The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 24: Hari pertama


__ADS_3

Seperti kebiasaan Siena, pagi pagi dia sudah bangun dan menyiapkan semua sarapan untuk keluarga barunya. Meski ada asisten rumah tangga, tapi Siena tidak mau mengandalkan semuanya pada mereka.


Setelah semua selesai tersaji di meja makan, Siena berjalan memasuki kamarnya untuk membangunkan Reegan.


"Sudah pukul tujuh, tapi masih saja tidur," gumam Siena melirik jam tangannya sesaat. Ia buka pintu perlahan dan kembali menutupnya lalu berjalan mendekati tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur menepuk pipi Reegan pelan.


"Bangun..sudah siang," ucapnya pelan. Namun Reegan hanya menggeliat, dan merubah posisi tidur miring menghadap Siena.


"Hm..." Siena menghela napas, kembali ia tepuk pipi Reegan. "Hei..bangun.."


Perlahan Reegan membuka matanya langsung menatap Siena. Ia langsung menarik tubuh Siena dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Kamu apa apaan sih..bukannya bangun..sudah siang..apa kau tidak bekerja hari ini?" tanya Siena menatap wajah Reegan.


"Apa kau sudah gila?" ucap Reegan. "Baru saja kemarin kita menikah..tidak mungkin aku langsung ke kantor Siena..kau ini.." jawab Reegan memeluk erat tubuh Siena.


"Siapa tahu kau mau ke kantor."


"Diam, jangan banyak bicara..temani aku tidur saja."


Siena berusaha berontak, tapi Reegan tidak mau melepaskan Siena, "lepaskan aku..masih banyak pekerjaan di rumah."


"Ada si mbok, lagi pula buat apa kau bekerja di rumah ini? kau ini istriku..bukan asisten rumah tangga."


"Tapi-? Siena tidak melanjutkan ucapannya, dengan lembut Reegan mencium bibir Siena hingga dia terdiam.


"Apa kau suka?" Reegan menyudahinya.


Siena tersenyum samar, "mungkin.."


"Kok mungkin?" tanya Reegan. "Apa kau menggodaku?" Reegan langsung mendekap erat tubuh Siena dengan erat. Ia mencium bibir Siena hingga dia sulit untuk bernapas.


Siena terdiam dan terbuai hasrat Reegan yang menggebu. Di kamar itu hanya terdengar suara desahan napas keduanya.

__ADS_1


***


Siena duduk di kursi menghadap ke cermin. Ia baru saja selesai membereskan lemari pakaiannya, ia menemukan sebuah surat yang telah usang pemberian Bu Silvi. Hampir saja ia melupakannya dan membuangnya ke tempat sampah. Perlahan ia membuka tiap lipatan surat yang terlihat masih rapi, dengan sangat perlahan Siena membaca surat dengan perlahan


-------------


"Sayang..saat kau membuka surat ini..mungkin kau sudah dewasa dan memiliki wajah cantik seperti ibumu..mungkin saat kau membaca surat ini kau menangis karena merindukan ayah dan ibu..atau mungkin kau marah sayang? tapi tunggu dulu..kau jangan buang atau merobek surat ini sebelum kau mengetahui alasan ayah menitipkanmu di pangi asuhan. Ketahuilah sayang..kalau kau sakit hati karena merasa di buang..ayah lebih sakit lagi sayang. Putriku..jika saja ayah memiliki tempat tinggal untukmu berteduh..jika saja ayah punya uang untuk membesarkanmu..tentu ayah tidak akan menitipkanmu di panti asuhan..tapi ketahuilah putriku..alasan terbesar ayah menitipkanmu adalah..ibumu telah meninggalkanmu bersama ayah.. untuk menikahi pria lain. Pria yang memiliki kekayaan yang sederajat dengan ibumu. Terlebih..kakekmu sangat membenci ayah..maafkan ayah nak..sejauh rasa rindumu..ayah lebih merindukanmu..tapi sayang..saat kau menutup surat ini dan mencari ayah..ayah sudah berada di sisiNYA.


Jika kau ingin mencari ibumu..ada alamat yang ayah tulis di balik surat ini.


