The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 109: Just Siena


__ADS_3

Satu minggu berlalu kepergian Kenzi, namun sampai lewat satu hari Kenzi belum datang juga. Membuat Siena semakin gelisah, seharian ia tidak keluar kamar memikirkan Kenzi. Surya berkali kali menenangkan putrinya, tapi usahanya gagal. Berkali kali Siena mengutarakan keinginannya untuk menyusul Kenzi, tapi Surya berhasil mencegahnya.


Siena berdiri di balkon kamar memperhatikan Helion tengah bermain dengan Surya di taman rumah. Semenjak Livian di penjara, Siena merasa lega dan tidak khawatir lagi. Ia mengizinkan Helion bermain di taman rumah.


Berkali kali Siena mendesah gusar, memijit pelipisnya. "Kenapa sampai sekarang kau belum pulang juga," ucap Siena pelan.


"Apa kau merindukanku?"


Siena matanya melebar saat seseorang menyapanya dari belakang. Suara berat tapi lembut, khas Kenzi kalau bicara. Siena langsung balik badan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kenzi yang tengah ia nantikan sudah berdiri di hadapannya tanpa kurang satu apapun.


"Sayaaang!" pekik Siena langsung menubruk tubuh Kenzi dan memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu."


Kenzi membalas pelukan Siena, ia tertawa kecil lalu mencium puncak kepala Siena. Menghirup aroma tubuh Siena dalam dalam.


"Apa kau baik baik saja selama aku tidak ada?" tanya Kenzi melepaskan pelukannya. Lalu duduk di kursi sementara Siena duduk di pangkuan Kenzi.


"Semua baik baik saja." Siena tersenyum memperhatikan wajah Kenzi yang terlihat lelah.


"Aku dengar Livian datang kesini?" tanya Kenzi sembari menyelipkan rambut di telinga Siena.


"Iya kau benar." Siena menceritakan kejadian tiga hari lalu. Namun ia tidak mengatakan apa yang di ucapkan Livian padanya. Siena tidak ingin membuat suasana hati Kenzi menjadi tidak nyaman.


"Dia memang pantas mendapatkan balasan atas perbuatannya sendiri."


Siena menganggukkan kepala, "sayang, tentu kau lelah. Lebih baik kau istirahat dulu." Siena turun dari pangkuan Kenzi.


"Ya, aku lelah. Tapi lelahku hilang, kalau kau mau memenuhi janjimu padaku." Kenzi tertawa kecil menatap Siena yang menatap horor padanya.


"Tidak, kau harus istirahat." Siena menarik tangan Kenzi.


"Baik, tapi kau harus temani aku." Kenzi berdiri dan berbisik di telinga Siena. "Aku menginginkanmu sekarang."

__ADS_1


Siena tertawa kecil, lalu menarik tangan Kenzi masuk ke dalam kamar.


***


"Kemana Bos! tanya Samuel melirik ke arah Kenzi yang duduk dimobil di sebelahnya.


"Ke kantor Polisi," jawab Kenzi datar. Tatapannya lurus ke depan.


"Baik!" Samuel langsung melajukan mobilnya. Dia tidak berani mengeluarkan sepatah katapun sepanjang jalan. Melihat raut wajah Kenzi yang terlihat sedang marah. Entah apa yang membuat Kenzi terganggu.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di halaman Kantor Kepolisian. Kebetulan sekali mereka bertemu dengan Marsya.


"Kenzi!" sapa Marsya.


"Kau disini?" Kenzi mengulurkan tangan membalas jabatan tangan Marsya.


"Ya, aku sedang memproses Livian." Marsya berjalan memasuki kantor polisi bersama Kenzi. Swmentara Samuel menunggu di luar.


Mereka berjalan memasuki ruang interogasi. Marsya membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Kenzi untuk masuk ke dalam ruangan. Nampak Livian duduk di kursi tersenyum sinis menatap ke arah Kenzi yang duduk di kursi berhadapan dengannya.


"Bagaiman Livian? apa kau berani mengganggu istriku lagi?"


Livian tersenyum menyeringai menatap Kenzi benci. "Tentu, suatu hari nanti. Aku pasti merebutnya dari tanganmu."


"Kurang ajar!! Kenzi berdiri dan mencengkram kerah baju Livian.


