
Minggu berlalu, bulanpun berganti. Kehamilan Siena menginjak usia 9 bulan. Kenzi selalu ada di sisi Siena untuk memastikan saat saat melahirkan siap siaga.
Untuk pertama kalinya ia akan menjadi seorang ayah, apalagi di rumah itu hanya di huni oleh pria yang belum memiliki pengalaman bagaimana mengatasi wanita hamil. Membuat seisi rumah siaga 24 jam.
"Sayang, kalau kau merasa ingin melahirkan. Bicara jangan diam ya?" Kenzi memperhatikan Siena yang tengah menyantap makan malamnya dengan malas. "Mau, aku suapin?" tanya Kenzi lagi, menatap wajah Siena cemas.
Siena menggelengkan kepala. "Tidak, perutku melilit." Siena meletakkan sendok di atas piring. Tangannya memegang perutnya, ia meringis kesakitan.
Kenzi langsung mendekati Siena, ia jongkok di hadapannya, tangannya ikut memegang perut Siena. "Apa kau mau melahirkan?" menatap wajah Siena terlihat pucat. "Sebaiknya kita ke rumah sakit, ayo!" Kenzi berdiri lalu menggendong tubuh Siena membawanya keluar kamar.
"Sam! siapkan mobil!" seru Kenzi dari arah pintu kamar. Samuel dan yang lain memang sudah siaga langsung berlari ke halaman rumah di ikuti Surya dan Kenzi yang menggendong Siena.
"Siena kenapa? mau melahirkan?" tanya Surya panik, menatap wajah Siena yang terlihat pucat dan meringis kesakitan.
"Sepertinya begitu." Kenzi langsung masuk ke dalam mobil duduk di belakang. Sementara Surya duduk di depan di sebelah Samuel.
"Sam, cepat!" ucap Kenzi, tangannya mengusap perut Siena. "Tahan sayang."
Surya menoleh ke belakang memperhatikan Siena. "Siena, bertahan Nak."
Samuel melajukan mobilnya sedikit lambat karena jalanan yang macet. Surya meminta Samuel untuk memutar arah, menuju jalan alternatif. Samuel menuruti saran Surya, ia nemutar mobilnya ke jalan lain.
"Sakiiitt.." ucap Siena lirih.
"Kau tenang ya, sebentar lagi kita sampai." Kenzi berkali kali menyeka keringat di wajah Siena. Ia terlihat lebih khawatir di banding Surya. Ini pengalaman pertama Kenzi setelah sekian lama ia menggeluti dunia hitam. Memiliki anak, istri, keluarga. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Bos!"
__ADS_1
Kenzi memalingkankan wajahnya menatap Samuel, lalu ia mengikuti arah pandang Surya dan Samuel. Nampak dua kendaraan berhenti di depan dengan arah menghalangi jalan yang akan di lalui mereka. Dari pintu mobil keluar 7 pria kekar membawa senjata tajam dan ada juga yang membawa senjata api. Jalanan kawasan yang sepi akan sulit meminta pertolongan. Ternyata mereka telah di kepung, dari arah belakang dua mobil berjajar menghalangi jalan. Tidak ada jalan keluar selain memancing mereka semua dan membiarkan salah satu di antara mereka membawa Siena ke rumah sakit.
"Bagaimana ini?" tanya Surya menoleh sesaat ke arah Kenzi.
"Bos, sebaiknya bawa Nona ke rumah sakit. Biar aku yang menghadapi mereka." Samuel melirik sekilas ke arah Kenzi.
"Samuel benar, biar kami yang menghadapi mereka," timpal Surya.
"Sam, kau bawa istriku ke rumah sakit. Dan kau ikut aku." Kenzi melirik ke arah Surya.
"Baik!"
Kenzi membuka pintu mobil namun Siena menahannya, "kau jangan keluar."
Kenzi menoleh, "kau tidak perlu khawatir sayang." Sekilas Kenzi mencium kening Siena. Lalu ia keluar membuka pintu mobil di ikuti Surya. Kenzi dan Surya berdiri di tengah tengah antara mereka semua.
"Halo Kenzi, apa kabar!" sapa seorang pria muda berwajah tampan. Mungkin pria itu bisa mengelabui pandangan mata Kenzi dengan wajah barunya, tapi tidak dengan suaranya yang begitu familiar di telinga Kenzi.
