
Jiro duduk termenung di ruang kerjanya, matanya menatap ke layar monitor. Namun pikirannya tertuju pada Miko. Ia di buat penasaran oleh gadis itu. Kedatangannya yang tiba tiba, lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak untuk Jiro. Ya, setidaknya memberikan nomer ponsel supaya pria itu bisa menghubunginya. Lamunan Jiro buyar saat ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja berdering. Tangannya mengambil ponselnya.
"Ibu?" senyum berkembang di bibir Jiro, saat Siena menghubunginya. Lalu ponsel ia dekatkan di telinganya.
"Ibuu!" sapanya bahagia. Meski waktu terus berlalu, usia Jiro sudah dewasa. Namun saat berbicara dengan Siena. Ia tetaplah Jiro kecilnya Siena.
"Sayang, putra Ibu. Apa kabarmu Nak?"
"Ibu, aku rindu Ibu. Aku baik baik saja Bu. Bagaimana kabar Ibu sendiri? Ayah? Ryu?" mata Jiro berkaca kaca.
"Sayang, semuanya baik baik saja. Ibu bawa kabar baik buatmu sayang."
"Apa Bu?"
"Kami akan datang menjengukmu, besok kami ke sana sayang."
"Apa? Ibu mau ke sini? aku senang sekali Bu."
Jika sudah berbicara dengan Ibunya, Jiro betah berlama lama, apapun akan ia ceritakan layaknya Jiro yang dulu. Berbeda saat ia tengah bekerja. Semua bawahannya segan dan tidak ada yang berani membantahnya. Bukan karena Jiro kejam, tapi sifatnya yang tegas dan berwibawa membuat mereka segan.
Tak lama kemudian, Jiro mengakhiri pembicaraannya di ponsel. Lalu ia masukkan ponsel ke dalam sakunya. "Ibu, aku rindu kalian."
***
Keesokan harinya, Jiro sudah bersiap siap untuk menjemput kedua orangtuanya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu mereka. Namun di luar dugaan, Siena dan Kenzi datang lebih awal sebelum Jiro menjemputnya ke bandara. Ternyata mereka berdua sengaja datang lebih awal untuk memberikan surprise pada putra kesayangan mereka.
"Ibu? Ayah?" mata Jiro melebar saat melihat kedua orang yang ia rindukan sudah berdiri di ambang pintu.
"Sayangku, apa kabarmu." Siena berlari menubruk tubuh Jiro dan memeluknya erat. "Ibu rindu sekali sayang."
"Aku juga.." ucapnya pelan. Pandangannya ia alihkan menatap Kenzi yang berdiri di belakang mereka. "Ayah.."
Kenzi merentangkan kedua tangannya, tersenyum lebar. "Kemarilah Nak."
Jiro melepaskan pelukan Siena lalu menubruk tubuh Kenzi dan memeluknya erat. "Jagoan Ayah sudah besar sekarang."
"Tidak Ayah, aku masih Helion kecilmu." Jiro mengusap air matanya yang merembes.
"Hei, jagoan Ayah jangan menangis." Kenzi melepas pelukannya, menatap kedua bola mata Jiro. "Kami sudah datang, hapus air matamu."
Jiro tertawa kecil sambil menyeka air mata di pipinya, "Ryu tidak ikut Yah?"
"Tidak sayang, dia banyak tugas di kampusnya. Nanti dia menyusul bersama Savanah," sela Siena.
"Savanah? siapa dia Bu?" tanya Jiro penasaran, baru mendengar nama itu.
"Putrinya om Keenan." Kenzi merangkul bahu Jiro lalu mengajaknya duduk di kursi di ikuti Siena. "Mereka sudah pacaran, makanya sekarang Ryu betah di Indonesia."
__ADS_1
Jiro bernapas lega mendengar kabar baik itu, setidaknya Ryu sudah lebih dewasa dari sebelumya dan tidak menyusahkan orangtua lagi.
"Kapan kau menyusul sayang," timpal Siena tersenyum lebar menatap sayang wajah putranya.
Jiro mengusap rambutnya kasar. "Ah Ibu, biar adik dulu. Aku menyusul nanti Bu."
"Benar? jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Pikirkan juga dirimu sendiri." Siena menarik wajah Jiro lalu mencium keningnya sekilas.
"Iya Bu.." sahut Jiro. Menundukkan kepalanya, senyum sendiri.
"Hmm, Ayah tahu nih. Jangan jangan kau sudah punya kekasih. Kenalkan pada Ayah." Kenzi menyenggol bahu Jiro.
"Tidak Yah, belum ada.." jawab Jiro tersipu malu.
Tatapan mata Siena tidak lepas dari Jiro. Rasa rindunya kini sudah terobati. Melihat perubahan besar pada diri Jiro membuat mereka bangga. Perbincangan hangat, tawa canda terlontar indah. Saling melepas rasa rindu dengan berbagi cerita. Setelah puas melepas rindu, Kenzi dan Siena beristirahat di kamar. Sementara Jiro menerima panggilan telepon tak terduga dari Miko. Tentu saja Jiro senang bukan main. Ternyata Miko masih menyimpan nomer ponselnya.
***
Miko duduk termenung di kursi dengan kedua kaki di angkat ke atas meja. Selepas menghubungi Jiro. Ia meminta bertemu dengan pria itu di cafe yang sudah Miko tentukan tempatnya.
"Nak, apa kau sudah tahu siapa pembunuh Ayahmu?"
