The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 80: Tied


__ADS_3

Dengan sangat tergesa gesa, Kenzi berjalan menyusuri lorong bawah tanah. Menyusul Bos besar dan Livian hendak menginterogasi pria suruhan Kenzi tempo hari. Transaksi besar besaran memang berhasil Kenzi gagalkan berkat pria itu. Dan uang Outfit berhasil di rampas pria itu, sementara senjata dan obat obatan berhasil Marsya amankan termasuk anak buah Bos besar dari kedua pihak. Tetapi masalah Kenzi sekarang, pria itu berhasil di tangkap Livian dan nyawa pria itu berada di ujung tanduk.


"Damned!! bagaimana mungkin dia tertangkap," umpat Kenzi.


Kenzi bersembunyi di balik tembok, ia memperhatikan Livian menghajar pria itu sampai babak belur hingga tak berdaya lagi. Dia bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka. Jika pria itu membocorkan rahasianya, Kenzi akan cepat bertindak Rencana kedua dengan menghubungi polisi.


"Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu?" tanya Livian geram, mencengkram leher pria itu hingga dia kesulitan bernapas.


Pria itu terkekeh memperlihatkam giginya berwarna merah, "ber, mi, mimpilah," ucap pria itu terbata bata. Pria itu memajukan bibirnya susah payah meludahi wajah Livian dengan air liur bercampur darah.


Livian mengusap wajahnya, lalu tangan kanannya menghajar wajah pria itu hingga tersungkur. "Brengsek!"


"Hentikan Livian! Bos besar berdiri dari kursi yang sedari tadi di duduki menyaksikan pertunjukan akhirnya angkat bicara.


Livian mundur dua langkah ke belakang, memberikan Bos besar ruang untuk bicara dengan pria itu. " Surya, aku pikir kau sudah mati." Bos besar mengangkat bahu pria itu supaya bersandar di tembok.


Pria itu berusaha membuka matanya, ia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan, namun saat melihat Bos besar di hadapannya ia langsung bereaksi.


Pria itu kembali tertawa terkekeh, menatap benci Bos besar, "tamatlah riwayatmu Hernet, andai saja Kenzi tahu, kalau kau yang telah membuat drama pembunuhan orangtuanya." Pria itu tatapannya berubah kosong, pikirannya mengembara ke masa yang lalu. Hana istrinya memang pemabuk dan penjudi, tapi Hana tidak pernah membunuh orangtua Kenzi di meja judi. Semua kesalahan dia timpakan pada Hana, istrinya.

__ADS_1


Bos besar menatap marah pria itu, ia merasa pria di hadapannya akan menjadi ancaman baru. Ia berdiri, kaki kiri menendang dagu pria itu hingga tak berdaya. "Lenyapkan dia!"


Livian menganggukkan kepala, ia mengambil senjata api di balik pinggangnya, dari dalam ruang bawah tanah mereka mendengar kegaduhan yang berasal dari senjata api pihak kepolisian. "Bos!" Livian memalingkan wajahnya kembali menyarungkan senjata api di pinggang, mengurungkan niatnya untuk melenyapkan pria itu. Mereka berjalan dengan tergesa gesa keluar dari bawah tanah. Sementara pria itu di biarkan tergeletak tak berdaya. Outfit dan isinya lebih berharga dari pada nyawa pria itu.


Mendapatkan kesempatan emas untuk menyelamatkan pria itu, Kenzi keluar dari persembunyiannya. Dia harus menyelamatkan pria itu yang tak lain Surya suami Hana, ayah Siena yang di kabarkan meninggal sejak Siena kecil.


Kenzi jongkok di hadapan pria itu, tangannya mencengkram kuat lengannya dan mengangkat ke bahu Kenzi. Ia mulai mengangkat tubuh pria itu dan memapahnya keluar ruangan bawah tanah melalui pintu rahasia. Ia membawa pria itu masuk ke dalam mobil yang sudah Kenzi siapkan sebelumnya.


Pria itu memalingkan wajahnya, berusaha melihat siapa yang telah menolongnya dari neraka. "Kenzi?" pria yang bernama Surya itu tersenyum lebar, sesekali ia meringis kesakitan.


