The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 53: Kebencian


__ADS_3

Rei dan Keenan menunggu di luar pintu UGD dengan cemas. "Semoga tante Hana baik baik saja," ucap Rei.


Keenan menepuk bahu Rei, "berdoa saja kawan."


Dua jam berlalu, akhirnya pintu ruang UGD terbuka, seorang Dokter keluar dari dalam ruangan. Mereka berdua langsung menghampiri dan bertanya, "Dok, bagaiman dengan kondisi pasien?" tanya Rei.


"Anda keluarga pasien?" tanya Dokter menatap mereka berdua.


Rei dan Keenan saling pandang sesaat, "iya, kami keluarganya," jawab mereka serempak.


Dokter menghela napas panjang dan berkata, "maaf, pasien tidak mampu bertahan."


"Maksud Dokter, tante Hana?" ucap Rei.


Dokter menganggukkan kepala, "pasien meninggal, dia kehilangan banyak darah yang di akibatkan gegar otak.


Mereka terhenyak, mendengar pernyataan Dokter. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter.


"Rei, kau harus telpon Siena," ucap Keenan.


Rei menganggukkan kepala, "baik."


Sementara Rei menelpon Siena, Keenan masuk ke dalam ruangan. Ia menatap tubuh Hana yang terbujur kaku. Suster melepaskan semua alat medis di tubuh Hana.


"Tante, aku tidak menyangka kau pergi begitu cepat..bagaimana nasib Siena nanti.." ucap Keenan pelan.


"Maafkan aku tante..seandainya aku tidak mengejarmu. Mungkin hal ini tidak terjadi," ucap Rei.


Keenan menoleh ke arah Rei yang sudah berdiri di sampingnya. Ia menepuk pundak Rei. "Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa."


Rei mengangguk cepat, "kau benar."


"Mama!"


Rei menoleh ke belakang menatap Siena yang berlari menghampiri tubuh Hana sementara Kenzi berdiri mematung memperhatikan.


"Mama..jangan tinggalkan aku, ma..bangun ma..." ucap Siena lirih memeluk tubuh Hana. "Ma..bangun ma.." Siena mengguncang tubuh Hana. Meski ia kesal dan kecewa terhadap Hana. Namun kepergian Hana yang terlalu cepat membuat Siena semakin sedih dan kecewa terhadap dirinya sendiri.


"Siena..iklaskan.." ucap Keenan mengusap punggung Siena.


"Rei..." ucap Siena menoleh ke arah Rei, ia memeluk Rei erat dan menangis sesegukan.


Melihat Siena memeluk Rei, membuat Kenzi kesal, namun untuk hari ini ia membiarkannya.


"Sudah Siena, jangan menangis..sebaiknya tante Hana segera kita bawa pulang dan kita urus pemakamannya."


Siena menganggukkan kepala, ia menyeka air matanya. "Iya Rei.." ucapnya pelan.

__ADS_1


Kemudian Kenzi pergi mengurus semua administrasi dan lain lainnya. Setelah selesai, jasad Hana langsung di bawa ke rumah.


Sesampainya di rumah hari sudah mulai pagi, Rei dan yang lain mulai melakukan proses pemakaman.


"Sabar Siena.." ucap Rei mengusap punggung Siena.


Kenzi hanya diam, bibirnya mengatup memperhatikan Rei yang terus memeluk Siena.


Setelah proses penakaman selesai, mereka kembali ke rumah. "Kita pulang." Kenzi menarik tangan Siena.


"Tidak! aku tidak mau!" Siena menepis tangan Kenzi.


"Kenzi, kau tak punya alasan lagi untuk menahan Siena!" seru Rei menatap tidak suka.


Kenzi tersenyum sinis, "oya?"


"Aku mohon, lepaskan aku.." ucap Siena pelan. Namun Kenzi menarik paksa lengan Siena untuk menjauh dari Rei.


"Kita pulang sekarang." Kenzi mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya menuju mobil.


Rei melangkahkan kaki menyusul Kenzi. "Lepaskan Siena! aku akan mengabdi padamu seumur hidupku sebagai pengganti!"


Kenzi menghentikan langkahnya, ia balik badan menatap Rei, "aku tidak membutuhkanmu."


"Kenzi! seru Rei, ia kembali menghadang langkah Kenzi.


"Rei! tolong aku! dia mau bawa aku ke Hongkong! pekik Siena.


"Hongkong?" ucap Rei menatap punggung Kenzi memaksa Siena masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil.