Kau cucu dari keluarga karta Sujatmikodiningrat.


Dari ayahmu : Surya.


Bogor 12-7-1990


----------------------------


Siena menghela napas dalam, ia melipat surat itu dan mengusap air matanya. Entah ia harus bahagia atau marah, saat ini ia tidak tahu harus bagaimana dengan perasaannya yang tidak karuan. Ia membalik surat yang masih ia genggam erat, terdapat alamat rumah tertera lengkap.


"Jadi? kau sedang apa?" ucap Reegan dari arah belakang.


Siena menoleh kebelakang, ia terkejut melihat Reegan telah berdiri di belakangnya entah sudah berapa lama. "Reegan?"


Reegan mengangguk, "mamaku dan kakek sudah menunggu di meja makan, ayo." Reegan langsung menarik tangan Siena tanpa menunggu jawaban dari Siena. Hingga Siena meletakkan surat itu di atas meja.


"Sayang..ayo makan," ucap Alya menatap ke arah Siena dan Reegan yang baru saja datang dan langsung duduk di kursi.


"Iya ma.." jawab Siena.


Siena menyiapkan piring untuk Reegan dan menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Nak, besok ada undangan dari Pak Kartasujatmikodiningrat. Apa kau mau datang ke pesta pernikahan Bu hana?" tanya Alya.

__ADS_1


Siena terhenyak saat Alya menyebut nama 'Karta Surjatmikodiningrat'. Namun ia kembali tenang, karena Siena tidak ingin di ketahui asal usulnya.


"Tentu saja ma..bu Hana rekan bisnis kita," jawab Reegan sembari mengambil gelas di atas meja.


"Siena di ajak juga," timpal kakek.


"Tentu saja kek, Siena istriku sekarang." Reegan menatap Siena dan tersenyum tipis. Siena melirik sesaat ke arah Reegan lalu duduk di kursi di samping Reegan.


"Oya, bagaimana kabar Karta, ayahnya si Hana?" tanya Kakek Hardi.


"Tidak tahu kek, tapi..setahuku..pak Karta tengah mencari cucunya yang di bawa oleh suami pertama bu Hana. Karena cucunya itu satu satunya pewaris tunggal perusahaan pak Karta yang di berikan oleh istrinya, Bu Ajeng Suryani," jelas Reegan panjang lebar.


"Oya? lalu di mana cucunya berada sekarang?" tanya Alya. Siena hanya diam mendengarkan.


"Setahu kakek, Surya suami pertama Hana sudah meninggal terserang kanker, tapi tidak ada yang tahu keberadaan putrinya yang masih bayi itu."


"Berarti..pak Hans suami Hana yang kedua, dan memiliki putri si Maria itu? tanya Reegan.


" Iya benar," ucap Kakek Hardi.


"Keluarga terhormat yang sangat aneh, cucu sendiri di abaikan..tapi yang bukan cucunya di manjakan," ujar Reegan.


"Loh..kapan kita makan kalau cerita keluarga orang lain terus," ucap Kakek Hardi.


"Maaf pak," sela Alya. Kemudian mereka melanjutkan makan malam dengan tenang. Sementara Siena hatinya berkecamuk. Setelah mendengar sepenggal kisah tentang keluarganya. Namun sedikitpun Siena tidak merasa senang atau bangga kalau dia adalah keturunan darah biru.


"Sampai kapanpun aku tidak pernah menganggap mereka keluarga..dari kecil aku hanga memiliki Bu Silvi..tidak akan pernah," ucap Siena dalam hati.


Reegan yang menyadari istrinya tengah melamun, langsung mencubit pipi Siena dengan gemas, "bukannya makan malah bengong" ucap Reegan.


Siena tersenyum sembari menjauhkan tangan Reegan dari pipinya. "Iya maaf."


"Kau harus banyak makan yang bergizi Siena..mama ingin punya cucu secepatnya," ucap Alya.

__ADS_1


Siena menatap Alya sesaat, lalu beralih menatap Reegan yang tengah menatapnya tersenyum tipis.


"Iya ma..," kata Siena.


__ADS_2