
Kenzi duduk di teras rumahnya, ia menghisap ceeutunya dalam dalam dengan tatapan tajam ke arah pintu gerbang. Ia merasa hidup nya tidak akan tenang jika si brengsek Livian masih berkeliaran dengan bebas di luar sana. Berapa nyawa yang dia punya? sampai sekarang tidak tersentuh hukum apalagi mati.
Kenzi matikan cerutunya di atas asbak lalu berdiri. "Kalau aku hanya diam, yang ada keluargaku hancur perlahan," gumamnya. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
"Bos!
Kenzi menoleh ke arah Samuel. " Kau tidak perlu ikut, jangan jauh jauh dari Siena dan Helion."
"Baik Bos!" Samuel langsung bergegas memasuki rumah.
Sementara Kenzi melajukan mobilnya meninggalkan rumah. "Kakak Yu, kau di mana sebenarnya?" Kenzi tidak habis pikir dengan hilangnya Yu. Kecurigaan Kenzi tidak beralasan jika Yu berkhianat. Selama ini Yu banyak membantunya.
Tak lama ia telah sampai di depan cafe sahabatnya. Kenzi keluar dari pintu mobil langsung masuk ke dalam cafe. Seorang pria sudah menunggunya duduk di kursi.
"Aku sudah lama menunggumu." Pria itu berdiri lalu mengulurkan tangannya.
"Sory.." Kenzi membalas uluran tangan pria itu menjabat tangannya. Kemudian Kenzi duduk di kursi. "Jason, info apa yang kau dapatkan?" Kenzi melirik sesaat ke arah pria bernama Jason yang duduk di sampingnya.
Jason menatap layar monitor lalu membuka file yang berisi informasi tentang Yu dan Livian. Kenzi memperhatikan ke layar monitor membaca file dan melihat beberapa foto yang di kirimkan anak buah Jason.
"Damm!" Kenzi menggebrak meja saat melihat beberapa foto Yu tengah berada di sebuah peetemuan bersama Livian.
Jason melirik sesaat ke arah Kenzi, ia tersenyum sinis kembali menatap layar monitor. "Dia mengkhianatimu, dan pengakuan Adrian semua itu hanya untuk mengalihkan perhatianmu terhadap Yu."
Kenzi mengusap wajahnya kasar, mendengus geram. "Aku tidak menduga mereka mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan."
Jason tertawa mendengar pernyataan Kenzi. "Kita tahu aturannya bukan? dalam organisasi kita tidak bisa mempercatai siapapun."
Kenzi menarik napas dalam dalam, matanya melirik sesaat ke arah Jason. Apa yang di katakannya benar. "Di mana mereka sekarang?"
"Livian berangkat ke Hongkong kemarin sore, menyusul Yu dan Adrian yang sudah lebih dulu berada di sana." Jason membuka kembali beberapa foto yang orang kepercayaannya kirimkan.
Jason menoleh ke arah Kenzi. "Kau tidak percaya padaku?"
Dengan tatapan tajam Kenzi mengalihkan pandangan pada Jason. "Harus?"
Jason tertawa, "ya, kau benar." pria itu menepuk pundak Kenzi sesaat. "Jika kau ingin menyerang mereka, lakukan dengan cepat dalam satu minggu ini. Jika tidak..?" Jason mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa?" Kenzi menautkan kedua alisnya menatap ke arah Jason.
"Kau akan kehilangan jejak mereka selamanya." Jason mengangkat cangkir kopi di atas meja lalu menghirupnya. "Pilihan hanya ada satu. Di bunuh atau membunuh."
Kenzi diam lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tatapan lurus ke langit langit ruangan. Untuk mengambil satu tindakan ia harus mengambil resiko, tapi diam saja percuma, Livian tidak akan berhenti mengganggu hidupnya sampai tujuannya mereka dapatkan, yaitu nyawa Kenzi sendiri.
Mungkin Kenzi bisa selamat, bagaimana dengan keluarganya? Siena? Helion? dan tiga anak buahnya. Surya sudah menjadi korban, Yeng Chen sudah tidak dapat melakukan apa apa. Putranya sendiri berhasil Livian celakai. Siapa berikutnya? selama Kenzi masih hidup.