"Belum Bu, tapi tapi kau tidak perlu khawatir. Sesegera mungkin, aku pasti tahu siapa pelakunya. Dan akan kuseret pembunuh itu kehadapan Ibu." Miko menurunkan kedua kakinya ke bawah lalu berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya wanita itu.
Tak butuh waktu lama, Miko sudah sampai di cafe. Lalu memilih tempat duduk dekat kaca jendela cafe. Tak lama ia harus menunggu, Jiro telah sampai di cafe tersebut dengan pengawalan ketat. Jiro langsung menemui Miko lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Miko.
"Hei, kau sudah lama menunggu?" tanyanya.
"Tidak, aku juga baru datang," sahut Miko, menundukkan kepalanya sesaat. Saat matanya beradu pandang dengan Jiro.
"Bagaimana kabar Ibumu?"
"Baik." Matanya melirik sesaat ke arah Jiro. "Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan?" Jiro memiringkan wajahnya menatal gadis cantik di hadapannya. Bibirnya yang merah merekah, hidungnya yang mancung. Bulu mata yang lebat dan lentik tanpa polesan make up. Membuat Jiro semakin mengagumi gadis itu.
Miko menganggukkan kepala. "Iya."
Jiro menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya pada seorang waitress lalu memesan coffe white. Pria itu sempat berpikir jika Miko mengajaknya bertemu karena rindu padanya, seperti dia yang selalu mengingatnya siang dan malam, ternyata bukan.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Jiro melirik sesaat ke arah Miko.
"Kau, pria yang berpengaruh besar di kota ini. Aku butuh bantuanmu untuk melacak siapa pembunuh Ayahku. Dan aku memintamu untuk mencari data datanya di kantor Polisi."
"Pembunuh Ayahmu? dari mana kau tahu, kalau Ayahmu di bunuh?" tanya Jiro penasaran.
__ADS_1
"Aku memang tidak menyaksikannya, tapi Ibuku tahu kalau Ayah di bunuh. Bahkan aku juga dapat informasi ini dari mantan anak buah Ayahku," ungkap Miko panjang lebar.
"Kalau boleh kutahu. Siapa nama Ayahmu?" tanya Jiro lagi.
"Hernet."
"Hernet?" kedua alis Jiro saling bertaut. Ia tidak mengenal nama itu. Tapi Jiro punya usul, mungkin saja orang tuanya tahu. Terutama Kenzi. "Baik, aku coba membantumu."
"Terima kasih." tangan Miko terulur mententuh tangan Jiro dan meremasnya pelan. Matanya tertuju pada kedua bola mata Jiro. "Kau pria baik, sangat baik. Suatu hari nanti aku akan membalas kebaikanmu dengan satu permintaan. Kau boleh ajukan padaku. Maka aku akan mengabulkannya."
"Apapun?" tanya Jiro tersenyum tipis.
"Apapun, katakan sekarang kalau kau mau." Miko menarik tangannya.
"Tidak sekarang, mungkin suatu hari nanti. Aku akan menagihnya." Jiro tersenyum.
"Baiklah."
"Rupanya kau di sini, tuan muda Jiro."
Jiro dan Miko menoleh ke belakang, melihat Zoya sudah berdiri di belakang mereka dengan beberapa pengawalnya. Zoya berjalan mendekat lalu duduk di kursi berhadapan dengan mereka, tanpa di minta.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Jiro menatap tidak suka.
Zoya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Jiro, pandangannya ia alihkan pada Miko. "Kau, kau selalu mengikuti tuan muda kemanapun pergi, seperti lem saja."
"Kenapa? ada masalah?" tangan Miko tiba tiba saja bergelayut manja di lengan Jiro. Membuat pria itu tidak mengerti. Tapi dari cara mereka bicara dan sorot mata kedua gadis itu, terlihat ada perang dingin diantara keduanya. Namun Jiro masih belum mengerti, ada apa di antara kedua gadis itu. Satu mafia, satu lagi lembut tapi liar.
"Tentu saja bermasalah, membuat pandanganku menjadi kurang nyaman." Zoya mengalihkan pandangannya pada Jiro.
"Oya? berati kau masih normal sebagai seorang wanita." Miko makin menyandarkan kepalanya di bahu Jiro. Membuat Zoya semakin tidak suka.
"Begini saja, sebenarnya ada urusan apa. Kau ingin bertemu denganku?" tanya Jiro coba mencairkan suasana yang menegang.
Zoya berdiri dari duduknya, tubuhnya sedikit membungkuk menatap Jiro dan tersenyum nakal. Tangannya terulur, menyentuh bibir Jiro dengan jarinya. "Tidak di sini, aku ingin hanya kita berdua." Mata Zoya melirik sinis pada Miko yang di tanggapi dingin gadis itu.
Zoya menarik tangannya lalu berdiri tegap. "Aku tunggu sampai kau siap, tuan muda Jiro." Lalu gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Jiro melirik ke arah Miko yang menarik kepala dan tangannya menjauh dari Jiro. "Kau suka padanya?" tanya Miko dingin.
"Apa? suka?" Jiro tertawa kecil. "Tentu saja tidak."
"Tapi kau mau memenuhi undangannya bukan?" Miko berdiri menatap Jiro yang melongo tidak mengerti dengan kedua gadis itu.
"Kau-?"
"Sudahlah, aku mau pulang. Jangan lupa permintaanku tadi," potong Miko, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Jiro yang terpaku bingung.
__ADS_1
"Kenapa dengan mereka?" gumam Jiro