The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love.


__ADS_3

Dua minggu berlalu Ryu di rawat di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik. Begitu pula dengan Zoya, setelah operasi di punggungnya. Kini gadis itu sudah pulih, hanya Siena yang menolak untuk operasi wajahnya. Ia membiarkan kulit wajahnya rusak apa adanya.


Hari ini, Dokter mengizinkan mereka pulang. Siena bersiap siap untuk pulang ke rumah Zoya. Karena ia sudah tidak memiliki rumah untuk di tinggali. Rumahnya dulu, atau rumah Jiro sudah rusak dan tidak bisa di tinggali.


"Sayang, kita pulang." Siena membantu Ryu turun dari atas tempat tidur, lalu duduk di atas kursi roda. Ryu hanya diam, sejak menyadari ia hanya memiliki satu kaki. Keceriaannya hilang, ia tidak pernah lagi bicara sepatah katapun kepada Siena atau Zoya. Meski mereka berusaha untuk bisa membuat Ryu bicara, tapi usahanya sia sia.


"Saya antar kalian." Pria yang menolong mereka, sampai saat ini masih menemani mereka.


"Terima kasih Tuan, anda sudah banyak membantu kami," ucap Siena tersenyum menatap pria itu. "Kalau boleh tahu, siapa nama anda, tuan?"


"Panggil aku, Ethan. Nyonya..?"


"Siena."


"Ya, Nyonya Siena." Ethan tersenyum lalu mempersilahkan mereka untuk keluar dari ruangan terlebih dulu.


"Tuan Ethan, jika kau tidak keberatan. Antarkan kami ke Kantor Polisi." Siena melirik sesaat ke arah Ethan.


"Baik Nyonya. Tapi, ada apa Nyonya ke sana?" tanya Ethan balik.


"Aku ingin melaporkan semua ini, biar mereka di tangkap. Tapi, yang terpenting aku ingin tahu kabar suamiku." Siena menundukkan kepala, tangannya mengusap rambut Ryu yang menunduk.


"Baiklah Nyonya, mari."


Siena menganggukkan kepala, menoleh ke arah Zoya sesaat. Lalu ia mendorong kursi roda Ryu keluar dari ruangan.


***


Sesampainya di halaman Kantor Polisi, Siena kembali mendorong kursi roda Ryu memasuki Kantor Kepolisian. Di dalam ruangan ia bertemu dengan Marsya.


"Siena?"


"Marsya?" Siena memeluk Marsya dengan erat, sembari menyeka air matanya.


"Maafkan aku yang tidak bisa membantumu lebih dari ini," bisik Marsya pelan. Lalu ia melepaskan pelukannya.


"Nyonya Kenzi, selamat datang di kantor kami." Seorang Polisi menyapa Siena lalu ia mempersilahkan Siena untuk mengatakan maksud ke datangannya ke Kantor Polisi.


Siena menarik napas dalam dalam, lalu duduk di kursi. Ia menceritakan semua kejadian dari awal Kenzi pura pura hingga rencana mereka menghancurkan kota. Dan tragedi penyerangan di malam itu.


Setelah Siena selesai memberikan kesaksiannya, sesaat ruangan itu hening. Beberapa Polisi terdiam menatap Siena. Namun detik berikutnya mereka tertawa kecil, mentertawakan Siena sebagai pembual.


"Omong kosong apa yang Nyonya katakan, jelas jelas suami andalah yang ingin menghancurkan kota ini." Salah satu Polisi menjelaskan apa yang terjadi.


"BRAKKK!"


Siena berdiri sembari menggebrak meja dengan keras.


"Kalian dusta!" pekik Siena menatap tajam satu persatu Polisi yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Nyonya, anda jangan memfitnah siapapun, bukti sudah mengarahkan kalau suami anda pelaku utamanya, bahkan dia meledakkan diri bersama putranya ke dalam laut."


"TIDAK MUNGKIN! KALIAN DUSTA!"


"Nyonya! kami bisa menangkap anda, jaga sikapmu Nyonya!" bentak salah satu Polisi.


Siena mendengus geram, lalu menoleh ke arah Marsya. "Kenapa kau diam saja, apa kau juga tidak percaya padaku?" tanya Siena pada Marsya.


"Maaf Siena, bukti yang ada memang Kenzi pelakunya meski aku sendiri tidak yakin, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa berbuat lebih," ungkap Marsya. Membuat Siena semakin marah pada mereka semua.


"Kalian tidak tahu terima kasih! selama ini, suamiku membantu pekerjaan Polisi untuk menangkap mereka dan menemukan semua bukti bukti kejahatan para elit. Tapi apa balasan kalian!"


"BRAKK!!"


Siena kembali menggebrak meja, lalu mencengkram kerah baju salah satu Polisi.


"Kau di bayar berapa untuk berkata dusta!"


"Jaga ucapanmu, Nyonya!"


Dua Polisi maju menarik paksa tangan Siena, lalu mendorong tubuhnya hingga terhuyung ke belakang.


"Suami anda sudah mati, mereka tenggelam di dasar laut."


"Tidak mungkin!" pekik Siena maju dua langkah hendak mencengkram Polisi itu lagi, namun Marsya mencegahnya.


