The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 39: Misteri kematian Karta


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah Siena cerai dengan Reegan. Ia masih enggan untuk melakukan hak apapun. Meskipun Keenan sahabat baiknya berusaha untuk membujuknya untuk melupakan pria yang telah mengkhianatinya.


Di suatu pagi Siena di kejutkan dengan suara pak Karta yang sedang marah, entah dengan siapa. Samar samar Siena bisa mendengarnya dari dalam kamar. Suara pak Karta semakin meninggi lalu terdengar suara barang di lempar ke lantai.


"Ada apa dengan kakek?"


Akhirnya Siena bangun dan turun dari atas tempat tidur untuk memastikan ada kejadian apa di luar kamar. Ia berjalan keluar kamar dan memperhatikan sekitar ruang tamu. Nampak Pak Karta tengah duduk dengan raut wajah bingung. Sementara di sebelahnya Hana coba untuk menenangkan pak Karta.


"Ada apa dengan kakek?" ucap Siena pelan. Ia berjalan lebih dekat ke arah mereka.


"Kakek kenapa?" tanya Siena.


Ia menatap ke lantai, sebuah ponsel hancur berantakan di lantai. Rupanya suara barang terjatuh itu ponsel milik Kakek.


"Siena.." Pak Karta tengadahkan wajahnya menatap Siena, ia tarik tangan Siena untuk duduk di sampingnya. "Duduklah sayang."


Siena duduk menatap Pak Karta dan Hana bergantian, ia melihat wajah wajah kebingungan. "kalian baik baik saja?"


"Iya sayang, kami baik baik saja," sahut Hana.


Siena mengerutkan dahi, "benarkah? lalu? ponsel itu?"


"Ini nak, ada klien yang buat kakek kesal. Dan kakek butuh tenaga ahli untuk mengatasi perusahaan kakek," ucap Pak Karta ragu ragu. Ia sempat menoleh ke arah Hana yang menundukkan kepala saat Pak Karta bicara seperti itu.


'Kakek butuh aku untuk bekerja di sana?" tanya Siena.


Pak Karta menganggukkan kepala, "jika kau tak keberatan nak."


"Tentu tidak Kek.." sahut Siena.


Siena tersenyum menatap mereka berdua yang nampak bingung dan masih belum puas atas jawaban Siena.


"Ada hal lain yang perlu kubantu Kek?" tanya Siena.


Pak Karta melirik sesaat ke arah Hana.


"Sepertinya itu saja dulu nak.." ucap Pak Karta.


"Oh, kakek tidak perlu sebingung itu..aku pasti bantu kakek..percayalah.."


"Terima kasih sayang," Hana berjalan mendekati Siena lalu ia duduk dan memeluknya erat.


"Kakek sudah lapar, bagaimana kalau kita makan?" tanya Pak Karta.

__ADS_1


Hana melepas pelukannya, "Siena, kita makan dulu. Kakekmu sudah lapar."


"Baik ma.." sahut Siena.


Hana berdiri, di ikuti pak Karta. Mereka berjalan bersama memasuki ruang makan. Sementara Siena mengikuti dari belakang sembari memperhatikan mereka yang terasa ganjil di mata Siena.


Saat mereka tengah makan malam dengan tenang, Siena membuka pembicaraan. "Memangnya yang nelpon kakek tadi siapa? kok kakek semarah itu?" tanya Siena.


Hana dan Pak Karta menghentikan makannya, mereka saling pandang sesaat lalu beralih menatap Siena.


"oh, tidak penting kau tahu nak," jawab pak Karta.


"Siena, habiskan makanmu dulu nak.." sela Hana.


"Baik ma.."


Siena menundukkan kepala, ia kembali makan dengan tenang. Sementara pak Karta menarik tisu dan menyeka mulutnya. Setelah itu ia berdiri. "Kakek istirahat dulu, kepala kakek terasa pusing."


Siena tengadahkan wajahnya, "apa kakek sakit?" tanya Siena.


"Tidak sayang, kakek hanya butuh istirahat."


Siena tersenyum, "baiklah kek.."


Pak Karta melangkahkan kakinya memasuki kamar pribadi dia. Siena hanya memperhatikan pak Karta hingga menutup pintu kamar. Baru saja Siena hendak berdiri terdengar suara teriakan dari dalam kamar pak Karta.


