The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 22: Pertemuan kedua


__ADS_3

Lima hari berlalu pernikahan Siena dan Reegan semakin dekat, tapi Siena tidak berhenti memikirkan Keenan. Hampir setiap hari ia mendatangi rumah sahabatnya itu namun setiap kali ia kesana, rumah itu dalam keadaan kosong tak berpenghuni lagi. Keenan dan Maria hilang tanpa kabar berita bak di telan bumi. Bahkan Siena sempat mengunjungi tempat perusahaan di mana Keenan bekerja. Pihak perusahaan mengatakan kalau Keenan sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi.


Khawatir? ya, tapi Siena bisa apa.


"Pasti kau sedang memikirkan temanmu itu bukan?" tanya Reegan di suatu sore depan teras rumah Siena.


"Kau benar, sampai sekarang aku tidak tahu di mana mereka," jawab Siena pelan.


Reegan tertawa kecil menanggapi pernyataan Siena. Ia menganggap kalau calon istrinya itu terlalu berlebihan. Pasalnya Keenan sudah menikah dengan Maria, bukan hal yang perlu di khawatirlan ketika mereka tidak ada di sini lagi. Bisa saja mereka bulan madu, atau pindah rumah tapi tidak ingin di ketahui Siena. Mudah bukan? pikir Reegan.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Siena menatap Reegan kesal.


"Kau itu lucu, Keenan sudah berkeluarga dan dia ada yang merawatnya. Kenapa kau yang repot memikirkannya?" jawab Reegan terdengar ketus.


"Sudahlah, bicara sama kamu tidak pernah nyambung," sahut Siena lalu ia terdiam.


Sembari berdiri Reegan berucap, "terserah, habiskan saja waktumu untuk memikirkan pria lain."


Siena tengadahkan wajah perlahan menatap Reegan, "kau marah padaku?" tanya Siena.


"Tidak," jawab Reegan membuang muka ke samping. "Aku pulang dulu, besok pagi pagi aku jemput kau." Reegan melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" Reegan berhenti dan menoleh.


"Ada apa lagi? percuma aku temani kau disini jika yang ada di pikiranmu hanya ada Keenan."


Siena berdiri, lalu berjalan mendekati Reegan. "Apakah kau cemburu?" tanya Siena tertawa kecil. "Mana mungkin juga kau cemburu..ya sudah kalau kau mau pulang..hati hati saja dijalan." Siena melangkahkan kakinya. Namun Reegan menarik tangan Siena mundur ke belakang lalu ia dekap tubuh mungil calon istrinya.


"Kau pikir, aku berhati batu yang tak memiliki perasaan?" tanya Reegan menatap lekat kedua bola mata Siena.


Siena hanya mengangkat bahunya, "siapa tahu..kau menikahiku juga karena kakekmu bukan?"


Reegan tersenyum tipis, sesaat ia membuang muka ke samping. "Kau tahu itu, dan tugasmu adalah membuatku jatuh cinta padamu, apa kau bisa?"


"Tidak bisa," jawab Siena datar.


"Kenapa?" tanya Reegan mengerutkan dahi sembari melepas pelukannya.


Siena mengulurkan tangannya lalu ia letakkan di dada Reegan. "Kau terima aku apa adanya silahkan..kalaupun tidak..itu juga hakmu..tugas kita berdua adalah saling percaya."


Reegan mengangguk anggukkan kepala mendengar pernyataan Siena, "apakah dengan rasa percaya saja cukup? untuk membangun sebuah hubungan supaya langgeng?"


"Tidak juga," jawab Siena santai.

__ADS_1


"Lalu?" Reegan mengerutkan dahi menatap wajah Siena yang datar tanpa ekspresi.


"Bermodalkan cinta saja tidak cukup, sayang juga tidak bisa, percaya saja juga rasanya kurang..karena sebuah hubungan tidak harus di landasi satu hal saja," jawab Siena.


"Aku tidak mengerti maksudmu Siena," ucap Reegan menyerah.


Siena menurunkan tangannya di dada Reegan, "suatu hari kau akan mengerti maksudku, entah itu kapan kau akan mengerti apa yang aku ucapkan..tapi itu pasti..kau akan mengerti."


Reegan terdiam cukup lama menatap Siena, di sisi lain ia nyaman ketika dekat dan bicara dengannya. Namun di sisi lain, Siena bukanlah kriteria dia untuk menjadi pasangan hidup Reegan. Selain cara berpakaiannya yang sederhana dan dia terlihat biasa saja. Saat ini Reegan hanya menyukai hal hal fisik dan penampilan saja. Berbeda dengan Siena yang lebih dewasa dalam berpikir dan sikapnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Siena.


Reegan mengerjapkan mata, sesaat ia menundukkan kepala. "Tidak ada..kalau begitu aku pulang dulu." Reegan melangkahkan kakinya sembari mengacak rambut Siena sesaat.


"Hati hati di jalan," ucap Siena menatap punggung Reegan hingga memasuki mobil pribadinya. Siena melambaikan tangan saat mobil Reegan melaju meninggalkan rumah Siena.


