
Satu minggu Siena di rawat di rumah sakit, kondisinya belum pulih benar. Namun Kenzi memutuskan untuk membawa pulang Siena dan merawatnya di rumah. Ia merasa sangat riskan jika Siena berada di rumah sakit. Kenzi mulai menyelesaikan semua administrasi. Setelah semua selesai ia kembali menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat inap Siena. Dari arah lorong ia melihat seorang pria keluar ruangan Siena. Kenzi menautkan kedua alisnya menatap ke arah pria yang berlari meninggalkan ruangan Siena.
"Siena.." Kenzi berlari dan membuka pintu ruangan langsung menghampiri Siena yang tertidur setelah meminum obat yang di berikan Dokter. "Siena.." tangannya terulur menyentuh pipinya. Namun tangannya langsung ia tarik saat melihat pakaian yang Siena kenakan, salah satu kancingnya terbuka. Tangan Kenzi mengepal, mengatupkan bibirnya langsung berlari keluar ruangan mencari pria tadi.
"Sus, apa kau melihat seorang pria menggunakan jaket hitam lewat ke arah sini?" tanya Kenzi pada salah satu suster yang berdiri di dekat meja.
"Saya tidak tahu pria mana yang Bapak maksud. Tapi, tadi ada pria lewat tergesa gesa menuju pintu keluar rumah sakit Pak."
"Terima kasih sus." Kenzi langsung berlari ke arah petunjuk yang di berikan suster. Ia edarkan pandangannya sekitar area parkiran. Namun ia tidak menemukan siapa siapa selain mobil yang berjajar rapi.
"Brummm!"
Kenzi menoleh ke arah suara mobil, ia melihat salah satu mobil yang terparkir tengah melaju pelan. Kenzi langsung berlari menghampiri ujung area parkiran mendekati mobil yang ia curigai. Namun sayang, baru saja Kenzi sampai mobil itu melaju. Dan Kenzi bisa melihat dengan jelas siapa yang mengendarai mobil itu.
"Livian!" pekiknya, ia berlari menyusul mobil yang melaju dengan kencang. "Ah sial!" Kenzi mengusap kasar rambutnya lalu balik badan berlari menuju kamar Siena kembali.
"Hei, bangun.." Kenzi menepuk pipi Siena berkali kali.
"A, ada apa?" mata Siena terbuka menatap ke arah Kenzi, wajahnya merah padam.
"Kita pulang." Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena lalu ia dudukkan di kursi roda.
"A, ada apa sayang?" tanya Siena gagap. Ia tidak mengerti dengan sikap Kenzi.
Namun Kenzi mengabaikan pertanyaan Siena, ia membereskan semua barang barang ke dalam tas kecil lalu ia gantung di pundaknya. Sekilas menatap wajah Siena lalu ia mendorong kursi roda meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Kenzi hanya diam, ia terbayang wajah Livian dan kancing baju Siena yang terbuka. Kehadiran Livian di rumah sakit menambah besar rasa cemburu Kenzi, ia melirik ke arah Siena mendengus kesal. "Kau, ke-kenapa?" tanya Siena takut.
Namun Kenzi hanya diam menatap lurus kedepan, ia melajukan mobilnya dengan kencang dan hampir saja menabrak mobil di depannya.
"Aaahh!" Siena memegang lengan Kenzi menjerit. "Sayang pelankan mobilmu, kau bisa menabrak orang lain!" seru Siena.
Kenzi hanya mendengus tanpa menoleh ke arah Siena sedikitpun. Siena kembali menarik tangannya dan meremasnya pelan. Ia menundukkan kepalanya sesaat lalu melirik ke wajah Kenzi yang bersikap dingin padanya. "Ada apa dengannya.." ucap Siena dalam hati.
Tak lama mereka sampai di halaman rumahnya. Kenzi keluar dari pintu mobil, lalu mengeluarkan Siena dari dalam mobil langsung menggendongnya memasuki rumah.
"Bos!"
Samuel yang tengah menggendong Helion menautkan kedua alisnya menatap raut wajah Kenzi yang menegang. "Ibu.." ucap Helion.
"Biarkan Ibumu istirahat dulu, baru kau boleh bertemu Ibu, oke?" Samuel tersenyum lebar menatap wajah Helion.
__ADS_1
"Iya Om.." Samuel mengalihkan pandangannya ke lantai atas memperhatikan Kenzi yang membawa Siena ke kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Akira dari arah belakang tengah mendorong Yeng Chen di kursi roda. Sejak kejadian penjebakan tempo hari, Yeng Chen berangsur pulih. Tetapi kakinya mengalami kelumpuhan.
"Aku tidak tahu, sepertinya terjadi sesuatu di rumah sakit," jawab Samuel.
"Aku sekarang tidak berguna lagi.." Yeng Chen menundukkan kepala meremas kedua kakinya.
"Jangan bicara seperti itu, semua bukan salahmu." Akira berusaha menenangkan Yeng Chen.
"Bagaimana dengan kakak Yu? apakah sudah ada kabar tentangnya?" Akira menatap Samuel.
Samuel menggelengkan kepalanya, "tidak ada kabar sama sekali, aku tidak tahu dia di mana sekarang. Menurutmu?" tanya Samuel balik.
"Mungkinkah di balik kemudahan Livian ada campur tangan Kakak Yu?"
