
Pagi buta seorang pria tua tengah mencari kayu bakar, ia menuruni setiap jalan yang menurun untuk mendapatkan kayu bakar lebih banyak lagi.
"Bapak! seru seorang gadis dari arah belakang, pria tua itu menoleh. Tengadahkan wajah menatap gadis itu.
" Ada apa nak!" sahut dia.
"Sini sebentar pak!" pekik gadis itu melambaikan tangan pada pria tua itu.
"Ada apa sih," ucapnya pelan sembari melangkahkan kakinya naik kembali ke atas.
Sesampainya di depan gadis itu ia langsung bertanya dengan napas tersengal sengal, "ada apa Dinda?" tanya pria tua itu.
"Lihat pak! Dinda menunjuk ke arah semak semak. " Ada mayat! ucapnya dengan mata melebar menatap semak semak.
"Mayat?" ucap pria tua itu.
Dinda menganggukkan kepala, ia menarik tangan pria tua yang tak lain bapaknya ke arah semak semak untuk memastikan. Pria tua itu menyibakkan semak semak, matanya melotot menatap seorang pria yang tergeletak berlumuran darah.
"Apakah dia sudah mati?" tanya Dinda pada bapaknya.
"Bapak tidak tahu nak," jawabnya. Wajahnya tengadah menatap jurang yang sangat tinggi. "Radanya tidak mungkin dia masih hidup," gumam pria tua itu.
"Kita harus melaporkannya pada Polisia nak," pria tua itu mundur ke belakang dan menarik tangan Dinda untuk me jauh dari tubuh pria yang tergeletak bersimbah darah itu. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara lirih dari bibir pria itu. Pria tua dan Dinda langsung menoleh dan kembali mendekat.
"Air..air.." ucapnya lirih dan pelan.
"Dia masih hidup pak!" seru Dinda.
"Benar nak, ayo kita angkat dia!" ucapnya.
Kemudian mereka mulai membuat anyaman dari bambu kering untuk menopang tubuh pria itu. Setelah selesai tubuh pria itu mereka ikat ke bambu dan menggotongnya.
"Pak pelan pelan jalannya, berat pak!" Dinda kerepotan membawa beban sambil berjalan yang sulit.
Dengan terseok seok mereka membawa tubuh pria itu hingga di tepi bukit gunung Sindur. Butuh beberapa jam untuk mereka sampai di desa, dengan sekuat tenaga dan berkali kali berhenti akhirnya mereka sampai di desa. Mereka langsung membawa pria itu kerumahnya.
"Siapa itu pak Dasim?!" tanga tetangga pria tua yang bernama Dasim.
"Tidak tahu, kami menemukannya di bukit!" seru pak Dasim menunjuk ke arah gunung Sindur.
"Wah, itu harus di laporkan pada pihak berwajib! kata tetangganya.
__ADS_1
" Iya, tapi saat ini dia membutuhkan air dan perawatan secepatnya! ucap Dasim dan di benarkan oleh Dinda.
"Nanti kami akan melapor Mang, sekarang biar kami rawat dulu," sela Dinda. Tetangganya menganggukkan kepala, lalu ia berlalu meninggalkan rumah pak Dasim.
"Pak, ayo kita bawa masuk," ucap Dinda.
Mereka membawa pria itu masuk ke dalam rumah, dan membaringkannya di kursi panjang. Sementara Dinda memanggil Dokter untuk mengobati luka luka pria itu. Dokter menyarankan pak Dasim untuk membawanya ke rumah sakit setelah pria itu mendapat pengobatan sementara.
Sepeninggal Dokter, mereka berdua duduk termenung, pasalnya mereka tidak memiliki cukup uang untuk mengobatinya ke rumah sakit.
"Sebaiknya kita serahkan ke Polisi saja nak, bapak tidak punya uang untuk mengobatinya.
" Terserah bapak," jawab Dinda.
"Air..air.." ucap pria itu lirih. Mereka langsung berdiri dan mendekati pria itu yang perlahan membuka mata. Pak Dasim langsung memberikan pria itu minum.
"Di mana aku.." ucap pria itu menatap Dinda dan Pak Dasim.
"Kau berada di rumah kami nak," jawab Pak Dasim.
