The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 98: Collaborate


__ADS_3

kenzi berdiri di samping ranjang rumah sakit memperhatikan Dokter membuka perban di kening Siena. "Bagaimana Bu? apa yang Ibu rasakan sekarang? tanya Dokter.


Siena mengusap keningnya sendiri, lalu mengerjapkan matanya berkali kali. Perlahan tapi pasti, ia mulai bisa melihat dengan jelas wajah Dokter di hadapannya. Tangannya kembali mengucek kedua matanya untuk memastikan kalau apa yang ia lihat itu bukan halusinasi. Dengan senyum mengembang ia berteriak. "Wow! ini sungguh luar biasa!


Kenzi yang sedari tadi diam memperhatikan sangat terkejut melihat reaksi Siena yang berlebih. Ia langsung duduk di tepi tempat tidur merangkul bahu Siena dengan hati was was. "Apa yang terjadi sayang?!"


Siena memalingkan wajahnya menatap ke arah Kenzi dengan senyum lebar, kedua tangannya menangkup wajah Kenzi. "Aku bisa melihatmu dengan jelas," ucapnya pelan.


Mata Kenzi melebar, mulutnya menganga. "Benarkah itu? kau tidak sedang menggodaku bukan?" ucap Kenzi tidak percaya.


Siena menggelengkan kepala, "tidak, aku bisa melihat wajah tampanmu lagi, tahi lalat di bibirmu jelas bisa kulihat," setengah menggoda Siena berucap.


"Oh Tuhan, terima kasih." Kenzi langsung memeluk Siena erat dan mencium puncak kepalanya cukup lama. Mata Kenzi melirik ke arah Dokter yang tersenyum padanya. "Dokter, terima kasih."


Dokter menganggukkan kepala, lalu ia berpamitan untuk kembali menjalankan tugaanya. Kenzi melepaskan pelukannya lalu mencium kedua bola mata Siena. "Kita pulang sayang." Siena menganggukkan kepala, lalu turun dari atas ranjang di bantu oleh Kenzi.


"Siena?!" sapa Surya.


Mereka menoleh ke arah Surya yang berjalan mendekat. "Papa.." Siena tersenyum menatap wajah Surya.


Surya mengerutkan dahi memperhatikan kedua bola mata Siena, "sayang? apa kau bisa melihat Papa, nak?"


Siena menganggukkan kepala, "iya Pa."


"Oh Tuhaaann, terima kasih." Surya langsung memeluk Siena erat. Ia mencium keningnya lalu beralih menatap Kenzi yang tengah memperhatikan. "Bagaimana bisa?" tanya Surya pada Kenzi. Padahal Dokter sudah memvonis Siena bakal buta permanen.


Kenzi mengangkat kedua bahunya, "keajaibab Tuhan."


Surya kembali menarap Siena yang masih memeluknya, "Papa senang sekali sayang."


Siena menganggukkan kepala, ia lepas pelukannya lalu berjalan mendekati Kenzi sembari memegang perutnya yang mulai besar kandungannya. "Aku mau pulang sekarang."


"Baiklah." Kenzi menggenggam tangan Siena lalu mereka berjalan bersama keluar ruangan di ikuti Surya dari belakang.


Di sela sela langkah mereka menyusuri lorong rumah sakit, Siena menghentikan langkahnya menatap ke depan pada sosok pria yang ia kenali. Reegan, mantan suaminya berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


"Siena.." sapa Reegan. Ia tersenyum memperhatikan wajah mantan istrinya lalu beralih menatap perut Siena. "Kau hamil?" Ia mengalihkan pandangannya pada Kenzi yang tengah menatapnya tidak suka.


"Reegan, apa kabar?" Siena balas menyapa. Ia menundukkan kepala. Melihat wajah Reegan, Siena kembali teringat semua masa lalunya. Kenzi memperhatikan perubahan sikap Siena. Ia mulai risih dengan kehadiran Reegan.


"Sayang, ayo kita pulang." Kenzi merangkul bahu Siena lalu mereka melangkahkan kakinya. Surya menatap wajah Reegan sesaat lalu ia menyusul Kenzi dan Siena. Dalan hati ia bertanya tanya, siapa pria itu? dan pernah ada hubungan apa dengan Siena? karena hanya Surya yang tidak pernah tahu tentang Reegan yang pernah menjadi bagian dari Siena.


Reegan yang sedari tadi terpaku memperhatikan, berlari menyusul mereka. "Siena, tunggu!" pekik Reegan.


