
"Jiro, duduklah. Ayah ingin bicara." Kenzi langsung menegur Jiro saat putranya baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Yah?" tanya Jiro masih berdiri menatap kedua orangtuanya.
"Duduk, Ayah tidak suka pembatahan," jawab Kenzi tegas.
"Maaf." Kemudian Jiro duduk di kursi berhadapan dengan kedua orangtuanya. kali ini Siena akan diam, ia sudah menyerahkan permasalahan Jiro sepenuhnya pada Kenzi.
"Dulu adikmu, sekarang kau yang berulah." Kenzi diam sesaat menatap tajam Jiro.
"Maaf Yah." Jiro menyela.
"Jangan kau pikir, kami tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana. Kami diam bukan tidak tahu, tapi memberikanmu ruang untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Tapi ternyata aku salah, kau terjebak jauh dalam permainan Miko. Bukan Ayah melarang hubunganmu dengan Miko. Tapi jika kau ingin membawa Miko keluar dari organisasi itu, bukan dengan cara menyerahkan nyawamu pada mereka. Apa kau paham? atau kau memang anakku yang paling bodoh?" ungkap Kenzi dengan nada marah.
"Jadi? Ayah sudah tahu semuanya?" Jiro mengangkat wajahnya menatap Kenzi.
"Lebih baik Ibu membawamu pulang ke Indonesia dari pada kau berbuat hal bodoh seperti itu. Sebagai seorang kakak, seharusnya bisa membuat adikmu bangga. Bukan malah sebaliknya." Siena yang sedari diam akhirnya angkat bicara.
"Miko sudah di kendalikan oleh sebarisan orang orang yang sakit hati pada Ayah."
"Benarkah? jadi? Miko membohongiku?"
Siena tersenyum lalu berdiri berpindah duduk di dekat Jiro. "Coba kau pikir, apa mata hatimu sudah tidak bisa melihat? mana yang mencintaimu dengan tulus, mana yang bukan. Tapi bukan berarti Miko tidak mencintaimu. Saat ini Miko sedang berada di persimpangan jalan yang salah."
Jiro menundukkan kepalanya, ia teringat akan Zoya. "Maafkan aku, Ibu."
"Aku beri waktu kau sehari untuk menyelesaikan masalahmu dengan kedua gadis itu. Tapi jika kau tidak bisa menyelesaikannya. Terpaksa Ayah akan turun tangan."
Jiro tengadahkan wajahnya menatap Kenzi, lalu berdiri bersimpuh di hadapan Kenzi.
"Terima kasih Yah, aku janji akan menyelesaikannya juga hari ini."
***
Sementara di rumah Zoya, gadis itu tengah duduk di bangku taman bersama Adelfo. Pria itu coba membujuk anak gadisnya untuk membuka hatinya untuk pria lain. Namun Zoya tetap menolaknya.
"Papa, aku butuh waktu." Zoya tetap bersikeras belum bisa menerima pria lain.
"Baiklah sayang, Papa tidak memaksa. Kau bisa pikirkan lagi nanti." Adelfo pun mengalah dan menyerah. Tidak akan memaksa putrinya lagi seperti yang sudah ia lakukan dulu.
Adelfo berdiri saat mengetahui kedatangan Jiro, ia mengalihkan pandangannya pada Zoya. "Kau harus bersikap tegas nak, bukan untuk siapa siapa. Tapi untuk dirimu sendiri, Papa tidak ingin kehilanganmu. Putri papa Satu satunya."
"Iya Pa." Zoya menganggukkan kepalanya tersenyum menatap punggung Adelfo yang meninggalkannya sendiri.
"Zoya, apa aku mengganggumu?" sapa Jiro berdiri di hadapan gadis itu.
__ADS_1
"Tidak, duduklah."
"Terima kasih." Kemudian Jiro duduk di samping Zoya. Menarik napas panjang sebelum ia bicara, mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ada apa?" tanya Zoya.
Jiro menunduk sesaat. "Zoya, dengarkan aku baik baik."
"Iya?" sela gadis itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, mungkin selama ini aku sudah menyakiti perasaanmu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi Zoya, aku juga ingin melihat kau bahagia. Tapi bukan denganku."
Deg!
Zoya memalingkan wajahnya sesaat, ia telan salivanya dengan susah sebelum menjawab.
"Maksudmu?" bukan Zoya tidak mengerti maksud ucapan Jiro. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Bisa kah kita tetap bersahabat? dan jangan lakukan apapun untukku. Apalagi membahayakan nyawamu. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa apa padamu." Jiro meraih kedua tangan Zoya dan meremasnya pelan. "Aku mencintai Miko, sangat mencintainya."
