
Sepeninggal Kenzi yang tengah menyusul Jiro bersama dua anak buahnya. Siena membantu Zoya mengobati luka luka Adelfo. Ryu sendiri hanya berjalan mondar mandir dengan gelisah. Entah mengapa, kepergian Kenzi membuat Ryu khawatir. Akhirnya ia mengutarakan apa yang menjadi kekhawatirannya pada Siena dan ingin menyusul Kenzi.
"Tapi Nak, di sana berbahaya." Siena lebih meragukan lagi jika Ryu menyusul Kenzi.
"Begini saja, Nyonya. Biar aku yang menemani Ryu menyusul suamimu. Kau bisa di sini menunggu bersama putriku." Adelfo memberikan saran.
"Tidak Tuan, biar aku saja yang menyusulnya, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa jaga diriku sendiri."
Bagi Siena, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah. Dia tidak akan membiarkan suaminya berjuang sendiri. Sudah sejak lama ia melakukan hal itu. Susah senang, dia akan mengatasinya bersama meski nyawa taruhannya. Itu tidak akan membuat Siena menyesal, dari pada harus duduk manis menunggu di rumah.
"Ibu, aku ikut." Ryu juga tidak mau tinggal diam, tapi Siena melarangnya. Awalnya Ryu bersikeras tapi Siena tetap kukuh pada pendiriannya. Akhirnya Ryu mengalah dan memilih menunggu di rumah dari pada merepotkan nantinya.
****
Sementara itu Kenzi berhasil masuk ke dalam markas Crips dengan mudah. Tentu itu menjadi pertanyaan besar bagi Kenzi. Mengapa tidak ada penjagaan sama sekali?
Kenzi terus melangkah dengan waspada memasuki ruangan demi ruangan. Hingga langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mendengar suara Miko di dalam ruangan itu. Perlahan tangan Kenzi mengambil senjata api yang terselip di balik pinggangnya. Lalu tangan kirinya terulur menarik tuas pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya Kenzi saat melihat Jiro tengah dalam kungkungan seorang pria yang sangat Kenzi hapal.
"Hernet?" ucap Kenzi pelan, kakinya melangkah dengan waspada dengan senjata terus di arahkan pada musuh.
"Selamat datang Kenzi, apa kabarmu?" sapa Hernet tertawa terkekeh.
"Kau masih hidup?" Kenzi tersenyum sinis menatap tajam Hetnet, lalu beralih menatap Jiro yang berada dalam tekanan. Senjata laras panjang, menempel di kepala putranya.
"Kau pikir, aku bisa mati dengan mudah? kau terlalu bodoh Kenzi." Hernet berjalan mendekati kursi lalu duduk di sebelah Miko.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Kenzi terus menatap waspada, sesekali melirik ke arah Jiro.
"Ayah, maafkan aku.." ucap Jiro pelan.
"Itu mudah, aku ingin kau kembali padaku. Dan kau kujadikan pemimpin di sini. Ada pekerjaan besar yang sempat tertunda dulu karena Siena." Hernet berdiri berjalan satu langkah mendekati Kenzi.
"Aku tidak sudi bergabung lagi," ucap Kenzi tegas.
"Baik, mungkin kau lebih senang di paksa." Hernet memberikan kode pada anak buahnya untuk menarik pelatuk senjatanya mengintimidasi Kenzi.
"Klik!"
Kenzi menatap marah pada anak buah Hernet yang menarik pelatuk. "Jangan coba coba melukai putraku."
"Letakkan senjatamu, Kenzi. Atau putramu akan mati!" ancam Hernet. "Letakkan di bawah, cepat!"
__ADS_1
"Ayah..maafkan aku.." ucap Jiro menyesali sikapnya yang menyebabkan Kenzi dan nyawanya dalam bahaya. Namun Kenzi hanya diam, ia tidak berkata apapun. Perlahan tubuh Kenzi membungkuk, lalu meletakkan senjata api di atas lantai.
"Bukkk"
Dari arah belakang, seorang pria memukul tengkuk Kenzi. Hingga pria itu tersungkur ke lantai dan jatuh pingsan.
"Apa yang kau lakukan pada Ayahku!" pekik Jiro. "Ayaah!
" Diam kau, pria bodoh!" Hardik Miko.
"Kau penipu!" Jiro menatap benci Miko, sekaligus menyesali kebodohannya.
"Bawa dia ke kursi, dan lakukan sekarang!" Perintah Hernet pada anak buahnya. Lalu dua orang pria mengangkat tubuh Kenzi dan di dudukkan di atas kursi. Kedua tangan Kenzi di ikat di kursi itu supaya tidak bisa berontak.
"Ayah! bangun Ayah! pekik Jiro. Namun semua sudah terlambat. Seorang pria berpakaian serba putih masuk ke dalam ruangan dengan alat alat medisnya. Lalu mulai memasangkan beberapa alat di kepala Kenzi. Dan pria itu mulai menyuntikkan obat obatan di tubuh Kenzi.
