The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 138: Freedom for kenzi


__ADS_3

Dari Kantor Polisi, Yu bergegas ke rumah sakit. Namun sesampainya di rumah sakit. Yu di beritahu kalau Siena sudah pulang sejak tadi siang. Kemudian Yu bergegas pulang kerumah Kenzi. Lagi lagi Yu di buat terkejut, bukannya Siena yang ia dapati, tapi mayat berserekan di mana mana, polisi juga ada di sana. Setelah mendapatkan informasi jika keluarga Kenzi tidak ada di rumah itu. Yu semakin panik, ia berusaha menghubungi Siena atau yang lainnya. Setelah berkali kali menghubungi, akhirnya Siena mengangkat telpon dari Yu. Yu mendapat informasi jika mereka ada di perbatasan Hongkong di sebuah geduang tua yang tak terpakai lagi. Yu bergegas pergi ke tempat di mana Siena dan yang lain berada.


Yu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga satu jam berlalu, akhirnya Yu sampai di lokasi. Yu bergegas masuk ke dalam gedung itu. Ia bersyukur mereka selamat meskipun Siena terluka di lengannya.


"Kakak Yu!"


"Siena, syukurlah kalian baik baik saja, apa yang terjadi? siapa yang menyerang kalian?" Yu mengambil alih tubuh Helion dari pangkuan Siena, lalu mencium pipinya. "Kau tidak apa apa sayang?"


"Tidak Om," sahut Helion memeluk Yu.


"Aku tidak tahu siapa mereka. Yang pasti mereka orang orang suruhan Sam Hoi." Samuel berjalan mendekati Yu.


"Dengar Siena, besok hari persidangan Kenzi yang terakhir. Kau harus kesana dan memberikan kesaksian." Yu menatap Siena.


"Tentu Kak, tanpa di minta. Tapi bagaimana dengan putraku dan yang lain?" Siena menatap Helion sesaat.


Yu tertegun sesaat, "kalian pulanglah ke rumahku." Yu menatap Samuel dan yang lain bergantian.


"Tidak, di sana ada putrimu. Aku tidak mau membahayakan yang lain lagi." Siena keberatan dengan usul Yu.


"Tapi, dimanapun kalian berada tidak ada tempat yang aman, selama si Sam Hoi itu tidak di tangkap."


Siena terdiam, yang lain ikut diam. "Bagaimana kalau kami pulang saja ke Indonesia bersama Helion, selama kalian di persidangan?" usul Rei.


"Aku setuju, di sana lebih aman." Keenan ikut menimpali.


"Bagaimana Siena? usul mereka boleh juga," Yu mengalihkan pandangannya pada Siena yang masih terdiam.


"Aku setuju." Siena menganggukkan kepalanya.


"Baik, sekarang kita pulang ke rumahku. Sementara aku akan mengurus kepulangan kalian ke Indonesia besok pagi." Siena menganggukkan kepalanya, lalu mereka bersiap siap pulang ke rumah Yu


***


Keesolan paginya. Siena dan Yu bersiap siap untuk pergi ke pengadilan. Sementara Rei dan yang lain juga tengah bersiap siap pulang ke Indonesia keberangkatan pukul 9:20 pagi


"Sayang, kau jangan nakal ya. Nanti Ibu menyusul." Siena memeluk erat Helion dan menciumi wajahnya.


"Iya Ibu, bilang sama Ayah cepat pulang biar bisa main bola lagi." Helion tersenyum menatap wajah Siena.


"Tentu sayang." Siena memeluk erat tubuh Helion, lalu memberikannya pada Samuel. "Jaga dia dengan baik."


"Dengan nyawaku, Nona tidak perlu khawatir." Samuel mencium pipi Helion sekilas.


"Aku percaya, Rei dan kau Keenan. Titip putraku." Siena menoleh ke arah Keenan dan Rei.


"Siap!" jawab mereka serempak.


"Kakak Yu, kita berangkat."


Yu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar rumah mendahului Siena yang masih menciumi wajah Helion seolah olah tak mau berpisah sedikitpun. "Ibu sayang kamu."


"Aku juga sayang Ibu dan Ayah." Helion melambaikan tangannya pada Siena yang masih terpaku menatapnya. Lalu ia melangkahkan kakinya menyusul Yu.


Sepeninggal mereka, Samuel dan yang lain mulai berkemas dan bersiap siap untuk berangkat.


***


Persidanganpun di mulai, awalnya suasana persidangan terlihat biasa saja. Namun setelah Siena memberikan kesaksian yang memberatkan Sam Hoi membuat suasana persidangan menegang dan memanas. Pihak musuh terus membantah meski bukti bukti kuat memberatkannya. Namun Hakim sudah meneliti semua bukti bukti yang di berikan Marsya dan Yu, akhirnya persidangan itu berjalan alot.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, tapi di lain tempat Samuel dan yang lain sudah siap berangkat. Keenan menggendong Helion berjalan keluar rumah di susul yang lain dari belakang. Sesampainya di halaman rumah. Yeng Chen yang berada paling belakang melihat pergerakan mencurigakan. Seorang pria mengarahkan senjatanya pada Samuel yang tengah menggendong Helion.


