
Siena menarik napas gusar lalu ia bangun dari tempat tidur menghampiri lemari pakaian Kenzi, ia membongkar semua barang barang Kenzi. Mata Siena berbinar ketika melihat sejumlah uang jatuh berseeakan ke lantai.
Ia jongkok dan memungut uang itu. "Akhirnya, aku menemukan uangmu Kenzi. Uang ini cukup untukku pulang ke Indonesia."
Suara ketukan pintu membuat Siena waspada, ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri lalu uang di tangannya ia masukkan kedalam kaos yang ia kenakan.
Akira masuk ke dalam ruangan membawa nampan berisi makanan. Mata wanita itu menyipit menatap curiga Siena.
"Loh, kenapa pakaian tuan Kenzi berantakan?" tanya Akira.
"Ah itu..tadi aku mau pinjam kaos yang bisa aku gunakan. Ternyata tidak ada," jawab Siena.
Akira mengerutkan dahi, ia letakkan nampan di atas meja. "Baiklah nona Siena, saya akan panggilkan tuan Kenzi." Ia balik badan.
"Tidak perlu! seru Siena.
Akira tertegun memalingkan wajahnya menatap Siena, " baiklah nona." Ia kembali melangkah keluar kamar dan menutup pintu.
"Huffftt.." Siena mengelus dadanya. Lalu ia bergegas kembali membereskan semua pakaian Kenzi ke dalam lemari.
"Apa yang kau lakukan!" seru Kenzi dari arah pintu langsung mendekati Siena.
Jantung Siena berdegup kencang, ia balik badan dan bersandar ke lemari. "Tidak ada! sahut Siena.
" Minggir!" Kenzi mendorong bahu Siena, lalu ia memeriksa isi lemarinya yang berantakan.
Ia memalingkan wajahnya menatap Siena, "apa yang kau sembunyikan?"
"Tidak ada," jawab Siena melangkahkan kaki menjauh dari Kenzi. Ia berdiri di depan jendela kamar.
Kenzi menatap curiga ke arah Siena, dengan tenang ia berjalan menghampiri Siena dan memeluk pinggang Siena dengan erat.
"Katakan, apa yang kau sembunyikan.." ucap Kenzi menatap lekat kedua bola mata Siena.
Siena menggelengkan kepala, "aku tidak menyembunyikan apa apa," jawabnya pelan.
Kenzi menarik baju Siena bersamaan dengan uang yang berhamburan jatuh ke lantai.
"Ini apa Siena?" tanya Kenzi.
__ADS_1
Siena langsung mendorong tubuh Kenzi. "Ya, aku mengambil uangmu, kenapa?!"
"Uang itu untuk kau melarikan diri, begitu?" Kenzi tersenyum sinis mendekat ke arah Siena dan memeluknya erat.
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu Siena, lebih baik aku membunuhmu dari pada melepaskanmu!" seru Kenzi melepas pelukannya.
"Apa?!" Siena melebarkan matanya menatap Kenzi. "Kalau begitu, kau bunuh aku saja! aku tidak mau seperti ini terus! pekik Siena.
Tanpa banyak bicara, Kenzi mengambil senjata api di balik pinggangnya lalu ia arahkan ke wajah Siena. " Ini yang kau mau?" tanya Kenzi menatap dalam ke arah Siena.
Siena mendengus menatap geram Kenzi. "Jika kau memberiku pilihan seperti itu, aku memilih mati."
Kenzi tertawa kecil menatap Siena yang ketakutan, "benarkah? sampai kapanpun kau adalah milikku Siena." Kenzi menurunkan senjata apinya lalu ia selipkan kembali di balik pinggangnya. Ia balik badan melangkahkan kakinya keluar kamar dan mengunci Siena dari luar.
Siena terdiam, kata kata Kenzi terngiang di telinganya "kau mililku" ia menjatuhkan tubuhnya di lantai. berkali kali ia mengusap dada dan menarik napas panjang. Meskipun Kenzi tidak pernah menyentuhnya, tapi ia merasa bagaikan tahanan di rumah itu. Tahanan akibat di jadikan taruhan di meja judi oleh ibunya sendiri
***
"Nona, anda ditunggu tuan Kenzi di bawah," ucap Akira berdiri di depan pintu.
