The Mafia Bride

The Mafia Bride
.Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Saat mereka tengah menikmati makan malam. Seorang penjaga rumah masuk ke ruangan dan memberitahu Siena kalau di depan ada Miko.


"Ada keperluan apa dia ke sini?" ucap Siena pelan.


Jiro menoleh ke arah Zoya sesaat. "Biarkan dia masuk."


"Baik Tuan."


"Siapa Miko?" tanya Ryu, berpura pura tidak tahu.


"Teman kakakmu," sahut Siena.


"Malam semuanya," sapa Miko menundukkan kepalanya sesaat.


Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Miko, hanya Siena saja yang terlihat cuek. "Duduklah,"


"Terima kasih, Tante." Miko langsung duduk di sebelah Jiro.


"Hei, kenalkan. Namaku Ryu." Ryu berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Miko." Gadis itu menjabat tangan Ryu menyebutkan namanya. "Kau, adiknya Jiro bukan?" tanyanya.


Ryu menganggukkan kepalanya, "ya , kau benar." Ryu memperhatikan wajah Miko dengan seksama lalu tersenyum sinis. Pandangannya ia alihkan pada Zoya yang hanya menundukkan kepala sambil meng-aduk aduk makanan. Lalu beralih menatap Jiro yang terlihat datar datar saja.


"Hei, kau Miko. Ada apa datang ke sini?" tanya Ryu cuek sambil mengunyah makanan.


"Aku mau ketemu Jiro," sahut Miko melirik ke arah Jiro yang terlihat biasa saja.


"Sekarang sudah ketemu kakakku, cepat katakan ada apa?" ucap Ryu.


"Ryu, sayang. Kau tidak boleh begitu," sela Siena tersenyum menatap putra bungsunya. Lalu ia berdiri menyiapkan makan malam untuk Miko.


"Aku hanya mewakili kakak, Bu. Dari pada dia cuma bisa diam?" timpal Ryu tertawa kecil.


Siena menggelengkan kepalanya menatap Ryu sekilas. "Kalian habiskan makan malamnya, Ibu tinggal dulu sebentar."


Siena melangkah keluar meninggalkan kedua putranya dan dua gadis itu untuk bincang bincang. Sementara dia sendiri duduk di kursi teras rumah. Menunggu kedatangan Kenzi dengan sangat gelisah. Sesekali ia melirik jam tangannya. Siena mendesah gusar, sampai detik ini tidak ada tanda tanda Kenzi pulang.


Sementara di meja makan terjadi perang dingin diantara Jiro dan yang lain. Pasalnya Ryu tidak suka dengan Miko. Ia merasa kalau Miko bukanlah wanita normal, saat Ryu berjabat tangan dengan Miko, dan memperhatikan kulit dan bentuk wajah Miko. Ia mendapati suatu yang ganjal. Karakter Ryu yang cuek dan selenge-an masih terbawa meskipun ia sudah mendapat gelar Dokter.


"Miko atau Niko?" tanya Ryu menatap lekat wajah Miko.


"Apa maksudmu? kau pikir aku laki laki?" Miko balik bertanya, dan merasa tersinggung dengan ucapan Ryu.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Ryu." Jiro membela Miko.


"Loh kakak? aku hanya sekedar bertanya, ya bilang saja bukan. Beres kan?" sahut Ryu dengan santai.


"Tapi tidak begitu juga, pertanyaanmu." Jiro masih membela Miko.


"Ah kakak ini terlalu serius," Ryu meletakkan sendok di atas piring menoleh ke arah Zoya yang hanya diam saja. "Kau Zoya, kau mirip laki laki! seru Ryu.


Zoya tengadahkan wajahnya menatap horor Ryu. " Bodo amat!"


"Tuh lihat," tunjuk Ryu pada Zoya. "Dia saja santai, karena dia tidak merasa laki laki. Kalau memang si Miko bukan laki laki. Kenapa harus marah?"


"Brakk!


Jiro berdiri sambil menggebrak meja, menatap marah pada Ryu. " Kenapa kau tidak bisa diam!"


Ryu tersenyum, lalu berdiri membalas tatapan Jiro dengan santai.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu dia lagi." Ryu mengalihkan pandangannya pada Zoya, lalu menarik tangan gadis itu untuk berdiri. "Ayo, temani aku jalan jalan. Sudah lama tidak jalan bareng kau lagi."


"Boleh," sahut Zoya.


"Tidak! kau tidak boleh pergi tanpa seizinku." Jiro melangkah lalu menepis tangan Jiro supaya menjauh dari Zoya.


"Zoya, biar aku antar kau pulang." Jiro menarik tangan Zoya.


"Tidak, aku mau menunggu Papa di sini." Zoya menepis tangan Jiro. "Kau antar Miko pulang saja."


