The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 30: Keraguan Siena


__ADS_3

Siena melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 18:30. "Reegan kok belum pulang ya ma.." ucap Siena menatap ke arah Alya yang duduk di ruang tamu.


"Mungkin sebentar lagi nak.." jawab Alya. Hatinya merasa sakit tiap kali ia harus berbohong pada Siena menutupi perselingkuhan putranya.


"Apa yang harus aku lakukan Ya Rabb," ucap Alya dalam hati.


"Mama kok bengong?" tanya Siena, ia berjalan menghampiri Alya dan duduk di sampingnya.


"Tidak apa apa sayang.." sahut Alya. "Kau tahu..mama sayang sama kamu nak."


"Aku juga Ma.." kata Siena memeluk tubuh Alya.


Tak lama suara mobil terparkir di halaman, Alya sudah geram ingin memarahi Reegan. Tapi ia tahan karena masih ada Siena. Ia coba untuk merubah Reegan dan berharap mau berubah.


"Kalian sedang apa?" sapa Reegan tersenyum seolah olah tidak terjadi apa apa.


"Kau sudah pulang." Siena berdiri lalu menghampiri Reegan. "Kau mandi dulu, aku siapkan makan malam kesukaanmu." Siena berjalan ke arah dapur. Sementara Reegan berjalan memasuki kamarnya di ikuti Alya dari belakang.


"Mama?! kenapa mama mengikutiku?!" seru Reegan terkejut saat akan menutup pintu, Alya berdiri di belakangnya. Alya mendorong tubuh Reegan mundur kebelakang, dengan sigap ia layangkan tangan kanannya menampar pipi Reegan.


"Mama kecewa sama kamu!"


"Mama! mama apa apan?!" sahut Reegan memegang pipinya.


"Kau pikir mama bodoh, hah? kau pikir mama tidak tahu tadi sianv kau kemana, hah?!"


"Maksud mama?" ucap Reegan pura pura tidak tahu.


"Tadi mama dan juga istrimu ada di kantormu, kau pikir mama telpon kamu di mana hah?!" Alya mukanya merah padam menahan amarah.


"Apa?!"


"Ya, mama tahu kau pergi dengan gadis murahan itu, jujur Reegan!"


"Ma! jangan jatakan dia gadis murahan, aku mencintainya ma!" seru Reegan mengakui perasaannya.


"Cinta, kau bilang? lalu bagaimana dengan Siena hah?!" Alya semakin marah.

__ADS_1


"Aku tidak tahu ma.."


"Anak tidak tahu malu!" pekik Alya.


"Ma..?"


"Ma..ada apa kalian ribut ribut?" tanya Siena dari arah pintu. Ia mendengar keributan di dapur langsung bergegas pergi ke kamarnya.


"Siena? anu..mama tadi lihat kecoa, Reegan takut sekali dengan kecoa," jawab Alya akhirnya berbohong juga.


"Kecoa? kok aku baru tahu kalau Reegan takut kecoa?" ucap Siena tertawa kecil. "Aku pikir ada apa, ya sudah..aku mau masak lagi" Siena kembali melangkah menuju dapur.


Alya menatap geram Reegan, "kau lihat! kau lihat istrimu?! kau tega menyakiti perasaannya!" pekik Alya, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Reegan.


"Sialan, mama tahu!" Reegan menutup pintu.


Saat makan malam tiba, Alya tidak ikut makan. Ia mengurung diri di kamar dengan alasan tidak enak badan. Siena yang merasa khawatir, ia memberikan obat dan mengantarkan makan malamnya ke kamar Alya. Setelah itu ia kembali ke kamarnya.


"Kau sedang apa?" tanya Reegan memperhatikan Siena yang tengah merapikan pakaian.


"Aku tahu, kau itu suka teledor," ucap Siena. "Ini pakaian kerjamu, ini pakaian sehari harimu, ini pakaian kalau kamu mau menghadiri acara pesta. Semua sudah aku atur, jadi..kau tinggal memakainya."


