
"Apa kabar Tuan Izanagi, Nak? Ayah tidak melihat dia dua hari ini?" tanya Kenzi, menatap Jiro yang tengah menikmati makan bersama Ryu. Sementara Kenzi dan Siena hanya menperhatikan kedua putra mereka dengan sayang. Tidak ingin rasanya Siena berkedip barang sebentar. Ia begitu takut ketika membuka mata, semua itu hanya mimpi.
"Papa kesehatannya kurang baik, Yah. Besok jadwal rutin pengecekan kondisi Papa," ungkap Jiro menatap Siena dan Kenzi bergantian.
"Kau sendiri, sayang?" tangan Siena terulur mengusap tambut Jiro.
"Aku baik Bu.." sahut Jiro tersenyum menatap Siena yang duduk di sampingnya. Sementara Kenzi duduk di samping Ryu.
"Terus, kapan aku di tanya kalian?' gerutu Ryu. Memajukan bibirnya melirik sesaat ke arah Siena dan Kenzi.
Kenzi dan Siena tertawa kecil melihat putra bungsunya merajuk. " Hei bodoh, habiskan dulu makananmu. Biar kau punya tenaga buat memperjuangkan cinta Zoya." Bisik Jiro di telinga Ryu.
Ryu melotot ke arah Jiro, memukul pelan lengan Jiro. "Ah sial! tapi kau harus bantu aku, kak," ucap Ryu pelan. Ia takut Kenzi mendengarnya. Namun bukan Kenzi tidak tahu. Tapi membiarkan kedua putranya melepas rindu sebagai saudara.
Jiro mengangguk pelan, menaik turunkan kedua alisnya. "Siap Bos." Jiro menatap Siena yang sedari tadi tidak lepas pandangannya. "Ibu tidak makan?" tanya Jiro.
"Ibu sudah kenyang sayang, kau habiskan saja makananmu."
"Aku suapin Ibu." Jiro mengambil makanan di piring menggunakan sendok lalu ia dekatkan di mulut Siena. "Ayo Bu.."
Namun Siena hanya diam, ia teringat saat menyuapi Jiro sewaktu masih kecil. Siena langsung menarik bahu Jiro dan memeluknya erat.
"Ibu dan Ayah hampir putus asa sayang, Ibu hampir gila karena kehilanganmu. Ibu cari kau kemana mana." Tangan Jiro yang memegang sendok hampir saja terjatuh. Melihat Siena menangis, Ryu ikut memeluk Jiro dan Siena.
Kenzi berdiri lalu mendekati mereka. Memeluk dari belakang istri dan dua putranya. "Kalian cahaya dalam hidupku, aku mohon. Jangan berbuat sesuatu tanpa seizinku, aku tidak mau kehilangan kalian."
Samuel yang hendak masuk ke ruangan, tangannya gemetar, gelas di tangannya hampir saja jatuh jika ia tidak memgangnya erat. Melihat keluarga kecilnya berbahagia telah menemukan putra mereka yang sekian lama menghilang. Mata Samuel berkaca kaca menatap langit langit ruangan.
"Akira, tidak sia sia kau mengorbankan nyawamu, kini mereka berkumpul kembali. Yeng Chen, lihat lah mereka. Kedua kaki dan nyawamu kau korbankan demi Helion. Semua pengorbanan kalian tidak sia sia." Samuel mengusap air mata yang hampir jatuh.
"Sam?" sapa Kenzi. "Kemarilah." Kenzi tersenyum mengulurkan tangannya.
Samuel tertawa samar, lalu ia berjalan mendekat. Kenzi dan Jiro memeluk Samuel erat. Kebahagiaan mereka, keselamatan keluarga kecil ini, semua ada campur tangan Samuel dan dua anak buahnya yang telah tiada. Tangisan, air mata bahagia pecah di ruangan itu. Masa masa sulit dan suram terlewati, berkat mereka yang saling melindungi satu sama lain.
__ADS_1
Hal yang Kenzi sadari, hancurnya sebuah keluarga bukan hanya karena mereka yang berpakaian mencolok dan mengarahkan senjatanya yang setiap saat bisa mengambil nyawa dan kebahagiaan. Namun peran seorang antagonis yang siap menghancurkan keluarga dan hubungan yang sudah terjalin dengan sangat erat bisa saja hancur, seorang penjahat tidak perlu berkata kasar, seorang penipu tidak perlu pandai bersilat lidah. Sebuah hubungan yang kuat tidak hanya bermodalkan cinta saja tidak cukup, saling percaya dan tidak berusaha saling menundukkan satu sama lain untuk menunjukkan siapa yang pantas.
Kenzi tersenyum tipis menatap mereka semua, kini ia bisa bernapas lega melihat putranya telah kembali ke tengah tengah mereka. Dan Kenzi akan membawa pulang keluarganya ke Indonesia. Beserta Jiro, tapi setelah mendapatkan izin dari Izanagi yang telah membesarkan dan merawat Jiro selama ini. Kenzi tidak ingin lagi terlibat dengan dunia kriminal. Masa tuanya nanti, ingin di habiskan dengan ketenangan bersama keluarga kecilnya.
"Ayah, Ibu, aku minta maaf. Jika aku tidak bisa tinggal bersama kalian. Apalagi, Papa sedang sakit sakitan." Jiro menundukkan kepalanya.
Siena tersenyum, mendekatkan wajah Jiro lalu mencium keningnya sekilas. "Sayang, Ibu mengerti. Ibu tidak akan menahanmu, memang sepantasnya kau bersikap seperti itu. Pulanglah, Papamu saat ini membutuhkanmu."
"Ibu..." Jiro memeluk Siena. "Terima kasih, Ibu mengerti posisiku saat ini."
