
Sudah beberapa tempat Kenzi datangi sambil membawa foto Ryu. Bertanya ke setiap orang apa ada yang melihat anak itu?
Namun hari sudah hampir gelap. Kenzi belum menemukan keberadaan Ryu. Hatinya di landa cemas dan takut. Takut terjadi apa apa dengan Ryu. Takut mereka lebih dulu menemukan Ryu. Pikiran Kenzi semakin kacau.
"Sam, kita pulang. Kakak Yu sudah menunggu di rumah."
Samuel mengangguk, melirik sesaat ke arah Kenzi.
"Apa yang harus aku lakukan? lapor Polisi?"
Kenzi termenung mempertimbangkan baik buruknya langkah yang akan dia ambil selanjutnya. Apa ia harus melibatkan Polisi untuk mencari putra bungsunya?
"Huffftt." Berkali kali pria itu mendesah gusar.
"Kamu di mana Nak? jangan buat Ayah khawatir."
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah. Yu sudah menunggu setengah jam lalu.
"Bagaimana? ketemu?"
Yu berdiri dari duduknya saat melihat Kenzi datang.
"Tidak Kak, aku tidak menemukannya."
Kenzi duduk di kursi, lalu Siena berdiri berjalan menuju dapur, membuatkan kopi untuk Kenzi dan yang lain.
"Kau sudah lapor Polisi?"
Kenzi menggelengkan kepalanya. Yu kembali terdiam. "Sayang, Jiro kemana?"
"Dia sedang menelpon Abel, dan paman Egor. Katanya mau menginap malam ini di sini."
Siena meletakkan cangkir kopi di atas meja. Lalu duduk di samping Kenzi.
"Ada yang harus kau tahu, tentang Abel."
Yu berpindah duduknya lebih dekat dengan Kenzi.
"Abel? kenapa dia?"
Kenzi menautkan kedua alisnya menatap Yu. Ia memang belum tahu siapa Abel dan latar belakangnya. Yang Kenzi tahu, Abel seorang Polisi.
"Abel putri Sam Hoi dari istri simpanannya. Ibunya telah lama meninggal sejak melahirkan Abel."
"What?? Mata Kenzi melebar menatap tak percaya. Sementara Siena sudah lebih dulu di beritahu Yu.
" Ya benar." Yu menganggukkan kepalanya.
"Ada apa dengan hidupku, Ya Tuhan."
Kenzi mengusap wajahnya pelan. Siena yang duduk di sebelahnya, mencoba menenangkan suaminya.
"Sayang, tenanglah. Kita harus berpikir jernih menghadapi situasi ini."
"Iya sayang." Kenzi tersenyum menatap Siena sesaat. Lalu beralih menatap Yu. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Kita laporkan pada Polisi, biar mereka membantu kita mencari keberadaan Ryu."
Kenzi menganggukkan kepalanya. "Baik kak."
Saat mereka tengah berbincang. Jiro menghampiri mereka dan meminta izin keluar sebentar untuk menemui Abel.
"Sayang, jangan lama lama. Biar paman Sam menemanimu." Siena khawatir terjadi apa apa.
"Ibu tidak perlu khawatir, aku tidak lama Bu."
"Baiklah sayang."
Setelah dapat izin Siena dan Kenzi. Jiro langsung pergi meninggalkan rumah.
***
__ADS_1
Di perjalanan Jiro tak sengaja melihat motor yang biasa Ryu pakai berada di tepi jalan. Jiro berhenti dan menepikan motornya. Ia turun dari atas motor, dan membuka helmnya lalu ia letakkan di atas motor.
"Ryu!
Jiro langsung menghampiri Ryu dan Zoya. Menarik tangan Ryu hingga mundur ke belakang.
" Kakak?"
"Ayo pulang, Ibu dan Ayah mencarimu. Dan kau Zoya, pulanglah ke rumahmu."
"Tidak Kak! Ryu menepis tangan Jiro lalu merangkul bahu Zoya.
" Ryu, apa kau tidak kasihan terhadap Ibu dan Ayah?"
"Aku sayang mereka kak, tapi-?
" Ryu sudahlah kita pergi dari sini, dia bohong. Pasti dia di bayar Ayahku untuk mengembalikanku ke rumah," potong Zoya.
"Zoya! jaga bicaramu. Dan kau ikut aku pulang!" Jiro mendengus kesal mendengar kata kata Zoya. Lalu menarik paksa tangan Ryu.
"Aku tidak mau! Ryu berusaha lepas dari cengkraman tangan Jiro. Tanpa di duga, Ryu memukul wajah Jiro hingga terlepas dari cengkramannya.