"Hmm.." Siena menarik napas panjang, lalu ia berjalan mendekati kursi dan duduk di atasnya. "Semoga aku tidak salah dalam mengambil keputusan untuk menerima pernikahan ini."


***


Keesokan paginya, Reegan sudah berada di rumah Siena. Rencana mereka hari ini pergi ke butik mencoba baju pengantin yang sudah di pesan sesuai keinginan Alya, mamanya Reegan.


"Ayo Siena, cepatlah!" seru Reegan dari arah teras rumah.


Tak lama kemudian Siena telah selesai, ia berdiri di depan pintu menatap Reegan, "aku udah selesai!"


Reegan menoleh menatap Siena, lalu ia berdiri dan mendekat. "Ayo."


Reegan menarik tangan Siena dan menggenggamnya erat. Mereka berjalan menuju mobil. Reegan membukakan pintu mobil untu Siena, lalu ia menutup pintu mobil. Sesaat ia diam menatap Siena yang berada di dalam mobil, kemudian Reegan melangkah memasuki mobilnya tanpa ada basa basi lagi ia langsung menjalankan mobilnya menuju butik.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di butik. Reegan meminta Siena mencoba pakaian yang sudah di pilihkan Alya.


Siena keluar dari ruangan dengan menggunakan gaun berwarna putih, pas dengan ukuran tubuhnya yang mungil dengan belahan dada yang sedikit terbuka.


Reegan menatap kagum ke arah Siena, ia memperhatikan Siena dari ujung rambut hingga kaki.


"Kau cantik juga Siena," ucap Reegan menyentuh dagu Siena.


Siena hanya diam tanpa ekspresi, entah ia harus bahagia atau tidak dengan semua kemudahan yang dia dapat saat ini. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ada sedikit penolakan atas semua kemudahan yang ia terima. Ada kekhawatiran yang timbul begitu saja dari dalam sanubarinya yang tak bisa ia jelaskan dengan kata kata.


"Kenapa kau diam? apa kau tidak suka? tanya Reegan menatap wajah Siena yang biasa saja.


Siena menggeleng cepat, " apakah sudah cukup?" tanyanya.

__ADS_1


Reegan mengangguk cepat, "nice Siena."


Siena langsung balik badan memasuki ruangan ganti untuk menukar pakaiannya kembali. Tak lama Siena telah kembali menghadap Reegan dengan pakaiannya semula.


"Kalau kau berpakaian biasa seperti ini, membuatku tak berselera," celetuk Reegan.


Siena terhenyak, ia menatap lekat wajah Reegan. Dari kata kata spontan yang Reegan ucapkan saja Siena sudah bisa menebak apa mau Reegan sebenarnya. "Tidak..aku tidak boleh menyerah di ujung jalan..aku harus berani bertanggungjawab atas pilihanku sendiri," ucap Siena dalam hati.


"Sekarang kau bengong lagi," ucap Reegan menepuk keningnya.


"Siena?" sapa sessorang dari belakang.


Siena dan Reegan menoleh menatap ke arah suara, "Rei?" ucap Siena mengenali orang yang baru saja menyapanya.


"Dia siapa?" tanya Reegan sedikit tidak suka ada laki laki lain yang menyapa Siena.


"Namaku Rei, aku temannya Siena." Rei mengulurkan tangan pada Reegan.


Reegan diam sesaat menatap tajam Rei, kemudian ia ulurkan tangannya menjabat tangan Rei.


"Reegan." Reegan menarik kembali tangannya.


"Kau sedang apa Siena?" tanya Rei menatap Siena.


"Aku-?"


"Kami mau menikah, dia baru saja mencoba baju pengantin. Iya kan sayang?" potong Reegan.


Siena mengerutkan dahi sembari mengangguk cepat, 'iya."


"Oh, kalian mau menikah..selamat ya..semoga langgeng sampai kakek dan nenek," sahut Rei tersenyum manis pada Siena.


Siena tersenyum samar, ia tidak tahu harus bicara apa. Kedatangan Rei di hadapan Siena yang tiba tiba untuk ke dua kalinya sangat ganjal dan membingungkan Siena.


"Terima kasih," jawab Reegan. Ia tarik lengan Siena sembari merangkul bahu Siena. "Kita pulang sayang." Reegan tiba tiba saja bersikap sangat romantis di depan Rei. Siena menganggukkan kepala.


"Rei..kami pulang dulu," ucap Siena.


Rei menganggukkan kepala, "iya Siena..jangan lupa undang aku ya."


Siena tersenyum samar pada Rei, kemudian mereka berjalan keluar butik. Rei balik badan memperhatikan Siena dan Reegan dari kaca jendela butik. Nampak Reegan menurunkan tangannya dari bahu Siena, di dalam mereka terlihat romantis tapi ketika di luar mereka terlihat biasa saja.


"Siena..semoga kau bahagia..suatu hari nanti..aku akan mengatakan semua hal tentangmu." Rei tersenyum menatap kepergian Siena dan Reegan.

__ADS_1


__ADS_2