
Pagi ini, mereka semua sedang mempersiapkan segalanya. Sementara Adelfo menyusun rencana dari A sampai C. Jika ada kejadian di luar dugaan, mereka harus sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.
Sementara Ryu dan Zoya masih berada di ruangan kerja Adelfo mencatat apa saja yang di perlukan nanti saat memasuki laboratorium milik Crips.
"Jika kau harus memilih, mana yang kau pilih?" tanya Ryu tiba tiba.
Zoya yang tengah mengikat tali sepatu, berhenti lalu duduk tegap menatap ke arah Ryu. Gadis itu tersenyum, tangannya mencubit gemas hidung Ryu.
"Maaf, kutak akan memilih. Aku akan bersabar sampai Kakakmu bisa menentukan sikapnya." Zoya kembali membungkuk mengikat tali sepatunya. "Aku tidak tahu, apakah aku ada di hatinya. Atau justru aku hanyalah mimpi buatnya."
"Bodoh sekali kalau dia meninggalkanmu." Ryu melirik sesaat ke arah Zoya.
Gadis itu duduk tegap, matanya menatap kosong ke arah Ryu. "Dia seperti patung, entah apa yang ada dalam pikirannya. Apa maunya aku tidak tahu." Zoya tersenyum tipis. "Ah sudahlah, kita kesampingkan hal itu. Yang terpenting saat ini, pekerjaan kita selesai dengan baik."
"Kau benar," sahut Ryu.
"Apa aku mengganggu kalian?'
Zoya dan Ryu menoleh ke arah suara. Nampak Miko dan Jiro berdiri di ambang pintu.
"Tidak, masuklah!" Ryu berdiri, lalu berjalan mendekati meja.
"Kalian sudah siap?" tanya Zoya pada mereka berdua yang hanya menganggukkan kepala.
"Kalian harus pakai alat ini, untuk memudahkan kita komunikasi nantinya." Ryu memberikan dua alat penyadap pada Jiro.
Jiro mengambil dua alat itu, lalu ia pakaikan di balik jaketnya. Kemudian ia memasangkannya juga pada Miko.
"Pakai ini dulu," ucap Jiro.
Ryu melirik ke arah Zoya yang hanya menundukkan kepala. Lalu ia menarik tangan Zoya. "Kau juga harus pakai ini."
Jiro yang tengah memasang alat di balik jaket Miko, mengalihkan pandangannya pada Zoya. "Mengapa kau selalu tersenyum seperti itu saat bersama adikku?" ucap Jiro dalam hati.
Miko yang memperhatikan Jiro, menundukkan kepala sesaat. "Biar aku pakai sendiri."
"Ah, maaf." Jiro menoleh lagi ke arah Miko. Lalu kembali fokus.
"Selesai!" sahut Ryu.
"Ayo kita ke bawah, Ibu pasti sudah menunggu." Ryu berjalan lebih dulu, di ikuti Zoya dan yang lain di belakang.
"Sayang, kalian sudah siap?" tanya Siena mendekati Ryu, mengusap lembut pipinya.
"Tentu Ibu," sahut Ryu. Tangannya merogoh saku celana lalu mengambil botol ukuran kecil berisi obat yang harus di berikan pada Kenzi, oleh Siena sendiri.
"Sekarang kalian pilih, senjata mana yang akan kalian pakai." Adelfo meletakkan kotak berukuran sedang yang berisi senjata api.
Setelah mereka selesai memilih senjata masing masing. Siena dan Adelfo pergi lebih dulu ke markas crips untuk memberikan obat pada Kenzi.
__ADS_1
****
Sementara itu Kenzi yang baru pulang dari laboratorium dari sejak semalam. Duduk di ruangan terbuka tempat peristirahatannya. Pria itu menghela napas dalam dalam, tangannya melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya lalu membuanya ke lantai sembarangan. Satu persatu kancing kemejanya ia buka. Dan membiarkan tubuhnya bertelanjang dada.
Dari arah pintu yang terbuka seorang wanita cantik dan seksi masuk ke ruangan lalu duduk di pangkuan Kenzi. Tangannya terulur mengusap dada bidang Kenzi yang di penuhi rambut tipis dan halus.
"Aku mau sendirian, jangan kau ganggu." Kenzi menepis tangan wanita itu.
"Tapi sayang, aku sangat merindukan dan menginginkanmu saat ini." Wanita itu merayu manja dan melingkarkan kedua tangan di leher Kenzi.
"Tidak, kita bisa lakukan lain kali, aku lelah." Kenzi menarik tangan wanita itu.
"Ayolah sayang, sebentar saja." Wanita itu terus merajuk, dan menempelkan lidahnya di bibir Kenzi. Namun pria itu memalingkan wajahnya. Hari ini, Kenzi benar benar lelah dan tidak ada hasrat untuk bercinta.
"Kenapa?" tanya wanita itu raut wajahnya kecewa.
"Aku bilang pergi dari hadapanku!" Kenzi mulai kesal, lalu membentaknya. Wanita itu turun dari pangkuan Kenzi. Menatapnya kesal lalu balik badan meninggalkan ruangan dengan hati yang kecewa.
