
Kenzi menghisap rokoknya dalam dalam lalu menatap sosok pria di hadapannya dengan tatapan benci.
"Jadi? dibalik penyerangan kemarin adalah Adrian?" ucap Kenzi tersenyum sinis.
"Benar boss, Adrian telah bekerjasama dengan sindikat Crips, dia membuat obat obatan terlarang." Samuel yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Katakan, di mana Adrian berada?!! Kenzi berdiri dan menghampiri pria yang sudah tidak berdaya.
" Kowloon," sahut pria itu.
"Crips." Kenzi mendengus lalu berdiri. "Sam, kau urus dia dan jangan tinggalkan jejak," ucap Kenzi memberikan perintah lalu ia kembali keluar ruangan untuk menemui Siena. Kini ia berpikir untuk memberikan penjagaan ketat untuk Siena. Terlebih gadis kecil itu tidak takut apapun meski bahaya di depan matanya. Kenzi tertawa sendiri mengingat keras kepalanya Siena.
Saat Kenzi membuka pintu kamar, ia melihat Siena tengah berdiri menghadap kaca jendela. Kenzi berjalan mendekati Siena dan menyentuh bahu dan memutar tubuh Siena supaya menghadap ke arahnya. Ia menatap mata Siena yang sembab dan rambutnya yang berantakan.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Kenzi.
"Aku mau pulang.." jawab Siena lirih.
"Tapi Siena.."
"Aku mau pulang..aku mohon.." tatapan matanya penuh harap.
Kenzi memeluk tubuh Siena, "kau di sana sudah tidak memiliki siapa siapa Siena."
Siena mendoring tubuh Kenzi, wajahnya yang lembut berubah marah.
"Lebih baik aku sendirian tapi punya kebebasan, dari pada di dekatmu tapi kematian bisa datang kapan saja!" pekik Siena menatap marah Kenzi.
Kenzi mengusap wajahnya sendiri, "ya ampun, kau benar benar keras kepala dan tidak bisa di baikin ya?!" sahut Kenzi kesal.
"Terserah!" Siena berjalan dan duduk di kursi.
Kenzi berjalan mendekati Siena, ia menatapnya cukup lama. Ia mendengus lalu beranjak pergi keluar kamar. Siena berdiri langsung menyusul Kenzi masuk ke dalan kamarnya. Ia melihat senjata api terselip di pinggang Kenzi. Siena langsung mengambilnya dari belakang. Kenzi langsung balik badan menatap Siena yang mengarahkan senjata api kepadanya.
"Diam di tempatmu!" seru Siena.
"Apa maumu?" tanya Kenzi menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Berikan aku kunci mobil dan sejumlah uang cepat!" Siena berjalan dua langkah ke depan mendekati Kenzi.
"Kalau aku tidak mau?" Kenzi tertawa kecil mencemooh.
"Aku akan membunuhmu!" pekik Siena.
"Lakukan jika itu maumu." Kenzi maju selangkah lebih dekat dengan Siena.
"Berikan saja kunci mobil dan uangmu Kenzi! seru Siena menatap marah.
__ADS_1
" Kalau kau mau, bunuh saja aku Siena. Bukankah jika aku mati kau bebas?"
Siena menatap geram Kenzi, ia arahkan senjata api ke dada Kenzi.
"Lakukan! seru Kenzi maju selangkah lagi, hinggan ujung senjata api menyentuh tepat di dada Kenzi.
Siena tangannya gemetar, ia sendiri belum pernah menggunakan senjata api. Melihat Siena gugup, Kenzi langsung mengangkat lengan Siena ke atas dan merebut senjata api itu dengan mudah. Ia langsung menarik kedua tangan Siena dan menguncinya.
" Jadilah gadis yang penurut Siena." Kenzi menghempaskan tubuh Siena ke atas rempat tidur, lalu ia beranjak pergi keluar kamar dan mengunci pintu kamar dari luar.
****
Sementara itu di tempat lain, Rei dan Keenan yang baru saja sampai di bandara Hongkong, setelah melewati beberapa pemeriksaan mereka keluar dan naik bus A21 tujuan Kowloon.
Tak lama kemudian mereka telah sampai, "Rei, aku lapar," ucap Keenan mengusap perutnya yang berbunyi.
"Ya sudah, kita cari makan dulu," Rei menatap Keenan yang celingak celinguk memperhatikan sekitar.
"Hei, kita makan mie disana!" tunjuk Keenan.
