
Tidak ada yang menyangka, jika mereka sudah di perdaya. Bagaimana dengan Kenzi di sana? Adelfo mendengus geram menatap wanita itu tertawa mencemooh seolah olah sudah menang dan berada di atas angin. Mereka nampak orang bodoh di hadapan mereka.
"Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu?" tanya Siena, matanya melirik ke arah wanita itu. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, tapi sebuah tamparan keras dari seorang pria yang muncul tiba tiba dari arah belakang.
"PLAKK!!
"Tutup mulutmu, dan tidak perlu kau tahu siapa kami." Pria tersebut menatap Siena yang mengerang kesakitan dari balik topengnya.
'Brengsek! jangan sakiti Ibuku!" pekik Ryu hendak berlari ke arah Siena. Namun dari arah belakang, senjata api sudah menempel di kepalanya, bahkan bukan cuma Ryu. Adelfo dan Zoya pun sudah di pepet dengan dua orang pria dengan senjata laras panjang.
Wanita itu melirik ke arah Ryu, dan menurunkan senjata apinya, di gantikan pria bertopeng yang menempelkan ujung senapan di pelipis Siena.
"Dokter Ryu, kau tampan mirip dengan Kenzi." Wanita tersebut menyentuh pipi Ryu, lalu beralih menatap Siena.
"PLAKK!!
Wanita itu kembali melayangkan tangannya di wajah Siena. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"IBUUUU!!"
"Hadapi aku, brengsek. Sialan!! jerit Ryu berusaha memberontak dari cengkraman dua pria di belakangnya.
" Mari kita lihat pertunjukan selanjutnya. Aku sudah tidak sabar melihat mereka hancur tanpa sisa!" seru wanita itu lantang.
Perlahan wanita itu membuka penutup wajahnya, lalu tersenyum sinis menatap ke arah Siena yang melebarkan matanya.
"Abel?"
"Ya, apa kabarmu nyonya Siena?"
Siena tertegun menatap Abel, ia tidak menyangka jika Abel yang melakukan ini semua. "Apa maksudmu dengan semua ini!"
Abel tertawa lebar memperlihatkan giginya yang rapi dan bersih. Lalu menatap tajam Siena.
"Ya, aku memang yang merencanakan ini semua. Aku juga yang telah bekerjasama dengan Hernet untuk menghancurkan Kenzi."
"Tapi, apa salah kami!" pekik Siena geram.
"Oho, kau lupa nyonya Siena?" Abel berjalan mendekati Siena dan mencengkram dagunya.
"Kenzi telah menjebloskan Papa ke penjara, hingga di hukum mati. Gara gara Kenzi, kami kehilangan Papa kami. Gara gara dia juga hidup kami sengsara!! Dada Abel naik turun menarik napas menahan amarahnya yang siap meledak di dalam dadanya.
" Jadi? selama ini. Kau dekati putraku, hanya untuk balas dendam?"
Abel menganggukkan kepalanya. "Aku ingin, Kenzi merasakan. Bagaiamana rasanya kehilangan orang orang yang dia sayangi!"
Tangan Abel mencengkram rambut Siena kuat, hingga Siena tengadah wajahnya.
"Bagaimana nyonya? melihat Kenzi hancur perlahan meratapi kepergian putra dan istrinya." Abel tersenyum sinis lalu menarik tangannya.
"BUKKK!!! Tangan Abel meninju dada kanan Siena, hingga wanita itu terhuyung dan terduduk di jalan aspal memegang dadanya yang terasa tulangnya patah.
" IBUUUU!! Pekik Ryu, matanya berkaca kaca, ia tidak mampu berbuat apa apa. Begitu pula dengan Adelfo yang hanya bisa menggeram menatap marah pada Abel.
__ADS_1
"Tenang Dokter Ryu, kau juga akan dapat gilirannya." Abel tertawa terbahak bahak, lalu kaki kirinya di angkat menendang dagu Siena, hingga ia terjungkal ke belakang. Dagunya sobek dan mengeluarkan darah segar.
"IBUUU!!! BRENGSEK, HADAPI AKU!! Jerit Ryu lantang.
Namun Abel mengabaikan semua makian Ryu, tangannya mencengkram kerah baju Siena, lalu menariknya supaya berdiri.
" Pengawal!" seru Abel.
"Baik Bos!" salah satu pengawalnya maju dan memberikan botol kecil pada Abel.
"Apa yang akan kau lakukan," ucap Siena pelan.
"Kau memiliki wajah cantik, sampai sampai Kenzi mau melakukan apa saja demi kau." perlahan Abel membuka tutup botol itu.
"Air keras," gumam Zoya.
"Rasakan ini!"
"Tidak!!
Zoya menubruk Abel, hingga wanita itu terjatuh ke samping. Namun naas, punggung Zoya dan pipi Siena terkena cipratan air keras dalam botol itu.
" Aaaaaaahhkkkkkk!!! pekik Zoya memegang punggungnya terasa terbakar. Begitu pula dengan Siena.
"Brengsek! Adelfo menendang pria yang mencengkram kedua tangan dan lehernya namun usahanya sia sia.
" IBUUU!!" Pekik Ryu dengan derai air mata. Menatap Ibunya yang menjerit kesakitan begitu juga dengan Zoya.
"Biadab!" seru Adelfo.
"Klik!"
