The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 119: Blood monday.


__ADS_3

"Sayang, kau jangan keluar rumah selama aku tidak ada di rumah." Kenzi meletakkan nampan berisi sarapan pagi untuk Siena dan Helion.


"Kau mau kemana sayang?" Siena bangun lalu duduk di atas tempat tidur, sembari mengikat rambutnya.


"Aku pergi sebentar bersama Samuel untuk membebaskan Adrian." Kenzi berjalan mendekati Siena lalu duduk di tepi tempat tidur.


Siena menggeser duduknya lebih dekat dengan Kenzi. "Jangan lama lama."


"Tidak sayang, begitu selesai aku langsung pulang." Tangan Kenzi mengusap lembut rambut Siena.


"Cup!"


Kenzi mencium kening Siena sekilas, "aku berangkat." Siena menganggukkan kepala.


"Ayah.." sapa Helion bangun dari tidurnya.


"Hei, jagoan Ayah!" seru Kenzi merentangkan kedua tangannya memeluk tubuh Helion lalu ia dudukkan di pangkuannya.


"Ayah mau kemana?" Helion tengadahkan wajahnya menatap Kenzi. "Ikut Ayah.."


Kenzi tertawa kecil mencium pipi Helion dengan gemas. "Kau boleh ikut Ayah kalau sudah besar. Sekarang, kau harus jagain Ibumu."


Helion mengalihkan pandangannya ke arah Siena tertawa kecil. "Baik Ayah." Helion bangun dari pangkuan Kenzi lalu duduk di pangkuan Siena.


"Itu baru jagoan Ayah." Kenzi mengacak rambut Helion sesaat, lalu membungkukkan badan mencium pipi Helion dan Siena sekilas.


"Hati hati."


Kenzi menganggukkan kepala, "kalian juga, jangan keluar dari kamar. Tutup semua jendela selama aku tidak ada." Siena menganggukkan kepala. Ia menghela napas panjang menatap punggung Kenzi hingga hilang dari pandangan mata.


"Sayang, kau diam dulu." Siena menurunkan tubuh Helion dari pangkuannya.

__ADS_1


"Ibu mau kemana?" Helion memperhatikan Siena yang turun dari atas tempat tidur.


"Ibu kunci pintu dulu." Tangan Siena mengacak rambut Helion sesaat lalu ia berjalan menuju pintu balkon kamar.


"Diam di tempatmu."


Siena berjengkit kaget saat ujung senjata api menempel di pelipisnya. "Livian kau?!" ucap Siena geram.


"Diam." Livian mendekap mulut Siena dari belakang, dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Siapa yang menduga Livian datang sepagi ini dan beraninya dia menyerang langsung ke rumah Kenzi.


"Ibuu!" Helion turun dari atas tempat tidur saat melihat orang asing tengah menyakiti Ibunya. Bocah kecil itu berlari dan menggigit paha Livian cukup keras. "Lepaskan Ibu!"


"Sialan!" rutuk Livian, hanya dengan menepis Helion dengan mendorong tubuh mungil dengan kaki Livian yang cukup keras membuat Helion terlempar dan keningnya membentur lantai. Darah segar mengalir membasahi lantai yang berwarna putih bersih.


Mata Siena melebar saat melihat putranya tak sadarkan diri darah segar terus mengalir dari kening Siena. Ia berusaha berteriak namun dekapan tangan Livian di mulut Siena menyulitkannya untuk mengeluarkan suara. Siena berharap seseorang membuka pintu kamar yang di kuci dari luar. Livian tertawa terkekeh melihat air mata Siena berlinang membasahi pipinya. Perlahan Livian mengecup pipi Siena. "Kau membuatku gila Siena."


Livian terus menyeret tubuh Siena ke dinding dan menghimpit tubuh Siena dengan tubuhnya. "Jangan teriak, atau putramu mati." Livian mengalihkan senjatanya ke arah tubuh Helion yang tergeletak di lantai. Napas Siena memburu menahan amarah menatap putranya.


"Apa maumu?!" ucap Siena geram dan berusaha mendorong tubuh Livian yang kian menghimpitnya, hingga ia kesulitan bernapas.


"Aku ingin Kenzi hancur." Livian menatap bibir Siena yang terbuka menarik napas lewat mulutnya. Liviab dekatkan wajahnya lalu mencium bibir Siena dengan paksa. Siena berusaha menghindari bibir Livian, ia memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, namun penolakan Siena membuat gairah hasratnya semakin tinggi. Bibirnya menyusur leher Siena yang jenjang lalu turun ke dadanya.


"Kenzi..tolong aku.." ucap Siena lirih. Air matanya perlahan turun membasahi pipinya. Ia berpikir keras bagaimana caranya melepaskan diri. Perlahan Siena diam tanpa perlawanan membiarkan Livian menikmati wajah dan lehernya hingga ke dada. Saat Livian di puncak hasratnya, perlahan ia membuka tali piyama yang Siena kenakan lalu membukanya. Saat itulah Livian lengah, dengan cepat Siena menggigit tangan Livian yang memegang senjata apinya hingga terpelanting jauh dari jangkauan Livian.