Siena dan Hana saling pandang sesaat, lalu mereka berlari ke kamar pak Karta. Saat Hana membuka pintu kamar nampak Pak Karta tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


"Papaa!" teriak Hana langsung mendekati Pak Karta.


"Kakek kenapa ma?" tanya Siena langsung jongkok di hadapan pak Karta gang tergeletak pingsan.


"Mama tidak tahu sayang, ayo bantu mama angkat kakekmu." Siena mengangguk, lalu mereka angkat tubuh pak Karta dan di letakkan di atas tempat tidur.


"Pa..bangun pa.." ucap Hana menepuk pipi pak Karta.


"Kek, kakek bangun.." Siena mengambil minyak angin lalu ia gosokkan di hidung pak Karta. Namun pak Karta tidak juga siuman.


"Sayang, kita bawa papa ke rumah sakit sekarang!" seru Hana.


Siena menganggukkan kepala, kemudian Siena turun dari atas tempat tidur memanggil mang Ujang asisten rumah tangga untuk membantu Siena mengangkat tubuh pak Karta untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.


Siena menyetir mobil sementara Hana duduk di belakang mendekap erat tubuh pak Karta.

__ADS_1


"Pa..bangun pa.." ucap Hana sembari menangis.


"Ma..tenang ma.." ucap Siena. Ia fokus ke jalan raya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, Hana dan Siena langsung membawa pak Karta ke UGD di bantu para suster.


Pak Karta langsung di tangani Dokter, sementara mereka berdua duduk di kursi ruang tunggu. Hana berinisiatif menelpon Rei untuk membantu mereka.


"Mama telpon siapa?" tanya Siena.


"Rei, mama nelpon Rei.." jawab Hana suaranya bergetar.


Siena memperhatikan wajah Hana, ia melihat pancaran ketakutan di kedua bola mata Hana. "Mama tidak usah khawatir, Kakek baik baik saja," ucap Siena memeluk Hana.


"Iya sayang," kata Hana.


Tak lama nampak Rei berjalan di lorong rumah sakit. Hana langsung berdiri dan mendekati Rei. Siena diam memperhatikan mereka berdua. Nampak Hana dan Rei bicara serius, tapi entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali Hana dan Rei menoleh ke arah Siena di sela sela perbincangan mereka. Tak lama kemudian mereka menghampiri Siena.


"Ada ap?" Siena tidak meneruskan pertanyaannya, saat pintu ruangan di buka dari dalam. Hana dan yang lain langsung menghampiri Dokter.


"Bagaimana papa saya Dok?" tanya Hana.


"Maaf bu..pasien terkena serangan jantung. Dan ibu telat membawanya ke rumah sakit," jawab Dokter.


"Maksud Dokter?" tanya Rei.


"Pasien sudah meninggal sejak di perjalanan," jawab Dokter.


"Papa..Rei..papa.." ucap Hana. Ia langsung masuk ke dalam ruangan menjerit histeris.


"Kakek.." ucap Siena lirih. Baru saja kemarin ia bisa merasakan kasih sayang kakeknya setelah sekian lama terpisah. Sekarang kakeknya telah meninggalkannya lebih dulu.


"Kau tenanglah Siena.." Rei merangkul bahu Siena, ia mengajak Siena masuk ke dalam ruangan menatap Hana yang menangis memeluk jasad pak Karta.


Siena menurunkan tangan Rei dari pundaknya, ia berjalan perlahan mendekati Hana. "Kakek.." ucapnya sembari terisak.


"Nak..kakekmu sudah tiada.." Hana langsung memeluk Siena dengan erat.


"Iya ma..mama tenang ya.." Siena mengusap punggung Hana untuk menenangkan.


"Tante .. saya ikut berduka cita," ucap Rei berdiri di belakang mereka.


"Iya Rei.." sahut Hana, ia seka air matanya lalu mepeskan pelulan Siena. "Papa..kenapa kau tinggalkan Hana," ucap Hana menatap tajam wajah Pak Karta yang sudah tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


"Tante, sebaiknya kita bawa pulang pak Karta secepatnya," sela Rei.


Hana menganggukkan kepala, "iya Rei.."


__ADS_2