The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Pagi pagi sekali Ryu sudah rapi hendak berangkat kuliah, Siena merasa aneh dengan sikap putranya pagi itu. Tidak biasanya Ryu bangun sepagi itu dan semangat berangkat kuliah.


"Pagi Bu." Ryu mencium pipi Siena sekilas.


"Sayang? tumben jam segini mau berangkat?" tanya Siena merasa aneh.


"Aku ada tugas pagi ini Bu," sahut Ryu sembari menunagkan air mineral ke dalam gelas.


"Ibu antarkan ya?"


Siena mencuci tangannya dan hendak bersiap mengantarkan Ryu. Namun Ryu mencegahnya.


"Tidak usah Bu."


"Kenapa?"


Siena berdiri di belakang Ryu memperhatikan gelagat aneh putranya.


"Ibu jemput aku siang nanti saja."


Ryu tidak berani menatap mata Siena. Ia takut ketahuan jika sedang berbohong pada Ibunya.


"Nak, kau tidak membohongi Ibu kan?"


Gelagat putra bungsunya tidak seperti biasanya. Membuat Siena ada rasa curiga, meski ia belum tahu apa yang di sembunyikan Ryu.


Ryu menoleh kebelakang sesaat. "Ibu, ada ada saja."


"Aneh."


Siena berdiri terpaku di teras rumah menatap putranya meninggalkan halaman rumah menggunakan sepeda motor.


"Sayang? ada apa?" sapa Kenzi.


Siena menoleh ke arah Kenzi, lalu menceritakan gelagat putranya. "Mungkin apa yang dia katakan benar, kau tidak usah khawatir. Nanti siang biar aku yang menjemputnya."


Kenzi merangkul bahu Siena mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sementara di tempat lain, Ryu tidak pergi ke kampus. Tapi menemui Zoya yang sudah janjian dari semalam bertemu di taman tak jauh dari kampusnya.


"Zoya!" seru Ryu.


Zoya berdiri menyambut ke datangan Ryu, dengan tas punggung berukuran sedang di pundaknya. "Ryu, syukurlah kau sudah sampai. Aku pikir kau tidak datang," sahut Zoya.


"Tentu saja aku datang, lagipula aku tidak terima kalau kau tunangan dengan Kanaye." Ryu memeluk Zoya sesaat. "Aku mencintaimu."


"Aku juga.." Zoya tersenyum manis pada Ryu. "Lalu kita mau kemana sekarang?" tanya Zoya yang mengajak Ryu untuk melarikan diri, karena tidak ingin bertunangan dengan Kanaye.

__ADS_1


Ryu terdiam, ia juga bingung tidak tahu harus kemana menyembunyikan Zoya. Ia sama sekali tidak punya pengalaman apa apa. Baru kali ini, Ryu membohongi Ibunya demi Zoya.


"Kita ke hotel dan sembunyi di sana dulu. Baru kita pikirkan rencana selanjutnya. Bagaimana?' tanya Ryu.


"Baik, aku setuju."


***


Sepulang dari kantor, Kenzi mendatangi kampus tempat putranya menimba ilmu. Namun sesampainya di sana ia tidak melihat Ryu keluar dari kampus. Lima belas menit lamanya Kenzi menunggu.


"Ayah!"


Kenzi menoleh ke arah samping, melihat Jiro berjalan mendekat.


"Sayang, Ryu masih di dalam?"


Jiro menautkan kedua alisnya menatap wajah Kenzi. Sejak pagi, Jiro tidak melihat Ryu. Dia berpikir jika Ryu tidak masuk sekolah. Tapi kenapa Ayahnya mencari Ryu?


"Aku tidak melihat Ryu sejak pagi, Yah."


Kenzi termenung.


"Maksudmu, Ryu tidak masuk hari ini?"


Jiro memganggukkan kepalanya, tadi dia sempat bertanya pada temannya Ryu, dan mereka mengatakan kalau Ryu tidak masuk hari ini.


Jiro menggelengkan kepalanya, menatap raut wajah Kenzi seperti sedang berpikir keras.


"Bagaimana kalau kita tanya Zoya? mungkin dia tahu di mana Ryu?"


Kenzi menganggukkan kepalanya, ia semakin cemas setelah tahu kalau Ryu tidak ada di kampus. Apalagi nomer ponsel Ryu tidak aktif.


"Ide bagus, Nak."


Jiro memanggil salah satu teman Zoya, dan bertanya di mana Zoya berada. Namun jawaban mereka sama, Zoya tidak datang ke kampus hari ini. Kenzi tercenung memikirkan kekhawatiran Siena tadi pagi.


