The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 84: Revealed


__ADS_3

Kenzi menatap wajah Siena yang tak kunjung sadar. Meski Dokter sudah mengobatinya, namun satu jam berlalu Siena masih tetap sama. Sementara Akira dan Yeng Chen menunggu Samuel di kamar yang berbeda tak jauh dari kamar Siena.


"Jika kau tidak bergerak cepat, selamanya kalian tidak akan hidup tenang," ucap Surya. "Aku harap kau mengambil keputusan secara bijak."


Kenzi menoleh dan menatap Surya yang duduk di kursi. Ia termenung sejenak mempertimbangkan ucapan Surya. Lalu kembali menatap wajah Siena dan menyentuh pipi Siena dengan lembut. "Bangunlah sayang," ucap Kenzi pelan, perlahan ia berdiri dan melangkah ke tepi jendela, di ikuti Surya dari belakang. Kedua tangan mencengkram tepi jendela menatap kosong kedepan.


"Apa kau baik baik saja?" Kenzi menolehkan kepalanya, melihat Surya yang berdiri di belakangnya, menatap sembari tersenyum sedih.


"Aku baik baik saja." Kenzi menghela napas panjang. kembali mengalihkan pandangannya kedepan.


"Serahkan semuanya pada Kepolisian."


"Sampai kapan? berapa lama aku harus menunggu? mereka punya aturan sebelum bertindak, mungkin aku baik baik saja. Tapi bagaimana dengan istriku? kau dan yang lain?" Kenzi menggeram marah, ia tidak mau berpura pura kuat lagi. Pada kenyataannya Bos besar adalah hal yang tabu untuk di ucapkan. Dia licik dan licin, meski berkali kali ia membantu pihak berwajib. Sesuai perjanjian kontrak. Namun Bos besar yang bernama Hernet. Dia selalu ada cara untuk menghindar bahkan lepas dari jerat hukum.


"Kau tidak sendirian, demi putriku akan kulakukan apa saja."


Kenzi tertegun menatap pria di hadapannya, pria pemabuk dan pecandu itu kini di hadapannya adalah sosok ayah yang tak pernah Kenzi dapatkan. Lagi lagi Kenzi memikirkan ucapan Surya. Sebuah keputusan yang sulit. Itu tidak akan mudah.


Kenzi menghela napas dalam dalam, ia berjalan dan duduk di tepi tempat tidur. "Siena, bangunlah sayang. Jangan tinggalkan aku," ucap Kenzi pelan, tangannya mengusap lembut pipi Siena lalu mengecupnya.


Surya menghela napas dalam dalam, ia mengerti apa yang sedang Kenzi pikirkan. Situasi yang sangat sulit, berbeda dengan Kenzi yang dulu. Tanpa harus mempertimbangkan apapun, dia akan terus maju tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Ini berbeda, ada wanita yang ia jaga, di cintai dan di lindungi. Perlahan Surya beranjak dari kursi dan meninggalkan Kenzi bersama Siena di dalam kamar.


"Jika aku harus kehilangan segalanya demi nyawamu, akan aku lakukan." Kenzi mengecup kening Siena.


"Akan aku habisi mereka dengan tanganku sendiri, dan aku tidak perduli dengan yang lainnya. Selain dirimu Siena." Kembali Kenzi mengecup bibir Siena dengan dalam.


Kenzi merasakan pergerakan tangan Siena, ia bangun dan memperhatikan jari jemari Siena yang bergerak. Kenzi tersenyum sumringah memperhatikan mata Siena yang perlahan terbuka. "Kau sadar Siena..kau sadar!" Kenzi langsung memeluk tubuh Siena erat dengan segenap perasaan yang ia miliki.

__ADS_1


"Aku kesulitan bernapas," ucap Siena pelan. Kenzi kembali bangun dan menatap wajah Siena yang tengah tersenyum padanya.


"Jangan tinggalkan aku, berjanjilah." Kenzi mengusap lembut pipi Siena.


Siena menganggukkan kepala, "tidak, aku hanya haus." Siena mengusap tenggorokannya yang terasa kering.


Kenzi langsung mengambil air mineral di dalam gelas dan memberikannya pada Siena dengan sedotan.


"Kau sudah lebih baik?" tanya Kenzi sembari meletakkan gelas di atas meja.