"Kenzi! kau tidak bisa membawa Siena ke Hongkong!" seru Rei menghampiri Kenzi mencengkram kerah baju tanpa ada basa basi langsung memukul wajah Kenzi.


Kenzi hanya tersenyum sinis mendapat pukulan dari Rei. Ia langsung balik memukul wajah Rei hingga membuat Rei oleng ke samping.


"Kenzi hentikan!" pekik Siena dari dalam memukul kaca mobil.


"Rei, kau tak apa apa?" tanya Keenan merangkul bahu Rei.


Rei menatap tajam Kenzi, "aku tidak apa apa."


"Hei kau! lepaskan Siena, apa kau tidak malu?" sindir Keenan.


Kenzi tertawa kecil menanggapi pernyataan Keenan, ia balik badan membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Siena.


"Kenzi buka pintunya! kita duel satu lawan satu. Siapa yang kalah!" seru Keenan mengguncang pintu mobil milik Kenzi.


Kenzi tersenyum miring menatap mereka berdua lewat kaca mobil, membuat Rei dan Keenan semakin geram. "Keenan hentikan! percuma bicara dengan dia!" Rei menarik bahu Keenan untuk mundur dan membiarkan mobil Kenzi melaju meninggalkan rumah Siena.

__ADS_1


"Rei, kita harus mencegah dia untuk membawa Siena pergi!" ucap Keenan menatap Rei.


"Aku tahu, tapi dengan cara apa? Siena di jaga ketat Kenzi. Jangankan untuk membebaskannya, menyentuhpun kita tidak bisa," jawab Rei kesal.


Keenan terdiam menatap Rei yang frustasi, "apa kau mencintai Siena?" tanya Keenan.


Rei mengangguk pelan, "iya..kenapa?"


Keenan langsung tertawa membuat Rei bingung, "apa yang lucu?" tanya Rei.


"Aku pikir selama ini kau menyukai ibunya." Keenan menepuk keningnya sendiri.


"Sialan!" balas Rei.


Keenan merangkul bahu Rei, "kau tidak perlu khawatir, kita cari jalan keluar untuk membebaskan Siena sebelum Kenzi membawanya pergi." Keenan berusaha membesarkan hati Rei.


Rei mengangkat kedua bahunya, "baiklah."


"Kita pulang, dan kita pikirkan ide selanjutnya. Aku pikir masih ada waktu untuk membawa lari Siena sebelum Kenzi membawanya."


Rei mengangguk lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Rei.


***


Sementara itu Kenzi telah sampai di rumahnya. Kali ini ia tidak membawa Siena ke club. "Sekarang masuk ke kamar dan diamlah, buat apa kau mengeluarkan air mata untuk seorang wanita yang telah menjualmu."


Siena menatap benci ke arah Kenzi, ia langsung memukul dada Kenzi sekuat tenaganya dan menendang kakinya "apa bedanya dengan kau Kenzi!"


Kenzi hanya diam memperhatikan Siena yang memakinya, "kau pun sama saja dengan ibuku. Kau kurung aku seperti burung, aku juga menginginkan kebebasan dalam hidup!"


"Lalu?" tanya Kenzi tersenyum sinis.


"Mati saja kau!" pekik Siena, akhirnya ia kelelahan dan terduduk di tepi tempat tidur.


"Sudah puas?" tanya Kenzi mengangkat dagu Siena supaya menatap ke arahnya.


"Aku membencimu, sangat membencimu." Siena memalingkan wajahnya.


"Terserah kau, simpan semua kebencianmu padaku. Tapi..seharusnya kau berterima kasih padaku." Kenzi menyilangkan kedua tangannya di dada.


Siena tengadahkan wajah menatap Kenzi, "berterima kasih? hah, kau ini lucu."


"Ya , kenapa tidak?" Kenzi membungkukkan badan dan berbisik di telinga Siena. "Jika pun kau lepas dariku, tapi kau akan berada di pelukan pria lain. Lalu apa bedanya?" Kenzi kembali berdiri tegap.


"Cuih!" Siena menanggapi dingin pernyataan Kenzi


"Lebih baik simpan energimu Siena, dan beristirahatlah." Kenzi melangkahkan kakinya meninggalkan Siena di kamar sendirian. Ia menemui anak buahnya untuk memerintahkan mereka mengurus kepindahan Siena ke Luar Negeri.

__ADS_1


__ADS_2