"Aku yakin mereka pergi bersama, tapi kemana?" ucap Kenzi dalam hati.


"Ayah, apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Ayah terlihat khawatir?"


Kenzi mengusap rambut Jiro lembut, dia sendiri belum tahu.


"Ayah juga belum tahu sayang, sebaiknya Ayah pulang."


"Aku ikut Yah!" sahut Jiro.


Kenzi mengangguk. "Ayo kita pulang sekarang."

__ADS_1


Perasaan Kenzi mulai tidak enak tentang Ryu. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Kenzi menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Apa yang ia takutkan selama ini menjadi nyata. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan. Jiro hanya memperhatika. wajah Kenzi yang menegang.


Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di halaman rumah. Kenzi menepikan mobilnya lalu keluar di pintu mobil bersamaan dengan Ryu. Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Kenzi dan Jiro melebarkan matanya melihat isi rumahnya berantakan, pecahan kaca dan barang barang berserakan di lantai. Pandangan Kenzi beralih menatap Siena yang duduk di kursi tumpang kaki.


"Ibu!"


Jiro berlari mendekati Siena dan memeluknya sekilas.


"Sayang, ada apa ini?"


Kenzi menarik kursi lalu duduk di hadapan Siena yang duduk termenung. Sementara isi rumahnya seperti kapal pecah.


Siena menurunkan kakinya mengusap pipi Jiro, lalu beralih menatap Kenzi. Apa yang dia takutkan selama ini bukanlah sekedar trauma semata. Ryu putra bungsunya telah menyalakan percikan api permusuhan.


"Anak buah orangtua Zoya, menuduhku menyembunyikan gadis itu di sini.'


Kenzi mengusap wajahnya pelan, lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Ya Tuhan.." ucapnya pelan.


Bertahun tahun, Kenzi dan Siena berusaha keluar dari lingkaran setan. Dan semua itu harus di bayar dengan darah dan nyawa. Namun kini, putranya mulai menyeret mereka kembali masuk ke dalam lingkaran setan itu. Dan yang lebih parah, Ryu menyeret mereka ke dalam lingkaran yang yang lebih besar. Kaki tangan Don Chicago. Sebuah organisasi terlarang yang tak pernah tersentuh oleh hukum. Meski daftar hitam kejahatan mereka sudah pihak Polisi kantongi. Namun Don Chicago itu tidak pernah sedikitpun menginjakkan kakinya di kantor Polisi. Licik, licin, cerdas.


"Ayah, apa yang harus kita lakukan?"


Jiro duduk di kursi, ikut memikirkan masalah yang tengah mereka hadapi. Meski kejadian masa lalu, Jiro masih kecil. Tetapi ia memiliki ingatan yang kuat. Bagaimana ia bisa mengingat peperangan yang sering terjadi waktu itu.


"Kita harus temukan Ryu secepatnya. Sebelum masalah ini semakin melebar."


Kenzi berdiri hendak melangkah. Namun Samuel sudah berdiri di hadapannya.


"Bos."


"Sam, kau ikut aku."


Kenzi menoleh ke arah Jiro yang tengah memeluk Siena.


"Nak, kau jaga Ibumu."


"Tentu Yah!"


Kenzi melangkahkan kakinya bersama Samuel keluar rumah. Di perjalanan Kenzi menelpon Yu dan meminta bantuan dan solusi untuk permasalahan yang tengah di hadapinya. Jika orang lain, mungkin Kenzi tidak sulit untuk mengambil keputusan. Tapi sekarang ini adalah darah dagingnya sendiri yang memicu permasalah. Putra bungsunya tengah di mabuk cinta tanpa memikirkan akibatnya. Mungkin Kenzi tidak akan setakut ini, jika yang di cintai Ryu gadis biasa. Masalahnya Ryu melarikan gadis, anak gembong mafia.


Sementara Siena dan Jiro membersihkan isi rumah yang berantakan akibat pertarungan Siena dan Samuel melawan anak buahnya Adelfo. Meskipun tangan bekerja memunguti pecahan kaca. Namun pikiran Siena tidak berhenti memikirkan putra bungsunya.


Jiro yang sedari tadi memperhatikan ikut berpikir keras. Sedikit banyak ia mengetahui sejarah kedua orangtuanya di masa lalu. Ia tidak ingin hal yang sama menimpa keluarganya lagi.


"Aku bersumpah, jika mereka menyakiti kedua orangtuaku dan Ryu. Akan kuantarkan mereka semua ke neraka," ucap Jiro dalam hati. Menatap sayang Siena.

__ADS_1


__ADS_2