The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 79: Choice


__ADS_3

Kota Hongkong masih dalam cengkraman malam yang dingin hingga 10 derajat celcius. Seorang pria mengenakan mantel coklat berjalan menyusuri kota. Pikirannya mengembara teringat istrinya tercinta, Siena. Matanya melirik ke sekitar jalan penuh waspada. Sesekali ia mengangkat tangannya terbatuk, menghela napas dalam. Kenzi mencari seorang pria di antara sekumpulan pria yang tengah menghangatkan diri.


"Hey." Kenzi menyentuh bahu seorang pria yang nampak mabuk, sebuah botol minuman di tangannya.


Pria itu tersenyum menyeringai melihat Kenzi. "Kita bicara di sana." Tangan Kenzi menunjuk ke arah gudang yang tak terpakai.


Pria itu terkekeh, lalu bangkit dari duduknya mengikuti langkah Kenzi dari belakang.


"Ada apa?" tanya pria itu menatap Kenzi, tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang menguning.


"Aku ada pekerjaan." Kenzi mendekatkan wajahnya di telinga pria itu, membisikkan pekerjaan yang harus pria itu lakukan di telinganya. Sesekali Kenzi mengibaskan tangan di wajahnya, aroma tubuh pria itu menyengat hidung Kenzi, mungkin sudah satu minggu dia tidak mandi.


"Ada apa dengan kalian?" tanya pria itu, alisnya bertaut menatap wajah Kenzi menunggu jawaban darinya. "Apa kau ingin mengacaukan Outfit dari dalam? atau kau mau tobat?" ucap pria itu tertawa terbahak bahak menatap raut wajah Kenzi menggeram kesal mendengar pernyataan pria itu.


"Kau kerjakan tanpa jejak, ingat semua yang kukatakan." Tangan Kenzi merogoh saku mantel, mengambil beberapa lembar uang lalu di berikan pada pria yang masih menyisakan tawanya sampai mengeluarkan air mata.


Tangan pria itu mengambil uang dari tangan Kenzi, ia masukkan ke dalam saku. "Lihat saja hasilnya nanti."


Kenzi menganggukkan kepala, matanya melirik ke sekitar jalan. Sekilas tangannya menepuk bahu pria itu. "Jangan tinggalkan jejak." Sekali lagi Kenzi mengingatkan.


Pria itu tersenyum lebar menatap punggung Kenzi yang berlalu pergi. "Don, aku datang bersama ke hancuranmu," ucap pria itu lirih, satu bulir air mata jatuh di sudut netranya.


***


Kenzi duduk di samping tubuh Siena yang masih tertidur lelap. Sejak pria itu menginginkan Siena yang masih tertidur lelap ternyata membuatnya semakin lemah. Rasa takut kehilangan yang besar begitu mencekik lehernya, ia tak sekuat dulu.


Dada Kenzi terasa nyeri, mengingat dua kontrak yang harus dia kerjakan, kini pria itu di hadapkan pada sebuah pilihan yang sulit. Belum lagi Livian yang menaruh dendam dan kebencian padanya, berusaha melenyapkan wanita yang ia cintai.


Dia meremas tangannya kecewa, pria itu tidak pernah merasa begitu tak berdaya seperti ini. Mata Kenzi menatap Siena yang masih tertidur pulas, gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Kenzi di sampingnya. Tangan pria itu terulur menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Siena. Tatapannya yang begitu dalam menyimpan rasa cinta yang begitu kuat bersama kesedihan yang menyayat.

__ADS_1


Rasa yang ia miliki untuk gadis itu begitu dalam, dan ikatan itu telah mengikat hati dan jiwanya. Kenzi benar benar telah jatuh cinta pada gadis itu, ia menundukkan kepala mencium kening Siena dengan segenap perasaan yang ia miliki. Perlahan bulir air mata jatuh dari sudut matanya yang dingin menyorot tajam.


Sebelumnya pria itu tidak pernah menangis sejak orangtuanya tiada. Pria itu sangat menyukai kegelapan, dalam kegelapan ia merasa nyaman dan bebas berbuat sesuka hati, sebelum sebuah cahaya mengambil kegelapan dari pikirannya.


"Siena, aku sangat mencintaimu."


Pria tahu bagaimana perasaannya, lalu bagaimana dengan Siena? apakah gadis itu memiliki perasaan yang sama?


Masih hangat dalam ingatannya, ia hanya ingin membalas dendam terhadap ibu gadis itu yang telah membunuh ayahnya di meja judi. Mereka saling membenci tetapi seiring waktu rasa ingin memiliki merubah benci menjadi cinta.


