The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 78: Justice for Siena


__ADS_3

Kenzi terbaring di atas tempat tidur, memperhatikan setiap sudut ruangan. Hanya ada warna putih di kamar rumah sakit. Terlalu putih untuk Kenzi yang selalu hidup dalam berbagai warna. Keemasan untuk kejayaan, merah untuk kekuatan, hitam untuk ketakutan yang menaklukan. Warna putih terlalu mencekam untuknya. Ternyata semua yang gemerlap di Outfit tak mampu menyelamatkannya, semua sia sia. Bahkan ia tak mampu menyelamatkan satu satunya wanita yang ia cintai, Siena.


"Bagaimana Kenzi?" tanya Marsya seraya menyodorkan sebuah dokumen pada Kenzi, tangannya memegang sebuah pena.


Kenzi menatap opsir Polisi yang mengajaknya bekerjasama, Marsya. Polisi itu menginginkan Kenzi untuk menjadi Justice Collaborator.


Kenzi bangun dan menatap dokumen berwarna coklat di hadapannya, lalu beralih menatap Marsya. "Tapi ada tiga persyaratan yang harus kau lakukan."


Marsya terdiam sesaat, ia mengangguk cepat. Demi untuk menangkap organisasi kriminal terbesar yang selama ini bagaikan terkubur dalam dalam di kota itu, berkembang biak menjadi lebih besar lagi. "Baik, sebutkan."


"Bebaskan Samuel, kembalikan dua sahabat istriku ke Negaranya dan jangan lakukan apapun tanpa perintahku."


Marsya tertegun mendengar persyaratan yang Kenzi sebutkan, ia tepuk berkali kali pipinya sendiri dengan jari telunjuk. "Baik, aku setuju." Marsya menyodorkan pena ke arah Kenzi.


Kenzi menarik napas panjang, perlahan ia mengambil pena di tangan Marsya untuk menandatangani kesepakatan sebagai Justice Kollaborator.


"Maafkan aku Bos, bukan maksudku mengkhianatimu," ucap Kenzi dalam hati. "Tapi kau telah tega ingin membunuh cintaku, aku hanya mengembalikan keadilan atas kekejianmu."


***


Samuel memakai jaketnya saat penjaga membuka pintu gerbang tahanan. "Sudah kubilang, aku tidak bersalah." Samuel menepuk bahu penjaga tahanan. Lalu masuk ke dalam mobil.


"Apa kabar Bos," tanya Samuel menatap ke arah Kenzi. "Kita kemana?"


"Menemui bos besar." Kenzi menatap lurus kedepan, lalu melajukan mobilnya. Samuel diam tidak bertanya lagi sampai akhirnya mereka sampai di halaman Mansion yang cukup luas. Mereka keluar dari pintu mobil, langsung memasuki Mansion menemui bos besar di ruangannya.

__ADS_1


Bos besar duduk di sofa berwarna merah dengan dua wanita di sampingnya di kelilingi anak buahnya. Sementara Livian hanya diam menatap benci ke arah Kenzi. Bos besar menurunkan kakinya saat menyadari kedatangan pria yang ia percaya. Ia mengangkat tangannya meminta dua wanita yang duduk di sebelahnya untuk pergi. 'Apa kabarmu, Kenzi."


Kenzi mendengus, lalu ia duduk di kursi berhadapan dengan bos besar. Sementara Samuel berdiri di sampingnya. Ia menatap waspada pada dua pria yang menginginkan nyawa Siena. "Di mana istriku?"


Livian tertawa kecil, ia membungkukkan badan mengambil gelas wiski di atas meja. "Tenanglah Kenzi, istrimu aman."


Kenzi mengalihkan pandangannya ke arah Livian yang tengah menyecap minumannya perlahan. "Bagaimana dengan perjanjian yang kami tawarkan?" Livian meletakkan gelas wiski di atas meja.


Kenzi menatap tajam Livian, lalu beralih menatap Bos besar yang tengah menhisap cerutu. Gigi Kenzi gemelutuk, rahangnya mengatup menahan amarah. "Mana istriku." Tegas Kenzi. Bukan hal yang mustahil jika mereka hendak menjebak dan menyingkirkan Siena.


Bos besar tersenyum sinis, ia selipkan cerutu di sudut bibirnya, ia menepuk tangannya sendiri memberikan kode pada Mira yang berdiri di belakangnya untuk membawa Siena ke hadapan Kenzi. Tanpa menunggu kata kata dari Bos besar, Mira berlalu dari ruangan menemui Siena.