"Diamlah, simpan tenagamu," ucap Kenzi melirik sesaat ke arah Surya. Pria itu harus bertemu dengan putrinya, Siena. Dengan raut wajah merah padam Kenzi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Betapa tidak, selama ini dia telah di tipu Bos besarnya dengan cerita palsu. Kini ia mendapati kenyataan pahit, orangtuanya justru di habisi Bosnya sendiri. Rasa bersalah terhadap Siena perlahan menyeruak di dalam dadanya. Ia telah membawa Siena ke dalam hidupnya yang berbahaya, atas kesalahan yang sama sekali tidak di perbuatnya.


"Menemui putrimu." Kenzi melirik sesaat ke arah Surya lalu kembali fokus ke depan.


Mendengar pernyataan pria yang sudah lama ia kenal, bahkan dia pernah merawatnya ketika kecil. Berusaha meraih kesadarannya, ia coba menyentuh lengan Kenzi namun sudah tidak memiliki kekuatan lagi. "Putriku?"


Kenzi mendengus, matanya berkaca kaca menatap lurus ke depan. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan pria itu, saat ini yang Kenzi rasakan sesak di dalam dada bagaikan di palu godam. Mungkin setelah ia mempertemukan Siena dengan Ayah kandungnya. Gadis itu akan berbalik marah, membencinya bahkan hal yang paling Kenzi takuti. Siena akan meninggalkannya, pria itu menarik napas dalam merasakan kecewa yang sangat dalam, mengapa semua harus seperti ini. Jika memang wanita yang di cintainya harus meninggalkannya, tidak mengapa jika itu yang harus Kenzi terima sebagai hukuman untuknya. Yang ia tahu perasaannya saat ini, Kenzi sangat mencintai Siena terlepas dari masa lalu ataupun dendam.


***

__ADS_1


Kenzi menggendong tubuh Surya masuk ke dalam kamar, lalu ia letakkan di atas tempat tidur. Siena yang mengikuti dari belakang terus bertanya siapa pria yang suaminya bawa kerumah dalam keadaan terluka parah tak sadarkan diri. Kenzi mengabaikan semua pertanyaan Siena, ia memalingkan wajahnya menatap Samuel, meminta dia ntuk mengobati Surya.


Tanpa banyak bicara Samuel mengobati pria itu. Sementara Kenzi berdiri di depan jendela kamar dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Ia terpaku dengan pikiran yang semakin berkecamuk, menatap Surya tengah di obati Samuel. Hingga ia tidak menyadari jika Siena berdiri di sampingnya.


"Hei." Siena mengguncang lengan Kenzi berkali kali.


Kenzi tersadar dari lamunannya, ia menurunkan kedua tangan lalu merangkul bahu Siena dan mendekapnya erat. Siena membalas pelukan Kenzi. Wajahnya tengadah menatap raut wajah Kenzi bingung.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Siena tangannya terulur menyentuh pipi Kenzi.


Kenzi tersenyum tipis menatap raut wajah Siena penuh tanda tanya. Tangannya meraih tangan Siena di pipinya. "Aku baik baik saja, Siena."


"Kau tidak perlu berbohong." Siena tahu betul bagaimana suaminya. Dia tidak pernah menunjukkan raut wajah kebingungan seperti tadi. Dia selalu nampak tenang meski dalam kandang musuh.


Kenzi menghela napas dalam dalam, lalu mencium puncak kepala dengan dalam, matanya terus terarah pada tubuh Surya yang masih di obati Samuel. Tidak ada yang ingin Kenzi lakukan selain mendekap erat Siena. Ia khawatir, jika Siena akan meninggalkannya hari ini juga.


Siena hanya diam mendengarkan detak jantung Kenzi yang tak beraturan. Ia tahu, Kenzi sedang dalam keadaan tidak baik baik saja. Banyak pertanyaan di benaknya yang ingin dia tanyakan pada Kenzi. Namun ia memilih diam saat ini, menyimpan semua pertanyaannya sampai Kenzi siap untuk bercerita. Tangan Siena mengusap punggung Kenzi untuk menenangkannya. Meski dia sendiri tidak tahu permasalahan apa yang tengah di hadapi Kenzi.


"Bos!" Samuel memalingkan wajahnya menatap mereka berdua yang tengah berpelukan. Surya telah sadar, dan dia mulai membuka matanya menatap sekitar ruangan.

__ADS_1


Pikiran Kenzi semakin kalut, hatinya semakin tidak tenang. Hal yang ia takuti akan segera menghampirinya.


__ADS_2