
Pagi yang cerah, secerah hati Surya. Besok hari ulang tahun Siena yang ke 28. Surya ingin buat kejutan untuk putri semata wayangnya. Sejak kecil ia tidak pernah memberikan apa apa untuk Siena karena sebuah situasi yang membuat Surya tidak melakukan apa yang seharusnya seorang Ayah lakukan untuk putrinya.
Tepat pukul 8:00 pagi, Surya keluar rumah tanpa memberitahu siapa siapa kecuali Samuel. Sempat Samuel menawarkan Surya untuk menemaninya tapi ia menolaknya.
Sementara itu, Kenzi masih di kamarnya bermalas malasan bersama putra kesayangannya. Kenzi sendiri sudah menyiapkan kejutan untuk Siena tepat di hari ulang tahunnya.
Siena berdiri di depan pintu di tangannya secangkir kopi panas untuk Kenzi. Ia tersenyum melihat mereka berdua masih berbaring di tempat tidur. Ia berjalan mendekati meja lalu ia letakkan gelas kopi di atas meja.
"Hai sayang," sapa Kenzi lalu bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"Ibu!" seru Helion.
"Hai sayang!" Siena merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Helion yang menubruknya dan memeluk erat.
"Kau belum sarapan, kita sarapan yuk?" ucap Siena mencium kening Helion yang menganggukkan kepala. Lalu ia menggendongnya.
"Hei sayang! seru Kenzi saat melihat Siena hendak pergi.
" Apa?" Siena menoleh ke arah Kenzi sesaat. Ia kembali menggoda Helion.
Kenzi turun dari atas tempat tidur mendekati mereka. "Aku tidak mau ya, kau melupakan aku." Tangan Kenzi mengacak rambut Helion.
"Hmm, mulai deh," sungut Siena.
Kenzi tertawa kecil memeluk mereka berdua. "Aku juga mau sarapan."
"Ayah, sarapannya sama kakek saja, biar aku sama Ibu," ucap Helion tertawa.
Mata Kenzi melebar menatap Helion, "hei, kau tidak boleh mengambil Ibumu dariku ya?"
__ADS_1
Helion menggelengkan kepala lalu tertawa geli karena Kenzi mencium perut Helion dengan gemas. "Eh, sudah sudah. Kapan sarapannya.
" Ayo, biar Ayah yang gendong kamu." Kenzi mengangkat tubuh Helion lalu merangkul bahu Siena. Mereka berjalan bersama sambil bercanda menuju meja makan.
Nampak Akira tengah membuatkan sarapan untuk mereka semua. Kenzi menurunkan tubuh Helion duduk di kursi. Ia menarik kursi lain lalu duduk di sebelah Helion. Sementara Siena membantu Akira. Matanya menatap kamar Surya sesaat. "Papa belum bangun?" tanya Siena pada Akira.
Akira terdiam sesaat, "tadi aku melihatnya keluar rumah. Mungkin di depan sedang ngopi."
Siena menganggukkan kepala, lalu ia menyodorkan roti bakar selai kacang pada Kenzi dan Helion. Setelah itu ia berjalan keluar untuk memastikan Surya sudah sarapan atau belum. Namun Siena tidak menemukan Surya di teras rumah. Yang ada hanya Samuel dan Yeng Chen.
"Sam, kau lihat Papa?" tanya Siena.
Samuel menoleh ke arah Siena. "Tuan Surya keluar rumah tadi pagi Non."
"Loh? mau kemana? apa kau tidak menemani Papa?" tanya Siena.
"Saya sudah menawarkannya, tapi Papa Non menolak. Ia bersikeras mau pergi sendiri. Apa perlu saya susul Non?"
"Ah, iya. Pastikan Papa baik baik saja. Mungkin Papa ke penakaman Mama." Siena meminta Samuel untuk menyusul Surya karena ia berpikir mungkin Papanya ke pemakaman.
"Baik Non!" Samuel bergegas menuju halaman rumah.
Siena kembali masuk ke dalam rumah menemani suami dan anaknya sarapan. "Ada apa?" tanya Kenzi menatap raut wajah Siena yang terlihat cemas.
"Papa pergi pagi pagi sekali, tapi tidak bilang dulu." Siena mengaduk susu dalam gelas untuk Helion.