Rei memalingkan wajah menatap ke arah petunjuk Kernan, lalu ia mengangguk dan berjalan menghampiri kedai mie.
Mereka berdua masuk ke dalam kedai dan memesan dua mangkok mie.
"Rei, habis ini kita kemana?" tanya Keenan sembari mengunyah mie.
"Tapi kita tidak tahu Siena ada di mana?" Keenan menatap ke arah Rei dengan mulut menganga.
"Kau benar.." kata Rei.
"Adduh!" Keenan menepuk keningnya sendiri. "Bagaimana ini."
Rei mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tahu."
Keduanya saling pandang sesaat, "habiskan dulu mie nya, kita pikirkan nanti," sahut Rei.
Keenan mengangguk, ia kembali habiskan mie hingga sendok terakhir. Lalu Rei membayar $128 HKD untuk dua mangkok mie.
Mereka keluar kedai dan berjalan sembari memperhatikan sekitar mencari penginapan.
"Rei! Keenan!
Rei dan Keenan saling pandang sesaat, lalu memalingkan wajah ke belakang. Menatap seorang wanita yang mereka kenal.
" Marsya!! seru Rei.
"Kalian ada di sini?" tanya Marsya menatap mereka berdua.
__ADS_1
Rei menganggukkan kepala, kami mencari Siena," jawab Rei.
"Siena? jadi..mereka membawa Siena kesini?" tanya Marsya.
Keenan menganggukkan kepala, "ya benar, dan kami tidak tahu mereka ada di mana sekarang."
"Sebaiknya kalian tinggal di rumahku untuk sementara, soal Siena sepertinya aku tahu di mana Kenzi berada," ucap Marsya memberikan harapan besar pada mereka.
"Kalau kau tidak keberatan," ucap Keenan.
"Tentu tidak, ayo!"
Akhirnya mereka berdua ikut bersama Marsya dan tinggal di runahnya. Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Marsya yang tak jauh dari lokasi tadi mereka bertemu.
"Ini rumahku..anggap saja seperti rumah kalian sendiri." Marsya mempersilahkan mereka duduk. Lalu Marsya membuatkan mereka kopi.
"Apa kau tinggal sendirian?" tanya Rei.
"Iya benar," sahut Marsya.
"Untung kami bertemu denganmu, jika tidak..kami datang kesini sia sia saja." Keenan tertawa kecil mengingat kebodohannya sendiri.
"Aku dengan tante Hana meninggal." Marsya meletakkan tiga cangkir kopi di meja.
"Iya kau benar." Rei mengambil cangkir kopi di atas meja lalu menyecapnya perlahan.
"Apa benar kau seorang polisi?" tanya Rei menatap Marsya.
Marsya menarik napas dalam dalam lalu mengembuskannya dengan gusar. Ketika mengingat kegagalannya tempo hari. Ia berdiri menghampiri meja dan membuka laci. Marsya mengambil beberapa dokumen dan beberapa foto. Ia bawa dan di letakkan di atas meja.
"Apa ini?" Keenan menghirup kopinya lalu menatap beberapa foto yang berserakan di atas meja.
Jaringan mafia Crips dan Kenzi Alexis. Keduanya jaringan mafia yang sulit di tangkap dan punya hubungan di antara kedua jaringan ini. Anggota Crips sudah lama berdiri, dan sekarang menjadi bertambah jaringannya dengan adanya Adrian. Sementara Kenzi bukanlah pemilik pertama, sebelumnya di pegang oleh Alexandro tapi mati di tangan tante Hana.
"Oh, jadi jelas bukan? Kenzi menjebak Siena hanya untuk balas dendam?" tanya Keenan.
"Belum tentu," sahut Marsya.
"Kenapa?" tanya Rei sembari meletakkan cangkir di atas meja.
Dalam sepekan ini Kepolisian tengah mengincar Siena, ia tertangkap kamera di sebuah cafe bersama Kenzi. Dan Siena akan menjadi targer kepolisian sebagai saksi.
Keenan dan Rei saling pandang sesaat, lalu mereka menundukkan kepala memperhatikan semua foto Siena bersama Kenzi beserta anggota lainnya.
"Bukankah ini Adrian anak buah Kenzi?' tunjuk Rei.
" Tidak lagi, aku dengar mereka perang dingin dan Adrian berbelot pada Crips." Marsya menjelaskan secara detail.
__ADS_1
Mereka berdua menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baik kami ajan membantumu."