"Apa yang di katakan Zoya benar, lebih baik kau antar aku pulang. Dan biarkan mereka melepas rindu." Miko merasa memiliki celah untuk menjauhkan Jiro dari Zoya, dan membenci adiknya sendiri.


"Hei Niko!" seru Ryu.


"Miko! aku bukan Niko!" balas Miko geram.


"Ya terserah kau, aku maunya panggil kau Niko." Ryu semakin membuat Miko marah.


"Ayo kita pergi! Miko menarik tangan Jiro, lalu mereka melangkahkan kakinya. Bersamaan dengan Siena berlari masuk ke ruang kerja Kenzi. Membuat Jiro menghentikan langkahnya sesaat, tapi Miko terus menarik paksa tangan Jiro. Akhirnya mau tidak mau, Jiro menuruti apa mau Miko.


"Ryu, ada apa dengan Tante? ayo kita kesana!" Zoya menarik tangan Ryu menyusul Siena.


"Ibu, ada apa?" tanya Ryu menatap ke arah Siena yang tengah membuka kotak besar di bawah meja.


"Tangkap!" Siena melemparkan senjata api ke arah Ryu lalu ia melemparkannya satu lagi ke arah Zoya. "Tangkap nak!"

__ADS_1


"Ada apa Bu?" tanya Ryu menatap bingung Siena.


"Mana Jiro?" Siena berdiri sambil menarik pelatuk senjatanya.


"Pergi bersama Miko."


"Anak itu susah di bilangin," gerutu Siena. Lalu ia meyelipkan senjatanya di balik pinggang. Menarik tangan Zoya dan Ryu.


"Ada apa Bu?" di tengah kebingungan Ryu dan Zoya, mereka mengikuti langkah Siena. Namun dari arah pintu dan samping rumah terdengar suara peluru menghantam jendela kaca rumah.


"Dor! Dor! Dor!!


" Prankkk!!!


Siena langsung mengarahkan senjatanya pada musuh, di bantu Zoya yang memang sudah mahir. Sementara Ryu hanya bisa celingukan tanpa tahu bagaimana menggunakan senjata apinya. Ia hanya bisa mengikuti perintah Zoya. Di suruh merunduk dan sembunyi, Ryu ngikut saja dari pada celaka.


Sepintas mata, Siena melihat seorang pria hendak meledakkan rumahnya. Tanpa menunggu rumahnya meledak, ia langsung mengarahkan senjatanya pada pria itu. Dan pria itu tewas bersamaan dengan ledakan terdengar sangat keras. Zoya menarik tangan Ryu meloncat ke jendela yang sudah rusak lalu berguling dan berlari menghindari ledakan berikutnya. Begitu juga dengan Siena, ia berhasil menyelamatkan diri.


Mereka terduduk melihat rumahnya terbakar, sementara musuh ikut meledak bersama rumah Siena. Mata wanita itu berkaca kaca menatap rumahnya yang terbakar, ia menangis karena kesal dan merasa sudah lelah dengan semua itu. Dari arah lain Kenzi dan Adelfo yang dalam keadaan terluka berlari menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Kenzi menatap mereka satu persatu. Adelfo langsung memeluk putrinya.


"Kita pulang ke Indonesia!" pekik Siena melempar senjata apinya ke tanah menatap kesal pada Kenzi.


"Apa maksudmu?" Kenzi tidak mengerti mengapa Siena bisa sehisteris itu.


"Aku lelah dengan semua ini! mulai besok kita pulang ke Indonesia dan aku tidak perduli lagi dengan semua ini, kau ikut bersamaku dan anak anak atau tidak sama sekali itu terserah kau!"


"Ibu.." Ryu merangkul bahu Siena dan memeluknya. "Aku ikut apa kata Ibu."


Kenzi terdiam menatap Siena, ia mengerti mengapa Siena seperti itu. Sesaat Kenzi terdiam. "Baiklah, jika itu yang terbaik. Kita semua pulang."


Adelfo berjalan mendekati mereka. "Aku rasa keputusan Nyonya Siena benar."


Kenzi menghela napas panjang menatap jengah Adelfo. Apapun yang di katakan Siena, tentu saja Adelfo akan selalu setuju.


"Bagaimana denganmu dan putrimu?" tanya Kenzi.


"Hmm, mudah. Putriku bisa pulang ke Negaraku. Di sana lebih aman, sementara aku, tetap di sini. Kau tidak perlu khawatirkan aku."


"Baiklah, sayang. Kau jangan menangis lagi, kita pulang semuanya. Tapi di mana Jiro?"


Siena melirik ke arah Ryu dan Zoya. "Aku tidak tahu, dia pergi bersama gadis itu."

__ADS_1


"Miko?" Kenzi menghela napas gusar. Lalu ia memutuskan untuk mencari Jiro supaya berkumpul bersama mereka. Dan membawanya pulang, suka atau tidak.


__ADS_2