
Setelah beberapa hari di rawat. Dokter mengizinkan Kenzi membawa pulang putranya. Pria itu berpikir untuk memaksa Jiro pulang ke Indonesia. Ia merasa kalau di sana, hidup mereka akan lebih aman. Namun kembali Siena mengingatkan Kenzi. Sejauh mana mereka berlari dan menghindari masalah, tapi Livian dan yang lain masih bisa membayangi hidup mereka. Kebencian dan dendam yang mereka pelihara tidak akan pernah memuaskan dahaga mereka untuk melihat Kenzi mati dan hancur.
Yang di butuhkan mereka saat ini adalah saling keterbukaan dan kerjasamanya untuk tidak bertindak bodoh, apalagi Jiro putranya. Sampai saat ini, Kenzi masih tidak mengerti siapa dalang utamanya. Kenzi berpikir keras mengurai benang merah di masa lalunya.
"Sebaiknya kau bicarakan dengan kakak Yu," usul Siena.
"Aku tidak mengerti siapa yang menginginkan aku mati?" gumam Kenzi.
Siena menarik napas dalam dalam memperhatikan suaminya yang berusaha mengingat semua hal yang telah terjadi di masa lalu. Tiba tiba kedua alis Siena bertaut melihat mata Kenzi yang melebar menatapnya.
"Ada apa sayang?" tanya Siena.
"Dany Tan!" seru Kenzi.
"Dany Tan? bukankah kau pernah bilang, kalau dia sudah mati di tangan Kakak Yu sewaktu pertandingan dulu?" Siena masih ragu atas praduga Kenzi.
Kenzi menggeser duduknya lebih dekat dengan Siena. "Ya, aku pernah bilang seperti itu."
"Lalu?"
Kenzi menghela napas panjang sebelum ia menjelaskan. "Dany Tan memang mati tertembak senjata kakak Yu, tapi aku dan kakak Yu sama sekali tidak melihat atau menyaksikan dia benar benar mati. Karena kami langsung pulang ke Indonesia waktu itu."
"Masuk akal." Siena menganggukkan kepalanya, mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Kenzi tentang Dany Tan, Livian dan Hernet, keterhubungannya dengan para elit global. Setahu Kenzi, organisasi terlarang itu benar benar di bawah lindungan mereka. Hingga berpuluh puluh tahun mereka tidak terjamah oleh pihak berwajib. Apa yang di beritakan tentang kematian mereka bisa saja palsu, para elit bisa saja memutar cerita, tidak seperti kenyataan. Bahkan mereka bisa mengorbankan banyak nyawa tak berdosa demi menghilangkan bukti kejahatan. Organisasi Crips bukan tentang rebutan wilayah, atau pertarungan dua gangster siapa yang paling berkuasa.
"Aku rasa kau tidak perlu penjelasan lebih detail, karena itu sangat rahasia. Dan tentunya kau paham maksudku?"
Siena menggelengkan kepalanya, mulutnya menganga. Matanya melebar menatap Kenzi.
"Itu artinya-?" Siena tidak melanjutkan ucapannya. Ia mengusap dadanya pelan.
Kenzi menganggukkan kepalanya menatap Siena tajam.
"Ya kau benar, bisa saja Livian, Dany Tan, dan Hernet masih hidup. Dan para elit menyembunyikan kebenaran itu dari pihak berwajib. Teknologi yang serba canggih, apapun bisa di lakukan, sayang."
"Kau benar!"
Kenzi dan Siena menoleh ke arah suara. Mereka melihat Adelfo dan Zoya baru saja datang hendak menjenguk Jiro.
"Kau?" Kenzi dan Siena berdiri menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Siang Tante, Om.." sapa Zoya.
"Hai sayang. Apa kau sudah lebih baik?" tanya Siena menangkup wajah Zoya.
"Sudah Tante, Jiro ada?" tanya Zoya.
"Dia di balkon, pergilah temui dia." Siena tersenyum mengusap punggung Zoya.
"Baik Tante." Kemudian gadis itu berlalu menemui Jiro.
Setelah Zoya tidak ada, Kenzi mengalihkan pandangannya pada Adelfo. Dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Tadi kau bilang apa?" tanya Kenzi penasaran.
"Apa yang menjadi dugaanmu itu benar. Aku tidak yakin mereka sudah mati. Kecuali kau melihat dengan matamu sendiri saat pemeriksaan dan lain sebagainya. Apalagi mereka sangat di butuhkan. Bukankah akhir tahun ini akan ada pemilihan?"
