaha menyembunyikan kelemahannya, ia matikan cerutu di asbak yang ada di atas meja. Matanya kembali menatap Siena dan bertanya, " sayang, menurutmu, lebih penting mana antara cinta dan kebenaran?"
Siena tertegun sesaat, kedua alisnya bertaut menatap wajah Kenzi yang terlihat gusar. Lalu ia tersenyum manis, tangannya merangkul bahu Kenzi. "Pilih apapun boleh, memilih salah satu di antara keduanya, aku tetap dapat dua."
Sekarang Kenzi yang menautkan kedua alisnya, ia belum menangkap maksud ucapan Siena. "Kenapa?" tanya Kenzi penasaran.
"Karena kebenaran itu fakta adanya cinta, sedang cinta adalah kebenaran yang di rasakan." Siena berdiri mendekati kaca jendela, menatap jauh ke depan.
Begitu mencintai seseorang, maka orang itu akan selalu ingin menyampaikan kebenaran pada yang di cintainya, ia tidak mau berbohong.
Masalah Kenzi, dia cuma belum mampu melihat persamaan itu, dia masih menganggap cinta dan kebenaran itu beda. Pria itu menyamakan cinta dengan kepemilikan. Jadi ia takut kehilangan kepemilikan atas Siena.
Padahal tidak begitu dengan Siena, ia sudah tahu semua 'kebusukan' Kenzi. Tapi Siena tetap mencintainya. Jadi tidak masalah bagi Siena, kalo 1 fakta kebusukan tambahan Kenzi, dia ketahui. Apalagi ini tentang kebenaran Ayahnya yang masih hidup.
__ADS_1
Kenzi berdiri langsung memeluk Siena dari belakang dan mencium puncak kepalanya. Siena membalikkan tubuhnya cepat membalas pelukan Kenzi.
"Siena, setiap kali melihatmu terluka aku menjadi sangat resah. Setiap kali kau hilang dari pandangan, aku menjadi sangat takut."
Siena tersenyum, ia benamkan wajahnya di dada Kenzi, "semua akan baik baik saja, aku bersamamu." Siena menangis dalam pelukan Kenzi, ini memang terdengar aneh. Sejak menikahi pria bernama Reegan. Untuk pertama kalinya Siena merasakan kehadiran sosok Kenzi. Yang melindungi Siena dari apapun, dan menganggap ia Ratunya.
"Kau memang bukan yang pertama, tapi kehadiranmu sangat berarti buatku. Aku tidak memiliki siapapun setelah Mamaku tiada."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Siena," ucap Kenzi meyakinkan. "Jadi, kau membutuhkanku, seperti aku yang takut kehilanganmu? Untuk menjadi pria yang selalu mengerti semua hal tentang dirimu?"
Siena tengadahkan wajah menatap kedua bola mata Kenzi, ia mencari kesungguhan disana. Dan akhirnya Siena mengangguk.
Kenzi tersenyum tipis, hatinya lega mendengar semua pernyatan Siena. Perlahan ia akan membuang rasa takut kehilangan Siena meski itu sulit. Kenzi mengusap kedua pipi Siena dan mencium bibir Siena sekilas. Lalu ia memeluknya dengan erat.
"Papa!
Surya terpaku dengan sosok putri yang selama ini di rindukan tengah berdiri di depan mata. Tangannya terulur pelan dengan air mata yang entah kapan telah jatuh di pipinya yang mulai terlihat kerutan di wajahnya Rasa rindu dan tak percaya hadir menguasai relung hatinya. Perlahan Surya menyentuh pipi Siena.
" Putriku.." ucapnya pelan.
Siena tersenyum menganggukkan kepala menatap sosok Ayah yang selama ini di anggap telah tiada.
"Grepp! Surya langsung memeluk tubuh Siena erat. Menangis menumpahkan rindu yang selama ini ia rasakan. Siena membalas pelukan Ayahnya, untuk kesekian menit Siena diam dan mendengarkan ucapan rindu dari pria yang tak pernah ia tahu wajahnya sejak kecil. Siena hanyut dalam perasaan bahagia hingga tak terasa air matanya ikut mengalir.
Pelukan hangat Surya, Siena lepaskan menatap sendu wajah Surya yang tak muda lagi. " Jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah di sini bersamaku."
__ADS_1
"Apa yang di katakan istriku, benar!"
Surya dan Siena memalingkan wajah menatap ke arah Kenzi yang sudah berdiri di hadapan mereka.
Siena mengalihkan pandangannya menatap Surya yang menundukkan kepala, ia melihat raut wajah sedih. "Kenapa Pa? Papa tidak mau?" tanya Siena sedih.
Surya tengadahkan wajahnya, buru buru mengusap pipi Siena dengan lembut. "Tidak sayang, bukan begitu."
"Lalu?" Kenzi merangkul bahu Siena dan mendekapnya erat. Ia mengerti kecemasan di wajah Surya. Sama hal dengan dirinya, jika tetap bersama Siena, justru akan membahayakan. Tapi kini Kenzi tidak lagi seperti itu. Setidaknya ia sedikit lebih lega.
"Papa takut-?" Surya tidak melanjutkan kata katanya.
"Takut membahayakan nyawaku? bukan begitu Pa?" Siena tersenyum, ia meraih tangan Surya, mengusapnya lembut. Dia sudah mengerti ketakutan Papanya seperti yang di takuti Kenzi. "Apapun yang terjadi, kita hadapi semuanya. Kita keluarga Pa."
Kenzi menganggukkan kepala membenarkan ucapan Siena. Sekilas mencium pipi Siena lalu kembali menatap Surya yang masih ragu ragu.
"Hidup Papa sudah tidak berarti lagi sayang, Papa sudah menelantarkanmu. Kau berhak bahagia." Surya menundukkan kepala, tangannya mengusap air mata yang hampir jatuh. Mana mungkin ia tega membahayakan putrinya sendiri. Apalagi selama ini ia telah menitipkan putrinya di panti asuhan. Separuh hidupnya terbuang percuma hanya untuk membalas dendam pada Bosnya Kenzi, tapi sampai saat ini belum terselesaikan.
"Tetaplah di sini bersama putrimu," ucap Kenzi pelan.
Surya menatap Kenzi cukup lama, benarkah pria yang selalu dingin dan bersikap kejam telah berubah sangat jauh dari sebelumnya? lalu beralih menatap Siena dan menganggukkan kepala.
"Baiklah sayang."
Siena tersenyum lebar, ia melirik Kenzi sesaat lalu memeluk Surya dengan erat. Kini kebahagiaan yang dia dapatkan sudah lengkap.
__ADS_1