
Hari ketiga.
Hari terakhir Kenzi sebelum di jemput pihak Kepolisian. Pria itu masih terpaku di samping istrinya yang semakin hari semakin lemah kondisinya. Kenzi sudah mulai merelakan segalanya, jika itu harus terjadi padanya. Keluarga yang coba ia lindungi
"Aku percaya pada keadilan, tapi tidak ada yang mempercayaiku," ucap Marsya menundukkan kepala sesaat.
"Aku tahu, kau hanya menjalankan tugasmu." Kenzi mengulurkan kedua tangan ke hadapan Marsya.
Marsya menarik napas dalam dalam lalu mengeluarkan borgol, dan memakaikannya di kedua tangan Kenzi. Pria itu menoleh menatap wajah Siena, lalu membungkukkan badannya mencium keningnya cukup lama. "Setelah kepergianku, kuharap kau bangun. Demi putramu sayang." Kenzi tersenyum samar.
"I love you, so much."
Kenzi kembali berdiri tegak, melangkahkan kakinya, sesaat ia terdiam menatap Samuel dan Rei matanya berkaca kaca. "Bos."
"Jaga istri dan putraku." Setelah bicara seperti itu, ia kembali melangkah meninggalkan ruangan, di ikuti Yu dari belakang.
"Kenzi!" seru Rei berlari menyusul mereka.
Rei menatap Kenzi cukup lama, tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya langsung memeluk Kenzi dengan erat. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Rei. Pelukan yang di berikan Rei sudah cukup menguatkan hati Kenzi dan memberikan kepercayaan padanya. Bahwa Rei dan yang lain akan menjaga istri dan putranya dengan nyawa mereka. Rei melepas pelukannya menepuk bahu Kenzi sesaat.
Dengan tatapan nanar, Rei tertawa kecil sembari mengusap air mata yang hampir jatuh di pipinya. Menatap punggung Kenzi hingga hilang dari pandangannya. Lalu ia kembali ke kamar rawat Siena dan berdiri menatap wajah Siena. Sementara Samuel berdiri menghadap dinding dengan kedua tangan mencengkram dinding ruangan.
"Siena bangunlah! aku tahu kau mendengar ucapanku," ucap Rei, suaranya terdengar bergetar. "Lihat suamimu, saat ini membutuhkanmu. Bangunlah Siena, bangun!"
Samuel balik badan menatap sahabat Siena, bahunya bergetar tanda dia sedang menangis. Samuel menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai, mengusap rambutnya kasar. Ia merasa sangat tidak berguna, tidak mampu membantu Kenzi, pria yang selama ini menjadi bos sekaligus kakak buatnya.
***
Hari ke tujuh.
Persidangan Kenzi di lakukan. Yu, Marsya dan pengacara yang membantu Kenzi masih terus berjuang memberikan bukti bukti kalau Kenzi tidak bersalah dalam pembunuhan orang penting di kota itu.
Kenzi duduk di kursi terdakwa dan memberikan keterangan yang benar. Namun kelicikan mereka dan saksi saksi bayaran di hadirkan untuk memberatkan Kenzi.
Saat Kenzi dan yang lain tengah berjuang untuk membebaskan Kenzi dari hukum yang menjeratnya. Sementara di rumah sakit, Samuel dan Keenan tengah panik karena alat monitor detak jantung menunjukkan detak jantung Siena semakin lemah dan wanita itu sesak napas.
"Tuhan, jangan ambil Sienaku. Kembalikan dia ke tengah tengah kami," ucap Rei lirih.
Samuel berdiri menatap ke kaca jendela ruangan memperhatikan Dokter dan suster tengah berusaha keras mengembalikan detak jantung Siena kembali normal. Dan Helion yang di bawa Keenan juga Akira terus menangis di pangkuan Keenan.
Tiiiiiiiiiiiiiittttt...
__ADS_1
Alat monitor detak jantung sudah tidak menunjukkan kalau jantung Siena sudah berhenti berdetak. Kemudian Dokter kembali berusaha mengembalikannya dengan menggunakan alat kejut jantung. Namun sayang, usaha Dokter tidak berhasil. Samuel yang memperhatikan menggelengkan kepala, berteriak histetis membuat Rei dan yang lain ikut panik.
"Tidak! Nona, bangunlah!"
"Apa yang terjadi?" Rei langsung menghampiri menatap ke dalam ruangan, lalu ia membuka pintu berlari menghampiri Dokter, di ikuti yang lainnya. "Dok, apa yang terjadi!"
Dokter menghela napas dalam, "maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain. Nona Siena sudah tiada."
"Tidak mungkin!" pekik Rei dan Keenan serempak. Rei membungkukkan badan mengguncang tubuh Siena. Alat alat penopang hidupnya belum di lepaskan suster. "Siena bangun!"
"Ibu...! Ibu ...! jerit Helion berusaha berontak dari pangkuan Keenan. Ingin dekat dengan ibunya.
" Ibu..! anak laki laki itu menjerit dan menangis. Meski ia belum mengerti apa yang terjadi dengan Ibunya, tapi melihat Rei dan Keenan histeris membuat Helion ikut menangis. Perlahan Keenan menurunkan tubuh Helion di atas ranjang.
