The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Sepanjang malam Jiro memikirkan tantangan yang di berikan Miko. Ia tidak berani jujur dengan Kenzi bukan tanpa alasan. Jiro merasa Kenzi akan melarang dan marah padanya. Dan Kenzi juga pasti tidak akan merestui hubungannya dengan Miko. Akhirnya Jiro memutuskan untuk bicara dengan Zoya. Dia merasa butuh teman untuk di ajak bicara.


"Nak? kau mau kemana sepagi ini?" tanya Siena dari arah pintu kamar.


"Anu Bu, aku-?"


"Kau kenapa? ada apa?" timpal Kenzi menatap raut wajah bingung putranya.


"Aku ada urusan, Yah."


Siena maju satu langkah mendekati Jiro, memperhatikan wajah putranya dengan seksama. Setiap kali di ajak bicara, Jiro selalu menghindari setiap kali bertatapan dengan Siena. Gelagat yang tak biasa dari putranya dapat ia tangkap. Sebagai Ibu nalurinya lebih kuat di banding Kenzi. Apalagi, Siena sudah biasa menghadapi berbagai kebohongan Kenzi dulu sewaktu masih muda. Serapat rapatnya Kenzi menyimpan rahasia, pada akhirnya Siena akan tahu.


"Kau tidak melupakan pesan Ibu bukan? kejujuran adalah hal utama."


"Ah tidak Bu, aku benar benar ada urusan kantor. Aku pergi dulu Bu." Jiro mencium pipi Siena sekilas. Lalu melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua yang terpaku menatapnya aneh.


"Ada apa sayang?" tanya Kenzi menatap Siena tajam.


"Sayang, sebaiknya kau harus cari tahu tentang putra kita di luar sana." Siena menggenggam tangan Kenzi.


Kenzi menghela napas panjang, ia tahu betul, jika Siena meremas tangannya pelan. Itu pertanda dia sedang khawatir.


"Baiklah sayang, aku akan menyelidikinya."


***


Setelah mendapat informasi dari pihak rumah sakit. Kalau Zoya sudah pulang setengah jam lalu, karena kondisi gadis itu sudah pulih benar. Jiro langsung meluncur ke kediaman Adelfo.


Kebetulan Adelfo saat itu tidak ada di rumah. Jiro langsung menemui Zoya. Mereka duduk di teras rumah, membicarakan apa yang sedang Jiro bingungkan saat ini.


"Kenapa kau tak jujur pada orangtuamu?" tanya Zoya.


Jiro menggeleng pelan, ia berdecak resah menatap Zoya. "Kau tidak tahu bagaimana Ayahku, dia tidak akan suka jika mendengar organisasi itu. Apalagi kalau aku ikut bergabung. Bisa di penggal leherku." Jiro tertawa kecil, bernada bergurau.


"Tidak mungkin, kau ini berlebihan," sungut Zoya.


"Ya intinya, aku tidak mau membuat mereka susah di masa tua nya. Walau aku tahu, sampai saat ini mereka masih mampu mengangkat senjata." Jiro berdiri berpindah duduk lebih dekat dengan Zoya.


"Lalu? apa keputusanmu?"


"Aku tidak mau kehilangan dia, kau tahu itu bukan?" tangan Jiro memegang tangan Zoya yang ada di atas meja.


Gadis itu mengangguk, tersenyum samar lalu menundukkan kepalanya. "Ya, aku tahu. Kau sangat mencintainya."


"Nah itu, aku tidak akan membiarkan dia terjerumus lebih dalam ke dalam organisasi itu. Aku harus membawanya keluar."

__ADS_1


Zoya mengangguk anggukkan kepalanya, terdiam cukup lama menatap wajah Jiro.


"Aku tidak tahu harus bicara apa, tapi aku akan membantumu bicara dengan Zoya. Bagaimana kalau kita temui dia dan membujuknya?" usul Zoya. Awalnya Jiro tidak setuju, tapi tidak ada salahnya di coba.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan Ayahmu?" tanya Jiro khawatir.


"Kau tenang saja, aku tahu bagaimana Papaku."


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang."


Jiro berdiri menarik tangan Zoya. Gadis itu mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah Jiro menuju halaman rumahnya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil Langsung meluncur menuju rumah Miko.


Kini waktu Jiro semua tersita hanya untuk memikirkan Miko. Bahkan ia tidak lagi mengurus semua pekerjaannya sejak beberapa minggu lalu. Yang ada di pikirannya hanyalah keselamatan Miko dan cintanya.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di rumah Miko. Namun mereka berdua terkejut, mendapati Miko dalam keadaan terluka, wajahnya lebam lebam seperti habis terkena pukulan. Terdapat noda darah di sudut bibirnya.


"Miko, apa yang terjadi?" Jiro duduk di samping Miko dan membantunya membersihkan noda darah di bibir gadis itu. Senentara Zoya hanya bisa menekan perasaannya. Ia duduk di kursi lain memperhatikan mereka berdua.


"Ibuku di bawa anggota Crips," ucap Miko pelan.


"Apa?!" ucap Jiro dan Zoya serempak.


"Ya, jika aku tidak memenuhi permintaan mereka. Maka Ibuku akan menjadi taruhannya."


"Aku terpaksa mengikuti mau mereka." Miko menatap Zoya tidak suka. Bagaimana Zoya bisa seakrab itu dengan Jiro.


"Bagaimana bisa? aneh," gumam Zoya pelan. Namun jelas terdengar oleh mereka berdua.