Kenzi menganggukkan kepala, kini ia semakin jelas siapa dalang semua ini. Miko hanyalah korban. "Akupun menduga seperti itu, tapi sebelum aku melangkah lebih jauh. Ada baiknya aku kembali menyelidiki ini semua, dan aku membutuhkan bantuan Marsya."
"Kau benar, aku dengar sahabatmu itu. Bukan mengundurkan diri. Tapi dia di keluarkan tanpa alasan yang pasti. Dan Marsya tidak di perbolehkan melanjutkan kasus Livian dan Hernet." Adelfo menjelaskan semua informasi yang di dapatkannya.
"Benarkah Marsya di pecat, bukan mengundurkan diri?" tanya Siena masih tak percaya.
Kenzi menepuk keningnya saat kebiasaan Adelfo yang bersikap lembut pada Siena. Namun ia percaya, jika Adelfo tidak seburuk yang ia bayangkan selama ini.
"Tuan Adelfo, apakah kau bisa membantuku untuk mendapatkan informasi dari pihak berwajib tentang kebenaran kematian mereka?" tanya Kenzi.
"Tentu, aku pasti membantumu. Mereka sudah berani melukai putriku. Mereka harus di tumpas sampai tuntas ke akar akarnya."
"Aku setuju." Sahut Kenzi.
"Kalian ngobrol dulu, biar aku buatkan kopi." Siena berdiri menatap Adelfo. "Tuan Adelfo, kau mau kopi atau-?"
"Apa saja Nyonya.." potong Adelfo.
Kenzi dan Siena saling tatap sesaat lalu tertawa kecil. "Baiklah Tuan.."
**
Sementara mereka ngobrol di ruang tamu. Zoya tengah berbincang bincang dengan Jiro di balkon kamar.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Zoya menatap raut wajah Jiro yang tengah bingung.
"Tidak ada, kuhanya lelah." Jiro tersenyum samar menatap Zoya.
"Kau mau istirahat?" tanya Zoya lagi.
Jiro menggelengkan kepalanya, "tidak, aku senang kau temani aku di sini."
"Lalu? apa yang membuatmu resah? kau memikirkan Miko?"
Pria itu menundukkan kepala sesaat, lalu menarik napas dalam dalam menatap ke arah Zoya. "Zoya, maafkan aku-?"
"Kau tidak perlu minta maaf," potong Zoya. "Aku mengerti, di sisi lain kau mengasihani Miko. Kau ingin membantunya keluar dari lingkaran itu dengan sisa cinta yang kau miliki. Bukan begitu?" Zoya tersenyum tipis menatap ke arah Jiro.
"Zoya, aku-?"
"Tidak apa apa Jiro." Kembali Zoya memotong ucapan Jiro. Gadis itu berdiri membelakangi Jiro dengan tatapan lurus ke depan.
"Dulu, aku sangat agresif ingin mendapatkanmu. Tapi setelah masalah diantara kita bertiga, aku tahu bagaimana rasanya mencintaimu dengan tulus. Jadi, kau tidak perlu khawatir, atau memaksakan dirimu. Jika hati kecilmu ingin nembantu Miko, aku rela."
"Grepp!
Zoya menundukkan kepala melihat kedua tangan Jiro melingkar di pinggangnya. Gadis itu langsung balik badan menghadap Jiro.
" Kau salah, aku belum selesai bicara. Tapi kau terus menyela ucapanku."
"Maksudmu?" tanya Zoya menatap kedua bola mata Jiro.
"Aku mencintaimu, selama ini aku yang salah. Aku berpikir, dengan belajar melupakanmu dan membuka hatiku untuk Abel lalu Miko. Ternyata aku tidak bisa, sejak pertama kali aku melihatmu di kampus. Aku sudah jatuh cinta padamu."
Pria itu mengungkapkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam dan tersimpan rapi di dalam hatinya. Zoya tersenyum merekah, ia menundukkan kepala sesaat.
"Maaf, aku sama sekali tidak peka. Tapi bagaimana dengan Miko? aku tidak mau menyakiti siapapun." Zoya menjauhkan tubuhnya dalam pelukan Jiro.
"Aku yang memulai, maka aku sendiri yang akan bertanggungjawab." Jiro mendekati Zoya lagi dan memeluknya erat.
"Aku mohon, jangan menolakku."
Zoya terdiam, ia membalas pelukan Jiro. Hatinya menjadi gamang setelah mendengar pernyataan Jiro. Ia menjadi sangat takut kehilangan pria itu. Trauma di masa lalu tentang Ibunya dan kematian yang terus membayangi ingatan Zoya. Membuat gadis itu mengeratkan pelukannya, khawatir suatu hari nanti ia tiada, dan Miko lah yang menggantikannya.
__ADS_1