Marsya yang berdiri di samping Kenzi langsung menarik tangan Kenzi. " Tenanglah, dia tidak akan bisa mengganggu kalian lagi!"


"Manusia macam dia, memang pantas mati!" Kenzi semakin geram menatap wajah Livian yang memancing emosinya.


"Kenzi, tenanglah!" ucap Marsya menarik paksa tangan Kenzi supaya menjauh dari Livian. "Aku minta kau datang kesini untuk memberikan keterangan."

__ADS_1


Dengan tatapan tajam ke arah Livian yang tertawa terkekeh, perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya namun sebelum itu ia melayangkan tinju ke wajah Livian.


"Bukk! Dari sudut bibir Livian menetes darah segar. Ia hanya tertawa mencemooh menatap tajam Kenzi.


"Kenzi cukup! pekik Marsya.


Kenzi kembali duduk, " kalau bukan di sini, sudah kuhabisi kau!"


"Aku mencintai Siena, dan aku ingin memilikinya!" seru Livian sengaja memancing emosi Kenzi.


Kenzi berdiri dan mendorong tubuh Marsya. Ia langsung mendekati Livian dan meninju wajahnya berkali kali. Hingga akhirnya dua anggota Polisi masuk menarik tubuh Kenzi untuk keluar dari ruangan. "Anda jangan buat keributan, atau kami tangkap!" ucap salah satu anggota Polisi.


Kenzi berusaha berontak, namun Polisi berhasil menyeret paksa Kenzi keluar ruangan. Di luar ruangan kedua Polisi melepaskan Kenzi dan memintanya untuk memberikan keterangan tentang Livian. Dengan sangat terpaksa, Kenzi menuruti mereka dan menyelesaikan urusannya di kantor Polisi. Setelah semua selesai ia di persilahkan untuk pulang.


"Bos!"


Kenzi hanya diam saja saat Samuel membukakan pintu mobil, lalu ia masuk dan duduk di dalam mobil dengan perasaan dongkol. Samuel hanya melirik sesaat ke arah Kenzi lalu melajukan mobilnya meninggalkan kantor Polisi.


Kenzi menyandarkan tubuhnya di kursi mobil dengan mata terpejam. Masih hangat dalam ingatannya saat di Taiwan. Ia memang berhasil memenangkan pertandingan itu dan membuktikan pada semuanya kalau dia tak terkalahkan dalam permainan. Tapi di balik pertandingan itu, Dany Tan tidak hanya sekedar ingin mengungguli Kenzi. Dia juga bekerjasama dengan Livian untuk menjauhkannya dari Siena. Beruntung ia mengajak Yu, dengan adanya sahabatnya itu. Kenzi berhasil melewati penyerangan penyerangan tak terduga dari Dany Tan. Kini Dany Tan tidak akan mengganggunya lagi. Ia mati di tangan Yu.


Kenzi tidak menyangka jika Livian menginginkan Siena juga. Kata kata Livian terdengar berputar putar di telinganya bagaikan kaset yang kusut.


'Jika Dia tidak bisa memiliki Siena, maka Kenzi pun tidak boleh memiliki Siena. Lebih baik aku membunuh Siena.'


Tak lama mereka telah sampai di halaman rumah. Perlahan ia membuka matanya, lalu membuka pintu mobil. Kenzi tersenyum lebar saat melihat Siena sudah menunggunya sambil menggendong Helion. Ia berjalan mendekati Siena. "Tidak kuizinkan siapapun menyentuh istriku," ucap Kenzi dalam hati.


"Hai sayang, hai jagoan Ayah!" Kenzi mengangkat tubuh Helion lalu menggendongnya. "Ayo masuk." Ia merangkul bahu Siena masuk ke dalam rumah.


"Sudah selesai urusanmu?" tanya Siena di sela sela langkahnya menuju kamar.


Kenzi melirik sesaat ke arah Siena lalu menganggukkan kepala. "Iya sayang, saatnya kita bermain bersama jagoanku!" Kenzi mencium hidung Helion dengan gemas. Membuat anak itu tertawa terkekeh.

__ADS_1


"Kau masuk duluan, biar aku buatkan kau kopi." Siena berbalik arah menuju dapur. Sementara Kenzi masuk ke dalam kamar bersama Helion.


"Dia kenapa? seperti ada yang di pikirkan? tapi apalagi? bukankah semua sudah selesai?" gumam Siena.


__ADS_2