"Bagaimana dengan perjanjiannya?" Livian menyodorkan kertas perjanjian di atas meja berikut pena.


Kenzi menarik napas dalam dalam, sesaat memperhatikan kertas dan pena di atas meja. Matanya melirik ke arah Livian dan Bos besar. Setidaknya bos besar bisa Kenzi percaya di banding Livian. Mereka menginginkan pria itu menandatangani kesepakatan kerjasama seumur hidup Kenzi. Siena akan di kembalilan dengan Syarat, ia harus tetap bekerja di organisasi itu. Jika berkhianat mereka akan menyingkarkan Siena dan orang orang terdekat gadis itu.


Kenzi langsung berdiri dari kursi menyambut Siena memeluknya erat. "Aku tahu kau akan menjemputku." Gadis itu benamkan wajahnya di dada Kenzi, mendengarkan kata rindu yang Kenzi ucapkan.


Livian memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat mereka berdua. Sementara Bos besar tersenyum memperhatikan mereka berdua, akhirnya Kenzi bisa kembali lagi dalam jeratnya, yang akan menghasilkan jutaan dolar untuk Outfit.


Kenzi melepaskan pelukannya, ia mencium puncak kepala Sisna berkali kali, hingga akhirnya ia menyetujui kesepakatan yang di berikan bos besar. Kenzi mendekap erat bahu Siena, ia menatap tajam bos besar. "Aku setuju dengan perjanjian kalian."


Bos besar tertawa terbahak bahak, dan dia menang. "Kau tandatangani saja."


Siena mencengkram lengan Kenzi, ia tidak menyetujui tindalan Kenzi. "Jangan lagi kau korbankan nyawamu untukku."

__ADS_1


Kenzi menatap Siena yang menggelengkan kepala, "kau tidak perlu khawatir." Kenzi berjalan duduk di kursi, sementara Siena ia berikan pada Samuel untuk menjaganya.


"Tanda tangan!" perintah Livian.


Kenzi mengambil kertas perjanjian kontrak, lalu membacanya. Matanya melirik ke arah Bos besar dan Livian. Tangannya gemetar mengambil pena di atas meja. Untuk kedua kalinya ia harus mempertaruhkan dirinya demi Siena. Ia mulai menandatangi perjanjian yang kedua setelah melakukan perjanjian dengan pihak kepolisian.


"Aku pegang janjimu." Kenzi meletakkan pena dan kertas, setelah ia tandatangani.


Bos besar tertawa terbahak bahak, tangannya mengambil kertas di atas meja. Melihat hasil tandatangan Kenzi, lalu ia berikan pada Livian yang terlihat kesal dan merasa tidak di butuhkan Bos besar.


Kenzi berdiri, ia menarik tangan Siena. "Kita pulang." Siena menganggukkan kepala, tangannya mencengkram lengan Kenzi.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Kenzi menatap gadis itu, jelas terlihat raut wajah ketakutan.


Siena lagi lagi mengangguk cepat. "Aku baik baik saja, ayo kita pulang."


Kenzi mengangguk, sesaat ia memalingkan wajahnya menatap Bos besar yang mengangkat tangannya sebagai tanda ia mengizinkan Kenzi membawa pergi Siena.


Kenzi mendekap bahu Siena, lalu mereka meninggalkan Mansion. Kenzi sedikit lebih lega melihat Siena dalam keadaan baik baik saja.


"Bos." Samuel menatap tajam Kenzi dari arah spion dalam mobil, ia ingin tahu kepastian perjanjian yang telah Kenzi sepakati baru saja. Ia tidak mengerti dengan pria yang selama ini selalu berbuat sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Tapi kini pria itu telah berubah jauh dari Kenzi yang dulu sebelum membawa gadis itu dalam kehidupannya.


Kenzi mengangguk cepat, lalu kembali memeluk Siena dan mencium puncak kepala gadis itu berkali kali. "Kita pergi Sam!"


Samuel mengangguk cepat, ia melajukan mobilnya meninggalkan Mansion. "Apa kau mau mengacaukan kartel dari dalam?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Tentu kau tahu." Kenzi tersenyum samar menatap wajah Siena. Tidak masalah jika ia harus kehilangan nyawa demi wanita yang ia cintai. Diam diam Siena mengagumi dan mengakui kalau dirinya mulai mencintai pria yang tengah memeluknya erat.


__ADS_2