"Apa kau sudah siap?"
"Iya," Siena menjawab malas bahkan ia tidak melihat sedikitpun raut wajah Kenzi yang tersenyum padanya.
Kenzi merangkul bahu Siena, lalu mereka berjalan menuju halaman rumah. Mereka langsung masuk ke dalam mobil saat Samuel membukakan pintu mobil.
"Kau kenapa?" Kenzi melihat raut wajah Siena yang murung.
"Aku ingin pulang.." ucapnya lirih.
"Baiklah..kita akan pulang, tapi tidak sekarang..setelah semua pekerjaanku di sini selesai." Kenzi menjelaskan pada Siena. Hanya butuh dua bulan lagi pekerjaannya selesai.
"Terima kasih.." Siena menoleh ke arah Kenzi sesaat. Kenzi menganggukkan kepala dan mengecup punggung tangan Siena.
"Bos." Samuel memberitahu Kenzi ketika menyadari mobil mereka di ikuti oleh mobil lain.
Kenzi dan Siena menoleh ke belakang, dan benar saja sudah ada beberapa motor dan mobil diam diam membuntuti mereka. Kenzi langsung mengambil pistol. Sementara chen yeng melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Siena, kau merunduk!" Kenzi memperingati Siena yang terlihat ketakutan. Siena langsung merunduk dan tangannya mencengkram kuat pinggang Kenzi.
Kenzi berhasil menembak dua motor sekaligus hingga jatuh dan tidak bisa mengejar lagi.
"Cheng Yen!" Kenzi memerintahkan dia untuk menembak mobil yang ada di belakang. Cheng Yen membuka kaca mobil, badannya separuh kelaur dan menembaki mobil yang ada di belakang.
"Kenzii!" pekik Siena semakin erat memeluk pinggang Kenzi. Ketika peluru menghujani mobil mereka juga.
"Sam, lebih cepat!" Kenzi memerintahkan Samuel untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Cheng Yen dan Kenzi terus menembaki mobil hingga tersisa satu mobil lagi.
Kenzi melirik ke arah Siena yang tengah memeluknya, ia sempat tersenyum melihatnya. Lalu ia meminta Siena untuk melepaskan pelukannya.
"Kenapa? Siena tengadahkan wajahnya menatap Kenzi.
" Aku mau keluar, jika begini terus kapan selesainya." Kenzi menjelaskan.
"Tidak! kau tidak boleh keluar! Siena menggelengkan kepala.
" Kenapa Siena?"
"Kalau kau tertembak bagaimana?" Kenzi melihat jelas di mata Siena ada kekhawatiran yang di berikan untuknya.
"Percaya padaku, tidak akan!" Kenzi melepas paksa pelukan Siena. Ia meminta Samuel menghentikan mobilnya. Lalu Kenzi keluar dari pintu mobil menatap tajam ke arah mobil yang ada di belakang. Ia arahkan pistolnya tepat ke wajah sang sopir.
Siena kembali menjerit saat mendengar suara peluru saling berdesing. Ia merundukkan kepala dengan jantung yang berdegup kencang.
Tak lama suara peluru berhenti, Siena coba untuk melihat situasi. Nampak Samuel dan Cheng Yen berdiri di samping Kenzi. Siena langsung keluar dari pintu mobil menghampiri Kenzi. "Kau tidak apa apa?" tanyanya sembari memeluk erat dengan reflek.
Kenzi hanya tersenyum, ia mengajak Siena untuk kembali masuk ke dalam mobil. "Kau mengkhawatirkanku?" tanya Kenzi senang.
Dengan raut wajah kesal Siena memalingkan wakah menatap Kenzi.
"Tentu saja aku khawatir, jika kau mati. Siapa yang akan mengantarkan aku pulang? hidupku di sini bagaimana? kalau aku di tangkap polisi juga bagaimana?" ungkap Siena kesal.
Kenzi mengusap wajahnya kesal, "ya ampun Siena..aku pikir kau..?"
"Kau pikir aku suka begitu?!"
Kenzi menggelengkan kepala, "keras kepala."
__ADS_1