"Tentu sayang," tangan Siena mengusap punggung Jiro. Seorang Ibu tidak akan bersikap egois. Sebagai seorang wanita, Siena harus bersikap menjadi sosok Ibu untuk kedua putranya. Bukan sekedar Ibu, yang hanya melahirkan dan membesarkan. Tapi sosok Ibu yang menjadi panutan dan sandaran untuk kedua putranya. Ibu yang bisa bersikap seperti seorang Ibu, sahabat, kakak, juga kekasih untuk putra putranya. Dan Jiro juga Ryu menemukan sosok Ibu yang ideal dalam diri Siena.
Jiro melepaskan pelukan Ibunya, lalu beralih menatap Kenzi dan memeluknya erat. "Maafkan aku, Ayah."
"Tentu sayang, Ayah mengerti. Pulanglah, Ayah tidak melarangmu. Lagi pula, kau bisa main kesini jika kau rindu kami." Kenzi mengusap punggung Jiro. "Pulanglah.."
Jiro melepaskan pelukan Kenzi, lalu memeluk Ryu yang sedari tadi diam. "Hei bodoh!" Jiro memeluk Ryu. 'Jaga Ayah dan Ibu dengan baik."
"Tentu saja Kak." Ryu melepas pelukannya, menatap Jiro. "Sana pulang, tapi besok ke sinj lagi. Awas kalau tidak!" ancam Ryu.
"Hati hati di jalan."
Jiro menganggukkan kepalanya, lalu mengambil makanan di atas meja. "Makanan Ibu lezat, makasih Bu." Jiro mencium sekilas pipi Siena. Lalu melangkahkan kakinya, langkahnya terhenti di depan pintu, menoleh ke arah mereka. Berat rasanya kaki Jiro melangkah keluar dari rumah itu. Lebih dari dua puluh tahun mereka terpisah. Rasanya ia tidak ingin jaub dari kedua orangtuanya lagi. Namun Izanagi tidak mungkin Jiro tinggalkan. Pria itu sudah menganggap Izanagi, Ayah kandungnya.
"Pulanglah sayang! jangan ragu, lakukan apa yang menurut hatimu benar! di sini, kami selalu menyayangimu Nak!" seru Siena menatap sedih ke arah Jiro.
Jiro menganggukkan kepalanya, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya keluar rumah Siena untuk kembali pulang.
Tak butuh waktu lama, Jiro telah sampai di halaman rumahnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah dengan hati bahagia dan ia ingin berbagi bahagia dengan Izanagi. Langkah Jiro terhenti di depan pintu kamar Izanagi yang terbuka, nampak Egor tengah menangis dan mencoba membangunkan Izanagi yang tak sadarkan diri, telungkup di bawah tempat tidur.
"Tuan, Tuan Izanagi bagun. Tuan!"
"Papa!" pekik Jiro langsung menghampiri dan membantu Egor mengangkat tubuh Izanagi ke atas tempat tidur dan membaringkannya.
__ADS_1
"Paman, apa yang terjadi?" Jiro menatap Egor sesaat.
"Tidak tahu tuan muda, paman hendak membawakan makanan ke kamar, tapi Papa tuan muda sudah tergeletak di lantai." Egor menjelaskan.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, paman." Jiro menatap pelipis Izanagi yang berdarah.
"Baik Tuan, mari."
Egor dan Jiro langsung mengangkat tubuh Izanagi dan menggendongnya keluar rumah. Sesampainya di halaman, Egor membukakan pintu mobil untuk Jiro. Setelah selesai mereka langsung menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Izanagi langsung di bawa keruang UGD dan di tangani langsunh oleh Dokter khusus yang biasa merawat kesehatan Izanagi selama ini.
Satu jam berlalu Jiro menunggu dengan cemas. Bahkan ia sempat menelpon Ryu untuk memberitahu Kenzi dan Siena tentang Izanagi.
Dari lorong rumah sakir, Jiro melihat Kenzi dan Siena tengah berjalan tergesa gesa mendekatinya. "Sayang, bagaimana keadaan Papamu?" tanya Siena cemas.
"Belum tahu Bu, Dokter masih memeriksa Papa," ucap Jiro pelan.
"Kau tenanglah." Kenzi mengusap punggung Jiro.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan menemui Jiro dan yang lain. Tiba tiba saja Dokter meminta Jiro untuk menghubungi pihak berwajib.
"Kenapa dengan Papa saya Dok!" Jiro mengguncang lengan Dokter.
"Katakan Dok, ada apa?" sela Kenzi khawatir, mengapa Dokter meminta menghubungi Polisi.
Dokter menghela napas panjang lalu menjelaskan pada mereka, jika Izanagi tertembak di pelipisnya.
"Apa? tertembak?" Jiro dan yang lain kaget bukan main. Jiro tidak menduga jika darah di kening Izanagi bukan karena benturan lantai kamar.
"Tapi, bagaimana mungkin? saya di dalam ruamh tidak mendengar suara tembakan?" ungkap Egor menjelaskan, saat itu Izanagi meminta Egor membawakan makanan ke kamarnya. Sementara Izanagi duduk di balkon kamarnya.
"Senjata yang digunakan untuk menembak Tuan Izanagi menggunakan Suppresor atau peredam suara untuk mengurangi suara tembakan dan kilatan cahaya yang di hasilkan tembakan," jelas Dokter.
__ADS_1
"Tidak mungkin, siapa yang telah menembak Papa," ucap Jiro pelan. Siena mengusap punggung Jiro untuk menenangkan. Selama ini Jiro tahu, kalau Papanya tidak memiliki musuh dan pria yang ramah.
Kenzi menghela napas panjang, ia terdiam dan enggan menimpali. "Apalagi ini.." ucapnya dalam hati.