The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 36: Cinta dan dusta


__ADS_3

Siena duduk di taman belakang rumah memandang langit yang berwarna semburat orange. Rei datang bersama Keenan ke rumah bermaksud mengajak Siena untuk merayakan hari jadi pernikahan Keenan.


Siena yang tak menyadari kedatangan mereka sangat senang juga terkejut melihat sahabatnya datang.


"Siena..ada apa kau melamun?" tanya Keenan duduk di kursi bersamaan dengan Rei.


"Tidak ada..aku hanya sedang menikmati sore hari saja."


Keenan tertawa kecil, menepuk keningnya sendiri. "Siena..Siena..kau mau bohongi aku sampai kapanpun..kau tidak akan bisa..karena aku tahu betul siapa sahabatku ini.." ucap Keenan.


"Iya, aku tidak apa apa.." sahut Siena. "Oya, tumben kalian datang ke sini.." Siena mengalihkan pembicaraan.


"Aku..mau undang kau ke rumahku malam ini.." ucap Keenan.


"Memang ada apa?" tanya Siena.


"Hari ini, ulang tahun pernikahanku..aku mau kau hadir di tengah tengah kebahagiaanku Siena."


Siena terdiam, "tapi aku tidak bisa Keenan, mama tidak ada yang menjaganya.." jawab Siena.


"Loh..bukankah ada Sandra? kau bisa datang bersama Reegan," sela Rei.


"Sandra di rawat di rumah sakit sudah dua hari ini..dia keguguran."


"Keguguran!" ucap mereka berdua serempak.


Siena menganggukkan kepala, "iya..keguguran.."


Rei dan Keenan saling pandang sesaat, "lalu? yang menjaga Sandra siapa?" tanya Rei.


"Reegan!" sahut Siena.


"Sudah ku duga.." ucap Rei dalam hati. "Di mana dia rawat? maksudku rumah sakit mana?" tanya Rei.


"Dia di rawat di rumah sakit Kasih Bunda yang ada di sebelah komplek ini," jawab Siena.


"Siena, sepertinya aku harus pulang..aku lupa kalau hari ini ada Klien," ucap Rei. "Keenan, apa kau mau pulang bersamaku?" tanya Rei pada Keenan.

__ADS_1


"Tidak, aku pulang belakangan..aku mau ngobrol dulu dengan Siena," jawab Keenan.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu Siena.." Rei berdiri, menatap Siena sesaat lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Siena.


"Aku harus mencari tahu ke rumah sakit," gumam Rei di sela sela langkahnya. Lalu ia masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit yang Siena sebutkan tadi.


***


Tak butuh waktu lama, Rei sudah sampai di halaman rumah sakit. Ia bergegas masuk dan bertanya di kamar mana Sandra di rawat. Setelah ia mendapatkan informasi, Rei langsung menuju kamar di mana Sandra tengah di rawat. Rei tidak langsung masuk ke dalam ruangan. Namun ia berdiri di depan pintu mengintip lewat kaca menatap ke arah Sandra yang tengah duduk di atas tempat tidur di peluk Reegan.


"Sudah ku duga, apa yang harus aku lakukan?" ucap Rei pelan. Perlahan ia buka pintu ruangan. Ia melihat Reegan langsung melepas pelukannya lalu turun dari atas tempat tidur saat menyadari kedatangan Rei.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reegan menatap tidak suka.


"Seharusnya aku yang bertanya, ada hubungan apa di antara kalian?" tanya Rei balik.


"Apa maksudmu?" tanya Reegan memalingkan wajah menatap Sandra.


"Kau tidak perlu berpura pura di hadapanku Reegan, aku tahu ada apa di antara kalian." Rei menatap tajam Sandra yang menundukkan kepala.


"Jika kau hendak mengurusi kami, lebih baik kau pergi!" Reegan mendorong tubuh Rei hingga mundur beberapa langkah.


"Bagaimana kalau dia memberitahu Siena tentang kita?" tanya Sandra matanya berkaca kaca.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan..biar itu jadi urusanku.." jawab Reegan, ia juga sebenarnya mulai khawatir jika Rei mengatakannya pada Siena.