"Ada apa lagi?" tanya Kenzi menyilangkan kedua tangannya menghadang Reegan yang berusaha mendekati Siena.


Reegan menatap tajam Kenzi, dengan santai ia berkata. "Apa kau suaminya?"


Kenzi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Reegan. "Oke, aku hanya ingin bicara dengan Siena sebentar."


Kenzi mendengus kasar, percuma meladeni Reegan. Ia memilih mengangkat tubuh Siena lalu menggendongnya. "Minggir!"


Reegan menepi ke samping dan menbiarkan Kenzi menbawa Siena pergi meski hatinya dongkol. "Sombong!"


Surya yang masih berdiri di tempatnya mendengar umpatan Reegan. Ia berjalan mendekatinya. "Kau siapa? ada hubungan apa dengan putriku?" tanya Surya menatap tajam Reegan.


"Putri? kau Ayahnya Siena?" Reegan mengerutkan dahi. "Aku mantan suaminya Siena." Reegan menjawabnya dengan sopan.


Reegan menarik napas dalam dalam. "Semua kesalahanku, sekarang aku menyesal telah melepas Siena," jawabnya menundukkan kepala.


"Bagus kalau kau menyesal, Siena sudah punya keluarga baru. Jangan kau ganggu dia lagi ." Surya menepuk bahu Reegan.


"Tapi?"


"Ingat, jangan cari masalah." Tangan Surya menunjuk ke wajah Reegan. Lalu ia beranjak pergi.


Reegan mendengus kasar, menatap punggung Surya. "Siena, aku rindu sekali."


***


Sesampainya di rumah, Kenzi membawa Siena ke kamarnya. "Kau kenapa?" tanya Siena menatap raut wajah Kenzi yang muram.

__ADS_1


"Tidak ada, kau istirahat. Dan jangan berbuat sesuatu yang membahayakan." Kenzi mencium kening Siena lalu ia mekangkahkan kakinya keluar kamar.


Siena tersenyum, bukan ia tidak tahu perubahan sikap Kenzi. Suaminya tengah cemburu pada Reegan. "Aku milikmu, selamanya," gumamnya sembari mengusap perutnya. "Sayang, Papamu lucu kalau lagi cemberut."


Sementara Kenzi menemui Akira dan dua anak buahnya. "Ada info tentang Livian?"


Samuel menganggukkan kepala, ia menyodorkan ponsel pada Kenzi. "Bos."


Kenzi mengambil ponsel miliknya yang ada di tangan Samuel. Ia membuka layar ponsel dan membaca beberapa pesan dari nomer yang tak di kenal. "Livian?" Matanya melirik tajam ke arah Samuel dan yang lain.


"Benar Bos, Livian masih ada di sini." Samuel menjelaskan jika Livian berada tak jauh dari mereka tengah mengintai dan mengintimidasi secara halus.


Kenzi mendengus, ia masukkan ponsel ke dalam sakunya. "Licik! kalian harus lebih waspada."


"Baik Bos!" ucap mereka serempak.


"Bagaimana dengan pekerjaan di kantor, Akira." Kenzi menatap Akira.


"Sejauh ini lancar." Akira menundukkan kepala sesaat.


"Akira, kau temani Siena. Dan kalian ikut aku." Kenzi melangkahkan kakinya di ikuti Samuel dan Yeng Chen. Sementara Akira membawakan makanan ke kamar Siena.


Surya yang sedari tadi memperhatikan dari balik pintu, menarik napas panjang. Ia hanya mengkhawatirkan Siena, putri dan calon cucunya nanti. Ia tidak perduli dengan dirinya.


***


Kenzi dan dua anak buahnya sampai di club miliknya dulu. Ia menemui beberapa rekannya yang masih setia bersahabat dengannya. "Halo! lama tak jumpa!" sapa seorang pria kekar berkumis tebal memeluk Kenzi sesaat.


"Aku membutuhkan bantuanmu," Kenzi mengajak pria itu duduk di kursi.


"Kau butuh bantuan apa?" tanya pria itu


Kenzi mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu cukup lama.


Sementara Samuel dan Yeng Chen menunggu di luar ruangan. Terdengar suara musik Dj dari gedung sebelah. Samuel mengeluarkan kotak rokok lalu ia mengambil sebatang. Ia tawarkan pada Yeng Chen dan dua pria pengawal pria kekar tadi.

__ADS_1


"Aku dengar, Bos Hernet sudah mati?" tanya pria itu.


Samuel menganggukkab kepala, mereka berbincang bincang selama menunggu Kenzi di dalam ruangan.


__ADS_2