"Ah sial! Livian memegang tangannya yang berdarah akibat gigitan Siena. Matanya melirik ke arah senjata api yang tergeletak di atas lantai tak jauh dari tubuh Helion. Begitu juga Siena, keduanya langsung menjatuhkan diri mengambil senjata api.


Tangan Livian maupun Siena sama sama memegang senjata api. Siena menendang perut Livian dengan kaki kanannya. Lalu ia merebut senjata api itu di tangan Livian. Namun ia juga tak mau kalah, tangannya mencengkram tangan Siena hingga mereka berguling guling di lantai saling mempertahankan senjata apinya. Siena di bawah tubuh Livian, lalu Siena menarik tubuh Livian dari atas tubuhnya ke bawah. Dengan cepat Siena berdiri di ikuti Livian ikut berdiri menyeret tubuh Siena hingga menabrak lemari pakaian.


" Bukk!! bersamaan terbukan lemari pakaian Kenzi dan menjatuhkan senjata api di dalam lemari ke lantai. Akibat benturan keras tubuh mereka. Mata Livian melirik ke arah senjata api yang terjatuh ke lantai. Livian tersenyum menyeringai dengan terus mencengkram tangan Siena yang memegang senjata api, ia membungkukkan tubuhnya mengambil senjata api dan satu tangan lainnya masih tetap mencengkram tangan Siena kuat.


"Buang senjatamu." Livian berhasil mengambil senjata api di lantai lalu mereka sama sama mengarahkan senjata api nya ke tubuh masing masing.

__ADS_1


Dengan tatapan tajam, Siena tetap tak bergeming. Demi putranya dia akan melakukan apa saja. Livian mengerti isi pikiran Siena. "Baiklah." Livian mengalihkan senjatanya ke tubuh Helion, dengan tatapan lurus ke arah Siena. "Buang senjatamu."


Mata Siena melirik ke arah Helion, perlahan ia membungkuk dan meletakkan senjata apinya di lantai. Pakaian Siena yang terbuka membuat Livian kehilangan fokus. Siena memperhatikan dengan tatapan waspada. Ia langsung menubruk tubuh Livian dan mencengkram tangan Livian merebut senjata api di tangannya. Rebutan senjata terjadi lagi, kali ini tanpa sengaja Livian menarik pelatuknya hingga peluru melesat ke perut Siena.


"Dor!"


Mata Siena melebar saat timah panas menembus kulit perutnya, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Livian mulutnya menganga mundur selangkah menatap perut Siena berdarah. "Siena, aku tidak sengaja."


Siena mundur beberapa langkah menatap perutnya sesaat, lalu tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berdarah. Ia ambruk duduk di lantai, tangan kanannya menyentuh senjata api yang tergeletak di lantai. Lalu ia ambil senjata itu di arahkan ke Livian. Dengan tenaga yang tersisa ia berusaha bangun dan berdiri dengan tertatih, ia berjalan perlahan.


"Siena, maafkan aku..aku tidak sengaja." Livian mundur beberapa langkah.


"Dor!!


"Untuk putraku!" Livian tertembak di bahunya dan terhuyung ke belakang dan ambruk di lantai. Dengan cepat ia bangun dan berdiri lagi.


"Dor!!"


"Itu untuk Papa!" pekik Siena sembari meludah darah di lantai. Kembali Livian terhuyung dan ambruk ke lantai, peluru kedua bersarang di dada kanannya.


"Dan ini..untuk Kenzi!!"


"Dor!! Dorr!!


Siena melepaskan peluru terakhir, tapi satu meleset, satu lagi mengenai kaki Livian. Hilangnya keseimbangan tubuh Siena, ia pun ambruk di lantai. Namun ia tetap menjaga kesadarannya, dengan cara merangkak ia menyeret tubuhnya mendekati tubuh Helion. Lantai putih berubah warna noda darah dari tubuh Siena.


"Sayang, jago, an..Ibu..ba, ba, ngun sayang.." ucap Siena terbata bata, perlahan matanya terpejam, Siena telah kehilangan kesadarannya.


Livian yang masih memiliki kesadaran, berusaha bangun mendekati tubuh Siena lalu menyentuh pipinya, "maafkan aku, Siena, aku mencintaimu." Napas Livian terengah engah menahan rasa sakit di tubuhnya. Perlahan ia berjalan menuju balkon kamar.


Helion yang mulai sadar, perlahan membuka matanya. "Ibu.." ucapnya lirih. Tangannya memegang keningnya yang berdarah. Lalu ia berusaha bangun menoleh ke arah Siena yang bersimbah darah. "Ibuuuu..! jerit Helion mengguncang tubuh Siena. Ia menoleh ke arah pintu. Tubuh mungilnya berusaha bangun dan berjalan menuju pintu kamar. Namun kamar Siena terkunci, Helion mengguncang dan memukul pintu kamar.

__ADS_1


"Ayaaah! Ayaah! pekik Helion. Lalu ia menoleh ke arah Siena. " Ibu.." ucapnya lirih.


__ADS_2