"Dan ini..tempat sepatu dan semua sandalmu..kau kan pelupa.." Siena terus menunjukkan semuanya. Reegan hanya diam memperhatikan.


"Ya sudah, kita tidur." Reegan menarik tangan Siena untuk tidur.


"Nanti dulu, aku belum selesai..kau pergi tidur duluan..nanti aku nyusul." Siena memeluk Reegan sesaat, lalu melangkah keluar kamar.


"Gadis kampung begitu, mana tahu dia berdandan..yamg dia tahu hanya mengurusi rumah saja," gerutu Reegan.


Sementara Siena pergi ke kamar Alya dan membereskan semua barang barang milik Alya, ia juga memberikan tempat untuk barang barang penting karena Alya juga memiliki karakter sama dengan Reegan.


"Terima kasih sayang, kau begitu perduli sama mama..kau perhatian sama mama.." ucap Alya bangga memiliki menantu seperti Siena.


"Sama sama ma.." jawab Siena.


"Kau memperhatikan hal hal kecil yang di anggap sepele oleh orang lain," Alya mengelus rambut Siena.

__ADS_1


"Jika bukan kita yang perduli, siapa lagi ma..mama tidak perlu khawatir, selagi masih ada aku..aku akan menjaga mama seperti ibu ku sendiri."


"Kok bicara seperti itu, memang kamu mau meninggalkan mama?" tanya Alya, ia berpikir jangan jangan Siena mendengar semua keributan tadi.


"Ma..masa lalu hanyalah kenangan, masa depan masih angan angan..apa yang ada hari ini kita jalani, soal esok..entahlah..apa aku masih di sini atau tidak."


Alya terhenyak, "apakah kau?"


Siena tertawa, "ih mama..siapa tahu, aku meninggal lebih dulu..kematian tidak memandang usia kan ma."


Alya bernapas dengan lega, "huhhh..mama pikir apa.." mereka tertawa bersama tanpa beban kecuali Alya. Dalam hatinya menyimpan rasa bersalah pada Siena. Ia berada dalam situasi sulit.


"Sayang, sudah malam..sebaiknya kau istirahat."


"Baik ma.." sahut Siena. Lalu ia beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Saat ia menutup pintu kamar Alya, Siena melihat Reegan berjalan keluar rumah sambil menelpon seseorang. "Mungkin teman kerjanya," ucap Siena pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Tanpa sengaja ia melihat jas kerja milik Reegan terjatuh di lantai. Ia segera memungutnya dan membersihkan dari debu lantai.


Ada kertas terjatuh dari saku jas milik Reegan, Siena memungutnya dan membacanya. "Hotel? dia chekIn di hotel dari pagi?" gumamnya pelan.


Sejenak Siena terdiam, lalu ia simpan kertas itu di dalam tas miliknya.


"Kau sedang apa?" tanya Reegan dari arah pintu.


"Ah tidak, aku mau istirahat," jawab Siena.


"Iya, aku juga mengantuk..capek banget hari ini, pekerjaan numpuk di kantor," kata Reegan sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Siena naik ke atas tempat tidur dengan tatapan ke langit langit kamar.


"Kerjaan numpuk di kantor? tapi ia keluar dan seharian berada di hotel. Aneh.." ucap Siena dalam hati.


"Tidak, aku jangan curiga dulu sebelum mendapatkan bukti bukti yang akurat," ucap Siena dalam hati lagi.


"Memangnya, kau bekerja sehatian di kantor?" tanya Siena memancing.


"Tentu saja, memang dimana lagi?" sahut Reegan malas.


"Oh, bukankah banyak karyawanmu? kenapa tidak mereka yang mengerjakan?"


"Ah, kau tahu apa Siena, lebih baik kau istirahat..oke sayang." Reegan mencubit hidung Siena pelan. Lalu ia pejamkan mata dengan posisi miring membelakangi Siena.

__ADS_1


"Pernyataan berbeda, aneh.."


__ADS_2