The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 101: The Strom Dragon


__ADS_3

Siena duduk di kursi menggendong putranya yang tengah tertidur di pangkuannya. Sementara Kenzi tengah mengabadikan momen Siena dan putranya yang sudah berusia satu tahun dengan melukis mereka berdua. Selain bertarung dan berperang, Kenzi memiliki keahlian yang tak pernah di ketahui Siena yaitu melukis.


"Selesai!" Kenzi tersenyum lebar menatap lukisaannya lalu beralih menatap Siena yang tengah tersenyum padanya. Ia berdiri lalu menghampiri Siena. Membungkukkan badan mencium kening istrinya sekilas lalu mencium putranya.


"Bos, kakak Yu datang!"


Kenzi berdiri menoleh ke arah Samuel bersama seorang pria bernama Yu. Kenzi tersenyum lalu berjalan menghampiri Yu.


"Kakak Yu, apa kabarmu!" sapa Kenzi lalu ia memeluknya sekilas.


"Sudah 5 tahun kita tidak bertemu," ucap pria bernama Yu.


"Biar kuperkenalkan, dia istriku, Siena." Kenzi melirik ke arah Siena. "Siena, dia kakak Yu datang dari Macau."


Pria bernama Yu menatap ke arah Siena lalu menganggukkan kepala. "Halo."


"Kakak Yu." Siena balas menyapa dan menganggukkan kepala.


"Aku ingin bicara." Yu mengajak Kenzi untuk bicara empat mata. Lalu Kenzi mengajak Yu untuk bicara di taman rumahnya.


Yu memperhatikan sekitar taman. "Aku dengar Livian berhasil di tangkap di Hongkong saat hendak melakukan operasi wajah yang kedua." Yu membuka pembicaraanya.


Kenzi menganggukkan kepala, "ya kau benar. Dia tidak akan mengganggu keluargaku lagi." Kenzi melirik sekilas ke arah Yu.


"Ada hal penting yang harus kau ketahui." Yu berdiri tengadahkan wajah menatap ke jendela lantai dua rumah Kenzi.


"Kakak Yu?"


Yu mengalihkan pandangan pada Kenzi. "The Strom Dragon, gembong obat obatan terlarang sudah keluar dari penjara."


Kenzi terpaku sesaat, lalu ia tersenyum menatap Yu. "Dia tidak akan mencariku."


"Dany Tan mencarimu." Yu menatap lekat wajah Kenzi.


Kenzi tertawa kecil, "Dany Tan tidak pernah tahu wajahku. Bagaimana mungkin dia mencariku. Lagi pula, aku tidak memiliki urusan lagi dengan dia."


"Kau harus berhati hati, dia lebih kejam dari Hernet." Yu sebagai sahabat Kenzi berusaha mengingatkan.

__ADS_1


"Kakak Yu, terima kasih. Kau datang ke sini untuk mengingatkanku." Kenzi menepuk bahu Yu sekilas.


"Apa kau akan mengunjungi Taiwan untuk memenuhi pertandingan terbesar itu?" tanya Yu.


Kenzi menggelengkan kepala, "aku sudah punya keluarga kecil. Sudah lama aku ingin berhenti, Kakak Yu."


Yu terdiam menatap Kenzi sahabatnya itu. Dia masih ingat pertama kali mengenal Kenzi di Taiwan saat ia menjadi penjudi no satu. Dan Dany Tan sangat terobsesi untuk mengalahkan Kenzi. Namun sayang, Dany Tan berhasil di tangkap sebelum keinginannya tercapai. Hingga akhirnya Kenzi terlibat dengan organisasi Crips.


"Aku dengar dia mulai bekerjasama dengan anggota Crips yang bersembunyi di bawah naungan para elit." Kenzi menawarkan rokok pada Yu.


Yu mengambil satu batang rokok, lalu Kenzi menyalakan rokoknya. "Jika dia mencariku, mungkin mengajakku bertarung."


"Aku harap kau lebih hati hati lagi." Yu menghisap rokoknya dalam dalam.


Kenzi terdiam sesaat, lalu tersenyum dan menganggukkan kepala. "Kakak Yu, sebaiknya kau istirahat."


Kenzi berdiri dan berjalan bersama kembali masuk ke dalam rumah.


***


Kenzi duduk termenung di balkon kamar menatap kosong ke langit yang terlihat gelap. Sesekali ia menarik napas dalam dalam memikirkan semua ucapan Yu.


"Sayang, putra kita sudah tidur?" tangan Kenzi terulur mengusap lembut pipi Siena.


"Dia sudah bermimpi." Siena tertawa kecil.


Kenzi menghela napas dalam dalam, ia tidak ingin membohongi Siena. Tapi kalau di ceritakan, ia khawatir kalau Siena akan ketakutan.