Sesaat Zoya terdiam menatap kedua mata Jiro. Ia tertawa terbahak bahak, sampai keluar air mata. Bukan karena ucapan Jiro itu lucu. Namun Zoya sengaja untuk menghilangkan kecurigaan Jiro, bahwa ia menangis karena patah hati.
"Kenapa tertawa? ada yang lucu?" tanya Jiro tak mengerti.
"Lucu?" tanya Jiro.
Zoya menganggukkan kepala. "Kau pikir, kau ini siapa? selama ini aku anggap kau sahabat. Jangan salah mengartikan, sahabat bisa bertindak layaknya kekasih. Apa kau tidak paham? lagipula aku sudah punya kekasih."
"Benarkah?"
Lagi lagi Zoya mengangguk cepat. "Nanti, aku kenalkan dia padamu."
"Ternyata, aku salah menilaimu. Maaf.." ucap Jiro pelan.
"Tidak masalah." Zoya tersenyum tipis. "Jika kau mencintai Miko, pergilah temui dia dan lamar dia secepatnya. Bawa dia ke dalam kehidupanmu supaya jauh dari organisasi terlarang itu."
"Terima kasih, kau memang sahabat terbaikku." Jiro berdiri menatap ke arah Zoya. "Aku akan menemui Miko dan melamarnya."
"Tidak perlu, aku ada di sini!"
Zoya dan Jiro menoleh ke arah suara, nampak Miko tengah berjalan mendekat.
"Aku mencarimu, sudah kuduga kau ada disini." Miko berdiri di hadapan mereka berdua.
"Kau jangan salah paham, aku dan Zoya hanya sahabat. Justru aku ingin melamarmu." Jiro meraih kedua tangan Miko.
__ADS_1
Sementara Zoya hanya diam terus menekan perasaannya. "Apa yang di katakan Jiro benar." Gadis itu berdiri di tengah di antara mereka berdua.
"Tapi, aku belum mau menikah denganmu Jiro," ucap Miko tanpa basa basi.
"Kenapa?"
"Bagaimana dengan Ibuku? mereka masih menahannya." Miko menundukkan kepalanya.
"Soal itu kau tidak perlu khawatir, jika kita sudah menikah. Ayahku pasti akan membantumu." Jiro terus meyakinkan Mikl, bahwa Kenzi akan turun tangan membantu Miko, jika gadis itu sudah menjadu bagian keluarganya.
"Sungguh? apa kau yakin? benarkah Om Kenzi akan mendatangi markas Crips?" Miko terus bertanya untuk mendapatkan jawaban yang meyakinkannya.
"Iya, pasti. Apalagi kau sudah menjadi istriku."
"Baiklah, aku terima lamaranmu." Miko langsung memeluk Jiro di hadapan Zoya.
"Sekarang kau ikut aku kerumah, kita bicara pada kedua orangtuaku." Jiro melepas pelukannya.
"Baiklah."
Jiro mengalihkan pandangannya pada Zoya yang sedari tadi memperhatikan.
"Zoya, aku pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya."
Zoya menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali duduk di bangku menatap punggung mereka berdua meninggalkannya sendirian. Matanya berkaca kaca, lalu air mata tidak dapat ia bendung lagi. Gadis itu menundukkan kepala dengan kedua tangan mencengkram bangku. Tubuhnya bergetar, ia menangis dalam diam. Tetes demi tetes air mata membasahi celana jeans yang ia kenakan.
"Apa kau baik baik saja?"
Zoya mengangkat wajahnya buru buru ia usap air matanya. "I'm fine. Papa."
Adelfo menarik napas dalam dalam. Ia bersyukur Jiro memberikan keputusan tegas untuk Zoya. Dengan begitu, putrinya tidak akan berharap lebih pada pria itu. Sekarang yang perlu Adelfo lakukan adalah menyemangati dan mengusir kesedihan putrinya. Kemudian ia duduk di bangku bersebelahan dengan Zoya.
Lebih baij sakit hati sekali dalam hidupmu, dari pada sakit hati terus terusan. Bukan begitu?" Adelfo menoleh ke arah Zoya.
Gadis itu menganggukkan kepala. "Kau benar Pa.." ucapnya lirih.
"Memangnya kau mau? menikahi pria yang tak mencintaimu? kalau Papa sih nanti dulu."
"Kau benar Pa.."
"Lalu? kenapa kau masih menangis?" tanya Adelfo.
"Bagaimana tidak menangis? kakiku Papa injak pakai sepatu," sungut Zoya menunjuk kakinya yang terinjak sepatu yang Adelfo kenakan.
Adelfo mengalihkan pandangan ke sepatu yang ia kenakan, lalu menggesernya. Detik berikutnya ia tertawa terbahak bahak sambil meneluk erat Zoya yang ikut tertawa. Bukan sepatu yang menyakitinya, tapi hatinya telah hancur oleh pria yang sangat di cintainya.
__ADS_1