"Sebaiknya kau susul dia ke rumah. Siapa tahu dia akan memberitahu Siena." Sandra meminta Reegan untuk pulang.


"Baiklah, tapi kau tetap tenang disini..oke?"


Sandra menganggukkan kepala, ia menatap Reegan yang melangkha keluar ruangan.


"Aku harap dia tidak memberitahu Siena."


Dua puluh menit kemudian, Reegan telah sampai di rumahnya. Saat ia membuka pintu kamar ia mendapati Siena tengah tertidur pulas di kamarnya. "Siena..maafkan aku..maafkan aku."


Reegan kembali menutup pintu, tapi Siena terbangun dan menyadari Reegan datang. "Sayang, kaukah itu?" tanya Siena.

__ADS_1


Reegan kembali balik badan menghampiri Siena. "Iya, aku pulang.." jawab Reegan duduk di tepi tempat tidur.


"Ada apa? kok murung? Sandra baik baik saja bukan?" Siena menatap lekat wajah suaminya


"Iya sayang, dia sudah lebih baik." Reegan mengelus rambut Siena. "Maafkan aku, akhir akhir ini aku tak punya waktu untukmu."


Siena mengerutkan dahi menatap Reegan, "kenapa kau bicara seperti itu, apa aku pernah mengeluh? apa aku pernah menuntutmu? tidak bukan?" Siena menggeser duduknya.


"Iya aku tahu..bahkan kau tidak pernah meminta apa apa dariku," sahut Reegan. "Sayang..aku lapar..aku kangen masakanmu." Reegan mengecup kening Siena.


Siena tertawa kecil, "benarkah kau rindu masakanku? ah romantis sekalii.." ucap Siena memeluk Reegan.


Reegan mengerutkan dahi, "kau bilang romantis? hal sekecil itu kau bilang romantis?" Reegan sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Siena.


Siena menganggukkan kepala, tangannya terulur mengusap dada Reegan, "kau tahu..kebahagiaan, kenyamanan, dan sebuah keromatisan tidak melulu tentang hadiah yang mewah..jalan jalan..atau kau membetikanku barang barang mahal..tidak sayang..bagiku..hal hal yang kau rindukan dari diriku itu adalah hal yang romantis.." Siena tersenyum, ia mengecup bibir Reegan sekilas. Lalu ia turun dari atas tempat tidur.


"Aku buatkan makan malam, kau bersihkan dulu badanmu."


Reegan mengangguk, ia memperhatikan Siena hingga hilang dari balik pintu. "Siena..aku baru menyadari..ternyata kau berbeda dari wanita lainnya..tapi..aku telah mengkhianatimu..saat ini..aku sedang dalam posisi serba salah..maafkan aku Siena..kau istriku yang luar biasa, tapi aku juga mencintai Sandra," gumam Reegan. Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu, Reegan duduk dikursi bersama Siena, mereka tengah menyantap makan malam bersama setelah berhari hari tidak mereka lakukan.


"Sayang, masakanmu enak.." ucap Reegan sembari mengunyah.


"Terima kasih, sekarang kau habiskan makanmu..setelah itu temui mama..mungkin mama rindu kamu..bukankah selama ini kau sibuk?" ucap Siena.


"Besok pagi saja, takutnya mama sudah tidur," jawab Reegan.


"Siena..."


"Hem.." Siena menatap Reegan.


"Tidak apa apa," Reegan menundukkan kepala, ia bermaksud bertanya apakah Rei datang ke rumah. Namun melihat Siena terlihat biasa, Reegan urungkan niatnya untuk bertanya.


"Aku sudah kenyang," ucap Reegan.


"Ya sudah..kalau kau mau istirahat duluan..aku masih harus membereskan pekerjaan."

__ADS_1


Reegan mengambil air mineral di atas meja, lalu ia meminumnya perlahan. "Aku istirahat duluan ya," ucap Reegan sembari meletakkan gelas di atas meja.


"Iya, nanti aku menyusul." Siena tersenyum samar menatap Reegan meninggalkan ruang makan.


__ADS_2