"Ibuu..bangun..kita pulang Ibu..!" Helion memeluk tubuh Siena erat sembari menangis tersedu sedu. Dokter dan Suster berdiri di pojok kamar memberikan ruang untuk mereka. Samuel dan Akira berpelukan menangis dalam diam.
Beberapa detik hening tak ada kata yang terucap hanya ada usak tangis kesedihan yang terdengar. Sesekali Helion merengek membangunkan Ibunya. Siapa yang menyangka jika Tuhan pula berkehendak lain dengan caraNya. Tiba tiba alat monitor detak jantung Siena kembali berbunyi.
"Dokter!" pekik Rei.
Dokter dan Suster meminta Keenan untuk menjauhkan Helion dari tubuh Siena. Lalu mereka kembali melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. "Luar biasa," ucap Dokter menoleh ke arah Suster.
"Dok, apa yang terjadi?" tanya Keenan dengan penuh harapan kalau Siena hidup kembali.
"Syukurlah.." Keenan dan yang lain mengusap wajah dan mengucap serangkaian doa untuk kesempatan kedua yang di berikan Tuhan untuk Siena.
"Sayang, jangan menangis. Ibumu baik baik saja." Keenan mencium pipi Helion sayang.
***
Persidangan Kenzi berjalan lancar, tapi pria itu di tetapkan menjadi tersangka. Kenzi di masukkan kedalam tahanan sementara untuk mengikuti sidang terakhir tiga hari kedepan. Yu tidak bisa berkata kata lagi, tak ada kata motivasi yang ia berikan. Karena itu akan percuma buat Kenzi. Setelah mendapatkan kabar dari rumah sakit, Yu langsung menuju rumah sakit untuk memastikan kabar buruk yang ia terima.
Sementara Kenzi duduk di pojok ruang tahanan dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa lama ia melamun, hari sudah malam di luar namun Kenzi tidak dapat melihat indahnya sore hari atau wajah wanita yang ia cintai. Kenzi tidak tahu kabar Siena lagi, karena Yu tidak memberitahu apa apa.
Kenzi sudah menyerah, ia dalam keputus asaan. Merasa tidak punya harapan lagi untuk kebebasannya. Kenzi tersenyum samar menyebut nama 'Siena'.
"Sayang, jika suatu hari nanti kau sadar. Dan aku tidak ada lagi di sampingmu. Percayalah, aku akan selalu ada di hatimu, bersamamu selamanya." Kenzi larut dalam kesedihan dan keputus asaan, pria yang selama ini malang melintang di dunia kriminal, kini meringkuk di pojok tahanan bersama semua kenangan yang tersisa di pikirannya. Bagaikan kekasih yang selalu menyapa setiap detik 'apa kabar'
***
Yu berdiri terpaku bersandar di dinding ruangan kamar Siena di temani Rei yang duduk di kursi menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang.."
Perlahan Rei mengangkat wajahnya menatap wajah Siena. Matanya membulat, mulutnya menganga menatap tak percaya.
"Sayang.."
"Siena? Siena kau sudah sadar?!" rasa tak percaya dan bahagia bercampur jadi satu. Rei tertawa samar, menoleh ke arah Yu yang berjalan mendekatinya.
"Siena sadar, panggil dokter!"
"A, appa?" ucap Yu kelu. Lalu ia bergegas memencet tombol memanggil Dokter atau Suster.
"Sayang.." ucap Siena lirih, matanya terpejam.
"Ada apa?" tanya Dokter Chiang Lin.
Rei langsung berdiri dan menunjuk Siena. "Siena sadar Dok, tadi dia bicara!" ucap Rei tidak dapat terlukiskan bahagianya dia begitu juga Yu.
"Kalian tunggu di luar."
Rei dan Yu mengangguk cepat, lalu beranjak pergi keluar ruangan. Mereka menunggu di luar dengan harap harap cemas. Rei berjalan mondar mandir menunggu pemeriksaan Dokter selesai, sementata Yu duduk di kursi memejamkan mata dan berdoa.
Tiga puluh menit berlalu, Dokter krluar dari ruangan. Yu dan Rei langsung menghampiri. "Bagaimana Dok?" tanya Yu.
"Tuhan telah mengembalikan Nona Siena ke tengah tengah kalian. Dia sudah tidak amnesia lagi."
"Benarkah Dok?" Rei memegang lengan Dokter.
"Iya."
"Terima kasih Dok, terima kasih." Rei langsung masuk ke dalam ruangan di ikuti Yu.
"Siena.." sapa Rei.
Siena memalingkan wajahnya menatap Rei dan Yu. "Kau di sini? dimana suamiku?" tanya Siena menatap Rei.
Rei melirik ke arah Yu. Lalu Yu duduk di kursi menenangkan Siena. "Sebaiknya kau istirahat, kita bicara besok pagi."
"Suamiku baik baik saja bukan? lalu di mana putraku?" tanya Siena menatap Rei bingung.
"Putramu baik baik saja, dia di rumah. Mungkin sudah tidur. Besok aku bawa Helion ke sini." Rei tersenyum mengusap lembut tangan Siena.
__ADS_1
Siena hanya diam, ia menatap langit langit. Mencoba mengingat terakhir kejadian tabrakan itu. "Livian.."
"Tenanglah Siena, dia sudah mati." Ucap yu.