Namun yang menjadi ganjalan Kenzi bukanlah dirinya sendiri. Tapi keselamatan keluarga kecilnya. Amankah jika ia pergi ke Hongkong? dan membalaskan semua perbuatan mereka. Samuel dan Akira tidak bisa di andalkan sepenuhnya. Kenzi tahu bagaimana liciknya Livian dan mereka semua. Meminta perlindungan Polisi? ah, Kenzi berkali kali mendesah gusar.
Rei? Keenan? apakah mereka bisa membantu? apakah mereka bisa di andalkan? kenapa tidak di coba? mereka bisa di percaya untuk menjaga Siena dan Helion. Tapi jika mereka menyerang saat Kenzi tidak ada? bagaimana?
__ADS_1
Jason yang sedari tadi diam memperhatikan akhirnya angkat bicara, "kau butuh penjaga?"
Kenzi menoleh ke arah Jason, "tidak."
"Oke, hubungi aku jika kau butuh orang untuk menjaga keluargamu." Jason kembali menatap layar monitor.
Bagaimana Kenzi bisa percaya dengan Jason? sementara Yu dan Adrian saja mengkhianatinya. Sepertinya Kenzi tahu apa yang harus ia lakukan. Kenzi tersenyum tipis lalu berdiri sembari menepuk pundak Jason. "Terima kasih untuk semua informasinya."
"Tidak masalah."
Lalu Kenzi undur diri dari ruangan Jason dan kembali keluar cafe untuk menemui Rei dan Keenan. Harus dia akui, kedua sahabat Siena bisa ia percaya di banding sahabatnya sendiri. Dan Rei? Kenzi harus membuang rasa cemburunya demi anak dan istrinya.
Kenzi melajukan mobilnya menuju rumah Rei, tidak butuh waktu lama ia telah sampai di rumah Rei. Kebetulan sekali Keenan sedang ada di rumah Rei bersama istrinya, Dinda.
Dua sahabat Siena yang tengah duduk di teras rumah, terkejut dengan kedatangan Kenzi. Selama ini mereka tidak diperbolehkan untuk bertemu Siena setelah pemakaman Surya. "Kenzi?" ucap Rei pelan menatap ke arah Kenzi yang tengah berjalan menghampiri mereka.
"Apakah aku mengganggu kalian?" sapa Kenzi menatap keduanya.
"Tidak, duduklah." Rei mempersilahkan Kenzi untuk duduk di kursi.
"Kau? kau datang kesini? ada apa? dimana Siena? apakah dia baik baik saja?" Keenan memberikan banyak pertanyaan pada Kenzi.
Kenzi terbatuk kecil sebelum menjawab pertanyaan Keenan. "dia baik baik saja."
"Oh, syukurlah.." Keenan mengusap dadanya tersenyum lebar.
"Apa kabar keponakanku, Helion?" tanya Dinda ragu ragu.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Rei.
Kenzi mengalihkan pandangannya, "aku butuh bantuan kalian."
"Kau membutuhkan kami? bantuan apa? kami tidak bisa apa apa?" ucap Rei sinis.
Kenzi kembali berdehem. "Kau tidak mau?"
"Sudahlah, dia lagi membutuhkan kalian." Dinda coba mencairkan suasana.
"Baik, katakan apa yang kau inginkan?" Rei menatap tajam Kenzi.
Kenzi menarik napas panjang, ia menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya. Belum selesai Kenzi bicara Keenan sudah menyelanya. "Kurang ajar! berani sekali dia melukai keponakanku!' ucap Keenan geram.
"Ini tidak bisa di biarkan, sampai kapanpun kau tidak akan hidup tenang. Kau harus memusnahkan mereka tanpa sisa!" seru Rei tak kalah geramnya.
Kenzi tersenyum tipis mendengar umpatan mereka, sampai sekarang rasa sayang yang mereka miliki untuk Siena dan putranya tidak lekang oleh waktu. Meski berkali kali Kenzi melarang mereka untuk datang ke rumahnya.
"Terima kasih, kalian menyayangi istri dan anakku."
"Tentu saja!" sahut Keenan.
__ADS_1
Kenzi melanjutkan rencananya untuk meminta bantuan mereka. Sementara Kenzi pergi ke Hongkong, dua sahabat Siena di minta untuk menjaga mereka. Dan Kenzi akan menitipkan anak istrinya di rumah Rei.