"Hei, kok bengong?" Siena menatap raut wajah Kenzi yang terlihat bingung. "Katakan, ada apa?"


Kenzi menghela napas dalam, dengan sangat hati hati ia mulai menyampaikan apa yang di katakan Kakak Yu tadi. Kenzi juga bercerita tentang hidupnya sebelum terlibat organisasi kriminal. Itu sebabnya Hernet atau Bos besar lebih mempertahankan Kenzi dari pada Livian.


Siena menganggukkan kepala, ia mengerti kenapa Kenzi sejak tadi terlihat bingung.


"Kau sudah berhenti setahun lamanya, aku tisak mau kau pergi ke Taiwan hanya untuk memenuhi tantangannya."


"Kenapa?" tanya Kenzi menautkan kedua alisnya menatap wajah Siena yang terlihat sangat dewasa dari sebelumnya dalam bicara ataupun bersikap.

__ADS_1


"Di dunia ini tidak ada pemenang, jika kalah kau akan mati. Dan jika kau mati, kau tidak akan tahu siapa pemenangnya. Untuk apa kau mencari musuh lagi hanya untuk menunjukkan bahwa kau pemenangnya." Siena menjelaskan kenapa ia melarang Kenzi.


"Iya sayang, aku tidak akan pergi ke sana." Kenzi mengecup pipi Siena sekilas. "Tapi, bagaimana jika dia mencariku ke sini?"


Siena menghela napas kasar, "kau tidak perlu lari." Siena turun dari pangkuan Kenzi lalu duduk dengan kedua lutut di tekuk. "Berjanjilah padaku."


"Hei, bangunlah. Kau tidak perlu bersikap seperti ini." Kenzi mengangkat tubuh Siena dan mendudukkannya di pangkuannya lagi.


"Berjanjilah." Setengah memaksa Siena meminta Kenzi untuk tidak terlibat lagi di dunia hitam.


"Aku berjanji sayang, tapi jika mereka membahayakan keluargaku. Aku tidak akan tinggal diam."


Siena menganggukkan kepala, lalu memeluk erat Kenzi. "Aku tidak mau ada yang terluka lagi."


"Aku tahu." Kenzi membalas pelukan Siena. Matanya menatap jauh ke depan. Apa yang Siena katakan benar, apa yang Siena inginkan juga sama seperti keinginannya. Tetapi, bukan satu bulan atau setahun. Kenzi berada di dunia kriminal, ia habiskan hampir 15 tahun lamanya. Satu masalah, merembet ke masalah lain. Satu tindakan berakibat pada tindakan lainnya. Dan itu sangat membekas di dunianya, dulu dan sekarang. Tidak akan semudah itu Kenzi lepas dari dunia hitam. Akan ada sisa dendam atau sekedar penasaran kepadanya.


"Kau tahu, sebagai istrimu. Tentu aku harus menerima dan siap dengan segala resikonya. Tapi sekarang kita sudah memiliki putra." Siena tengadahkan wajahnya menatap Kenzi.


"Terima kasih, kau telah banyak mengerti aku. Aku berjanji, sebisa mungkin kuhindari." Kenzi mengecup puncak kepala Siena.


"Semua akan membaik, hanya butuh waktu." Siena tersenyum menguatkan hati Kenzi. Meski ia sendiri tidak yakin.


"Sudah malam, sebaiknya kau tidur." Kenzi melepaskan pelukannya. Lalu Siena turun dari pangkuan Kenzi. Ia mencium kedua pipi suaminya.


"Kau juga tidur." Kenzi menganggukkan kepala. Kemudian Siena beranjak pergi meninggalkan Kenzi sendirian.


Kenzi menarik napas dalam dalam, lalu ia berdiri dan memutuskan untuk menemui Kakak Yu yang berada di ruangan lain.


Di ruang tamu, ia melihat Surya tengah duduk melamun. Akhirnya Kenzi mengurungkan niatnya untuk menemui Kakak Yu.


Kenzi duduk di kursi berhadapan dengan Surya. "Kau belum tidur?" tanya Kenzi menatap raut wajah Surya yang terlihat gelisah.


"Maaf, tadi aku mendengar percakapanmu dengan sahabatmu itu." Surya membenarkan duduknya, lalu ia mengambil cangkir kopi yang sudah dingin di atas meja dan menyecapnya perlahan.


Kenzi menundukkan kepala sesaat. "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan kemana mana."


Surya letakkan cangkir kopi di atas meja. "Syukurlah, aku khawatir mereka akan mencarimu kesini."

__ADS_1


Kenzi terdiam sesaat, tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Ia berharap Yu jago menembak dan dijuluki dewa tembak mau menetap bersamanya selama masalah belum selesai.


__ADS_2