" Kau? Jiro menatap tajam adiknya. "Kau tahu? tindakanmu telah melukai hati Ibu dan Ayah! dan tindakanmu membahayakan nyawa kami, kau mengerti!! pekik Jiro geram.
" A, appa? apa maksudmu?" Ryu tmasih belum paham ucapan Jiro. "Siapa yang melukai Ibu?"
"Brummm! Brummm!
Belum sempat Jiro menjelaskan, dari arah belakang anak buah Adelfo menghadang mereka.
"Mundur." Jiro menarik tangan Ryu ke belakang tubuhnya.
"Nona Zoya, pulanglah!" seru salah satu pria yang turun dari atas motor. Di ikuti yang lainnya.
"Tidak!"
Zoya berlari ke arah Ryu dan memeluknya erat.
"Ryu! pekik Zoya.
Melihat adiknya di pukul, tentu saja Jiro tidak tinggal diam. Ia berlari ke arah pria itu dan menerjang punggungnya hingga ambruk ke jalan aspal. Tindakan Jiro memicu amarah kawanan pria itu. Ramai ramai mereka menyerang Jiro. Saat Jiro tengah membela adiknya. Zoya mengangkat tubuh Ryu dan mereka naik ke atas motor melarikan diri menjauh dari tempat kejadian.
" Ryu!" jerit Jiro.
"Bukkk!!"
Saat Jiro lengah memanggil adiknya, salah satu pria itu menghajar wajah Jiro dan yang lain meninju perut Jiro hingga darah segar mengalir dari mulutnya.
"Kalian berdua kejar Nona Zoya!" perintah salah satu ketuanya. Namun Jiro menarik kaki kedua pria itu supaya tidak mengejar Ryu. Ia tahu, Ryu tidak akan selamat kalau di biarkan. Kali ini posisi Jiro serba salah. Dibiarkan mereka mengejar Ryu, maka adiknya di pastikan hancur. Tapi kalau di cegah, artinya Jiro memberikan peluang pada Ryu dan Zoya untuk melarikan diri sejauh mungkin.
"Bukk!!
Perut Jiro di tendang mereka, lalu punggungnya di injak. Jiro tidak melawan karena kedua tangannya menarik kaki pria tadi yang hendak mengejar Ryu. Jiro kembali menarik tangannya melepas pria itu setelah Ryu hilang dari pandangannya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Jiro bangun dan berdiri tertatih, matanya menatap tajam mereka semua. Lalu Jiro menyerang mereka semua, satu persatu musuh berhasil Jiro lumpuhkan. Namun lemahnya tubuh Jiro akibat pukulan mereka membuat Jiro kembali kewalahan. Beruntung dari jauh terdengar suara sirine dari mobil patroli Polisi. Satu persatu musuh kembali naik ke atas motor melarikan diri meninggalkan Jiro yang terkapar di jalan aspal.
" Ayah, Ibu, maafkan aku." Jiro berusaha untuk bangun dan berdiri, lalu meludah darah ke jalan aspal. Dengan langkah tertatih mendekati motornya yang tak jauh dari tempatnya tadi. Ia pakai helmnya lalu naik ke atas motor. Jiro memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dan memberitahu mereka tentang Ryu. Dengan tangan gemetar, Jiro menyalakan motornya lalu meninggalkan tempat. Sepanjang perjalanan, Jiro terus berusaha untuk tetap sadar supaya bisa sampai rumahnya.
***
Sesampainya di halaman rumah, Jiro langsung menepikan motor, lalu turun dari atas motor. Berjalan tertatih menuju rumah.
"Ibu, Ayah." Jiro berdiri di ambang pintu menatap samar ke arah Kenzi, Siena dan Yu yang masih mengobrol.
"Jiro?"
Siena langsung berdiri menghampiri Jiro di ikuti Kenzi dan Yu.
"Ibu-?"
"Sayang!" pekik Siena menahan tubuh Jiro yang ambruk ke lantai. Kenzi langsung mengambil alih tubuh Jiro. Sementara Yu melepas helm yang Jiro kenakan. Siena langsung menjerit histeris melihat wajah Jiro di penuhi luka lebam dan darah segar mengalir di mulut dan hidungnya.
"Jiro!" Siena menjerit lalu menangis.
__ADS_1
"Kak, kita bawa ke kamar." Lalu menoleh ke arah Samuel yang baru saja datang. "Sam, panggil Dokter!"
Samuel mengangguk cepat lalu ia berlari kedalam untuk menghubungi Dokter pribadi Kenzi. Sementara Kenzi dan Yu mengangkat tubuh Jiro masuk ke dalam kamar, di ikuti Siena dari belakang sambil terisak.