Kenzi tersenyum getir, kembali menegakkan tubuhnya. Selama ia berperang menyelesaikan dua kontrak sekaligus bisa saja gadis itu terluka, dan Kenzi tidak menginginkan itu. Dia terlalu dalam mencintai Siena, hingga ia tak sanggup melihat gadis itu terluka.


"Siena, maafkan aku..aku harus meninggalkanmu di sini."


Kenzi berdiri lalu membungkuk, tangannya terulur mengusap pipi Siena lembut. Ia kembali berdiri tegap lalu balik badan.


"Aku harus pergi Siena, kau aman di sini bersama Samuel." Kenzi menepis pelan tangan Siena.


"Tidak!" pekik gadis itu, ia bangun lalu turun dari atas tempat tidur.


"Lepas!" Kenzi melepaskan tangan Siena. "Aku harus menyelesaikan pekerjaanku."


"Kau tega meninggalkan aku sendiri?" tanyanya, mata gadis itu berkaca kaca menatap ke arah Kenzi. Ia tidak mengerti kenapa pria itu hendak meninggalkannya. Baru saja kemarin ia mendengar kata kata rindu dari bibirnya.


Tangan Kenzi terulur menyelipkan rambut di telinga Siena. Jari jarinya mengusap lembut pipi gadis memperhatikan kedua bola mata Siena cukup lama. Jika bisa, ia akan tinggal bersama Siena, tapi itu malah membuat nyawa gadis itu dalam bahaya, dia tidak mungkin selalu ada menjaga Siena selama menyelesaikan semua pekerjaannya. "Aku tidak mau kehilanganmu." Kenzi menurunkan tangannya, berbalik badan melangkahkan kakinya.


Sesaat Siena terpaku berdiri di tempatnya, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Siena menarik napas dalam dalam, lalu ia hembuskan perlahan. "Apa kau tidak bertanya, apakah aku takut kehilanganmu, Kenzi! teriak Siena.


Kenzi menghentikan langkahnya, ia tertegun mendengar pernyataan Siena. Dia bertanya dalam hati, benarkah Siena takut kehilangannya? apakah rasa cinta yang Siena miliki, sama seperti yang ia miliki juga?

__ADS_1


Kenzi memutar tubuhnya menatap lurus ke arah Siena yang menganggukkan kepala, matanya berkaca kaca. " Siena.." Pria itu langsung berhambur memeluk tubuh Siema dengan erat.


"Tetaplah di sini bersamaku apapun yang terjadi." gadis itu benamkan wajahnya di dada Kenzi, menyembunyikan air matanya.


"Tidak Siena, ini perangku..aku harus melakukannya sendiri."


Siena mengangkat wajahnya menatap wajah Kenzi, sembari terisak. "Perangmu, perangku juga, Kenzi."


Kenzi melepaskan pelukannya, ke dua tangan terulur menghapus air mata yang membasahi pipi Siena. "Tidak, aku tidak mau kau terluka."


Siena mendorong tubuh Kenzi, ia tersenyum mencemooh, "kau lemah..kau lemah Kenzi!" pekik Siena menatap tajam kedua bola mata pria yang selama ini di takuti.


"Siena! aku bukan lemah..aku hanya tidak ingin kehilanganmu." Tangan Kenzi terulur ke wajah Siena. Namun gadis itu menepisnya, Kenzi bisa melihat kilat kemarahan di mata Siena.


"Cinta tidak melemahkan, cinta menguatkan!" ucap Siena lagi dengan nada tinggi.


"Aku tahu..tapi.." Kenzi tidak melanjutkan ucapannya, melihat Siena berlari ke arahnya dan merebut senjata api yang terselip di pinggangnya.


"Kalau begitu, kita mati bersama hari ini juga, mudah bukan?" tersungging senyum sinis di sudut bibir Siena. Senjata api ia tempelkan di pelipisnya sendiri, buat apa dia hidup, jika pria yang sudah ia nikahi tidak bisa lagi ada di sisinya


"Siena..' ucap Kenzi, matanya melirik ke arah senjata api yang menempel di pelipisnya. " Berikan senjata itu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Perlahan ia melangkah mendekati Siena, memang gadis itu tidak bisa menggunakan senjata api. Tapi dalam keadaan kalut, apapun bisa terjadi.


"Bohong!" pekik Siena menatap tajam ke arah Kenzi.


"Aku mencintaimu, Siena." tangan Kenzi perlahan terulur, dengan sangat hati hati ia mengambil senjata api di tangan Siena.


Siena menatap kedua bola mata Kenzi dalam dalam. Ia mencari kesungguhan di mata pria di hadapannya. Perlahan Siena menurunkan senjata api dari pelipisnya, lalu ia berikan pada Kenzi.


"Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu." Kenzi memeluk erat tubuh Siena.

__ADS_1


__ADS_2