Siena mengangguk, ia berusaha bangun dan duduk di tempat tidur, lalu mengambil tas miliknya yang ada di atas meja. Siena tertegun sesaat matanya melirik ke arah Kenzi.


"Apa kau mencari ini, Siena?" Kenzi mengeluarkan senjata api di balik pinggangnya. Mata Siena melebar berusaha merebut senjata api di tangan Kenzi. Namun pria itu menyembunyikan di balik punggungnya.


"Berikan senjatanya, itu milikku!" Siena berusaha merebut senjata dalam genggaman Kenzi yang ada di balik punggungnya.


"Untuk diriku," ucap Siena, kepalanya tertunduk.


"Kau ingin membunuhku?" Kenzi melepaskan kedua tangan Siena. Ia sama sekali tidak percaya kalau selama ini, Siena menyembunyikan senjata api dan diam diam belajar menembak di ruang bawah tanah, saat Kenzi tidak ada di rumah.


"Jangan bicara seperti itu." Siena langsung membungkam mulut Kenzi dengan tangannya. "Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Aku memang tidak bisa membantumu, setidaknya aku bisa jaga diri saat kau tidak ada di sampingku." Mata Siena berkaca kaca.


Kenzi langsung memeluk erat tubuh Siena, "maafkan aku, sudah menuduhmu."


"Tidak, aku yang minta maaf..seandainya aku mendengarkan mereka. Tentu Samuel tidak akan terluka." Siena mengusap air matanya yang hampir jatuh. Ia sadar akan kesalahannya. Samuel dan yang lain lebih dari seorang bawahan Kenzi. Tapi sudah Siena anggap sebgai keluarganya sendiri.


Kenzi melepaskan pelukannya. "Jangan kau ulangi lagi, mereka keluargamu, bagian dari diriku juga." Siena mengangguk cepat lalu memeluk Kenzi dengan erat.

__ADS_1


"Kau sudah sadar sayang," sapa Surya.


Siena melepas pelukan Kenzi, ia memalingkan wajah menatap Surya sudah berdiri di sampingnya lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Papa senang kau sudah sadar," Surya meraih tangan Siena dan mengecupnya pelan. "Papa sangat khawatir."


Siena menggelengkan kepala, tersenyum samar. Mata coklat Siena memperhatikan gurat gurat lelah yang terlihat begitu jelas di wajah Surya. "Pa.." ucap Siena pelan. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Surya.


"Papa berharap yang terbaik untukmu, Siena." Surya tersenyum lalu memeluk tubuh Siena erat.


"Pa.." Siena membalas pelukan Surya. Terisak di pelulan ayahnya seperti saat usia lima tahun. Kenzi menundukkan kepala, perasaan aneh menyeruak ke dalam relung hatinya. Rasa hangat mulai menjalar di tubuh Kenzi. Semua itu berkat Siena.


***


Akira dan Yeng Chen duduk termangu di kursi menunggu Samuel sadarkan diri. Tak lama kemudian perlahan Samuel mulai membuka mata dan berusaha untuk bangun tapi Akira menahannya. "Nona Siena, bagaimana dia?!' Samuel bertanya dengan tatapan cemas ke arah Akira dan Yeng Chen.


"Kau tidak perlu khawatir, Nona baik baik saja." Akira membenarkan bantal untuk Samuel supaya bisa bersandar.


"Syukurlah," ucap Samuel lega.


"Maaf, aku datang terlambat membantumu," ucap Yeng Chen menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tidak apa apa, kau juga sudah menjaga Nona Siena dengan baik." Samuel tertawa kecil.


"Mulai hari ini, kita harus lebih waspada. Tidak ada lagi tugasmu atau tugasku. Ini tugas kita bersama." Akira merentangkan kedua tangannya lalu di sambut Yeng Chen. Dan mereka memeluk Samuel bersamaan. Mereka tertawa bersama menikmati kebersamaan yang jarang sekali di dapatkan. Kenzi tidak hanya Bos mereka, tapi sudah memganggap pria itu sebagai keluarga mereka. Kenzi yang mengangkat mereka di jalanan memberikan tempat berteduh dan fasilitas di rumahnya.


Mereka melepas pelukannya masing masing, lalu tertawa bersama. Sesaat mereka melupakan segalanya. Menikmati kebersamaan yang tak pernah mereka rasakan sebulumnya. Rasa ingin melindungi satu sama lain semakin kuat tertanam di dalam hati mereka.

__ADS_1


"Keluarga"


__ADS_2