"Aku dengar, kau sedang mengandung anak Kenzi. Aku ingin kalian berdua mati."
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti wanita yang kucintai," ucap Adelfo dalam hati, dengan menghimpun tenaganya, ia melepaskan diri dari cengkraman pria itu. Lalu ia berlari ke arah Siena dan memeluknya saat pria itu melesatkan peluru ke arah Siena.
"DOR! DOR! DOR!!
Tubuh Adelfo ambruk ke jalan aspal menimpa tubuh Siena. Darah segar mengalir di sudut bibirnya menetes di wajah Siena.
" Kau.." ucap Siena pelan, menatap wajah Adelfo yang tersenyum padanya.
"A, akku, me, mencin,taimu..." pria itu menutup matanya dan terkulai lemas di atas tubuh Siena tak berkutik lagi.
''PAPA!!! jerit Zoya berusaha bangun menghampiri Adelfo, tapi salah satu pria menahan kaki Zoya dan menyeretnya paksa menjauh dari tubuh Adelfo.
"Ya Tuhan, tolong Ibuku.." ucap Ryu pelan, lalu ia menggigit tangan pria yang menahan tangannya. Namun pria itu memukul tubuh Ryu berkali kali menggunakan ujung senjata. Ryu yang tidak memiliki keahlian apa apa, ambruk dan tak bisa melakukan perlawanan.
"Ibu lari!!"
"Ibu lari!!
" Rasakan ini!" ucap Abel, ia mengangkat tangannya yang memegang sebilah pedang panjang, lalu ia ayunkan ke kaki kanan Ryu.
__ADS_1
"Cratttt!!
"AAAAAAAAAAAA!!! Jerit memilukan dari bibir Ryu, membuat Siena memiliki tenaga lagi, ia mendorong tubuh Adelfo di atas tubuhnya, lalu ia bangun dan berdiri merebut senjata api di tangan pria bertopeng itu. Mereka yang tengah tertawa terbahak bahak mentertawakan penderitaan yang di rasakan Ryu, tidak menyadari tindakan yang di ambil Siena.
"KLIK!"
"DOR!
" DOR!"
"DOR!"
"Aaahkk!
Suara jeritan dari pria bertopeng bersamaan ambruknya tubub pria itu ke lantai, di susul para pengawalnya Abel.
" Matilah kau, Abel!" pekik Siena marah.
"DOR DOR DOR DOR DOR!
Siena memuntahkan pelurunya hingga peluru yang terakhir di tubuh Abel. Wanita itu ambruk ke jalan aspal.
" Mati kau! mati kau!" Siena terus menendang perut Abel. Hingga ia kelelahan dan menjatuhkan dirinya di jalan aspal. Ia menjerit sekeras kerasnya memecah keheningan.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Ryu, kaki kanannya putus dan putranya tak sadarkan diri, lalu beralih menatap Adelfo yang sudah tidak bernyawa lagi. Terakhir, ia menatap ke arah Zoya yang telungkup tak sadarkan diri, pakaiannya koyak oleh mereka yang berusaha memperkosanya.
Siena terdiam, air matanya mengalir deras. Ia tengadahkan wajah menatap langit yang gelap.
"Aaaaaaaaaa!!!!
Keberuntungan yang mematikan. Sebuah keberanian di antara ketakutan, sebuah pilihan kematian dan kehidupan. Rasa sakit antara hidup dan mati, yang kini Siena rasakan. Dalam kekelaman hidup yang ia alami, di tengah rasa sakit yang di rasakannya.
Perlahan ia menundukkan kepalanya, lalu bangun dan berdiri mendekati Ryu. Ia jongkok di hadapan tubuh putranya.
" Aku tidak sanggup lagi, aku menyerah. Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa berjuang lagi." Perlahan, matanya terpejam. Gelappun menyambut. Siena ambruk menimpa tubuh Ryu dan tak sadarkan diri.
Malam semakin pekat, angin berhembus kencang. Bau anyir darah terasa menyengat. Hening, tidak ada suara apapun. Hanya kegelapan malam yang menyelimuti tempat itu.
Sinar cahaya lampu mobil menyorot dari kejauhan, tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depan tubuh Siena. Seorang pria paruh baya keluar dari pintu mobil. Di ikuti pria lainnya. Lalu ia jongkok di hadapan tubuh Siena dan Ryu. Matanya melebar, mulutnya menganga. Menatap mayat bergelimpangan, darah segar membasahi jalan aspal.
"Sepertinya telah terjadi pertempuran," ucap pria itu.
"Guan In, periksa yang lain. Apakah masih ada yang hidup! perintah pria itu pada Guan In.
" Baik, Bos!"
Pria itu kemudian meletakkan satu jarinya di hidung Siena, lalu menempelkan jari lainnya di hidung Ryu. "Masih hidup."
"Bos, gadis ini masih hidup!"
Pria itu menoleh ke arah tubuh Zoya. "Cepat bawa yang masih hidup ke dalam mobil, mereka butuh pertolongan kita!" perintahnya.
__ADS_1
"Baik Bos! kemudian Guqn In mengangkat dan menggendong tubuh Zoya masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Guan In mengangkat tubuh Siena dan Ryu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan semua tidak ada yang selamat lagi. Mereka berdua membawa Siena dan yang lain menjauh dari tempat itu.