
Seharian berlibur di pantai membuat Helion tidur lebih awal. Begitu pula Siena, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Kenzi masih berbincang bincang bersama Yu dan yang lain di ruang tamu. Kenzi masih penasaran dengan pria yang di ceritakan Samuel dan Yeng Chen tadi di pantai.
"Organisasi Crips tidak hanya ada di Hongkong, tapi sudah menyebar ke Indonesia." Yu menjelaskan panjang lebar. Siapa yang tidak mengenal sosok Kenzi. Pria kebangsaan Itali, terjun kedunia kriminal selama bertahun tahun lamanya. Apalagi organisasi kriminal itu di bawah naungan para elit yang berkuasa. Tentu tidak akan mudah mencabut sampai ke akarnya. Meskipun Bos besar organisasi itu sudah mati. Tentu akan ada penggantinya, ibarat dalam sebuah keluarga. Ada warisan turun temurun. Dan Kenzi menyadari itu, ia tidak akan mudah melepaskan identitasnya yang sudah di kenal mereka.
"Sebaiknya kau pikirkan masa depan putramu, Helion." Yu duduk di kursi mengambil cangkir kopi di atas meja.
"Kau benar, langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya," Surya menimpali.
"Aku sudah memikirkan semuanya," ucap Kenzi menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia tidak ingin Helion mengetahui masa lalu Kenzi jika sudah dewasa nanti. Ia berniat untuk pindah rumah, meninggalkan semua jejak jejak masa lalunya yang kelam.
"Kota mana yang kau pilih?" tanya Yu, sembari meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Jepang." Kenzi memutuskan untuk pindah ke sana, ia masih memiliki rumah beserta aset lainnya.
"Apakah kau sudah bicara dengan Siena?" tanya Surya.
"Belum," sahut Kenzi. "Aku akan membicarakannya malam ini." Kenzi berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Siena.
Yu sangat setuju jika Kenzi pindah ke sana, ia sendiri selama ini tinggal di Jepang. Sementara Surya kurang setuju, tapi apapun keputusan Siena nanti. Ia tetap ikut kemanapun mereka pergi.
***
Kenzi berdiri di depan pintu kamar dengan segelas kopi di tangannya. Ia menatap ke arah Siena yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Perlahan ia berjalan mendekati meja lalu ia letakkan gelas di atas meja dan duduk di kursi menatap tajam ke arah Siena. Tangannya melonggarkan dasi yang serasa mencekiknya, perlahan ia bangun dan berjalan mendekati Siena lalu duduk di tepi tempat tidur.
Perlahan Siena membuka mata, menatap ke arah wajah Kenzi. "Hei, kau mau apa?" ia tutupi wajah dengan tangannya sendiri.
"Aku hanya ingin melihatmu saja." Kenzi menurunkan tangan Siena. "Aku ingin bicara."
"Apa tidak bisa menunggu besok saja?" ucap Siena malas, ia tarik selimut untuk menutupi wajahnya, namun Kenzi kembali menarik selimutnya ke bawah.
__ADS_1
"Ayolah sayang, ini penting." Kenzi mengangkat tubuh Siena untuk duduk.
"Katakan, ada apa sayang?" kedua tangan Siena melingkar di leher Kenzi.
"Aku mau, kita pindah rumah." Kenzi menjelaskan pada Siena tentang keinginan dan kekhawatirannya tentang Helion. Ia tidak ingin hidup Helion di bayang bayangi masa lalu Kenzi yang kelam.
"Aku mengerti, tapi kita pindah kemana?" Siena menautkan kedua alisnya menatap Kenzi.
"Jepang."
"Jepang?!" Siena menurunkan kedua tangannya lalu menundukkan kepala. Ia tidak setuju dengan niat Kenzi pindah rumah. Tapi mengingat itu semua di lakukan demi pertumbuhan Helion. Mau tidak mau, akhirnya Siena menyetujui keinginan Kenzi.
"Bagaimana sayang?" tanya Kenzi. tangannya menyentuh dagu Siena dan mengangkatnya supaya menghadap padanya.
"Baiklah, demi putra kita..aku setuju."
"Aku tidak mau, Livian mengganggu keluarga kecil kita lagi." Siena menganggukkan kepala, tangannya menarik dasi yang Kenzi kenakan lalu di lemparkan sembarangan ke lantai.
"Demi putra kita, apapun aku lakukan." Siena membuka kancing kemeja yang Kenzi kenakan lalu melepaskan pakaiannya.
