The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Gejolak darah muda dalam diri Zoya semakin menggebu ingin memiliki Jiro. Ia merasa Miko sulit untuk di kalahkan apalagi di jauhkan dari Jiro. Setiap hari Zoya hanya bisa marah marah pada anak buahnya.


Adelfo merasa khawatir dengan putri kesayangannya. Ia berusaha mendatangkan dan memperkenalkan beberapa pria putra teman temannya. Namun tidak ada satupun yang membuatnya tertarik selain Jiro. Memang Adelfo akui, jika Zoya keras kepala dan manja. Tapi Zoya memiliki sifat yang berbeda dengan Adelfo. Gadis itu memiliki sifat lembut dan penyayang. Hanya saja, keras kepala dan manja lebih mendominasi.


"Papa punya informasi bagus, kau akan suka Nak." Adelfo duduk di sofa menatap putrinya yang tengah murung.


"Katakan.." ucapnya pelan.


"Kau bisa menjauhkan gadis itu dari Jiro. Pergunakan informasi dari Papa."


"Oya? katakan Pa.." Zoya berdiri lalu berjalan mendekat, duduk di samping Adelfo.


Adelfo tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ditelinga Zoya. Ia membisikkan informasi itu. Mata Zoya melebar, menatap Adelfo lalu tersenyum lebar.


"Wahhh! Papa memang the best!" seru Zoya sembari memeluk Adelfo erat.


Adelfo tersenyum lebar. "Semoga berhasil nak, jika tidak. Nanti Papa yang akan bertindak."


Zoya tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya. "Makasih Pa."


Gadis itu berdiri, lalu melangkahkan kakinya untuk menjalankan misi dari Adelfo. Pria itu hanya diam memperhatikan putrinya yang kembali ceria. "Sebenaranya aku menyukai Siena, tapi demi putriku. Biar aku tahan perasaanku," gumam Adelfo pelan.


****


Sementara di tempat lain, Miko segera meluncur ke tempat yang sudah di janjikan Zoya. Setelah salah satu anak buah Zoya menyampaikan pesan untuk pertemuan mereka berdua.


Tak butuh waktu lama, Miko telah sampai di sebuah taman. Nampak Zoya sudah menunggunya dengan pengawalan ketat. Miko meletakkan helmnya di atas motor, lalu turun dari atas tempat tidur. Gadis itu terpaku sesaat menatap ke arah Zoya. Lalu melangkahkan kakinya mendekati Zoya yang duduk di bangku taman.


"Apa kau mau mengajakku duel lagi?" tanya Miko berdiri di hadapan Zoya.


Gadis itu tengadahkan wajah menatap Miko, tersenyum lebar. Lalu berdiri menyentuh pundak Miko. "Hei, ayolah. Aku hanya ingin bicara denganmu."


Miko menoleh menatap tangan Zoya di pundaknya sesaat, kemudian gadis itu menepisnya. "Tidak perlu basa basi, katakan ada apa?"


"Oke, duduklah." Zoya kembali duduk. Menatap Miko. "Kau sedang mencari siapa pembunuh Ayahmu, bukan?"


"Apa maksudmu?" Miko memicingkan matanya menatap Zoya penuh selidik.

__ADS_1


Zoya tersenyum lebar menepuk bangku taman. "Duduklah."


Awalnya Miko ragu, tapi rasa penasaran di hatinya. Akhirnya gadis itu duduk di sebelah Zoya. "Katakan, jangan berbelit belit."


Zoya tersenyum lebar, kemudian gadis itu mengatakan apa yang di jelaskan Adelfo tadi pagi. "Yang membunuh Ayahmu, Kenzi."


Miko mendengus kesal, lalu mencengkram kerah baju Zoya. "Kau jangan asal bicara, kau pikir aku percaya?" ucap Miko geram.


"Hei, santai! Zoya melepaskan cengkraman tangan Miko. " Kau boleh tidak percaya. Tapi silahkan kau tanyakan pada Jiro. Jika aku salah, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi."


Miko menatap tajam Zoya, benarkah yang di katakan gadis itu? benarkah Kenzi yang membunuh Hernet?


"Jika kau terbukti berbohong, aku tidak segan segan melenyapkanmu!" ancam Miko menunjuk wajah Zoya.


Gadis itu hanya mengangkat bahu, memajukan bibirnya. "Oke."


Zoya tersenyum lebar, ia menggosok gosokkan telapak tangannya. "Beres!" tersenyum lebar menatap punggung Miko yang berlalu begitu saja tanpa bicara lagi.