"Tidak mungkin.." ucap Siena lirih.


"Sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Jangan membuat ke kacauan di kantor ini."


"Ayo Siena." Marsya merangkul bahu Siena dan membawa paksanya keluar dari ruangan Zoya mengikuti langkah Marsya dan Siena sembari mendorong kursi roda Ryu, di ikuti Ethan dari belakang.


Sesampainya di halaman kantor Polisi, Marsya meminta Siena untuk pulang ke Indonesia. Namun Siena menolaknya, meski Marsya meyakinkan Siena kalau Kenzi sudah mati bersama Jiro.


"Jika dia sudah mati, buat apa aku hidup.." ucap Siena lirih menatap kosong ke depan. "Aku tidak percaya kau meninggalkanku, sayang."


"Tenanglah Siena, kau harus kuat." Marsya memeluk Siena sekilas.


"Kenapa sayang, kenapa kau tinggalkan aku.." matanya melirik ke arah pinggang Marsya, terselip senjata api di pinggangnya. Dengan cepat, tangan Siena merebut senjata api di balik pinggang Marsya, lalu ia arahkan ke pelipisnya.


"Lebih baik aku mati, buat apa aku hidup!' pekik Siena.


"Tante jangan!" seru Zoya berjalan mendekati Siena. Begitu juga Ethan mencengkram tangan Siena kuat, di bantu Marsya.


"Siena, aku mohon jangan lakukan itu!' Marsya menarik tangan Siena yang memegang senjata api. Tarik menarikpun terjadi di antara mereka. Siena yang sudah hancur dan di kuasai amarah tidak dapat lagi berpikir jernih.


" Nyonya, tenanglah." Ethan berusaha menenangkan Siena.


"Tidak! biarkan aku menyusul suamiku!" jerit Siena terus bersikeras hendak mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


"Tante hentikan, kau tidak sendirian! ada aku yang akan selalu ada buat Tante selama yang kau butuhkan! jerit Zoya.


Ryu yang sejak kemarin kemarin diam tak bereaksi apa apa, ia mulai menggerakkan tubuhnya dan berusaha turun dari kursi roda.


"Ibu.."


Kakinya yang masih utuh turun dari kursi roda, tatapannya sendu ke arah Siena. Hingga ia tidak menyadari kalau kakinya hanya tinggal satu.


"Bukkk!


Ryu terjatuh telungkup tepat di bawah kaki Siena.


" Ibu..!"


Kedua tangannya meraih kaki Siena lalu merangkak dengan tubuhnya memeluk erat kaki Siena.


"IBU!!" Jerit Ryu memeluk kaki Siena erat erat.


"Jangan tinggalkan aku Bu..aku tidak punya siapa siapa selain Ibu. Siapa yang akan mengantarkanku ke masa depan. Siapa yang akan membantuku meraih cita citaku, Buuu!!! aku mohoonn!!" jerit Ryu, terisak menangis pilu memeluk erat kaki Siena.


"Mendengar tangisan putranya yang terdengar pilu, kata kata Ryu yang membuat Siena terenyuj dan mau menurunkan senjata apinya. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di jalan, mengangkat tubuh Ryu supaya duduk di jalan aspal di bantu Ethan. Siena langsung memeluk putranya erat. Air mata tidak dapat ia bendung lagi, Siena dan Ryu berpelukan sembari menangis. Marsya hanya diam menundukkan kepala, begitu juga Zoya, hatinya pilu se-pilu pilunya melihat kondisi Ryu.


Ethan menarik napas panjang memperhatikan mereka semua. Bukan ia tidak tahu apa apa. Selama Siena dan yang lain di rawat di rumah sakit. Ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, siapa Siena dan yang lain.Itulah sebabnya ia mau membantu hingga biaya rumah sakit.


" Maafkan ibu, Nak. Maafkan Ibu.." ucap Siena terisak.


"Jangan tinggalkan aku Bu.." Ryu menyeka air matanya, menangkup wajah Siena.


"Percayalah, Ayah masih hidup. Ayah masih hidup Bu, kita cari sama sama."


Siena menganggukkan kepalanya, lalu ia berdiri dan mengangkat tubuh Ryu kembali ia duduk di kursi roda.


"Kita pulang sayang."


"Nyonya, anda hendak pulang ke mana?" tanya Ethan.


"Ke rumahku, Om." Zoya menimpali.


"Baiklah, mari."


Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil, meninggalkan Marsya yang masih terpaku menatap kepergian mereka.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di halaman rumah Adelfo, tapi apa yang mereka lihat, di luar dugaan. Rumah Adelfo sudah hancur rata dengan tanah.


"Nyonya, sepertinya kalian tidak aman. Mereka ingin kalian semua hancur tanpa sisa." Ethan menoleh ke arah Siena yang memeluk Zoya menatap rumah miliknya yang telah rata dengan tanah.


"Sebaiknya, kalian ikut saya. Di rumahku, kalian bisa istirahat dengan aman. Dan berpikir rencana untuk langkah selanjutnya yang akan kalian ambil."


Ethan memutar mobilnya dan meninggalkan rumah Adelfo. Menuju rumah pribadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2