"Awas!! Yeng Cheb menarik panel kursi roda menubruk Samuel hingga terjatuh bersama Helion.


" Dor! Dor!


Peluru melesat mengarah punggung Yeng Chen bersamaan ambruknya tubuh pria itu bersimbah darah. Samuel langsung bangun dan menggendong Helion bersembunyi di balik mobil. Akira menarik tubuh Yeng Chen bersembunyi bersama Samuel dan yang lain. Untungnya mereka punya persiapan senjata api.


"Yeng Chen!" Akira membalikkan tubuh Yeng Chen ke dalam pangkuannya. "Bertahanlah.." Akira air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Selamatkan Helion, aku sudah tidak kuat lagi. Mu, mungkin, sa sam, pai di, disini.." Yeng Chen tidak melanjutkan ucapannya, ia terkulai lemas matanya terpejam.


"Tidak!!" jerit Akira histeris lalu ia mengambil senjata api yang terselip di pinggangnya berlari ke arah musuh.


"Akira!" pekik Samuel.


"Dor ! Dor ! Dor!


Satu persatu musuh yang baru saja datang, langsung ambruk terkena peluru Akira. Wanita itu berguling guling menghindari peluru dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di halaman.


" Dor! Dor! Dor!


"Keenan, kau jaga Helion!" Samuel berdiri di balik mobil melindungi Akira dengan mengarahkan senjatanya pada musuh yang datang semakin banyak. Rei tidak mau tinggal diam, ia ikut membantu Samuel menghadapi musuh.


"Dor ! Dor ! Dor !


" Akira! pekik Samuel berlari ke arahnya sembari merunduk.


"Dor! Dor! Dor!


Satu persatu musuh ambruk akibat serangan Akira yang di liputi kesedihan dan amarah. " Akira, sebaiknya kau bawa Helion lebih dulu ke bandara. Kami menyusul!"


Akira menoleh ke arah Samuel lalu menganggukkan kepalanya. "Baik!"


"Dor! Dor! Dor!


" Keenan!" pekik Rei menoleh ke belakang punggung Keenan terkena peluru musuh. Rei berlari lalu menyeret tubuh Keenan bersembunyi di balik mobil. "Kau bertahanlah." Keenan melihat musuh lalu ia berdiri dan melindungi Rei dari peluru yang mengarah padanya. Keena tertembah di bahu dan punggungnya lagi. "Keenan!" Pekik Rei tak dapat lagi menahan emosinya melihat Keenan ambruk menimpa tubuh Rei.


Rei menggeser tubuh Keenan lalu ia berdiri tak perduli lagi nyawanya. Dengan kedua tangan memegang senjata api, ia menembaki musuh tanpa ampun.


"Dor! Dor! Dor!


"Aahhkkk!" Rei berteriak saat peluru bersarang di paha dan bahunya. Tubuhnya ambruk bersamaan dengan sebuah peluru melesat ke perutnya.


"Dor!"


"Rei!" pekik Samuel, ia berlari ke arah mobil lalu mengambil senjata api laras panjang. Ia arahkan pada semua musuh. Serangan tak terduga membuat mereka kewalahan. Satu persatu tumbang saling menyelamatkan satu sama lain. Namun akhirnya musuh menang telak. Namun pada akhirnya, meski sendirian Samuel berhasil mengalahkan mereka.


Seorang pria terakhir yang berhasil Samuel tembak, meraih senjata apinya tanpa sepengetahuan Samuel lalu menembakinya berkali kali. Tubuh Samuel berputar menghadap pria itu, sebelum tubuhnya ambruk bersamaan peluru terakhir ia lesatkan di kepala pria itu.


"Dor!


" Buggg!!


Tubuh Samuel ambruk, ia mengangkat wajahnya, pandangan matanya yang mulai memudar, menatap Rei dan Keenan yang tidak sadarkan diri. Ia berusaha merangkak mendekati mereka berdua.


"Bos, maafkan aku..aku tidak bisa melindungi keluarga kecilmu. Tapi setidaknya sesuai janjiku. Aku melindungi mereka dengan nyawaku," ucap Samuel dalam hati, perlahan matanya terpejam tak mampu lagi bergerak. Kesadarannya telah hilang.


Sementara itu, Akira yang tengah melajukan mobilnya. Tiba tiba dari arah berlawanan, mobil musuh datang dan mengarahkan senjatanya pada Akira.

__ADS_1


"Dor! dor! Peluru melesat menembus kaca mobil mengenai tepat di jantung Akira.


" Ahkk!


Akira berusaha menyeimbangkan laju mobilnya yang mulai tak seimbang. Melirik sesaat ke arah Helion yang menatapnya sedih. Anak laki laki itu tidak menangis sama sekali. Ia tersenyum menatap Akira dengan derai air mata.


"Brakkkk!!