"Ayo kita pulang!" Zoya memberikan perintah pada anak buahnya.


***


Sesampainya di rumah Jiro. Gadis itu langsung menghampiri Kenzi, Siena dan Jiro yang kebetulan tengah berkumpul untuk membicarakan tengtang niat Jiro melamar Miko. Melihat kedatangan Miko, Siena dan Kenzi langsung berdiri menghampiri gadis itu.


"Miko, kebetulan sekali Nak. Kami baru saja hendak ke rumahmu." Siena tersenyum menatap wajah Miko tanpa ekspresi. Jiro yang masih duduk, berdiri mendekati Miko saat melihat sikap Miko yang tak biasa.


"Ada apa?" tanya Jiro.


Namun gadis itu hanya diam menatap tajam Kenzi. Ia mengeluarkan senjata apinya dari balik pinggang, lalu di arahkan pada Kenzi.


"Katakan, apa kau yang membunuh Ayahku?"


Kenzi dan yang lain terhenyak mendapat pertanyaan dari Miko. Pria itu sudah menduganya hal ini akan terjadi. Dengan santai, Kenzi maju selangkah lebih dekat dengan Miko.


"Benar, aku yang membunuh Ayahmu."


Mata Miko melebar, menatap marah pada Kenzi. "Apa salah ayahku? kenapa kau membunuhnya! teriak Miko marah. Gadis itu menarik pelatuknya. " Nyawa harus di bayar dengan nyawa!"

__ADS_1


"Tidak!" Jiro berjalan dan berdiri di tengah antara Miko dan Kenzi. "Kalau kau ingin membunuh Ayahku, langkahi dulu mayatku."


"Jangan halangi aku." Miko menatap tajam Jiro.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kau membunuh ayahku!"


"Diam! aku tidak ingin melukaimu Jiro!" pekik Miko tangannya gemetar.


Siena maju lalu menarik tangan Jiro supaya menjauh, membuat Jiro tidak mengerti dengan sikap Siena. "Kemarilah Nak."


"Tapi Bu?"


Siena tersenyum menatap Miko. "Kalau kau ingin membunuh suamiku, lakukan. Jika dengan kematian suamiki, dendammu terbalaskan lakukan Nak. Ibu tidak akan mencegahmu." Siena berdiri di belakang Miko.


"Tapi sebelum kau membunuh suamiku, dengarkan Ibu baik baik."


Siena menghela napas dalam dalam, lalu ia menceritakan garis besar kenapa Kenzi membunuh Hernet.


"Kami sudah kehilangan banyak anggota keluarga, Papaku, Akira, Yeng Chen."


Miko terdiam, mendengar suara isak tangis Siena dari belakang. "Bukan hanya kau yang kehilangan Papamu, tapi kami juga. Sampai kami harus berpisah dengan Jiro selama dua puluh tahun lamanya. Semua itu karena Ayahmu. Kau boleh tidak mempercayai Ibu. Taoi di keluargaku, kejujuran adalah hal utama." Siena menjelaskan dengan panjang lebar. Lalu ia berjalan mendekati Jiro menatap Miko yang masih mengarahkan senjatanya pada Kenzi.


"Lakukan Nak, Ibu tidak akan mencegahnya."


Miko terdiam, matanya berkaca kaca menatap wajah Kenzi yang hanya tersenyum menganggukkan kepala. "Lakukan sayang, aku mengerti perasaanmu."


Miko tangannya semakin bergetar, perlahan senjata apinya di turunkan. Lalu mengalihkan pandangannya pada Jiro sesaat. Lalu ia balik badan berlari meninggalkan rumah Jiro.


"Miko!" Jiro berlari mengejar Miko, namun gadis itu sudah meninggalkan rumah Jiro.


"Nak, cepat susul dia. Ibu khawatir terjadi apa apa!" seru Siena berjalan menghampiri Jiro di teras rumah.


"Ayo cepat!" timpal Kenzi.


"Baik Yah, Bu!" Jiro langsung berlari menuju halaman. Lalu masuk ke dalam mobil saat pengawalnya membukakan pintu mobil.


Kenzi menarik napas panjang, akhirnya salah satu beban di pikirannya terselesaikan. "Terima kasih sayang, kau sudah membuat satu masalah yang pelik menjadi mudah."

__ADS_1


"Tentu sayang, Miko gadis baik. Aku tahu itu."


__ADS_2