" Apa yang kau lakukan pada ayahku, brengsek!" pekik Jiro lagi menatap sedih wajah Kenzi.
"Tenanglah sayang," bisik Miko pelan. "Kami hanya melakukan pencucian otak pada Ayahmu."
"Pencucian otak?" gumam Jiro.
Setahu Jiro, pencucian otak adalah sebuah upaya pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai yang baru. Praktik ini biasanya hasil dari tindakan indoktrinasi dalam psikopolitik, di perkenalkan dengan bantuan obat obatan, atau hipnotis. Bisa juga dengan obat bius dan sebagainya. Di lakukan oleh orang orang yang fidak bertanggung jawab.
Mereka telah mengembalikan Kenzi seperti yang dulu, kejam, sadis, tidak punya hati. Karena itulah yang di inginkan Hernet selama ini. Bagi dia, Kenzi adalah aset yang paling berharga buatnya. Apalagi sekarang, Hernet memiliki misi besar dan rahasia.
"Ayah!"
Jiro memperhatikan Kenzi yang mulai sadar, perlahan matanya terbuka. Menatap sekitar, lalu menatap tajam Jiro sekilas. Pria berbaju putih itu melepaskan alat alat di kepala Kenzi.
"Ayah?"
Kenzi berdiri lalu menghampiri Jiro, "Ayah? sejak kapan aku memiliki putra?" Kenzi tertawa terbahak bahak, lalu meminta anak buah Hernet untuk membawa pergi Jiro dan melenyapkannya.
"Wow, selamat datang kembali Kenzi," ucap Hernet kagum atas kerja keras pria berbaju putih itu telah menciptakan obat obatan yang hebat. Dalam hitungan detik langsung bereaksi ke otak Kenzi.
"Ayah! aku putramu!" pekik Jiro yang tengah di seret dua pria sekaligus keluar ruangan.
Sementara Kenzi langsung merangkul bahu seorang wanita, mengikuti langkah kedua pria yang menyeret tubuh Jiro ke luar dari markas.
"Apa yang kau lakukan pada putraku! lepaskan dia!" pekik Siena dengan senjata api di tangannya melangkah mendekati mereka semua.
__ADS_1
"Ibu.." ucap Jiro pelan.
Siena melirik ke arah Kenzi. Menatap suaminya tengah merangkul bahu seorang wanita cantik dan mencium bibir si wanita tersebut.
"Sayang! apa yang kau lakukan!' jerit Siena. Membuat Kenzi berhenti mencium bibir wanita itu lalu menoleh ke arah Siena sekilas.
" Habisi mereka! perintah Kenzi lalu melangkahkan kakinya bersama wanita itu, bersama Hernet dan Miko.
"Sayang..apa yang terjadi padamu?" mata Siena berkaca kaca, menatap kepergian Kenzi. Ada rasa sakit menjalar di hati hingga ubun ubunnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada suamiku!"
"Dor! Dor!
Siena langsung menembaki musuh tanpa memberikannya kesempatan. Lalu menarik tangan Jiro dan memberikannya senjata api.
"Cepat selesaikan, kita pergi dari sini!"
Jiro menganggukkan kepalanya, lalu menembaki musuh satu persatu, bersembunyi dan berguling di lantai, peluru berseliweran dan berdesing. Satu persatu musuh tumbang. Namun musuh tidaklah berkurang, tapi semakin banyak. Siena memutuskan untuk keluar dari markas itu.
Siena dan Jiro bersembunyi di balik pintu lalu menatap ke arah kaca jendela.
"Kita harus pergi dari sini, kau ambil kunci ini. Mobil Ibu ada di depan." Siena memberikan kunci mobil pada Jiro. Lalu mereka keluar dari persembunyian berlari ke arah luar ruangan.
"Dor Dor!!!
Siena terus melesatkan peluru ke arah musuh, melindungi Jiro yang terus berlari ke arah pintu luar. Usahanya tidak sia sia, Jiro berhasil keluar dari markas lalu masuk ke dalam mobil milik Siena. Jiro melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menerobos pintu.
" Brakkkk!!
"Ibu cepat masuk!" pekik Jiro dari dalam mobil. Pria itu memutar mobilnya, lalu Siena masuk ke dalam mobil menerobos musuh musuh yang menghadang di depan dan menabraknya. Jiro melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan markas Crips.
Di tengah perjalanan, Siena hanya diam mengingat Kenzi mencium bibir wanita itu.
"Ibu, maafkan aku.." ucap Jiro melirik ke arah Siena yang hanya diam dengan raut wajah sedih.
"Apa yang terjadi dengan Ayahmu? kenapa dia seolah tidak mengenaliku?" Siena menatap tajam Jiro dengan mata berkaca kaca.
Jiro menarik napas panjang, lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada Kenzi.
"Itu artinya?"
__ADS_1
Jiro menganggukkan kepalanya, "Iya Bu. Ayah sudah kembali seperti dulu sewaktu belum mengenal Ibu."
"Tidak mungkin..tidak mungkin.." ucap Siena pelan.