Mobil yang Akira kendarai menabrak pohon besar di tepi jalan raya. Akira memejamkan matanya tak bernyawa lagi.


Mobil musuh terus menembaki hingga api mulai menyala perlahan dan membesar. Lalu mobil yang di kendarai musuh meninggalkan lokasi.


Helion yang berada di dalam mobil, keningnya terantuk mobil dan berdarah. Perlahan membuka sabuk pengaman yang ia kenakan.


***


Persidangan Kenzi meskipun alot tapi pada akhirnya berjalan lancar. Hakim mengetuk palu dan memutuskan kalau Kenzi tidak bersalah. Pihak musuh tidak terima dengan keputusan Hakim dan akhirnya terjadi kericuhan di ruang persidangan. Namun pada akhirnya pihak berwajib berhasil meredakan situasi yang memanas. Kenzi di bebaskan dan nama baiknya bersih di mata Hukum.


Di luar persidangan Kenzi memeluk erat Siena. Tak lupa Kenzi mengucapkan rasa terima kasih pada Marsya dan Yu yang telah bekerja keras untuk kebebasannya. Lalu mereka bergegas pulang ke rumah Yu untuk menyusul mereka pulang ke Indonesia. Di ikuti Marsya dari belakang menggunakan kendaraan lain. Namun sesampainya di rumah Yu. Mereka di kejutkan dengan mayat yang bergelimpangan. Marsya langsung menelpon pihak kepolisian.


"Rei! Keenan! Siena menjerit menghampiri tubuh mereka berdua yang sudah tak sadarkan diri.


" Helion, sayang..Helion di mana! pekik Siena berlari ke sana kemari mencari Helikn namun Siena dan Kenzi tidak menemukannya.


"Putraku, di mana dia!" Siena menjerit histeris tidak menemukan putranya. Kenzi terdiam tidak dapat berkata apa apa lagi.


"Akira tidak ada, kemungkinan Helion di bawa Akira." Yu menjelaskan pada Siena dan Kenzi.


"Sayang, kita cari Helion!" Siena mencengkram kerah baju Kenzi.


"Iya sayang, ayo." Kenzi memapah tubuh Siena.


"Tak jauh dari dari sini, ada mobil kebakaran!" seru Marsya.


"Helion! Siena langsung masuk ke dalam mobil bersama Kenzi mengikuti petunjuk Marsya. Sementara Yu dan Marsya mengangkat tubuh Rei dan Keenan juga Samuel untuk di bawa ke rumah sakit. Dari jauh terdengar sirine Mobil kepolisian datang ke lokasi.


***


Sementara itu Helion yang berusaha keluar dari dalam mobil, akhirnya membuahkan hasil. Ia merangkak menjauh dari mobil yang mulai terbakar. " Kakak Akira.." ucap Helion lirih menatap mobil yang mulai di lalap api. Tak lama terdengar suara ledakan dahsyat dari mobil yang terbakar. Helion kembalu merangkak hingga di tepi jalan raya tak sadarkan diri.


Kebetulan sebuah mobil melintas di area tersebut lalu berhenti tepat di samping tubuh Helion yang tak sadarkan diri. Seorang pria membukakan pintu mobil. Dari dalam mobil seorang pria paruh baya keluar lalu jongkok di hadapan tubuh Helio, ia melirik ke arah mobil yang terbakar.


"Tuan, sepertinya anak ini mengalami kecelakan. Mobilnya terbakar, aku kira tidak mungkin ada yang selamat." Pria itu membungkuk hormat.


"Kau benar, dan anak ini sendirian. Kebetulan sekali, aku tidak memiliki putra. Bagaimana kalau anak ini kita bawa pulang. Kita rawat dan besarkan?"


"Aku setuju tuan." Pria itu kembali membungkuk.


Kemudian pria setengah baya itu mengangkat tubuh Helion dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Kita pergi."


"Baik tuan." Kemudian mereka meninggalkan lokasi dan membawa serta Helion.


Selang 10 menit. Mobil Kenzi dan Siena berhenti tepat di mana Helion di bawa. Siena langsung keluar dari pintu mobil dan berlari menghampiri mobil yang sudah terbakar habis.


"Putrakuuu..!!!


"Sayang!" pekik Kenzi menarik tangan Siena dan memeluknya erat.


"Lepaskan aku! Helioonn!! jerit Siena histeris menatap mobil yang sudah habis di lalap api. Siena terkulai lemas dan jatuh pingsan. Tidak kuat menahan rasa sakit di dadanya. Ia mengira Helion terbakar di dalam mobil bersama Akira.

__ADS_1


" Sayang.." Kenzi memeluk tubuh Siena erat, lututnya gemetar, bibirnya mengatup. Kenzi menjatuhkan tubuhnya bersama Siena dalam pelukan. Ia menangis tersedu sedu, memeluk Siena.


"Ya Tuhan!!" pekik Kenzi menatap langit dengan derai air mata. Ia telah kehilangan sinar matahari dalam hatinya.


__ADS_2