Siena menatap horor Kenzi, "pakaianmu bau asap rokok, lagipula kau belum mandi!" sungut Siena kesal.
Kenzi tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Siena yang cemberut, ia turun dari atas tempat tidur menatap Siena sambil tertawa. "Oke sayang, tunggu aku sebentar." Kenzi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Siena duduk termenung memikirkan ulang keinginan Kenzi pindah rumah.
Tinggal di Indonesia ataupun tempat lain, bagi Siena sama saja. Mereka tetap akan mencari Kenzi jika mereka masih punya rasa dendam. Dan Mengenai Helion, sekarang atau nanti. Putranya pasti akan mengetahui masa lalu Ayahnya cepat atau lambat. Jadi, buat apa pindah rumah?
Siena tersenyum mengembang, ia akan meminta Kenzi berpikir ulang tentang keinginannya itu. Siena punya alasan yang masuk akal kenapa ia menolak untuk pindah rumah. Tak lama kemudian Kenzi telah selesai dengan dirinya. Ia duduk di tepi tempat tidur hanya menggunakan balutan handuk.
"Apa kau baik baik saja, sayang?" Kenzi menyentuh pipi Siena dengan lembut.
Siena tersenyum tipis, ia menganggukkan kepala. "Kemarilah." Siena menarik tangan Kenzi supaya naik ke atas tempat tidur. Tentu saja Kenzi senang, tanpa di mintapun ia langsung naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah Siena.
"Sayang.." Siena menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzi. "Aku ingin, kau dengarkan aku dulu." Tangan Siena terulur mengusap dada Kenzi. Dengan sangat hati hati, ia menjelaskan apa yang baru saja di pikirkannya. Kenzi hanya menganggukkan kepala mendengarkan dengan seksama. Dan penjelasan Siena bisa di terima oleh Kenzi.
__ADS_1
"Jadi? bagaimana?" Siena tengadahkan wajah menatap Kenzi.
"Baiklah sayang, apa yang kau katakan benar juga." Kenzi mencubit hidung Siena dengan gemas. Lalu ia rebahkan tubuh Siena di atas tempat tidur. "Bagaimana dengan Livian? bagaimana kalau dia mengambimu dariku?"
Siena tertawa kecil, tangannya mengusap lembut rambut Kenzi. "Apa kau akan membiarkannya? apa aku juga mau?" ucap Siena menatap dalam kedua bola mata Kenzi.
Kenzi tersenyum tipis, ia mengabaikan pertanyaan Siena lalu mencium keningnya dengan dalam. "Aku sangat mencintaimu."
Sejak Kenzi memilih Siena menjadi pasangannya seumur hidup. Sejak saat itu, Kenzi selalu menceritakan hal kecil sekalipun. Ia tidak pernah berbohong pada Siena, wanita yang ia cintai. Dia akan melakukan apa saja untuk Siena dan juga putranya. Kebahagiaan Kenzi semakin lengkap seiring kedewasaan Siena yang mengerti tentang Kenzi. Begitu pula sebaliknya dengan Kenzi yang selalu berusaha menjadi seorang pria yang mengerti segala hal tentang Siena.
****
Sementara itu di penjara, Livian yang tengah menjalani masa hukumannya, ia kedatangan tamu yang menjenguknya. Polisi membukakan sel tahanan dan meminta Livian untuk menemui orang tersebut.
"Adrian?" sapa Livian menatap ke arah Adrian yang duduk di kursi.
Adrian menoleh ke arah Livian lalu ia berdiri menjabat tangan Livian. "Apa kabar."
Livian menganggukkan kepala lalu ia menarik tangannya dan duduk di kursi, "ada apa kau datang kesini?"
"Aku menawarkan sesuatu yang mungkin kau akan tertarik." Adrian menggeser duduknya lebih dekat dengan Livian.
"Apa?"
"Aku akan membebaskanmu, dengan syarat kau kembali ke Hongkong dan kita bekerjasama." Adrian mengeluarkan dokumen lalu ia letakkan di atas meja.
"Bagaimana dengan Kenzi?" tanya Livian.
"Kenzi sudah tidak penting lagi, biarkan saja dia hidup dengan keluarganya."
Livian terdiam, tawaran Adrian sangat menjanjikan. Ia bisa bebas lagi menghirup udara segar. "Baik, aku setuju." Livian mengulurkan tangan menjabat tangan Adrian.
__ADS_1
"Oke, aku urus semuanya. Tapi syaratnya kau tidak boleh berurusan dengan Kenzi lagi," ucap Adrian mempertegas.
"Baik, aku setuju!"