Sementara Siena yang sudah berdiri di balik pintu memperhatikan, dalam dadanya bergejolak amarah sekaligus hatinya panas melihat suaminya bersama wanita lain. Namun ia sadar, kalau Kenzi dalam pengaruh obat. Perlahan ia masuk ke dalam ruangan lalu duduk di pangkuan Kenzi dengan kedua tangan melingkar di leher Kenzi tersenyum menatap wajah suaminya. Rasanya ia ingin menampar pipi Kenzi saat ini. Namun ia tahan, karena emosi bisa membuat semuanya menjadi kacau.
Kenzi terkejut dan merasa asing melihat wanita yang tengah dalam pangkuannya.
"Hei siapa kau?" tanyanya menatap wajah Siena.
"Aku milikmu.." bisik Siena di telinga Kenzi.
Sekali lagi Siena menahan amarahnya, rasanya tangannya sudah gatal ingin meninju mulut Kenzi. Siena tersenyum, tangannya mengusap dada Kenzi dengan manja.
"Kau tidak perlu tahu, aku datang ke sini untuk menemanimu, memuaskanmu sayang."
"Benarkah?" tanya Kenzi menatap dalam wajah Siena.
Siena menganggukkan kepalanya, "benar sayang."
"Apa yang bisa kau lakukan?" tangan Kenzi mulai membalas pelukan Siena.
"Apapun yamg kau mau, aku bisa menuaskanmu," bisik Siena lagi.
"Baiklah, kita lihat." Kenzi tersenyum nakal menatap Siena.
Siena mendekatkan wajahnya di telinga Kenzi, menciumnya dengan lembut.
"Apakah kau sering bercinta dengan wanita tadi?" bisik Siena.
"Tidak, aku tidak tertarik."
Siena bisa bernapas lega mendengar jawaban Kenzi. "Apa yang sudah kau lakukan pada wanita itu?" tanyanya lagi.
"Aku hanya mencium bibirnya dan-?"
__ADS_1
Siena langsung menggigit telinga Kenzi, membuat pria itu mengerang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan?" Kenzi mencengkram lengan Siena.
"Pemanasan sayang.." sahut Siena tersenyum tapi hatinya geram.
"Apalagi yang sudah kau lakukan padanya?" Siena mendekatkan wajahnya di leher Kenzi dan menciumnya dengan lembut.
Kenzi mengatakannya tanpa ada beban, kalau dia hampir saja bercinta dengan wanita itu, andai dia tidak menolaknya.
"Awwww!!"
Kenzi kmbali mengerang saat Siena menggigit leher Kenzi cukup kencang.
"Ap yang kau lakukan!" ucap Kenzi dengan nada tinggi.
Siena tersenyum manja, memainkan kedua matanya. "Pemanasan sayang, kau pasti suka."
"Oke, aku suka. Kau liar sekali." Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena lalu menggendongnya. Ia hempaskan tubuh Siena di atas tempat tidur. Kemudian Kenzi naik ke atas tempat tidur memeluk erat tubuh Siena.
"Tunggu dulu sayang, aku mau minum dulu." Siena menatap wajah Kenzi yang sudah siap menerkamnya.
"Baiklah.." Kenzi bergeser dari tubuh Siena. Lalu wanita itu turun dari atas tempat tidur berjalan mendekati meja. Menuangkan air mineral di dalam botol ke dalam gelas. Sesaat Siena melirik ke arah Kenzi yang tengah menatap langit langit kamar. Siena langsung mengeluarkan botol kecil dari balik saku celananya. Lalu membukanya dan mengambil obat yang di berikan Ryu. Ia mencampurkan obat serbuk itu ke dalam air di dalam gelas. Setelah selesai, Siena berjalan mendekati Kenzi.
"Kau minumlah dulu, mulutmu bau alkohol. Mana mungkin aku mau bercinta denganmu."
"Kau tidak suka?" tanya Kenzi.
"Suka, tapi aku mau kau minumlah dulu." Siena menarik tangan Kenzi supaya bangun.
Kenzi duduk di atas tempat tidur, lalu mengambil gelas di tangan Siena. Sesaat ia menatap wajah Siena.
"Minumlah, sayang. Habiskan.." ucap Siena pelan.
Perlahan Kenzi mengangkat gelas, dan meminum air mineral yang di berikan Siena hingga habis. Siena bersyukur dalam hati, Kenzi mau meminum air mineral iti. Hatinya berdegup kencang menatap wajah Kenzi, dan menunggu dengan cemas reaksk obat yang di berikannya.
"Bagaimana sayang?" tanya Siena menatap tajam Kenzi.
Kenzi menautkan kedua alisnya menatap Siena aneh. Lalu ia tertawa dan melempar gelas ke lantai.
"Prank!"
Siena berjengkit kaget, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Kenzi.
"Kau ini aneh, rasanya apa? air mineral ya tidak ada rasanya." Kemudian Kenzi memeluk tubuh Siena erat.
"Ayo puaskan aku, seperti yang kau bilang."
Siena menjadi bingung, seharusnya Kenzi tak sadarkan diri saat ia minum obat itu, itu cara kerja obat yang di berikan Ryu. Namun Kenzi sama sekali tidak ada reaksi apapun.
__ADS_1