"Mau kemana Papa?" kedua alis Kenzi bertaut. Ia merasa aneh dengan kepergian Surya sepagi itu.
"Mungkin Papa ke pemakaman Mama," sahut Siena. Kenzi menganggukkan kepala, lalu mereka kembali menikmati sarapannya dengan santai.
__ADS_1
****
Sementara di tempat lain, Adrian menunggu di luar gerbang penjara. Hari ini Livian berhasil di bebaskan dengan berbagai syarat yang sudah di penuhi Adrian.
Livian tersenyum lebar saat membuka pintu mobil lalu ia masuk dan duduk di sebelah Adrian. "Terima kasih." Livian menatap Adrian sesaat.
"Kau tepati janjimu untuk tidak mengganggu Kenzi lagi. Aku tidak mau berurusan dengannya." Adrian melajukan mobilnya. Walau bagaimanapun Adrian punya hutang budi pada Kenzi, kalau bukan karena Kenzi mungkin hidupnya tidak akan sebebas sekarang. Itu sebabnya ia tidak mau mengganggu Kenzi.
Livian menganggukkan kepala, "kau tenang saja." Livian menepuk pundak Adrian sesaat.
"Baik, kita tinggalkan Indonesia besok." Adrian melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalkan tempat tahanan.
Sepanjang perjalanan Adrian membicarakan tentang outfit. Sementara Livian hanya mendengarkan semua kata kata Adrian sepintas lalu. Ia tidak tertarik menjadi anak buah Adrian, bahkan ia berniat merebut kembali outfit. Selain itu pikirannya terus membayangkan wajah Siena. "Wanita itu telah membuat pikiranku menjadi kacau," ucapnya dalam hati.
Tepat di jalan raya yang terlihat mulai lancar tidak ada keramaian. Livian melihat Surya tengah berdiri di tepi jalan raya. Livian tepi senyum menyeringai, "akhirnya.." ucapnya dalan hati.
"Bisa tidak, kau pelankan mobilnya. Rasanya aku mual, kau bisa belikan aku air mineral?"" Livian berpura pura.
Adrian menoleh ke arah Livian. "Yang benar saja!" Adrian tertawa menganggap kata kata Livian sebuah Lelucon. Lalu Adrian menepikan mobilnya di halaman toko tak jauh dari tempat Surya berdiri. Adrian keluar dari pintu mobil dan berjalan menuju sebuah toko untuk membeli air mineral.
Livian tersenyum menyeringai, lalu ia keluar dari pintu mobil berjalan perlahan ke arah belakang Surya. Surya yang tidak memperhatikan sekitar hanya fokus ke jalan raya. Sama sekali tidak mengetahui kalau Livian sudah berdiri di belakangnya. Perlahan Surya melangkahkan kakinya hendak menyebrang jalan raya. Baru saja Surya maju satu langkah kejalan raya. Livian yang berada di belakang mendorong tubuh Surya cukup kencang. Hilangnya keseimbangan karena tidak waspada, tubuh Surya terhuyung ke depan bersamaan dengan sebuah mobil yang melaju cukup kencang menabrak tubuh Surya hingga terpental jauh.
Livian tertawa terkekeh menatap tubuh Surya terpental dan terseret cukup jauh. Lalu ia balik badan kembali ke mobilnya. "Kau dari mana?" tanya Adrian di tangannya dua botol air mineral.
"Ada kecelakaan di depan," jawab Livian santai.
"Kecelakaan?" Adrian memalingkan wajahnya ke jalan raya yang terlihat macet dan banyak orang yang menonton. "Sudahlah bukan urusan kita, ayo masuk!"
Adrian membuka pintu mobil lalu meletakkan botol air mineral di dalam mobil lalu ia duduk setelah Livian juga duduk di dalam mobil. "Lihat saja pembalasanku Kenzi," ucap Livian dalam hati.
__ADS_1
Adrian melajukan mobilnya meninggalkan tempat terjadinya kecelakan, sesekali ia menoleh ke arah Livian yang tersenyum sendiri. "Kau mentertawakan apa? apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Adrian curiga.
"Ah tidak ada, hanya ada yang lucu saja."