"Sebaiknya jangan di sini, aku tahu tempat yang aman." Rei menganggukkan kepala.
"Dimana?" tanya Keenan.
"Nanti kau tahu." Rei menoleh ke arah Keenan.
"Oke, aku percaya pada kalian." Kenzi berencana akan segera berangkat ke Hongkong sendirian, sementara tiga anak buahnya akan ikut bersama mereka berdua untuk menjaga Siena dan Helion. Setelah semua sepakat Kenzi undur diri untuk membawa Siena dan yang lain ke tempat yang tadi Rei usulkan.
****
Sesampainya di rumah, Kenzi langsung menjelaskan dan meminta tiga anak buahnya berkemas pakaian seperlunya saja, dan beberapa senjata yang harus mereka bawa. Setelah selesai bicara dengan mereka, Kenzi naik ke lantai dua rumahnya untuk menemui Siena dan Helion.
"Sayang.." sapa Kenzi menatap wajah Siena yang tengah duduk di atas tempat tidur. Lalu ia naik ke atas tempat tidur merangkul bahu Siena. Sementara Helion tengah tertidur pulas di samping Siena.
"Kau dari mana?" tanya Siena meletakkan kepalanya di dada Kenzi.
"Tadi, aku kerumah sahabatmu." Kenzi membelai rambut Siena.
Siena terkejut, ia menarik kepalanya di dada Kenzi. "Rei? Keenan? untuk apa?" tanyanya dengan tatapan bingung ke arah Kenzi.
"Kemarilah.." Kenzi menarik bahu Siena dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Perlahan Kenzi menceritakan semuanya. Untuk kali ini ia mencoba cara lain dengan menitipkan anak dan istrinya pada Rei dan Keenan.
"Jadi? kau akan pergi ke Hongkong sendirian?" tanya Siena cemas.
"Iya sayang.." sahut Kenzi.
"Tapi, siapa yang akan menjagamu, membantumu?" Siena khawatir jika terjadi sesuatu pada Kenzi.
"Percayalah, kali ini langkahku sudah tepat." Kenzi mencium puncak kepala Siena cukup lama. "Aku berjanji akan kembali secepatnya setelah semua selesai."
"Tapi sayang.." Siena tidak menyetujui niat Kenzi untuk pergi sendirian.
"Percayalah, aku ingin keluarga kita hidup bahagia dan tenang tanpa di ganggu mereka. Mau sampai kapan kita menghindar? apakah mereka akan melepaskan? tidak sayang.." Kenzi menangkup wajah Siena menatap dalam kedua bola matanya. "Aku tidak mau kau menangis lagi, aku tidak mau kau terluka, aku tidak mau kehilanganmu dan putra kita."
"Aku tahu, tapi.."
"Sayang, aku tidak mau menyakitimu seperti kemarin. Itu sangat menyiksaku." Mata Kenzi berkaca kaca. "Dari pada hidup tersiksa, lebih baik aku mati-?"
Siena mengulurkan tangannya dan membekap mulut Kenzi. "Jangan katakan itu sayang..jangan.." ucap Siena dengan air mata yang mulau turun di pipinya. "Bukan satu hari atau dua hari kita lewati masa masa sulit. Kita pasti bisa mengatasi ini semua..kita bisa..bisakah kau berjanji padaku?
Kenzi mengusap air mata di pipi Siena, " Apa?"
"Berjanjilah kau akan kembali, untukku dan putra kita." Siena langsung memeluk tubuh Kenzi erat.
"Aku berjanji sayang, aku berjanji.." Kenzi mendekap erat tubuh Siena lalu menciumi wajah Siena berkali kali dengan segenap perasaan yang ia miliki. Jika ia harus mati di tangan mereka, setidaknya Kenzi sudah memusnahkan Livian dan yang lain. Dan Siena? bisa hidup tenang bersama putranya, itu yang ada di benak Kenzi saat ini.
"Ayah..Ibu.."
__ADS_1
Kenzi dan Siena menoleh ke arah Helion yang duduk sambil mengucek matanya. "Sayang, kemarilah.." Kenzi mengangkat tubuh Helion dan di dudukkan di pangkuannya. Lalu ia memeluk erat tubuh mereka berdua. "Aku sayang kalian.."
"Aku juga sayang Ayah dan Ibu.." sahut Helion tertawa kecil.