Pria itu berusaha bangun namun kakinya tidak bisa di gerakkan. "Jangan dulu bergerak nak," ucap Pak Dasim.
"Kalian siapa? tanya pria itu.
"Namamu siapa nak? dan di mana rumahmu?" tanya Dasim.
Pria itu sejenak terdiam coba mengingat semuanya, "aku Keenan," ucapnya pelan.
Dasim menganggukkan kepala, "nak Keenan, berikan alamat rumahmu nak..biar kami antarkan kau ke keluargamu."
Keenan terdiam lagi, ia coba mengingat semua peristiwa yang menimpanya, "Maria, kau wanita keji," ucap Keenan dalam hati.
"Apakah kau ingat rumahmu nak?" tanya Dasim lagi.
Keenan meraih tangan Dasim, "pak..aku minta tolong..untuk sementara saya menumpang di rumah bapak sampai saya sembuh," ucap Keenan menatap Dasim penuh harap.
"Bapak tidak keberatan nak, tapi bapak tidak punya biaya untuk membawamu ke rumah sakit."
"Bapak tidak perlu membawaku ke rumah sakit, biar saya cari solusi lain," jawab Keenan.
Pak Dasim terdiam sejenak, ia menatap Dinda yang ikut terdiam. "Bagaimana nak?" tanya Dasim.
__ADS_1
"Terserah bapak, tapi kalau aku boleh tahu..mengapa kau tidak mau pulang?" tanya Dinda pada Keenan.
Keenan terdiam lagi, lalu ia menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Wah, kok ada wanita sejahat itu..apalagi istri sendiri," ucap Dasim tak mengerti dengan jalan pikiran orang orang kaya.
"Kami akan membantumu, tapi..jika kau sudah sembuh..kau harus pulang ke rumahmu," ucap Dinda.
Keenan menganggukkan kepala, "terima kasih," kata Keenan.
***
Dua hari berlalu, Keenan semakin lebih baik kondisinya. Hanya saja, Keenan mengalami kelumpuhan. Menurut Dokter, kelumpuhan yang di alami Keenan tidak akan berlangsung lama. Jika di rawat dengan benar dan berlatih untuk berjalan, maka Keenan ada kesempatan bisa berjalan lagi dengan normal.
Keenan duduk termenung di kursi bambu depan rumah pak Dasim.
"Maria..tunggu aku kembali. Kau akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatanmu," ucap Keenan. "Siena..maafkan aku..seandainya dulu aku mau mendengar nasehatmu, hal ini tidak mungkin terjadi..Ya Rabb..lindungi Siena..jaga dia..jangan biarkan Maria menyakitinya..aku mohon," ucap Kernan dalam doanya.
"Keenan? apa kau baik baik saja?" tanya Dinda dari arah pintu, lalu ia menghampiri Keenan dan duduk di samping Keenan.
Keenan tersenyum menatap Dinda yang memiliki wajah ayu dan berkulit hitam manis. "Aku tidak apa apa, terima kasih sudah sudi merawatku," jawab Keenan.
"Tidak masalah, bukankah kita harus saling tolong menolong," ucap Dinda tersenyum manis.
"Berapa usiamu, Dinda?" tanya Keenan.
"Usiaku baru 18 tahun," jawabnya.
"Apakah kau sudah lulus sekolah?" tanya Keenan lagi.
"Bapak tidak punya biaya." Dinda menundukkan kepala. Keenan menganggukkan kepala menatap gadis ayu di hadapannya.
"Gadis baik, lembut..tidak seperti Maria..cantik tapi hatinya busuk," ucap Keenan dalam hati.
"Kenapa kau bengong?" tanya Dinda.
"Tidak apa apa," kata Keenan.
"Kalian di sini?" sapa pak Dasim dari arah belakang rumah.
Dinda dan Keenan menoleh ke arah pak Dasim. "Iya pak!" sahut Dinda.
__ADS_1
"Ayo masuk, kita makan bersama." Dasim berjalan mendekati Keenan, lalu mengangkat tubuh Keenan di bantu oleh Dinda untuk di pindahkan ke kursi roda. Pak Dasim menjual hasil panennya semua untuk membantu membelikan Keenan kursi roda yang biasa.
Mereka masuk ke dalam rumah untuk makan bersama. Keenan beruntung bertemu dengan orang orang baik di desa itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Keenan.