The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Dengan raut wajah bahagia, Jiro memanggil kedua orangtuanya untuk duduk bersama membicarakan tentang niatnya untuk menjadikan Miko sebagai istrinya. Dan pria itu memutuskan untuk secepatnya menikah. Namun di luar dugaan Jiro dan Miko. Kenzi menentang niat Jiro. Pasalnya, mereka terlalu cepat memutuskan tanpa ada alasan yang kuat kenapa mereka ingin mengakhiri masa lajangnya. Apalagi Kenzi tahu, kalau cinta Jiro terhadap Miko bukanlah cinta yang sesungguhnya.


"Tapi kenapa Ayah?" tanya Jiro tak mengerti, ia mendesah kecewa dengan keputusan Ayahnya.


"Nak, ikuti apa kata Ayahmu. Bukan berarti kami tidak mengizinkan kau menikahi Miko. Tapi Ibu rasa saat ini bukan waktu yang tepat kalian mengambil keputusan."


"Ayah, Ibu.." ucap Jiro menatap tajam keduanya. Lalu menarik napas dalam dalam sebelum ia kembali bicara.


"Aku tahu, kalian menyayangiku. Aku juga tahu kalian sudah banyak hal yang telah kalian lewati. Tapi jangan samakan hidupku dengan hidup kalian. Aku punya jalan sendiri, dan kalian tidak perlu menentukan apa yang terbaik untukku."


Mata Kenzi melebar menatap Jiro, ia tidak menyangka darah dagingnya sendiri akan bicara seperti itu. Ucapa Jiro telah menyulut emosi Kenzi, tangannya menggebrak meja lalu berdiri menunjuk ke arah putranya, membuat Siena berjengkit kaget.


"Kau tidak perlu mendikte ayahmu sendiri!"


Siena berdiri menurunkan tangan Kenzi, menatapnya lembut, lalu menganggukkan kepala pada Kenzi. "Tenanglah sayang." Kenzi kembali duduk bersama Siena.


"Aku sudah menduga, Ayahmu tidak akan merestui kita." Miko yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Lalu berdiri menatap tajam Kenzi dan Siena bergantian.


"Ini, cara kalian membalas budi?" ucap Miko menusuk hati Kenzi dan Siena. "Kalau kutahu seperti ini, lebih baik aku biarkan Om membusuk di penjara."


"Miko! jaga ucapanmu!" seru Jiro berdiri menatap Miko marah.


"Oh, kau tidak suka? baiklah. Mulai sekarang jangan pernah hubungi aku lagi!" Miko langsung balik badan melangkahkan kakinya. Sesaat Jiro menatap Kenzi dan Siena yang masih terpaku, tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Jiro langsung berlari menyusul Miko. Namun gadis itu sudah menghilang entah larinya ke mana. Lalu ia kembali menemui orangtuanya.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Ayah."


"Nak.." ucap Siena pelan, lalu berdiri memegang tangan Jiro. Namun dia menepisnya, membuat Siena sedih.


"Jiro!" pekik Siena berlari menyusul Jiro yang berlalu begitu saja ke luar rumah.


"Jiro!" jerit Siena berdiri di teras rumah menatap putranya masuk ke dalam mobil, lalu melajukannya.


"Sudahlah, biarkan dia berpikir ulang." Kenzi merangkul bahu Siena menenangkan.


"Apa yang harus kita lakukan.." ucap Siena lirih menyandarkan kepalanya di dada Kenzi.

__ADS_1


"Aku terpaksa harus meminta bantuan Adelfo, hanya dia satu satunya yang memiliki akses yang akan mengantarkan Kenzi pada pelaku utama di balik ini semua."


Kenzi menjelaskan panjang lebar, ia tidak ingin peperangan terjadi lagi. Ia tidak mau melihat ada pertumpahan darah, mengorbankan nyawa yang tidak bersalah. Kenzi benar benar tidak menginginkannya. Satu satunya jalan adalah Adelfo. Namun Kenzi yakin, jika dia yang bicara langsung, Adelfo tidak mungkin mau bekerjasama. Kecuali Siena yang bicara dengannya, tapi Kenzi tidak mungkin membiarkan istrinya dekat dekat dengan pria lain.


"Sayang, apa kau percaya padaku?" tanya Siena menatap lembut Kenzi.


Kenzi menganggukkan kepalanya. "Tentu saja."


"Demi anak kita, buang jauh jauh rasa takutmu itu." Tangan Siena terulur mengusap lembut kedua pipi Kenzi.


"Baiklah, kita temui Adelfo, tapi kau jangan dekat dekat dia." Siena menurunkan tangannya, tersenyum pada Kenzi.


***


Sore itu juga, Kenzi dan Siena menemui Adelfo di kediamannya. Kedatangan mereka disambut baik oleh Zoya.


"Nak, Papamu ada?" tanya Kenzi.


"Ada Om, Papa sedang membuat kue," jawab Zoya tersenyum.