Kenzi membaringkan tubuh Jiro di atas tempat tidur, Sementara Siena menuangkan air di dalam gelas ke kain lembut.
"Apa yang terjadi nak?" Siena menyeka darah di mulut dan hidung Jiro menggunakan kain lembut yang sudah di basahi. Siena menoleh ke arah Kenzi.
"Lakukan sesuatu sayang, bangunkan putra kita!" jeritnya histeris melihat Jiro masih tak sadarkan diri. Kenzi memeluk Siena dan mengusap punggungnya.
"Sayang tenanglah. Dokter akan segera datang."
Siena berdiri menatap tajam Jiro, hati Ibu mana yang tak hancur. Putra yang selama ini menghilang, tidak mendapatkan kasih sayang darinya. Dan baru saja di pertemukan harus mengalami hal buruk lagi.
"Tenang, tenang. Apanya yang tenang? sayang, apa kau tidak melihat putra kita!" Air mata mengalir dengan deras di pipi Siena.
"Aku tahu, tapi aku mohon tenanglah sayang." Kenzi ikut terisak, melihat putranya terluka. Melihat istrinya panik.
"Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu!" pekik Siena.
Kenzi langsung memeluk Siena erat. "Tenanglah sayang, tenang."
"Aku tidak mau kehilangan dia lagi, aku tidak mau.." ucap Siena terisak di dada Kenzi, matanya lurus ke wajah Jiro.
Tak lama kemudian, Dokter datang bersama Samuel. Lalu Dokter mulai memeriksa dan mengobati luka Jiro. Siena terus menangis, berdiri tak jauh dari tempat tidur Jiro. Sementara Kenzi dan Yu berdiri di sudut kamar memperhatikan Dokter mengobati luka Jiro.
Setengah jam berlalu, akhirnya Dokter telah selesai mengobati Jiro dan berpamitan untuk kembali ke rumah sakit di antarkan oleh Samuel.
"Sayang.."
Siena duduk di atas tempat tidur, tangannya terulur menyentuh pipi Jiro. Lalu menggenggam erat tangan putranya.
"Ibu, Ayah." Jiro menoleh ke arah Kenzi yang duduk di kursi. "Maaf, aku tidak bisa membawa Ryu pulang."
Perlahan Jiro menceritakan apa yang terjadi, membuat Kenzi geram dengan sikap putra bungsunya. Namun Yu menenangkan Kenzi.
"Tenanglah."
"Ibu, maafkan aku." Jiro menatap sayang Ibunya.
Siena menggelengkan kepalanya, air matanya menetes membasahi tangan Jiro.
"Tidak sayang, Ibu tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa apa denganmu."
"Sayang, sebaiknya kita keluar. Biarkan Jiro istirahat." Kenzi berdiri.
"Jiro!"
Kenzi dan yang lain menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Melihat Abel berdiri di ambang pintu, lalu berjalan mendekati Jiro. Siena, Kenzi dan yang lain beranjak pergi dari kamar. Memberikan ruang untuk Abel berbicara dengan Jiro.
"Siapa yang sudah melakukan ini padamu?" tanya Abel duduk di tepi tempat tidur.
Jiro bangun dan duduk di atas tempat tidur, menarik tangan Abel dan menggenggamnya erat. "Kau pasti menungguku, aku minta maaf. Ada masalah kecil, jadi aku tidak datang ke taman."
Abel menggelengkan kepalanya, "tidak perlu minta maaf, aku mengerti."
"Sebaliknya aku minta maaf, gara gara aku ngajak ketemu. Kau jadi seperti ini." Mata Abel berkaca kaca lalu mencium tangan Jiro sekilas.
"Bukan salahmu, kau jangan menangis. Jelek tahu," goda Jiro mencolek hidung mancung Abel.
"Aku sudah tahu semuanya tentang Ayah dan Ibumu. Latar belakang mereka semua." Abel menundukkan kepalanya.
"Lalu? apa keputusanmu? apa kau mau menjauhiku?" tanya Jiro.
Abel langsung memeluk Jiro erat. "Tidak, jangan katakan pisah. Aku tidak mau berpisah darimu. Aku mencintaimu."
"Aku juga.." sahut Jiro lalu melepas pelukan Abel. "Berjanjilah, masa lalu hanyalah kenangan. Dan setiap orang memiliki masa lalu yang buruk. Tapi aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku."
Abel menganggukkan kepalanya. "Aku berjanji, aku akan membantumu semampuku."
"Terima kasih."
__ADS_1