Samuel menatap tajam Akira lalu menggelengkan kepala. Ya, bisa saja dugaan Akira benar, meski ia sendiri tidak yakin.
***
Helion duduk di atas tempat tidur bersama Siena. Anak itu tidak mau jauh dari Ibunya sejak kejadian tempo hari. "Sayang, sudah malam..apa kau belum mengantuk?" tangannya membelai rambut Helion yang berantakan.
"Baiklah sayang, kau bisa tidur di samping Ibu." Siena mencium puncak kepala Helion. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Kenzi yang duduk membelakangi mereka.
Siena menarik napas dalam dalam, ia tahu suaminya tengah cemburu dan berpikir kalau dirinya telah di sentuh Livian. Mata Siena berkaca kaca menatap punggung Kenzi.
"Livian..beraninya kau menyentuh istriku..kau pengecut.." ucapnya dalam hati, tangannya menyalakan lampu meja lalu mematikannya lagi, berulang ulang ia lakukan. "Pengecut!"
"Brakkk!" Kenzi melempar lampu meja ke lantai hingga hancur berantakan. Membuat Siena dan Helion berjengkit kaget.
"Ibu.." Helion memeluk Siena erat dengan tatapan ke arah Kenzi.
"Tenang sayang.." Siena balas memeluk erat Helion dan menutup wajahnya dengan tangan Siena.
"Pengecut! kalau berani hadapi aku!" pekik Kenzi ia berdiri dan melemparkan semua barang di atas meja ke lantai.
"PRANK!!" barang diatas meja berjatuhan ke lantai.
"Sayang hentikan!" pekik Siena dengan air mata berlinang.
Hati Kenzi yang di selimuti rasa cemburu mulai terasa panas dan menyesakkan dadanya. Ia mengangkat tv di atas meja lalu membantingnya kelantai.
__ADS_1
"BRAKK!!"
Siena semakin erat memeluk Helion yang menangis, "hentikan! hentikan!" jerit Siena dengan terisak.
Kenzi menoleh sesaat ke arah Siena dengan tatapan tajam, wajahnya dingin, matanya merah tidak menunjukkan ada belas kasih.
Kenzi membungkukkan badan mengambil tongkat berukuran sedang lalu ia pukulkan ke cermin yang terpajang di dinding. Ia juga memukul dan menendang barang barang yang berserakan di lantai.
"Hentikan sayang..hentikan..aku bersumpah..demi Tuhan..aku tidak ternoda sedikitpun.." ucap Siena menatap Kenzi dengan air mata berlinang, sementara Helion terus menangis. "Kasihan putra kita..sudah cukup hentikan.."
Kenzi tersenyum sinis, lalu berjalan mendekati Siena dan menarik paksa tangan Siena untuk turun di atas tempat tidur. "Sumpah? Kenzi menyeringai. " Demi tuhan? kau bohong!" mata Kenzi melebar menatap wajah Siena dengan penuh emosi.
Siena menggelengkan kepala, "aku tidak bohong..kapan aku berbohong padamu.."
Kenzi memalingkan wajahnya, "aku tidak percaya."
Siena menggelengkan kepalanya lalu menunduk. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan pada Kenzi. Kalau Livian tidak pernah menodainya. Mata Siena melirik ke arah pinggang Kenzi, terselip senjata api miliknya. Dengan cepat Siena merebut senjatanya lalu ia arahkan pada pelipisnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Kenzi menatap Siena.
"Ibu...!" jerit Helion turun dari atas tempat tidur, menangis kencang sembari memeluk erat.
"Jika cara ini bisa membuatmu percaya, akan aku lakukan. Satu pesanku padamu, hancurnya hubungan kita bukan karena orang ketiga. Tapi hilangnya kepercayaan di antara kita."
"Jangan konyol!" pekik Kenzi.
"Kalau kau tidak percaya, untuk apa aku di sini bertahan bersamamu!" Siena mulai menarik pelatuknya.
"Ibu...! Helion mengguncang tubuh Siena lalu beralih mengguncang tubuh Kenzi. " Ayah..Ayah..!"
Kenzi menundukkan kepalanya menatap Helion yang menangis. Ia jongkok dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Maafkan Ayah sayang..maafkan Ayah.."
"Jangan marahin Ibu, Ayah..jangan marah.." ucapnya terisak.
Kenzi berdiri lalu mengangkat tubuh Helion dan menggendongnya. "Siena..jangan lakukan itu, aku mohon..demi putra kita."
"Kau egois! pekik Siena. " Kau memintaku bertahan demi putramu, tapi kau sudah tidak percaya lagi padaku, buat apa?!!" air mata Siena turun kembali saling memburu di pipinya.
Kenzi terdiam, menatap tajam wajah Siena. Perlahan ia jongkok dan bersimpuh di kaki Siena. "Maafkan aku..maafkan aku..berilan aku kesempatan..berikan aku waktu Siena.." ucapnya menundukkan kepalanya.
Tubuh Siena bergetar menahan rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Perlahan ia turunkan senjata api di pelipisnya lalu ia lemparkan sembarangan ke lantai. Ia membungkukkan badan mengambil tubuh Helion dari pangkuan Kenzi dan membawanya keluar ruangan dengan perasaan hancur. Rasa sakit di perutmya ia abaikan, lebih sakit hatinya yang sudah tidak mendapat kepercayaan dari suaminya.
__ADS_1