"Serang!" Livian memberikan aba aba pada anak buahnya hanya sekali bicara.
Anak buah Livian langsung maju mengelilingi Kenzi dan Surya. Dengan tatapan waspasa memperhatikan gerakan musuh. Sekilas mata Kenzi, ia melihat mobil yang di kendarai Samuel melaju dengan kecepatan tinggi menabrak tiga pria yang berusaha menghadang. Kenzi dapat bernapas dengan lega, Samuel berhasil lolos membawa Siena ke rumah sakit. Kini Kenzi fokus pada semua musuh yang ada di depan mata.
Dua pria langsung menerjang Surya bersamaan dengan menggunakan senjata tajam berupa pedang berukuran sedang. Sementara dua pria lainnya menyerang Kenzi. Livian duduk diatas mobil memperhatikan dengan tertawa terkekeh.
Kenzi merundukkan tubuhnya maju ke depan, saat dua pria menerjang dengan mengayunkan pedangnya bersamaan tapi hanya mengenai tempat kosong. Kenzi langsung balik badan menendang punggung kedua pria itu bersamaan.
"Buk! Buk! kedua pria itu terhuyung dan tersungkur ke jalan aspal. Kenzi langsung mengeluarkan senjata apinya, ia arahkan pada dua pria itu. Melihat Kenzi tengah fokus pada dua pria tadi. Livian turun dari atas mobil menghantam punggung Kenzi dengan balok kayu yang sudah ia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
" BUK!! Kenzi tersungkur, lalu dengan sigap ia membalikkan tubuhnya dengan mengarahkan senjatanya pada Livian.
"Apalagi yang kau inginkan, Livian? kau sudah kalah!" ucap Kenzi dengan tatapan tajam ke arah Livian. Perlahan ia bangun dan berdiri di hadapan Livian.
Dengan pongah, Livian mengeluarkan senjata apinya di balik pinggang, lalu ia arahkan senjata pada wajah Kenzi, ia tertawa terkekeh mencemooh. "Kau pikir hebat?"
"Katakan, apa maumu?" Kenzi melirik sesaat ke arah Surya yang berhasil melumpuhkan dua pria sekaligus.
"Berikan barang bukti itu padaku, maka aku tidak akan mengganggumu atau istrimu yang sedang melahirkan." Livian maju selangkah lebih dekat dengan Kenzi
"Kau mengancamku, Livian?" tersungging senyum sinis dari sudut bibir Kenzi. Di saat bersamaan mereka mendengar suara sirine mobil patroli kepolisian.
"Polisi!" pekik Surya.
Kenzi melirik ke ujung jalan dan kesempatan itu di gunakan Livian, dengan menendang perut Kenzi hingga terjungkal ke belakang.
Kenzi langsung menarik pelatuk senjata api, menembaki Livian. Namun sasarannya meleset, Livian berhasil masuk mobil bersama anak buahnya yang lain. Kenzi bangun dan langsung berlari mengejar mobil Livian.
"Tidak perlu Kenzi! Siena membutuhkanmu!"
Kenzi berhenti berlari, ia menoleh ke arah suara. Begitu pula dengan Surya, mereka melihat Keenan keluar dari pintu mobil dengan suara sirine dari alat tape recorder yang ia pegang. Lalu ia matikan kembali, ternyata suara sirine itu bukan berasal dari mobil patroli.
"Keenan?" Kenzi berjalan menghampiri Keenan.
"Ayo cepat naik! kita ke rumah sakit sekarang!" seru Keenan. Tanpa pikir panjang lagi, Kenzi dan Surya ikut masuk ke dalam mobil milik Keenan.
"Bagaimana kau tahu, kami di sini?" tanya Surya menatap heran ke arah Keenan yang melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
"Tadi aku ke rumah sakit," jawab Keenan. Ia bertemu Samuel dalan keadaan luka tembak di dada, tengah menggendong Siena ke dalam rumah sakit. Keenan juga mengatakan bahwa kasus penembakan di halaman rumah sakit tengah di tangani pihak berwajib.
"Ternyata Livian hanya menjebak kita." Kenzi melirik ke arah Surya sesaat. Ia mendengus geram menatap tajam ke depan.