Zoya tertawa kecil melihat raut wajah mereka yang terlihat bingung. "Om, Tante..ayo masuk." Gadis itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan membawanya ke ruangan dapur yang berukuran besar.


Kenzi dan Siena kembali saling pandang, saat melihat Adelfo tengah berdiri membelakangi sambil menuangkan tepung hingga ia terbatuk kecil.


"Papa, ada tamu." Zoya mendekati Adelfo menarik tangannya supaya berbalik ke arahnya.


"Siapa sayang?" tanya Adelfo menatap ke arah Zoya, gadis itu langsung mendekap mulutnya dan mentertawakan Adelfo. Wajahnya terdapat banyak noda tepung. Kemudian ia balik badan menatap Kenzi dan Siena. Matanya langsung melebar saat melihat wanita yang ia sukai ada di hadapannya.


"Ka, kalian?" ucapnya gugup. Buru buru ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Bukannya bersih tapi semakin di penuhi noda tepung karena telapak tangannya banyak tepung.


Kenzi dan Siena mencoba menahan tawa melihat tingkah konyol Adelfo karena gugup melihat Siena. Kemudian pria itu mengusapkan telapak tangannya di kemeja yang ia kenakan. Tangannya terulur ke hadapan Siena. Namun buru buru Kenzi yang membalas jabatan tangan Adelfo.


"Silahkan duduk." Adelfo mempersilahkan mereka duduk di kursi meja makan. "Kebetulan sekali, aku buat kue. Kalian bisa mencicipinya."


Sementara Siena hanya menundukkan kepala menyembunyikan senyumnya melihat wajah Adelfo putih oleh tepung. Sementara Zoya menepuk keningnya sendiri lalu mengambilkan tisu basah. Gadis itu berikan tisu pada Adelfo.

__ADS_1


"Ssst!"


Adelfo menoleh ke arah Zoya lalu menaikkan kedua alisnya menatap Zoya. "Wajah Papa kotor," bisik Zoya.


Kemudian pria itu mengambil tisu di tangan Zoya, dan di usapkan ke wajahnya. Setelah selesai, ia mengambil kue buatannya sendiri, lalu di letakkan di atas meja. Kenzi hanya diam memperhatikan sikap konyol Adelfo. Mungkin ia harus berpikir ulang akan penilaiannya tentang Adelfo. Pria itu tidak segarang ketika ada di luar rumah. Meski di antara mereka pernah terjadi perselisihan, tapi Kenzi sudah melupakan dan memaafkannya.


"Apa yang membuat kalian mengunjungi rumahku?" tanya Adelfo sembari duduk di kursi. Sementara Zoya memotong kue lalu di letakkan di atas piring berukuran kecil, ia letakkan satu persatu ke hadapan mereka.


Tanpa banyak basa basi, Kenzi menceritakan semuanya pada Adelfo. Ia tidak ingin membuang waktu sebelum terlambat.


"Aku sudah mengetahuinya," sela Adelfo.


"Jadi? kau sudah tahu semuanya?" tanya Kenzi lagi.


Adelfo menganggukkan kepalanya, "ada yang menginginkan kematianmu. Mereka hendak mengadu domba kita. Supaya mereka bisa cuci tangan."


Kenzi termenung sesaat, menyandarkan tubuhnya di kursi. "Sudah kuduga."


"Kau tenang saja, aku akan membantumu." Adelfo tersenyum melirik ke arah Siena. Namun Zoyq yang mengetahui Papanya curi pandang pada Siena, langsung menginjak kaki Adelfo di bawah meja.


"Aww!" erang Adelfo membuat Kenzi dan Siena terkejut.


"Kau baik baik saja?" tanya Kenzi.


Mata Adelfo melebar tersenyum samar pada Kenzi. "Aku baik baik saja, hanya saja-?" Adelfo tidak melanjutkan ucapannya, ia menoleh ke arah Zoya yang duduk di sebelahnya pura pura tidak tahu.


"Kenapa anda menjerit?" tanya Siena berusaha menahan tawanya.


"Itu, sepertinya kakiku kesemutan," ucap Adelfo tertawa kecil, kembali melirik Zoya yang terlihat santai dengan raut muka tak bersalah.


"Jadi, bagaimana Tuan Adelfo?" Kenzi sudah tidak sabar menunggu jawaban pria itu.


"Aku pasti membantumu," jawab Adelfo singkat. "Jika di biarkan, bukan hanya kita yang bermasalah. Tapi anak anak kita akan kena imbasnya."


Adelfo kembali fokus membicarakan masalah yang tengah Kenzi hadapi. Benar dugaan Kenzi, kalau Miko tengah di kendalikan untuk membalaskan dendam mereka yang sakit hati pada Kenzi. Namu. Kenzi bisa bernapas lega, karena Adelfo mau membantunya untuk menyelesaikan masalah tanpa harus berperang.

__ADS_1


__ADS_2