"Maksudmu?" tanya Jiro dan Miko menatap tajam Zoya.


Zoya yang notabene putri mafia, tentu dia tahu struktur organisasi terlarang manapun tidak bisa memaksa orang lain untuk menjadi pemimpin mereka. Meskipun Miko adalah putri Big Bos. Mereka tentu sudah memiliki hak waris tersendiri siapa yang akan menjadi pemimpin layaknya dalam sebuah keluarga. Sebelum mereka meminta Miko untuk jadi pemimpin mereka. Tentu banyak sekali yang ingin menjabat posisi itu salah satu anggotanya. Zoya menjelaskan panjang lebar. Sementara Jiro sendiri, meskipun dia putra seorang mafia. Tapi tidak sepenuhnya punya pengalaman tentang organisasi sedetail Zoya.


Jiro menatap tajam Miko, ia sedikit mempercayai kata kata Zoya. "Apa yang di katakan Zoya benar. Ini terasa ganjil."


"Kau percaya atau tidak terserah, jika kau tidak mau. Biarkan aku sendiri, dan kau pulang saja." Miko menatap kesal Zoya lalu beralih menatap Jiro dengan lembut.


"Kau harus memilih."


"Maksudmu?" tanya Jiro tak mengerti.


"Cinta atau kebenaran?" Miko memberikan pertanyaan dan pilihan untuk Jiro.


"Tentu aku memilih Cinta, kaulah cintaku." Jiro menangkup wajah Miko dan tersenyum padanya.


"Kau salah Jiro!" seru Zoya menatap Jiro. Apa yang di katakan Miko jelas menjebak, apalagi Jiro tidak mengerti makna Cinta dan Kebenaran. Namun saat Zoya hendak menjelaskannya pada Jiro. Miko tidak memberikan kesempatan itu pada Zoya. Akhirnya gadis itu diam dan tidak bicara lagi.

__ADS_1


"Begini saja, Ibumu di bawa anggota Crips bukan? bukan hal yang sulit untuk Ayahku membebaskan Ibumu, jika kau izinkan. Aku akan membantumu." Zoya akhirnya menawarkan jalan mudah untuk Miko jika apa yang di katakannya itu benar.


"Itu usul yang bagus," timpal Jiro.


"Tidak!" Miko berdiri. "Jika kau tidak ingin ikut bersamaku. Pulanglah kau bersama dia!" tunjuk Miko pada Zoya.


"Baiklah, aku ikut denganmu." Jiro berdiri memegang tangan Miko.


"Bagaimana denganmu? apa kau ikut juga?" tanya Miko pada Zoya.


Sebenarnya Zoya tidak perlu melibatkan diri dengan organisasi lain. Pada kenyataan, Papanya mafia yang di segani dan punya organisasi juga. Tapi kali ini beda, Zoya tidak ingin Jiro terus terjebak dalam jerat kebohongan besar. Yang Zoya sendiri tidak tahu mau di bawa kemana arahnya. Gadis itu berpikir untuk ikut mereka dan membantu Jiro.


"Baiklah, aku ikut bersama kalian." Zoya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Bagus, sekarang kalian pulang lebih dulu. Besok kita berkumpul di sini untuk menyusun rencana." Perintah Miko.


Jiro mengangguk pelan, ia merasa bersalah pada orang tuanya karena membohongi mereka. Sementara Zoya tetap tenang, ia percaya kalau Adelfo akan mendukung dan membantu Jiro. Tak lama merekapun undur diri sesuai perintah Miko. Jiro terlebih dahulu mengantarkan Zoya ke ruamhnya. Setelah itu ia kembali pulang.


Adelfo berdiri dengan tatapan kesal menatap Zoya. "Kau dari mana? kenapa tidak meminta izin Papa dulu?"


Zoya menundukkan kepala sesaat, lalu dengan hati hati gadis itu mulai menceritakan apa yang terjadi pada Adelfo. Pria itu tertawa terbahak bahak mendengar kalimat bahwa Crip meminta seorang wanita muda tanpa pengalaman untuk menjadi pemimpin meskipun Miko adalah putri Big Bos.


"Papa! malah mentertawakanku!" sungut Zoya kesal.


"Hei, pacar Papa jangan marah." Adelfo menepuk pelan bibir Zoya.


"Papa malah bercanda," sungut Zoya.


"Pacar Papa yang ngambekan, duduk di sini." Adelfo menarin tangan Zoya untuk duduk di sampingnya.


"Papa belum tahu ada apa sebenarnya, tapi Papa yakin kalau putri Bos besar itu sedang di kendalikan sessorang untuk menghancurkan Nona Siena.." ucapnya lembut saat menyebut nama Siena. Membuat Zoya kesal dan mencubit lengan Adelfo.


"Papa pacar aku, jangan selingkuhi aku dengan nona Siena."


Adelfo tertawa terbahak bahak, melihat Zoya marah. "Oke, Papa tidak akan selingkuh dengan nona Siena. Demi kau, pacar Papa."


Zoya tersenyum memeluk Adelfo. "Terima kasih Papa, jangan ganggu Om Kenzi dan Tante Siena."


"Baik, Papa janji." Adelfo mengusap rambut Zoya. "Papa akan bantu kau dan Jiro. Tapi Papa butuh waktu untuk mencari informasi ini."


"Sungguh?" Mata Zoya berbinar menatap kagum pada Adelfo.


"Kau pacar Papa satu satunya, Papa akan lakukan apapun buat kau sayang."


"Ah Papa, Papa the best!"

__ADS_1


__ADS_2